KEINDONESIAAN IDENTITAS INDONESIA*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tulisan Seno Gumira Ajidarma, ?Keindonesiaan? (Kompas, 12 Februari 1995), sungguh cerdas dan menarik untuk didiskusikan. Tulisan ini mencoba untuk memberi catatan kecil terhadapnya.

Dalam berkesenian, nama (identitas) sememangnya tidaklah lebih penting dari karyanya sendiri. Nama besar dengan karya picisan, bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan. Sebab, yang penting adalah: dapatkah karyanya menjadi sebuah monumen hingga nama sang pencipta menjadi masyhur. Kemasyhuran nama yang terangkat oleh karya itu, di zaman modern acapkali dihubungkan dengan trade mark. Ciri karya seseorang yang berbeda dengan karya yang lain. Implikasinya adalah kekhasan.

Di balik kekhasan yang membedakannya dengan karya-karya yang lain, tersimpan ciri universalitas. Karya seni yang agung, niscaya menyimpan ciri-ciri itu. Ia tak lekang dimakan waktu, terbebas dari batas-batas geografi, dan menyodorkan keindahan estetik yang universal, sekaligus unik, khas. Lalu, manakala muncul pertanyaan, karya siapakah itu? Nama kemudian menjadi penting: Rembrant, Beethoven atau Sophokles? Ekor pertanyaan ini pun, merembet pula pada soal identitas. Jadi, suka atau tidak suka, identitas terpaksa terbawa dan dibawa-bawa. Kita pun lalu membedakannya dengan karya yang lain, pengarang lain, berikut identitasnya yang juga lain.

Mengindonesiakan karya seni Indonesia adalah sesuatu yang wajar, sebab memang semestinya demikian. Ia tidak pula berkaitan dengan urusan nasionalisme, karena hakikat kesenian tidaklah memihak nation. Jika kemudian karya itu diklaim sebagai mengangkat martabat bangsa, itu lantaran ia diyakini sebagai milik bangsa yang bersangkutan. Dengan begitu, muncul pula urusan trade mark; kekhasan karya itu dibandingkan karya lain dari bangsa lain. Apa pula alasannya, sehingga kita perlu berurusan dengan trade mark, kekhasan dan identitas? Inilah duduk soalnya.

Pertama, kesenian adalah salah satu bagian dari kebudayaan. Ini merupakan fitrahnya yang hakiki. Di dalamnya terkandung naluri budaya suatu bangsa. Di sini, identitas menjadi penting. Sebutlah Mahabharata. Mengapa Mahabharata versi Valmiki berbeda dengan Mahabharata yang berkembang di Nusantara ini? Dari mana pula asalnya tiba-tiba muncul tokoh-tokoh punakawan? Inilah ciri yang khas Indonesia, yang berbeda denagn versi India.

Sebut pula karya sufistik Jalaluddin Rumi. Adakah kerinduan dan semangat

profetiknya bercirikan Jawa, sebagaimana yang dapat kita tangkap pada karya-karya Ronggowarsito, Yosodipuro atau karya kontemporer Danarto? Identikkah Oedipus dan Sangkuriang? Identitas Oedipus yang Yunani dan Sangkuriang yang Sunda, bukanlah sekadar paspor. Ia terikat pada naluri dan sikap budaya yang masing- masing mempunyai kekhasannya sendiri. Itu pula sebabnya, Pariyem yang Jawa menjadi terkesan sumarah, sedangkan Lawino dan Ocol yang Afrika terkesan liar dan garang.

Dalam konteks ini, persoalannya juga menyangkut ihwal karya terjemahan. Bahwa terjemahan Sapardi Djoko Damono atas sajak-sajak Cina dan Afrika (karya Okot dan p?Bitek) atau Chairil Anwar atas sajak Archibald MacLeish ?boleh jadi? lebih bagus dari karya aslinya, tidaklah berarti sekaligus menghilangkan identitas kecinaan, keafrikaan, keinggrisannya. Ia tetap mengungkap trade mark-nya masing- masing. Jika kemudian karya terjemahan itu menjadi lebih bagus, tidak pula berarti karya itu hilang dan digantikan oleh karya baru (terjemahan). Identitas dari mana karya itu berasal, tetaplah melekat di dalamnya.

Pengucapan, gaya bahasa, atau cara penyampaian mungkin lain sama sekali. Namun roh yang melekat dan mendiaminya tetaplah roh yang sama. Roh inilah identitasnya. Di sini, persoalannya bukan pada penghilangan karya bersangkutan, melainkan pada kepiawaian penerjemah menangkap rohnya. Penerjemah dituntut menjadi pengkhianat kreatif. Ia mesti berkhianat pada karya aslinya, namun pengkhianatannya tidak secara ngawur, melainkan secara kreatif. Itulah sebabnya ?menyitir istilah Sapardi Djoko Damono? penerjemahan disebut juga pengkhianatan kreatif.

***

?KEINDAHAN memang ditentukan oleh makna.? Demikian Ajidarma mengungkapkan. Tetapi pemaknaan tidaklah serta merta seragam. Pemaknaan juga tidak ada hubungannya dengan selera. Selera berhubungan erat dengan suka tidak suka. Sedangkan pemaknaan, bersangkut paut dengan nilai dan penilaian. Jadi, pemaknaan bergantung pada cetek-dalamnya intelek dan luas- dangkalnya wawasan. Ringkasnya, menyangkut tingkat apresiasi.

Seni populer dapat dinikmati dan dimengerti oleh khalayak masyarakat luas. Serial Satria Baja Hitam, misalnya. Dari cucu sampai kakek, pembantu sampai tuan atau nyonya juga dapat menikmatinya betapapun film itu dari Jepang. Lalu, apakah tuan dan nyonya itu pun, dapat pula menikmati dan memahami karya Garin Nugroho, Surat untuk Bidadari atau film-film sejenis itu yang notabene karya bangsa sendiri?

Petani garam Indramayu sangat mungkin merasa tersiksa mendengarkan Mozart, dan mendadak berbinar manakala suara itu digantikan tarling Adjid. Arifin C. Noer niscaya dapat bolak-balik Mozart?Tarling, tanpa mesti mengantuk dan tersiksa. Kasus yang sama juga berlaku bagi sosok Paijo yang hanya akrab dengan Wayang, dan Umar Kayam yang pergi- pulang antara Wayang dan seni kontemporer.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya tidak berurusan dengan kelas sosial, melainkan dengan kebudayaan massa atau populer (mass culture) dan kebudayaan elite (high culture). Manakah yang lebih baik? Semuanya baik, sebab seni apa pun mempunyai nilai estetika sendiri. Pemaknaan atas karya mana pun mesti berdasarkan nilai estetika masing-masing. Dalam hal ini pun, identitas, terpaksa, menjadi penting, karena ia diperlukan untuk membedakan ciri-ciri kekhasannya. Tradisi maca Cirebon, tarling, atau pantun Sunda, misalnya, di tingkat lokal sering ciri-cirinya berkaitan atau dilekatkan dengan budaya dan tradisi setempat, yang di tingkat nasional ditempatkan dalam hubungan kebudayaan nasional-daerah. Lalu, bagaimana kita dapat menanggalkan identitas itu, jika di tempat (negara) lain, tidak ada kesenian seperti itu?

***

INDONESIA, sememangnya Bali, Asmat, atau apa pun. Keberadaan berbagai kebudayaan itu, ada begitu saja (nemplok). Kita tidak dapat manafikannya. Tetapi identikkah Bali dan Asmat? Inilah soalnya yang menyangkut identitas masing- masing.

Dalam skala global, Indonesia, terpaksalah dibedakan dengan ?desa-desa? lain di dunia, sebab, hakiki dari awalnya memang berbeda. Identitas keindonesiaan dengan demikian, perlu dipahami, bukan dicari-cari sebab sudah ada dan mengada. Nah!***

*) Kompas, Minggu, 26 Februari 1995

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *