Adiluhung

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/
Sabtu, 02 Januari 1988

TUAN Adigang hidup di sebuah rumah ber-AC sentral yang sejuk, naik Mercy Tiger dan mengenakan arloji Rolex Ovster. Tapi ia, yang nama lengkapnya Drs. Adigang Adigung Adiguna, juga mengagumi Ronggowarsito.

Baginya, pujangga Jawa abad ke-19 itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupnva di tahun 1987 yang baru berakhir ini. Ronggowarsito, katanya suatu ketika, adalah satu puncak kebudayaan. Dia menunjukkan sesuatu yang adiluhung.

Anda ~ahu apa artinya adiluhung? Bila orang yang diajaknya bicara ~ak tahu, Tuan Adigang akan dengan cepat mengutip kamus Jawa-Inggris susunan Elinor Clark Horne, terbitan Yale University Press tahun 1977. Kata itu berarti of outstanding quality, atau highly esteemed. Suatu sifat yang menunjukkan ketinggian mutu, keindahan, dan kehalusan, juga keluhuran.

Itulah hasil proses terakhir seni dan budaya. kata Tuan Adigang suatu ketika. Sesuatu yang klasik. Sesuatu yang haru~ dijaga, karena ia dapat melindungi pribadi kita dari segala hal yang dekaden, kampungan, kasar yang hanya memenuh: nafsu-nafsu rendah, seperti nampak pada kebudayaan modern, yan~g sensual, murah, dan hiruk-pikuk.

Anda mungkin akan bertanya: apa yang adiluhung pada Ronggowarsito? Apa yang klasik? Jika itu berarti karya Ronggowarsito adalah karya lama yang tetap menggugah, bukankah Ronggowarsito hidup dan menulis tiga abad setelah Shakespeare, dalam zaman ketika manusia sudah mengenal kapal api dan terusan besar dan gerakan sosialisme internasional? Dengan kata lain, tidakkah sang penyair Kalatida juga termasuk kurun “modern”? Tapi, tentu saja, Tuan Adigang bisa menjelaskan: kemodernan bukanlah sekadar soal catatan tahun. Kemodernan (yang bagi Tuan Adigang hampir sama dengan kemerosotan mutu, jika itu, “menvangkut dunia rohani,” katanya) adalah masalah pandangan. Dan dalam hal ini, Ronggowarsito bukan sembarangan. “Coba saja baca tulisan-tulisannya,” kata Tuan Adigang. “Tidak sembarang orang bisa menafsirkan islnya, isyarat dan ajarannya.”

Tulisan Ronggowarsito, seperti banyak karya sastra Jawa abad lalu, memang tak mudah dipahami. Bentuknya, yang berupa tembang, tersusun dalam serangkaian kata yang sulit. Jadi, Tuan Adigang benar. Dan rupanya orang mudah menganggap ketidakmudahan itu sebagai sesuatu yang mengandung misteri, dan misteri berarti kegaiban, dan kegaiban berarri kesaktian. Ronggowarsito pun jadi legenda.

Maka, sebagai legenda, ia pantang ditelaah dengan analisa yang kritis. Ia bahkan tak lagi dianggap orang normal Pernah sebuah harian memuat diskusi cukup panjang, setengah meragukan bahwa Ronggowarsito, suatu ketika dalam hidupnya, pernah berutang.

Tapi bisakah kita menyalahkan itu semua, juga Tuan Adigang? Ia bukan Purbotjaroko. Guru besar ini, yang begitu intim dengan kesusastraan tradisional, mungkin satusatunya orang Jawa yang berani mengecam, dengan keras tapi dingin, karya Ronggowarsito. Baca, misalnya, Kasusastraan Dja~wi, telaah Purbotjaroko yang terbit sekitar 30 tahun yang lalu. Purbotjaroko memandang Ronggawarsito cukup sebagai seorang pengarang — dan itu saja.

Kemudian adalah seorang wanita bernama Nancy K. Florida. Ia seorang peneliti Amerika yang beberapa tahun lalu menelaah karya-karya sastra Jawa. Baru-baru ini ia menulis sebuah esei yang menarik tentang sikap umum di masa kini terhadap kesusastraan Jawa tradisional. Florida, dalam Majalah Indonesia terbitan Cornell Universitv nomor Oktober yang lalu, menunjukkan bagaimana sebuah kesusastraan akhirnya hanya jadi sebuah “jimat yang berdebu”, a dustyfetish: dianggap begitu luhur hingga tak hendak dibaca.

Akibatnya ialah sebuah kekeliruan yang bisa lucu Florida suatu ketika menunjukkan satu contoh karya Ronggowarsito kepada seorang mahasiswa Solo~ yang ingin menyanyikan satu tembang trad~sional dengan diiringi gitar — mungkin mengikuti kreasi Gombloh. Tembang itu diambil Florida dari Serat Jayengbaya. Si mahasiswa tak selesai membacanya karena tergelak-gelak. Isi tembang itu adalah sebuah cemooh yang ganas dan terang-terangan, tentang guru yang berlagak pintar dan tentara yang berlagak berani. Sang pujangga adiluhung ternyata juga seorang yang bisa kocak, dan cukup kasar ….

Tapi memang buat apa sebenarnya mengangkat kesusastraan jadi bagian dari sesuatu yang adiluhung, ketika itu berarti seperti mutiara pada tajuk: elok tapi beku? Bagi Tuan Adigang, jawabannya mungkin khas untuk orang seperti dia masa kini: Ronggowarsito juga seperti arloji Rolex Oyster dan sedan Mercy Tiger. Ia sesuatu yang tak mudah diraih orang lain, sesuatu yang menjaga statusnya, dan sebab itu harus dijaga pula. Kalau perlu dengan legenda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *