MASA LALU yang Enak Dibaca

MAKIN BANYAK TERJEMAHAN BUKU BERKATEGORI SEJARAH YANG MENGHIBUR DAN MENCERAHKAN
Purwanto Setiadi
http://www.ruangbaca.com/

Di ruang penyimpanan James Ford BellLibrary, University of Minnesota, sebuahpeta navigasi buatan kartograferZuane Pizzigano, bertarikh 1424, sudahtersimpan bertahun-tahun ?barangkalibahkan sejak 1940-an, ketika keberadaannyadiketahui untuk pertama kalinya. Selama itusangat mungkin orang demi orang membukabukanyadan mempelajarinya. Tapi, rupanya,tak ada yang sebersemangat Rowan GavinPaton Menzies sesudahnya ?atau mungkinmemang tak ada yang merasa perlu untuk itu.

Dari saat melihat peta berukuran sekitar0,5 X 1 meter itu, pada 1992, dan lalu memeriksasegala kemungkinan untuk menjawabaneka pertanyaan yang timbul di kepalanya,Menzies, dengan keyakinan yang berkobarkobardan tanpa pernah letih, mengemukakantesis bahwa Vasco da Gama, Christopher Columbus,Ferdinand Magellan, dan James Cooksama sekali tak melakukan hal baru. Menurutmantan perwira angkatan laut Inggris ini, parapenjelajah itu tak berlayar di tempat-tempatyang belum diketahui; mereka berangkatdengan pengetahuan dan peta yang diwariskanoleh para pemberani pendahulu mereka,para pelaut Cina.

Berdasarkan temuan-temuannya, Menziesmenyatakan bahwa antara 1421 dan 1423 armadaCina yang terdiri atas ratusan kapal telahmengelilingi Tanjung Harapan di ujungselatan Afrika, mencapai Amerika Utara danSelatan, memutari bumi dan mendarat diAustralia. Ringkas kata, menurut dia, duniaseutuhnya merupakan temuan para pelaut Cina.

Satu jilid buku setebal 500 halaman lebihpun dia terbitkan pada 2002, berjudul 1421:The Year China Discovered the World (diAmerika buku yang sama bisa dijumpai denganjudul 1421: The Year China DiscoveredAmerica). Dia menulis dalam bukunya: ?Columbus,da Gama, Magellan, dan Cook… semuasadar bahwa mereka tengah mengikutilangkah yang lainnya, karena mereka membawaserta salinan peta Cina ketika merencanakanperjalanan mereka menuju ?yang tidak diketahui?.?

Menzies menikmati buah sukses buku itu(di samping laris, dia sebelumnya menerimauang muka 500 ribu poundsterling dari penerbitTransworld). Pada saat yang sama dia jugatak bisa mengelak dari kritik yang datangbertubi-tubi, khususnya dari kalangan sejarawan.Dia sukses, mungkin, karena hal yangsama sekali baru ?jika kata kontroversialhendak dihindari ?yang dia beberkan, sesuatuyang merontokkan keyakinan lama yangtelanjur mapan; tapi sudah pasti sebagian karenabukunya memang memikat (betapapunlemahnya bukti-bukti yang dia ajukan menurutpara pengritiknya).

Dan dengan kekuatan di sisi itulah, carabercerita yang sanggup memaksa pembacabertahan untuk terus membalik halaman demihalaman, sejumlah buku sejarah populer diterbitkan.Buku-buku itu, karya bukan-sejarawanmaupun sejarawan, sebagian telah ikutberderet di rak toko-toko buku di sini dalamversi terjemahan bahasa Indonesia; yang terbaruadalah Jenghis Khan: Legenda Sang Penaklukdari Mongolia.

Sebagian besar dari buku-buku itu, dalamversi aslinya, malah tak harus sampai menimbulkankontroversi. Coba baca Krakatau: KetikaDunia Meledak, 27 Agustus 1883. Versiasli buku karya Simon Winchester, penulisasal Inggris yang pernah tiga tahun bertugassebagai koresponden koran The Guardian, iniditerbitkan pertama kali pada 2003. Di AmerikaSerikat, sepekan setelah toko-toko bukumulai memajangnya, ia menjadi buku yangpaling banyak diulas; ia seketika melesat keposisi teratas dalam daftar buku non-fiksi terlaris.

Sukses itu, tentu saja, mula-mula memangharus diatribusikan pada topiknya. Banyakyang mengakui, dalam kategori sejarah populer,meletusnya Gunung Krakatau adalah topikyang ideal: peristiwa dramatis yang siapapun pernah mendengarnya, tapi tak seorangpun yang tahu banyak (?Krakatau,? kataWinchester dalam Pengantar, adalah ?…sebuahnama yang selama puluhan tahun telahtertanam dalam kesadaran kolektif seluruhdunia….?)

Tetapi, lebih dari itu, harus diakui bahwaWinchester telah menjalankan tugasnya denganbaik. Sebagai seorang ahli geologi denganindera yang sensitif terhadap sejarahdan keterampilan menulis yang terasah, diamerupakan narator yang sempurna untuk menuturkanbencana mahadahsyat itu kepadakhalayak luas. Dia meneropongnya dari berbagaisudut, vulkanologi, orogeny (formasigunung), meteorologi, gempa, literatur, bahkankolonialisme Belanda, nasionalisme, danfundamentalisme Islam. Ikhtiar yang sangatambisius ?dengan hasil yang melampaui ekspektasiterbaik pembaca.

Salah satu contoh bagaimana Winchestermenulis dengan begitu menakjubkan ?danmengejutkan, karena tak pernah terbayangkan?ada di Bab 8, ketika dia memaparkandampak getaran letusan Krakatau terhadapsejarah… seni (!): bagaimana warna-warna birubulan, pucatnya korona matahari, dan merahlangit senja yang tampak seram mendaratdi kanvas-kanvas para pelukis, termasuk senimanlanskap terbesar Amerika Utara, FredericEdwin Church.
. . .

Dari sisi penelusuran bahan-bahan sekunderyang terserak di berbagai tempat, apayang dilakukan Winchester juga merupakanjalur yang tak luput dari perhatian HughKennedy saat menulis The Great Arab Conquestsdan John Man demi merampungkanJenghis Khan: Legenda Sang Penakluk dariMongolia. Beda yang sangat jelas di antaraWinchester dan dua penulis terakhir adalahprofesi mereka. Kennedy dan Man adalahahli sejarah. Kesamaannya: mereka menulisbagaikan pendongeng yang terampil dan fasih.Man bahkan memadukan pemaparannyadengan reportase langsung yang berwarna-warni mengenai tempat-tempat yang relevanyang dikunjunginya (baca ?MenziarahiDia yang Dipilih Langit Abadi? di halaman16).

Melalui The Great Arab Conquests, Kennedymenelusuri teks-teks yang ada dan kemudianmenjawab teka-teki bagaimanamuslim Arab bisa menaklukkan wilayahyang membentang antara Asia dan Eropa,dalam 15 tahun sejak Nabi Muhammad meninggal?di luar penjelasan yang semataberkaitan dengan superioritas moral, pengabdiansuci, dan kegagahberanian. Ini memangtopik yang luas mengenai sejarah politikpada abad pertama Islam. Tapi Kennedy,profesor sejarah abad pertengahan di Universityof St. Andrew, Skotlandia, punyaotoritas untuk menelaahnya; dia sudah menulispuluhan artikel dan sejumlah bukumengenai periode awal Islam.

Dengan ketelitiannya, Kennedy sengajameluangkan waktu untuk mempelajari bahkanbahan-bahan yang tergolong meragukan,khususnya yang ditulis oleh para pemujakemenangan Islam; dia yakin selalu adapetunjuk yang bisa dimanfaatkan dari sana.Dan memang begitulah: dia mendapatkanbukti kuat bahwa, bertentangan dengananggapan sejarawan pada umumnya, sebagiandari bahan-bahan itu mendekati kebenaran.

Peter L. Bernstein adalah penulis yang jugamesti disandingkan dengan Winchester,Kennedy, Man, dan penulis lain dalam kelasyang sama seperti Karen Armstrong (yangsukses antara lain dengan A History of God).

Seperti Menzies, Bernstein bukan sejarawan.Tapi, sebagai ekonom yang pernah bekerjadi Federal Reserve Bank of New York,dia berada pada posisi sebagaimana halnyaWinchester: menguasai apa yang adadalam lingkup profesinya. Dari sanalahdia menulis buku yang memikat,betapapun ambisius premisyang dia ajukan. Diterbitkan pada1996, buku berjudul Against theGods: The Remarkable Story of Riskitu merupakan hasil penelusuran sejarahterhadap ikhtiar manusia untukmemahami dan mengelola risiko.

Benar, risiko adalah topik yangkering: ada matematika dan statistikdi sana. Di tangan Bernstein ia justrumenjadi sesuatu yang terasa hidup.Bernstein seperti meniupkanruh dengan kisah-kisah para pahlawandalam sejarah risiko. Dia memulainyadengan Girolamo Cardano,seorang dokter, ahli matematika, danpenjudi terkenal di Milan pada masaRenaisans, yang menerbitkan kajianserius pertama mengenai prinsip statistikdari probabilitas. Dia lalu menunjukkanbetapa setelah itu minat terhadaprisiko meningkat pesat. Sejumlah namabesar dari beragam bidang pun terpikat, danbagai hidup kembali: Galileo Galilei, BlaisePascal, Isaac Newton, Johan Carl FriedrichGauss, John von Neumann, dan John MaynardKeynes.

Semua itu bermuara pada satu hal: bahwapenguasaan terhadap manajemen risiko merupakanfondasi kehidupan modern, dariasuransi hingga bursa saham hingga rekayasa,sains, dan pengobatan.
. . .

Buku-buku sejarah yang ditulis secara populer,bagaimanapun, telah membantumengelakkan kesan elitis mengenai topikyang kerap dokumentasinya sudah tersedia,walau berserak, dan hanya membutuhkanpencerita yang baik. Pendekatan naratif sangatmembantu. Tapi untukbisa bercerita dengan baik diperlukanbukan saja kesediaan, melainkan juga kerjakeras. Perlu waktu untuk bisa menyusun keping-keping fakta dengan baik.

Sejumlah penulis tak cukup sabar untuktunduk pada syarat-syarat itu. Ada kasusplagiarisme, misalnya. Atau salah kutip.Atau berbohong mengenai masa lalunya sendiri.

Pasa 2002 sejarawan Stephen Ambroseterbukti mengambil begitu saja kalimat-kalimatdari sumbernya untuk buku The WildBlue. Setahun sebelumnya Joseph Ellis, pemenangPulitzer Prize di kategori sejarahuntuk bukunya, Founding Brothers: The RevolutionaryGenerations, diketahui berbohongmengenai keikutsertaannya dalam pertempurandi Vietnam: dia memang pernahdinas di ketentaraan tapi tak sampai ikutpergi ke Vietnam sebagaimana dia klaim.

Karena kasus-kasus seperti itu, sempattimbul kesan memang begitulah jadinya bilapenulis tergiur oleh godaan sukses di pasar.Kesan ini memicu kekhawatiran penerbitakan mengerem produksi buku sejarahyang sebenarnya ditunggu-tunggu olehpembaca. Dalam kolomnya, Mark Lewis,staf penulis Forbes.com sampai merasa perlumenyisipkan kalimat ini: ?Jadi tolong,para penerbit, tetaplah menghadirkan sejarahpopuler itu. Tapi pastikan bahwa seluruhkalimat di dalamnya ditulis oleh orangyang namanya tercantum pada sampul.?

Tetapi pengereman itu tak pernah terjadi.Segala skeptisisme tentang buku sejarah populer,termasuk yang menganggapnya sebagaisatu wujud eskapisme, bukanlah rintanganmahabesar yang bisa menghentikanpenerbitan buku-buku itu. Bagusnya: jauhlebih banyak buku yang sangat layak dibacaketimbang yang sebaiknya ditumpuk di gudangsaja dan dibiarkan berdebu. Dan, sebagaimanabuku bagus pada umumnya, selaluada pelajaran yang bisa diserap dari sana,yakni bahwa kita bisa lebih baik memahamidiri kita sehingga kita bisa lebih siap menghadapimasa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *