SUNDAL

:kagem papa

Naomi Srikandi*
http://www.jawapos.com/

Kamar ibu wangi pandan. Di pinggir ranjang Kadar merajang berhelai-helai daun penyedap itu. Di jendela langit kelam, tapi tugas laki-laki itu belum kelar. Sesudah merampungkan sekeranjang mawar yang ditabur di bak mandi, seuntai kulit jeruk yang digantung di dapur, ia tengah menyiapkan pandan untuk ditaruh di sudut kamar tidur. Ibu, sambil memijat wajah dengan minyak zaitun, telah sampai pada penggalan akhir kisahnya.

Jika kini aku duduk di ceruk sungai ini dan seseorang yang lewat atau seekor katak atau daun bambu bertanya padaku, kenapa menangis, kenapa masih ada kesedihan; aku akan tersenyum. Pertanyaan itu tak benar-benar salah. Tapi aku menangis, bukan bersedih. Air mataku tak sekadar mengenal perih. Seperti embun menetes begitu saja pada dedalu atau kembang sepatu, tangisku kini adalah percakapan antara nasib dengan waktu. Jangan cemas, Kangmas. Aku yang selalu mencintai tanpa meminta telah mencintai kedatanganmu dan akan mencintai kepergianmu. Tetapi benar-benar tak salah, seandainya pertanyaan itu datang kepadaku bertahun-tahun lalu. Ketika mereka menguburku hidup-hidup, mengira dengan begitu cintaku dan cintamu bisa dipisahkan, dan satu-satunya perasaan yang tinggal dalam rongga sempit itu adalah kesedihan. Bukan kemarahan. Sebab mereka tahu, amarah tak menginginkan sepi. Mereka benar, Kangmas. Sepi dan dingin di bawah sana, dan hanya seekor kesedihan yang mau mendatangi tubuhku. Pelan-pelan ia masuki lubang telingaku. Lalu datang lagi kesedihan yang lain, dan yang lain lagi. Hingga di hari ketujuh berekor-ekor kesedihan menemaniku berbaring di dalam gundukan tanah basah itu. Aku hanya bisa menangis.

”Ibu pasti bercanda.” Kadar menatap cermin di meja rias. Tapi raut muka ibu yang terpantul di sana mengatakan bahwa cerita itu benar adanya. Paling tidak cerita itulah yang ibu dengar dari eyang, yang mengaku pernah menjadi kekasih Sundel Bolong. Kadar tak habis pikir. ”Kalau begitu eyang kakung yang bercanda.”

”Apa sih sulitnya percaya, Nak?” Ibu mengeluh sendu. Kadar terharu. Mestinya ibu tahu, eyang bikin cerita seperti itu karena dia dalang. Ia hanya tukang cerita yang gelisah sebab banyak orang menganggap Sundel Bolong mengerikan. Padahal yang mengerikan itu pikiran mereka sendiri.

”Aku harus pergi.” Kadar mendorong rajangan tipis daun pandan terakhir ke dalam cawan. Ia mungkin percaya jika kakeknya berhubungan dengan sundel-sundel lain yang kasat mata. Tapi tidak Sundel Bolong. Yang benar saja.

”Sudah hampir tengah malam, berani kamu pulang?”

”Sepertinya akan hujan. Aku menjemur banyak baju tadi siang, belum kuangkat.”

”Nginap di sini saja.”

”Apa sih sulitnya percaya, Bu?”

Ibu tertawa. Tentu tak sulit baginya. Itu kenapa ia rela anak semata wayangnya, setamat SMA, jadi awak kapal pesiar. Ia juga tak keberatan Kadar ingin hidup sendiri setelah kembali delapan bulan kemudian. Toh rumah yang disewa anak itu cuma tiga kilo dari sini. Apalagi tiap minggu ia masih mau menyempatkan datang, menemani ibunya ngobrol, dan mengganti wangi-wangian di rumah ini.

Kadar mendorong pintu pagar. Sewaktu kecil, sehabis diceritai horor, ke kamar mandi sendiri saja ia tak berani. Sekarang jelas baginya menyelamatkan jemuran lebih penting ketimbang memikirkan cerita seram. Meski ketika menengadah, dilihatnya mendung menyebabkan langit lebih wingit, menegaskan watak malam yang mencekam. Kadar mengerjapkan mata, seolah dengan begitu kecemasannya sirna. Tiba-tiba angin dingin mencium tengkuknya, mengusap daun telinganya. Jangan cemas, Kangmas. Kadar menggeleng, mengusir suara apa pun yang hendak menghadirkan lagi cerita itu. Berusaha tenang ia tutup pintu pagar pelahan. Tapi ketika hendak menuntun sepedanya ke arah jalan, tatapan Kadar terpaku pada sosok yang berdiri diam di kegelapan, di bawah pohon asam, beberapa meter darinya. Wujudnya tak jelas, tapi bunyi nafas yang ganjil terdengar dari sana, seperti sisa tangis. Jantung Kadar kini berdegup keras bagai suara langkah makhluk hutan di kejauhan yang datang mendekat. Berdoa mengiba dengan mata terpejam, menadahkan tangan ke atas –seolah Tuhan cuma ada di atas– seperti dalam drama televisi, tak akan berhasil memberinya ketenangan dalam situasi seperti ini. Kadar memilih mempraktikkan ajaran eyang: bernafas dengan wajar. Matanya terbuka. Telapak kakinya menancap ke tanah seperti besi menempel kuat pada magnet. Kemudian ditariknya sebuah garis dari tulang ekor ke ubun-ubun, lurus ke langit. Hayati ruang, hayati badan, maka tak akan ada yang tumbang.

Mendadak datang cahaya terang. Kadar mengerutkan kening, ia berseru, ”Siapa di situ?” Cahaya itu meredup. Dari bawah pohon asam sosok itu menyeret langkah, mendekati Kadar dengan menenteng senter yang menyala. Sialan. Kadar mengumpat dalam hati. Ternyata Si Sopan, temannya sendiri. ”Mendung, Dar. Aku temani kamu jalan, nanti kubantu angkat jemuran.” Sopan bersuara sengau. Demit itu sedang flu rupanya. Napas ingusannya membuat Kadar merinding tadi.

”Kok kamu tahu aku punya jemuran?”

”Tebakan yang kebetulan tepat saja.”

”Aku mau sendirian saja, Sop.” Kadar jual mahal.

”Dar, terus terang sebenarnya aku yang butuh ditemani.”

”Ada apa sebenarnya?”

”Nanti kuceritakan sambil jalan. Aku tidur di sofamu, ya? Besok kubuatkan sarapan.”

”Bubur Menado? Kamu yang nggenjot sepeda?”

Sopan menurut. Sebenarnya ia cuma kurang kerjaan. Tahun ini umurnya sudah kepala dua tapi kerjanya cuma luntang-lantung sesorean tadi. Ia tak enak jika Kadar mendapatinya di situ tanpa tujuan. Sejak temannya kerja di laut diam-diam Sopan masih sering keluyuran di situ. Hanya untuk berdiri di bawah pohon asam, menunggu cahaya malam membingkai wajah ibu di jendela. Biar hanya dari jauh ia selalu senang melihat kelebat ibu di sana: anggun, tenang, sendirian. Perempuan itu kini tak seperti ibu Kadar dalam pengalaman masa kecil Sopan, ketika di satu sore ia pertama kali merasakan dosa. Saat itu rumah tampak sepi. Kadar ikut eyangnya mendalang di kampung lain. Mestinya hanya ada ibu, yang sedari Sopan datang tak tampak batang hidungnya. Cukup lama bocah itu suntuk mengumpulkan asam yang berjatuhan. Yang kulitnya pecah ia masukkan mulut, yang utuh ia masukkan kantong plastik.

Sampai sekonyong-konyong kantong itu terlepas dari genggamannya, sebab ia dikagetkan oleh jeritan ibu yang tertahan di dalam rumah. Anak itu lantas berlagak menyelidik. Kurang beberapa langkah dari jendela kamar ibu ia berhenti. Kupingnya berusaha menangkap apa yang terjadi. Ranjang yang berderit, rintihan ibu yang tertahan dan…laki-laki. Sopan tertegun. Kadar tak punya bapak. Entah kenapa suara laki-laki itu membuatnya ciut. Asam di mulut Sopan terasa lebih kecut. Bocah itu tiba-tiba merasa bersalah dan ingin lari dari situ. Tapi sebelum ia mundur, angin kencang menerpa tirai jendela itu, menyingkap apa yang tak ingin ia tahu.
***

Kumbang kelapa yang jatuh dari pohonnya hinggap di kepala Kadar, membuatnya sibuk selama beberapa waktu. Sopan mengayuh sepeda sambil sesekali melepas tangan dari setang. Tak ada angin. Ia membuka kancing kemeja dan membiarkan kain flanel itu menggantung di pinggang. Nafasnya ngos-ngosan. Temannya di boncengan tenang-tenang saja, tak juga menagih cerita. Sopan menoleh. Kaki lengket serangga coklat itu kini menempel di bahu kirinya.

”Dulu aku suka main lonth?,” Sopan membuka percakapan sambil mengatur napas.

”Lonth??” Mata Kadar terbelalak. Sopan tertawa, ia tahu Kadar pasti kaget.

”Bapak yang mengajariku. Kami menyalakan lampu petromaks dan duduk diam di pekarangan yang gelap, menunggu mereka datang. Serangga-serangga putih itu senang mendatangi cahaya. Ya, di desa asal bapak lonth? adalah nama sejenis serangga malam. Beberapa makhluk amat mungil itu terbang mendekati lampu kami. Jumlahnya cukup banyak, bisa kudengar getar sayap mereka. Tanganku gemas meraih, ingin menangkap satu. Bapak tertawa. Bukan begitu cara menikmati permainan lonth?. Diam dan lihatlah, katanya. Aku menurut. Lonth?-lonth? beterbangan semakin dekat mengitari lampu. Gerakannya indah sekali. Seperti tarian. Berputar, bergoyang. Dan ini bagian yang terbaik: Mereka mulai mabuk cinta pada cahaya, sehingga tak bisa lagi menjaga jarak darinya. Satu per satu lonth? itu berjatuhan, hangus terbakar. Hahaha…! Makhluk indah yang bodoh. Cinta membunuhnya.”

”Permainanmu terdengar jahat.” Kadar menyimpulkan.

”Hei, bukan aku yang membakar mereka. Mereka bunuh diri.”

Bagi Kadar hal semacam itu tak pernah benar-benar jelas. Beberapa kali ibu telah mengumbar cinta dan berahi pada yang bukan ayahnya. Apakah ibu terbakar, dibakar, membakar? Kadar tak yakin ibu peduli. Barangkali pertanyaan itu penting hanya bagi laki-laki. Sebab laki-laki, tak seperti serangga, adalah jenis makhluk penakut. Salah satu makhluk penakut itu berwajah santun, dikenal ibu pada hari eyang harus dimakamkan. Ia mengaku sebagai murid eyang, dalang dari kampung jauh. Waktu itu eyang belum dimandikan, ahli jenazah yang ditunggu tak juga muncul. Lelaki santun menawarkan diri. Ibu setuju. Tapi kerabat dekat umumnya tak sepakat. Mereka tak mengenalnya. Dan kalau benar dia dalang, dia dalang, bukan ahli jenazah. Ibu mengatasi pendapat umum dengan alasan umum, ”Tak perlu menunggu ahli. Yang penting bapakku bersih dan bisa segera dikuburkan. Apa perlu ke rumah sakit karena pilek sedikit? Minum beras kencur saja mungkin sudah baik.” Ibu menang.

Kadar mengawasi ibu menikmati lelaki itu memandikan eyang. Betapa bahagia ibu, laki-laki itu ternyata tak sekadar beras kencur, ia jamu komplit. Tak hanya memandikan, semua urusan pemakaman eyang ia bereskan. Jamu manjur itu segera lekat di hati ibu. Di malam keempat puluh, jamu dan tubuh ibu telah saling menagih. Di malam keseratus mereka telah bersumpah saling setia. Di malam keseribu, seorang perempuan dari kampung jauh meraung menggedor pintu. Sebelum ia masuk ke rumah kami, suaminya telah mengendap pergi. Tak pernah kembali.
***

Seekor kucing tergeletak di jalan, pelan-pelan mati dan basah. Gerimis mulai turun. Kadar sedih memikirkan jemuran. Tapi setelah menyeberang jalan raya ini mereka akan sampai, tinggal tiga ratus meter lagi. Kadar menepuki punggung di depannya, memberi semangat. Ingus Sopan tetap meler, tapi ia terus mengayuh. Ia lelah, tapi berahi oleh sebuah kebenaran yang ganjil: Di depan jendela, bocah itu hanyalah pemain yang patuh. Ia diam melihat cahaya membakar. Cahaya yang tak hanya hangat tapi juga jahat. Bapak yang salah. Bapak lupa cara menikmati permainan. Maka ia terbunuh. Atau dibunuh. Terserah. Tapi Sopan tak mungkin menyalahkan perempuan itu. Sebab setelah otot laki-lakinya tumbuh besar, matanya melihat secara berbeda. Makhluk mengerikan itu tampak anggun di jendela.
***

Kamar ibu wangi pandan. Air berjatuhan. Tak ada kesedihan.

Kangmas, aku duduk di ceruk sungai ini dan tak ada yang bertanya kepadaku. Pertanyaan palsu sekalipun. Orang-orang sudah hafal cerita tentang diriku yang mereka karang sendiri itu. Maka aku menangis sebagaimana embun, menunggu kehangatan membinasakanku. Atau aku ingin kembali berdiam di ketinggian. Menjadi pucuk daun di puncak pohon. Menjadi wajar kau diamkan.

Kopen, 2009

*) Penulis, actor, dan sutradara teater. Karya sastranya antara lain termasuk dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan 2009 versi Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen SUNDAL adalah bagian dari proyek karya seni multidisiplin berangkat dari legenda Sundel Bolong yang digagasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *