Lanjutan ‘Da Vinci Code’, ‘The Lost Symbol’, Diluncurkan Pekan Depan

Nurkhoiri
http://www.tempointeraktif.com/

Dan Brown akan merilis lanjutan novel sangat laris “Angels & Demons” dan “Da Vinci Code”, diberi judul “The Lost Symbol”, pada Selasa (15/9). Jika dua novel sebelumnya yang bertokohkan pakar simbol dari Universitas Harvard, Robert Langdon, membeberkan organisasi terkait Katolik, “The Lost Symbol” bercerita tentang kelompok rahasia Fremasonry.

Penerbitnya menggunakan teknik pemasaran ala Harry Potter untuk memastikan novel ini langsung laris di hari pertama penjualan. Mereka menyewa biro publisis via Internet, Special Ops Media, untuk memanaskan pasar via Twitter.

Special Ops mulai mengirim tanda-tanda seperti apa isi novel itu mulai 23 Januari silam via Twitter. Karena tidak satu orangpun dari Special Ops diizinkan membaca novel Dan Brown terbaru ini, si biro iklan hanya memberi informasi umum.

“The Lost Symbol” juga dipasarkan via acara televisi “Today”. Pembawa acaranya, Matt Lauer, termasuk satu dari sangat sedikit orang yang sudah membaca novel ini dengan sebelumnya menandatangani sumpah tidak akan membocorkan isinya.

Dalam acaranya, Lauer memberi isyarat sejumlah tempat yang menjadi lokasi novel. Laurer juga akan mewawancarai Brown.

Toko buku Internet Amazon juga mengambil langkah dramatis agar novel itu tidak bocor. Mereka meletakkan novel itu digudang dengan dua kunci yang dipegang dua orang terpisah untuk memastikan tidak ada kebocoran.

Dilaporkan saat ini setidaknya sudah ada 70 ribu orang yang memesan “The Lost Symbol” ke Amazon dan perusahaan ini akan segera mengirim begitu hari Selasa datang.

Jaringan toko buku Borders juga berencana membuka sebagian tokonya lewat tengah malam sehingga tepat pukul 00.01 pada Selasa pekan depan, para peminat “The Lost Symbol” sudah bisa membeli. Mirip dengan cara pemasaran Harry Potter.

Sejumlah blog dan di Twitter muncul spekulasi apa isi novel Brown yang mestinya diluncurkan pada 2005 ini. Disebut-sebut novel ini akan berlatar belakang Washington dengan rentang waktu cerita hanya 12 jam. Sedang isinya mengulas soal kelompok rahasia Fremasonry.

Saat “Da Vinci Code” muncul, sejumlah buku terkait kelompok Priority of Sion dan Opus Dei ikut laris. Mendengar novel Dan Brown mengulas soal Freemason, sejumlah toko buku pun bersiap-siap dengan mengumpulkan buku-buku tentang kelompok misterius itu.

Toko buku Tattered Covers di Denver, misalnya, sudah mengumpulkan buku-buku seperti “”Born in Blood: the Lost Secrets of Freemasonry” tulisan John J. Robinson atau “Freemasons for Dummies” oleh Christopher Hodapp.

Penerbit juga bersemangat sama. Tiga tahun silam, saat Brown menyebut temanya tentang Fremasonry, penerbit Ulysses Press meminta Hodapp menulis buku “Solomon’s Builders” yang berisi pengaruh organisasi rahasia ini di Washington. Hodapp juga sudah diminta Ulysser Press menulis buku tentang fakta-fakta di dalam novel “The Lost Symbol” begitu novel ini dipasarkan.

Penerbit lain, HarperOne, juga sudah dua tahun silam meminta Jay Kinney menulis buku “The Masonic Myth” dan akan dirilis bersamaan dengan peluncuran “The Lost Symbol” pekan depan.

Masih belum jelas kapan novel ini bakal dirilis terjemahan Bahasa Indonesia. Tapi, sebagai perbandingan, novel “Harry Potter” versi Indonesia lebih lambat sekitar setengah tahun dibanding versi Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *