9 Pertanyaan untuk Eka Kurniawan: Manfaatkan Cyber sebagai Media Sastra

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

NAMA Eka Kurniawan sering disebut-sebut sebagai magma baru dunia sastra Tanah Air. Kepiawaiannya dalam memadu kata membuat Eka menuai banyak pujian. Tetapi, segala sanjungan itu tak lantas membuat lulusan Filsafat Universitas Gajah Mada ini menjadi besar kepala, ia malah memanfaatkannya sebagai alasan untuk terus menginjak bumi.

Cara bertutur Eka memang tak biasa. Ia mencoba lepas dari arus utama tema-tema yang mudah ditebak. Tengok saja beberapa cerita pendek yang telah dihasilkannya seperti Bercinta dengan Barbie, Lelaki Sakit, Assurancetourix, atau Hikayat Si Orang Gila.

Di tangan Eka, sastra menjadi sesuatu yang cair dan bisa merembes ke kalangan manapun. Eksplorasi yang dilakukannya tak sebatas menghadirkan realis-magis ala Indonesia, tetapi mencoba menciptakan sihir baru yang memikat. Berikut petikan obrolannya dengan Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.

1. Karya apa yang sekarang sedang Anda kerjakan?
Saya sedang mempersiapkan novel baru yang rencananya akan diluncurkan sekitar bulan Maret atau April mendatang. Novel tersebut berjudul Malam Seribu Bulan. Bercerita mengenai perjalanan seorang Syekh Ruhayat Jamil bersama empat orang muridnya.

Dalam novel tersebut saya menceritakan Syekh Ruhayat Jamil sejak masa nenek moyangnya mendirikan padepokan. Ketika itu mereka harus melewati timbul-tenggelamnya perkembangan Islam di Indonesia: sejak kedatangan orang-orang Turki di Kerajaan Aceh; Perang Padri; Wali Songo di Jawa; pendirian organisasi Islam modern semacam Sarekat Islam, NU, Muhammadiyah, peristiwa Darul Islam; para pemuda yang berbondong-bondong sekolah militer ke Pakistan.

Semua kisah keluarga Ruhayat Jamil ini saya ceritakan dalam empat versi yang terkadang sama, namun terkadang jauh berbeda. Saya juga mencoba memadu gaya prosaik Al Quran hingga alusi-alusi Nizami, gaya bercerita Kisah 1001 Malam hingga lelucon-lelucon sufistik Nasrudin. Keempat versi kisah ini merupakan usaha “kanonisasi”, sebagaimana sering terjadi dalam berbagai kelahiran kitab suci.

2. Anda tidak takut mengangkat tema yang cukup sensitif bagi masyarakat Indonesia?
Jujur, sebenarnya agak takut. Tetapi, ketika saya diskusikan dengan pihak penerbit mereka bilang tidak masalah. Dalam novel tersebut saya juga menulis cukup positif dan tidak mendeskriditkan pihak mana pun.

Keberadaan Islam di Indonesia sebenarnya sudah menarik minat saya sejak lama. Kalau kita lihat para penulis luar, mereka banyak memasukan konteks sosial dalam karya-karyanya termasuk agama. Tetapi, saya melihat fenomena itu sangat jarang ditemui di Indonesia, padahal agama merupakan bagian dari keseharian. Terlepas kamu adalah seorang religius atau abangan, agama itu ada secara sosial.

3. Belum lama ini novel terbaru Anda didiskusikan di Jepang, bagaimana tanggapan mereka terhadap novel tersebut?
Diskusi tersebut diadakan di Tokyo University of Foreign Studies, kebetulan publik di sana tahu tentang novel yang sebelumnya dan mereka ingin tahu tentang karya berikutnya. Karena novel Malam Seribu Bulan belum terbit, saya mencoba memberi semacam ringkasan ceritanya.

Hal ini sebenarnya agak menyulitkan saya, sebab novel bukan sekadar sebuah gagasan cerita, tetapi juga mengandung gagasan bentuk yang berhubungan dengan cerita. Tanpa melihat novelnya secara utuh, rasanya sulit mengenali gagasan bentuknya. Oleh karena itu, dalam diskusi itu kami lebih banyak berbicara mengenai ide cerita novel.

4. Mengapa novel Anda diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, bukan Inggris?
Sebenarnya diterjemahkannya novel saya ke bahasa Jepang merupakan sesuatu yang di luar rencana. Awalnya novel Cantik Itu Luka mau diterjemahkan terlebih dahulu ke bahasa Inggris, tetapi sampai sekarang proses penerjemahannya belum selesai. Lalu tiba-tiba seorang penerjemah bernama Ribeka Ota berinisiatif untuk menerjemahkannya ke bahasa Jepang dan ada penerbit di sana yang berminat.

5. Anda juga memanfaatkan dunia maya sebagai media penulisan sastra?
Saya sudah membuat web sejak tahun 2000-an, tetapi saya baru rutin nge-blog sekitar dua tahun terakhir. Waktu itu saya suka melakukan eksperimen tidak tertata di web sastra yang saya buat bernama Bumi Manusia, sementara blog pribadi saya ketika itu lebih sering digunakan untuk menyimpan data. Kemudian web Bumi Manusia ditutup dan saya pun kembali menggunakan blog pribadi.

6. Kelebihan dan manfaat apa yang Anda petik dari bergiat di dunia maya?
Seorang anak muda yang menulis di blog dan di sampingnya ada blog penulis terkenal, maka seketika ia akan merasa berada pada ruang yang sama. Hal ini sangat sulit terjadi pada media lain, di mana pemula sulit untuk masuk. Kesetaraan yang terjadi di dunia cyber dapat meningkatkan rasa percaya diri sehingga memacunya untuk produktif menulis.

Dunia cyber juga memberikan peluang eksperimen sastra yang lebih luas. Bentuknya yang masif membuat Anda bisa mengedit dan mengubahnya kapan pun Anda mau. Pergerakan di dunia sangat cepat, setiap detik muncul tulisan baru sehingga dapat merangsang seeorang untuk belajar dengan cepat.

Lebih dari itu, dunia cyber juga menggunting jarak antara penulis dan pembaca. Di media cetak, sebelum sampai ke pembaca sebuah karya harus melewati editor dan penerbit terlebih dahulu. Sedangkan di dunia cyber sebuah karya dapat langsung menyapa pembacanya dan dalam hitungan detik karya itu bisa mendapatkan respons.

Jika di media cetak selera pembaca ditentukan oleh redaktur, karena redaktur yang memutuskan karya apa yang dimuat minggu ini, maka pada media cyber pembaca bebas menentukan seleranya untuk membaca dan menilai.

7. Jangan-jangan ramai-ramai menulis di dunia maya hanya fenomena musiman?
Saya melihatnya sebagai sebuah langkah awal, tetapi bukan merupakan fenomena musiman. Bentuk serta teknologi cyber belum sesolid media cetak yang telah berusia ratusan tahun sehingga akan terus mengalami perkembangan.

Tetapi, dari fenomena ini saya melihat banyak hal positif yang bisa diperoleh antara lain jurnalisme warga. Dalam blognya seseorang bisa menuturkan tentang kejadian sehari-hari yang dialaminya. Mungkin tulisan seperti ini tidak tertampung di koran atau majalah, tetapi informasi yang dituliskan tentu dapat berguna bagi yang membacanya.

8. Pemanfaatan dunia maya sebagai media penulisan sastra di Indonesia apakah sudah maksimal?
Belum. Kalau dilihat dari segi kuantitas penulis yang aktif di dunia cyber, jumlahnya masih sangat minim. Sedangkan bila dilihat dari segi konten, isinya tidak jauh berbeda dengan media cetak berupa puisi, cerita pendek, esai atau peristiwa sehari-hari.

Berkaca pada perkembangan dunia cyber di negara lain yang begitu pesat, sastra cyber di Indonesia bisa dikatakan tertinggal jauh. Di Amerika tersebut seorang koki bisa menulis tips cara memasak makanan atau seorang desainer yang menulis tips cara berpakaian di blog. Sementara di Indonesia, blog masih digunakan sebagai catatan personal, belum banyak yang melibatkan profesi atau pengetahuan yang dimiliki.

Sastra cyber sebenarnya bukan semata-mata memindahkan tulisan sastra di koran atau majalah ke media cyber. Lebih dari itu, dunia cyber memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lain seperti bunyi atau gerak. Nah, kelebihan-kelebihan itu yang kemudian harus dipertajam untuk membedakan sastra cyber dengan sastra lainnya.

Saya pernah melakukan eksperimen bentuk penulisan sastra di dunia cyber pada blog pribadi. Dengan menggunakan program khusus saya membuat puisi Chairil Anwar berubah bentuk setiap kali hurufnya diklik. Dan bentuk tersebut tidak dapat dipindahkan ke majalah atau buku.

9. Akankah dunia maya sebagai media penulisan sastra menggeser media cetak?
Saya lebih setuju untuk melihatnya sebagai dua media yang berbeda. Saya rasa tidak bijak rasanya bila memandang sastra cyber hanya sebagai pelarian dari keterbatasan ruang di media cetak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *