CROWD dan Horizontalisasi di Dunia Sastra

Wahyu Utomo
http://jurnalnasional.com/

SEBUAH media ibu kota beberapa waktu lalu memuat sebuah artikel panjang mengenai fenomena ?boom sastrawan?. Media itu menengarai munculnya para sastrawan dalam jumlah yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, para sastrawan baru itu datang dari berbagai lapisan mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, buruh-buruh pabrik, anak jalanan, pedagang pasar, dan sebagainya. Pokoknya semua kalangan, tak hanya para sastrawan kelas pujangga macam: WS Rendra, Danarto, Sutradji Calzoum Bachri, atau Putu Wijaya.

Fenomena munculnya para sastrawan andal dari berbagai kalangan dalam jumlah besar inilah yang saya sebut ?horizontalisasi dunia sastra?. Walaupun media tersebut tidak menggunakan istilah tersebut namun fenomena yang ada di dalamnya persis sekali dengan fenomena ?Horizontalisasi? yang saya gambarkan di buku saya CROWD ?Marketing Becomes Horizontal?.

Tulisan itu dibuka dengan sebuah lead menggelitik sebagai berikut: ?Lama sudah sastra menempati ruang sakral milik kalangan elite sastrawan yang menulis bak empu menempa keris. Ketika teknologi informasi kian canggih dan medan sosial makin terbuka, kini dunia penulisan mencair mengalami booming. Semua orang seperti keranjingan menulis, komunitas sastra bermunculan, buku-buku terbit, dan internet diramaikan puisi atau cerpen.?

Paragraf pembuka ini mencoba memberikan gambaran bahwa kini tidak zamannya lagi mencipta sebuah puisi atau cerpen hanya dimonopoli oleh kalangan elite sastrawan tertentu (sastrawan sekaliber Rendra atau Sutardji Calzoum Bachri) yang nyentrik, penyendiri, perenung, dengan karya-karya ?di menara gading?. Kini puisi dan cerpen juga bisa diciptakan oleh anak-anak SMA, remaja-remaja gaul, buruh pabrik, ibu rumah tangga, anak jalanan, hingga pembantu rumah tangga.

Selamat datang ?era demokratisasi sastra?.
Selamat datang ?era horizontalisasi sastra?.

Bagaimana revolusi dunia sastra ini terjadi? Biangnya adalah media sosial yang memungkinkan siapa pun kita bisa membicarakan, berdiskusi, membaca, dan menulis puisi. Media sosial itu bisa berupa komunitas-komunitas penggandrung sastra (contohnya di tulisan itu: Komunitas Bunga Matahari, Komunitas Lingkar Pena, dan sebagainya) juga media-media sosial seperti situs-situs Blogspot, Multiply, Worpress, Friendster, atau Facebook (sering disebut sebagai web 2.0 tools).

Dalam bahasa saya, para penggiat sastra itu membentuk ?crowd? yang menjadi medium bagi mereka untuk belajar, bertukar pikiran, berdiskusi, dan akhirnya menghasilkan karya. Proses penciptaan karya sastra kini sudah tidak dilakukan secara sendiri-sendiri (merenung di pucuk gunung atau di pinggir pantai yang sepi) tapi melalui medium sosial seperti komunitas online atau situs jejaring sosial seperti Facebook untuk mengambil manfaat dari apa yang disebut sebagai ?collective wisdom?. Ini yang namanya ?crowdsourcing? di dunia kesusasteraan.

Karena dialog dan proses belajar di medium-medium sosial itu terbuka untuk siapa pun, makanya tak heran jika kini siapapun bisa menjadi sastrawan, persis seperti bunyi motto dari Komunitas Bunga Matahari seperti di sebut di tulisan tersebut: ?Semua Orang Bisa Berpuisi?.

Dunia kesusasteraan kita rupanya tak luput dari ?Tsunami web 2.0?, yang menghasilkan wajah dunia sastra kita yang ?horizontal?, yang ?demokratis?. Saya menyebut pelajar SMA, mahasiswa, anak-anak gaul, ibu rumah tangga, buruh pabrik, anak jalanan, pembantu rumah tangga yang memanfaatkan komunitas dan web 2.0 sebagai medium untuk menempa diri menjadi sastrawan andal itu sebagai: ?Sastrawan 2.0?.

Yuswohady, MarkPlus Institute of Marketing (MIM), Penulis CROWD: ?Marketing Becomes Horizontal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *