Membaca Cinta Seekor Singa Kurniawan Junaedhie

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

TUJUH puluh sembilan sajak Kurniawan Junaedhie terdapat dalam kumpulan sajak terbarunya, “Cinta Seekor Singa: Sajak-sajak 1974-2009”, terbitan Bisnis 2030. Dengan subjudul “Sajak-sajak 1974-2009” itu terang sudah kumpulan ini merupakan kompilasi, atau semacam rekam-jejak kepenyairan KJ dalam rentang waktu yang tak singkat, 35 tahun. Karena kompilasi, maka dalam “Cinta Seekor Singa” dimuat sajak-sajak yang tentu dimaksudkan KJ menjadi cerminan karya-karyanya di empat periode itu. Tampillah 10 sajak mewakili periode 1970-an, periode 1980-an 18, periode 1990-an 38, periode 2000-an 13 sajak. Pemuatan sajak-sajak itu berurutan sesuai periode penulisannya.

Dengan komposisi isi seperti itu, banyak hal dalam perjalanan kepenyairan KJ pun terlihat. Sebutlah bentuk sajak dia serta kecenderungannya, cakupan tema yang ia garap, dan hal-hal yang lenyap atau ditinggalkan di puisi-puisi yang ia tulis kemudian. Atau sebaliknya, hal-hal yang menetap serta tambah matang seiring jalan usia dan jam terbang KJ selaku penyair yang tahun ini memasuki tahun ke-35 itu.

Dari segi bentuk, puisi-puisi KJ amat beraneka. Ada yang mirip dengan bentuk tradisional yaitu pantun, dengan empat larik tiap bait, seperti terlihat misalnya di sajak “Lagu Percintaan”, “Waktu”, “Sajak Orang Kasmaran”, “Januari 2003” dan lainnya. Tetapi panjang-pendek larik di sajak-sajak itu tidak seteratur pantun. Begitu pula rima akhirnya. Ada yang berpola aa aa, tapi di bait berikut itu tak lagi dipedulikan, dan tak pula memakai pola ab ab seperti lazimnya rima akhir pada sampiran serta isi pantun. Unsur sampiran dan isi yang menjadi ciri pantun juga tidak terdapat dalam sajak KJ: paling banter samar saja menguar, ini pun jarang.

Jika begitu, apa yang membuat sajak-sajak KJ itu terasa dekat dengan pantun? Selain larik yang tertib empat-empat tadi, unsur sampiran dan isi yang terkadang hadir secara samar, irama sajak-sajak itu berperan dalam hal ini. Membacanya saya seperti menikmati irama pantun. Dan itu agaknya berasal dari diksi yang tepat, tambah rima akhir meski tak tertib, serta rima internal juga rima identik. Berikut bait pertama dan kedua sajak “Januari 2003” yang terdiri atas tiga bait:

Jika kupandang pohon cemara
berdiri
Kurasa hati jadi gamang
Kemana cinta pergi,
Ke sumur hati terdalam, adikku
sayang.
Di situ ada jalan berliku
Dan bukit menanjak di kaki langit,
di situ hatiku karam terjal
Seolah tercium bau sangit.

Dari tanda-tanda itu saya ingin tegaskan sajak-sajak itu memang terinspirasi oleh pantun. Terinspirasi di sini dalam taraf umum, seperti juga ditemui di sajak-sajak penyair Goenawan Mohamad serta Chairil Anwar. Hal itu terjadi karena pantun bagian dari jatidiri kita, kehidupan kita. Dengan begitu, wajar pula kalau pada Hartojo Andangdjaja terlebih-lebih lagi Sitor Situmorang, terinspirasi itu menemukan maknanya yang lebih. Pada Hartojo terlebih Sitor pantun tak sekadar diterima sebagai sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita tapi juga berlanjut dengan menjadikannya lahan yang asyik pula untuk diolah.

Namun bagai disebut di atas, bentuk sajak-sajak KJ tak hanya yang seperti itu. Di “Cinta Seekor Singa” kita temukan pula sajak-sajak panjangnya dengan bangunan bait tidak teratur: satu, dua, tiga, empat malah lebih. Begitu pula lariknya, panjang dan pendek, dan bak tampil sesukanya dalam sebuah sajak.

Bentuk lainnya dari sajak KJ, terutama sajak-sajak yang ditulis periode 1990-an dan 2000-an, terlihat kecenderungan menjurus ke naratif, seolah bertutur, berkisah.

Dengan aneka bentuk sajak seperti itu heran juga kenapa KJ tak memasukkan sajak-sajak kwatrin dalam “Cinta Seekor Singa”. Hemat saya, sajak-sajak kwatrin KJ seperti di kumpulan sajak “Selamat Pagi Nyonya Kurniawan”, terbitan Kolase Kliq tahun 1978, cukup pula kuat dan ikut mewarnai jalan kepenyairannya.

Di sajak-sajak kwatrin itu imaji dibangun dari yang bisa diberikan warna, dan pemakaian kata hemat. Sajak-sajak itu umpamanya “Kwatrin Hijau”, “Kwatrin Kuning”, “Kwatrin Cokelat”, “Kwatrin Merah Jambu”, “Kwatrin Kelabu”. Berikut kutipan dari “Kwatrin Hitam”:

daki daku, daki
jika pun aku gunung.
daki daku, daki
keluhku senantiasa tak terbagi.

Meski tidak berbentuk kwatrin di “Cinta Seekor Singa” hadir pula sajak-sajak yang juga kuat, justru sebab pemakaian kata yang hemat tadi dan pemanfaatan banyak kata dasar. Sebut misalnya sajak “Tanah Lahir” dan “Saat Edelweiss Diputar” berikut ini:

kenapa tidak sepekan,
tapi sembilan bulan,
kita dikandung badan?
kenapa tidak berseri,
tapi dengki
bersarang di hati?
kenapa tidak sajak,
tapi hidup layak,
kita cari?

saat edelweiss diputar, nak,
aku makan hati manusia

Karena kedua sajak itu ditulis pada periode yang sama (1970-an) dengan puisi-puisi kwatrin tadi, maka agaknya dapat ditandai ciri sajak-sajak KJ periode itu. Antara lain pemakaian kata yang hemat tadi, diksi yang terjaga hati-hati, pemanfaatan banyak kata dasar, juga kecenderungan untuk taat benar pada unsur-unsur sajak seperti upaya membangun imaji, metafora, dan lainnya.

Di periode berikut terutama periode 1990-an dan 2000-an berbagai hal itu terkesan tak begitu ketat lagi. Ini yang menyebabkan sajak-sajak KJ pada periode-periode terakhir itu terasa lebih cair, lebih komunikatif, lebih bersahaja.

Tetapi ingin pula saya sebutkan bahwa, pertama, pergeseran seperti itu dalam periode kepenyairan yang terbilang panjang suatu hal yang wajar, kalau tidak niscaya. Sutardji Calzoum Bachri setelah gulang-gulung berbilang tahun dengan puisi-puisi mantra akhirnya menulis puisi seperti “Tanah Air Mata” yang juga terkesan lebih cair, bersahaja, lebih komunikatif, dibanding sajak-sajak dia sebelumnya.

Kedua, kebersahajaan atau lebih cair dan lebih komunikatif memang tak selalu berarti tidak dalam, atau tidak mampu memberikan sesuatu yang bernilai. “Tanah Air Mata” Sutardji itu dapat lagi diambil buat contoh. Dan pada KJ, banyak sajaknya dari periode 1990-an dan 2000-an juga membuktikan hal itu. Ambil misalnya sajak “Cinta Ayah” yang berkisah tentang kefanaan hidup serta cinta seorang ayah ke keluarganya: anak-anak, serta istri. Menulis KJ di tiga larik akhir bait kedua sajak itu: Jika ada yang membuatku ingin kembali/Itulah kalian, orang-orang yang membuatku pernah/betah di bumi/. Lalu bait penutup sajak ini pun, yang bagi saya terasa indah dan bermakna: Umur ternyata hanya kendaraan/ke kota bernama keabadian.

Sajak “Cinta Ayah” itu dijadikan contoh karena di periode 1990-an dan 2000-an tema dominan sajak-sajak KJ keluarga, serta kerinduan pada masa lalu juga kota kelahiran. Saya tidak tahu apakah itu karena pengaruh usia yang tidak muda lagi, tapi yang juga mengemuka di sajak-sajak itu, kerinduan tersebut tidak disikapi KJ dengan galau. Bisa jadi karena KJ sudah sampai ke hakikat “umur ternyata hanya kendaraan, ke kota bernama keabadian” tadi.

Jika asumsi itu benar, maka bagi saya lazim pula kalau sajak-sajak KJ periode-periode terakhir itu banyak digelimangi humor. Lihat saja judul-judul ini: “Nostalgia Ketinggalan Kereta”, “Antara Kambing, Teringat Kamu”, “Laki-laki Sontoloyo Ingin Menjadi Singa”. Metafor-metafornya pun, yang dipetik dari hal-hal yang terlihat sehari-hari, mengundang senyum. Coba: Begitulah nasib laki-laki yang nglokro/hanya layak jadi teman kecoa/dan sahabat ternak. (Sajak “laki-laki Sontoloyo”).

Atau: cuma karna kamu/aku ogah bongkok, seperti barang rongsok. (Sajak “Antara Kambing”). Begitulah “Cinta Seekor Singa”, kumpulan sajak KJ sahabat saya, yang pada 24 November nanti berusia 55. Akhirnya sebagai kado saya kutipkan bait awal sajak dia, “Umur”, yang ditulis tahun 1991 dan menurut saya tergolong kuat, indah, sekaligus lucu: november datang lagi. berapa usiamu?/ kerut kulit, buncit di perut/dan bayangan maut, datang silih berganti/kita memang bukan ahlinya/yang bisa memutar turbin waktu. ***

* Adek Alwi adalah sastrawan, wartawan, dan dosen Poltek UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *