Hero Baru: Antikoruptor

Achmad Buchari*
http://www.surabayapost.co.id/

Jelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November nanti, perlulah kita sejenak melakukan renungan tentang sang pahlawan kita di negeri ini. Siapa yang berhak menyandang kata pahlawan dalam konteks berkebangsaan saat ini.

Mengapa hal ini perlu kita retrospeksikan? Ini karena kejelasan bahwa pahlawan itu adalah pejuang. Karena makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban. Jelas sekali, bahwa sebuah negara tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan.

Pahlawan ini menjadi penting karena fungsinya yang inspiratif: Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi negeri; inspirasi agar bangsa ini terus bangkit.

Setiap generasi memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Dulu, musuh utama bangsa ini adalah penjajah. Heroisme untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan menjadi pekik yang tidak pernah berhenti disuarakan. Kini, siapa yang layak menjadi musuh bangsa ini?

Musuh besar kita tak lain dan tak bukan adalah korupsi, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Itulah sejumlah masalah utama yang dihadapi negeri ini sekarang. Korupsi itu ibarat penyakit kronis yang menggurita. Namun perilaku orang justru berlomba-lomba mengeruk uang negara yang jelas-jelas adalah uang rakyat.

Perlombaan mengeruk uang negara itu terjadi di semua level dan menyebar baik di pusat maupun di daerah. Hampir di semua jajaran, baik yudikatif, legislatif, maupun eksekutif, terjangkit penyakit korupsi yang boleh dibilang kini mencapai tingkat akut.

Jumlah orang miskin juga seperti tak ada habis-habisnya. Padahal, pembangunan terus dilakukan. Tentu ada yang salah atau tidak beres dalam proses pembangunan kita. Salah dalam tataran perencanaan dan implementasi. Sebab masih amat banyak yang berpikiran bahwa harta negara boleh diambil semau-maunya.

Kini bangsa ini juga mengalami problem amat serius, yakni ketidakpercayaan diri. Sebuah bangsa tanpa kepercayaan diri tidak mungkin bisa menghasilkan produk-produk unggul. Keunggulan hanya bisa diraih jika kita mempunyai kebanggaan akan bangsa dan negerinya sendiri.

Dengan inferioritas ini kita akan sulit bersaing di era global. Sebab globalisasi menuntut keunggulan. Tanpa keunggulan, kita hanya akan menjadi penonton yang bisa berteriak-teriak, tetapi tidak bisa menentukan apa-apa.

Cerita korupsi tidak akan pernah habis kalau masih banyak orang masih sangat berkeinginan untuk tetap mencari kekayaan semata dalam kehidupannya. Dan Indonesia masih saja menjadi negara yang tidak lepas dari belenggu korupsi.

Parahnya lagi pencegahan korupsi di Indonesia masih jalan di tempat. Bahkan dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari 2,2 pada 2005 naik menjadi 2,4 pada 2006 yang dikeluarkan Transparency International (TI). Pada 2007 turun menjadi 2,3 dan kembali naik pada 2008 menjadi 2,6.

Itu belum lagi hasil survei yang dilakukan TI yang menunjukkan Instruksi Presiden No 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi selama ini hanya menjadi dokumen yang tersimpan dengan rapi di atas meja pimpinan unit-unit kerja pemerintahan, namun belum dijalankan dan belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Padahal, presiden melalui Inpres No 5 Tahun 2004 telah mengamanatkan peningkatan kualitas pelayanan publik di butir keempat Inpres itu dan penetapan program serta wilayah bebas korupsi di butir kelimanya. Tentunya hal ini menunjukkan betapa masih buramnya potret di Indonesia tentang penanganan korupsi. Sungguh menyedihkan di tengah usia Indonesia yang sudah mencapai 61 tahun.

Korupsi sepertinya telah menjadi bobrok utama masyarakat, bahkan menjadi budaya dari kalangan berpangkat sampai rakyat biasa. Ibarat suatu penyakit sudah menjadi sangat kronis dan sudah menjalar ke seluruh tubuh sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan sendi-sendi perekonomian. Akibat korupsi tidak ada lagi orang yang bisa menjadi pahlawan dan anutan. Yang banyak berseliweran adalah orang-orang yang mengaku pahlawan.

Parahnya lagi lebih banyak masyarakat sekarang yang malah berlomba-lomba menjadi terhormat dengan melakukan korupsi tanpa malu-malu. Bahkan korupsi itu sudah berani memutuskan hukum secara tidak benar, atau yang sekarang cukup populer di masyarakat dengan istilah kalau bisa dipermudah mengapa dipersulit. Tentunya satu istilah yang sangat enak untuk didengar namun malah menjadi sebuah trend betapa kemudian seenaknya saja orang mencuri uang negara.

Tentunya saat ini yang sangat dicari adalah seorang pahlawan yang mampu memberantas korupsi yang sepertinya sudah berurat-berakar di negara ini. Dicari seorang yang berani menolak segala sesuatu pemberian hanya untuk kepentingan pribadinya. Orang yang perakasa memangkas birokrasi yang semuanya berujung kepada perilaku korupsi. Inilah yang menjadi satu tanda tanya yang sangat besar dan menggelayut di dalam setiap pemikiran kita.

Bagaimana frame pahlawan anti korupsi tentunya sangat sulit untuk dijelaskan. Namun untuk dasarnya adalah bagaimana sosok hukum itu memberikan jaminan terwujudnya keadilan dan penegakan peraturan. Tetapi tetap saja hukum malah masih memberikan celah untuk seseorang dapat lepas misalnya dari jeratan hukum. Bahkan parahnya lagi ada seorang buronan koruptor masih enak berseliweran di tengah jalan raya sementara dirinya seharusnya sudah masuk dalam ruang tahanan untuk menjalani eksekusi terhadap perbuatannya yang merugikan negara selama ini.

Pahlawan antikorupsi itu tentunya adalah bagaimana hati nurani semua kita mampu berkata tidak pada saat kita melihat ada sesuatu yang sebenarnya tidak beres. Sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi hak kita. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar yang memiliki harta berlimpah namun diperoleh dari hasil yang kurang sehat. Dan yang paling penting adalah bagaimana dia setiap saat takut dengan Tuhannya terhadap apa yang dilakukannya di muka bumi ini.

Sesungguhnya para pahlawan yang berjuang pada zaman revolusi dahulu jelas punya cita-cita mulia agar negara ini dapat berdiri dengan kukuh dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Para pahlawan rela berkorban agar anak cucunya tidak dicemoohkan oleh bangsa lain. Itulah yang seharusnya direnungkan semua kita bahwa kita memang harus bisa bangkit bukan sebagai negara juara satu koruptor namun menjadi negara yang nomor satu dalam kebersihannya dan kejujurannya.

*) Aktivis HMI Badko Jatim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *