Mendebat Misogyni

Fathurrofiq
http://www.jawapos.co.id/

Budaya masyarakat bisa jadi menunjukkan praktik-praktik tidak senonoh pada harkat manusia, termasuk perempuan. Tak pelak, pengarang yang kritis-prihatin berusaha mendebatnya. Makanya, Alan Swingewood menganggap pemahaman yang mengatakan bahwa sastra (novel) merupakan cermin budaya masyarakat sebagai pemahaman yang rancu. Pemahaman itu ditekankan oleh Swingewood, mengabaikan peran otonom pengarang dalam kontruksi wacana budaya. Horizon atau wawasan pengarang bisa bekerja secara otonom dalam budayanya. Pengarang sudah lazim mendebat, bahkan menolak sama sekali praksis budaya yang melatari novelnya.

Tenggelamnya Kapal van Der Wijck (HAMKA), Gadis Pantai (Pram), dan Ronggeng Dukuh Paruk (Tohari), karya-karya yang bertaraf kanonik dalam konstelasi kesusasteraan Indonesia modern menunjukkan ikhwal daya debat pengarang pada budaya misogyni. Apa itu budaya misogyni? Sebuah kekuatan laku masyarakat yang menempatkan derajat perempuan lebih rendah di hadapan lelaki, terutama dalam relasi hubungan rumah tangga, bisa menjadi definisi misogyni. Meskipun berbeda ideologi, budaya, wilayah geografis, dan demografis, sastrawan-sastrawan garda depan (avent grade) Indonesia tersebut dengan lugas mendebat budaya misogyni.

HAMKA, santri cendekiawan muslim dari Minangkabau dengan budaya niaga-agraris. Dia berafiliasi kepada Muhammadiyah-Masyumi yang keras dengan paganisme dan keras kepada tradisi budaya lokal yang dianggap menyekutukan Allah (syirik).

Pram, penulis kelahiran Blora. Aktivis Lekra yang merupakan organisasi budaya sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia yang menyuarakan dengan kuat sosialisme dan realisme sosial dalam kesenian. Sementara itu, Tohari adalah santri dari Banyumas, daerah pedalaman Jawa Tengah yang berkultur persawahan. Dia berafiliasi dengan NU yang lebih toleran kepada bentuk-bentuk tradisi lokal masyarakat.

Sinopsis Tiga Perempuan
Perbedaan latar budaya dan ideologi antara HAMKA, Pram, dan Tohari ternyata menggariskan persamaan visi dalam mendebat perlakuan budaya yang sering tidak manusiawi kepada anak manusia: perempuan. Hayati dalam Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, Gadis Pantai-nya Pram, maupun Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan sosok-sosok wanita yang hidup nestapa. Ironis memang, perempuan-perempuan yang dikonstruksi cantik oleh pengarang mereka masing-masing harus memanggul beban hidup yang tragis.

Hayati meninggal dalam musibah Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, nyaris setelah cita dan cintanya terkabulkan. Cita dan cintanya hidup dengan pemuda idaman (Zainuddin) dikandaskan oleh keangkuhan lembaga ninik mamak-nya. Dia harus menikah dengan lelaki pilihan ninik mamak-nya (Aziz) yang tidak dia cintai. Lelaki itu menciptakan neraka dunia bagi kehidupan Hayati.

Gadis Pantai, perawan cantik dari kampung nelayan, dicerai paksa setelah bertahun menjadi pelayan seks seorang pejabat. Dia pun dipaksa meninggalkan putrinya. Hak asuhnya dipangkas paksa. Dia seolah hidup hanya untuk melayani kesenangan erotisme pejabat dan memproduksi anak. Setelah tugas itu ditunaikan, dia pun dicampakkan tanpa hak asuh atas putri yang dilahirkan dari rahimnya. Dia diganti dengan perempuan yang lebih segar.

Srintil tak kalah tragis. Keyakinan budaya setempat yang tak tepermanai oleh penduduknya menitahkannya menjadi ronggeng. Dia mendapat tugas kultural untuk menghibur khalayak, baik dengan goyangan erotis maupun layanan seksual. Dia sempat menolak dan memilih untuk menikah dengan kekasihnya (Rasus), tetapi gagal. Kesenian ronggeng yang kemudian hari dicap bagian PKI menjadikan dirinya menjadi pidana lengkap dengan label hina seorang komunis. Dia bebas. Namun, trauma geger PKI masih mendekam kuat dalam jiwanya. Untuk melupakan, dia berharap dari seorang mandor untuk menikahi. Sialnya, justru mandor itu yang merampas harapan dan merusak kesadaran manusiawinya. Dia menjadi gila.

Pesan Novel
Dalam praktiknya, kuasa budaya misogyni gagal mengantarkan perempuan dalam derajat yang manusiawi. Kekuasaan dalam budaya itu justru menjadi pelayan bagi perendahan martabat perempuan. Kuasa tanpa kontrol dan kritik seimbang dari eksponen budaya menjadikannya semena-mena mendefinisikan apa yang harus dijalankan warga masyarakat, termasuk perempuan. Para elite dan pemegang otoritas sama sekali tidak memiliki semangat meritokrasi. Tunanilai, tunavisi mendominasi dalam kehidupan. Maka, alih-alih kesediaan Hayati, Gadis Pantai, dan Srintil menjalankan titah budaya yang dianggap sebagai upaya pelestarian nilai-nilai luhur, mereka sebenarnya telah menjadi tumbal budaya. Itulah yang secara tajam didebat, baik HAMKA, Pram, maupun Tohari dalam novel karya mereka.

Meskipun dibedakan lokalitas budaya dan ideologi, persamaan pesan ketiga pengarang dalam novel ditunjukkan dengan kritik tajam kepada laku budaya yang gagal membimbing perempuan pada derajat yang terhormat. Budaya misogyni justru sering membenarkan perilaku yang memanfaatkan perempuan sebagai objek kepemilikan dan menjerumuskan perempuan pada kenistaan. (*)

*) Pendidik bahasa dan sastra Indonesia, tinggal di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *