Mengenang Kampung Halaman

Satmoko Budi Santoso*
http://www.jawapos.co.id/

PAMERAN tunggal seni rupa bertajuk (C)artography karya Julnaidi M.S. di Emmitan CA Gallery Surabaya pada 11-25 Oktober 2009 dengan segera sangat mengesankan bahwa Julnaidi berusaha merefleksikan ingatan kolektif atas kampung halamannya, yakni Sumatera Barat. Memang pameran ini tak berhubungan dengan peristiwa gempa bumi di wilayah itu baru-baru ini. Semua lukisannya dipersiapkan sebelum bencana alam itu terjadi. Dengan kata lain, pameran tersebut bukan pameran amal.

Yang lebih tertangkap jelas dari pameran itu adalah keinginan Julnaidi dalam mengungkapkan kerinduan atas sejarah asal muasalnya, sejarah kampung halamannya. Meskipun, perspektif estetik yang dia pakai justru tidak memilih cara ungkap dengan bahasa visual tentang rumah, kenangan masa kecil, dan sejenisnya.

Rupanya, Julnaidi lebih memilih cara ungkap lain, yakni menggambar peta. Sejauh pengamatan saya, bahasa visual berupa peta amat jarang dieksplorasi oleh perupa-perupa kontemporer Indonesia. Selain itu, Julnaidi memercayakan bahasa visual berupa kotak-kotak bergambar dengan warna tertentu yang dimaksudkannya sebagai semacam permainan catur.

Dua ikon sebagai bahasa visual tersebut bisa saja ditafsirkan bahwa perjalanan hidup Julnaidi ketika menjadi perantau untuk menempuh studi di jurusan seni lukis Institut Seni Indonesia Jogjakarta ternyata penuh dengan teka-teki sebagaimana permainan catur yang tak terduga. Sementara itu, jika dihubungkan dengan bahasa visual, peta-peta mewakili kompleksnya perjalanan hidup.

Yang menarik, Julnaidi tidak terjebak pada romantisme atas ingatan sejarah kampung halaman secara vulgar. Dia cenderung mengemas dengan bahasa visual yang jauh lebih interpretatif. Itulah yang justru membuat karya Julnaidi memuat misteri cukup dalam. Kritisisme yang ditawarkan oleh Julnaidi semacam tamasya ”ideologi kebermain-mainan” bahasa visual dengan bentuk yang bisa saja mengejutkan.

Arus berbeda memang ditawarkan oleh Julnaidi dalam konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia, yakni berkarya tidak harus selalu ”berat-berat”: mengusung isu feminisme, kerakyatan, dan sejenisnya. Dia justru me?nawarkan arus spesifik yang tidak mengeksplorasi wilayah tubuh atau isu-isu ”berat” lain tersebut. Sejumlah perupa yang hadir saat pembukaan pameran, seperti Ivan Haryanto, Agung Tato, Arifin, Dukan Wahyudi, Noor Ibrahim, dan perupa muda Jawa Timur lain, seolah menjadi saksi bahwa kerinduan terhadap kampung halaman yang dipaparkan Julnaidi juga bisa mewujud melalui bahasa visual berupa gambar lampu di tengah gambar tema pokok, yakni peta dan kotak-kotak.

Sepertinya, Julnaidi hanya mau bilang bahwa dirinya lebih suka pada bahasa visual yang tak lagi bernilai keseharian dalam mengungkapkan kerinduan. Itu adalah alternatif temuan baru di tengah cara pengungkapan bahasa visual yang bernilai keseharian. Misalnya, menganalogikan kangen dengan sapu tangan atau bunga mawar.

Saya menaruh harapan besar kepada perupa-perupa yang punya keinginan mencari bahasa visual tak lazim untuk mengungkapkan maksud tertentu semacam itu, bukannya mencari kontroversi. Lebih dari itu, ada upaya mengomunikasikan bahasa visual yang tak akrab menjadi dapat diterima secara akrab.

Ada satu kelebihan Julnaidi yang menarik, yakni caranya mengomunikasikan gagasan melalui pesan simbolis bahasa visual bertanda tertentu. Dia begitu menjunjung tinggi aspek pengedepanan enigma atau teka-teki gambar. Seolah-olah dia tak menyuguhkan rangsangan tanda gambar tertentu yang akan menggiring penikmat seni pada satu penafsiran. Bidang gambar Julnaidi seperti asal bicara, tak ada referensi yang mengukuhkan nafsu apa yang sebenarnya dia inginkan. Jika saya merumuskan sebagaimana yang terpaparkan sebelumnya, saya anggap cara membaca semiotika gambar Julnaidi yang cukup tepat memang semacam itu.

Pameran tunggal tersebut menyisakan tantangan kreatif, apakah bahasa visual sebagaimana yang dikukuhi Julnaidi bakal dipertahankan. Tentu ada baiknya bahasa visual itu dipertahankan sebagai kekhasan cara ungkap. Tapi, jika tak berhati-hati, ia bisa terjebak pada absurditas visual. Bagaimanapun, hal itu tetap sah, tapi secara implisit akan menyisakan kesan tidak dialogis dengan publik penikmat. Hal itu tetap menunjukkan upaya berani Julnaidi, seolah-olah dia juga tak terlalu mengakrabi selera arus pasar yang cenderung memilih bahasa visual komunikatif.

Sisa idealisme yang kuat masih terpancar pada karya-karya Julnaidi dalam pameran tersebut, yang tak semuanya terlihat ”manis-manis” sebagai jembatan penghubung komunikasi dengan kolektor. Boleh jadi seni rupa kontemporer yang riuh dengan orientasi pasar mesti belajar dari Julnaidi.

Sebagai kurator, Kuss Indarto memang mencatat bahwa Julnaidi adalah tipe perupa yang cukup pandai memainkan aspek perspektif atau sudut pandang penempatan objek. Jika dikaitkan dengan pilihan bahasa visual perihal peta, boleh jadi penerjemahan atas rumusan tersebut cenderung pada upaya Julnaidi dalam menghidupkan bidang gambar dengan proporsi penempatan objek yang diistilahkan ”amat optis” atau eye-catching, nyaman dipandang. Dengan begitu, meskipun mengandung unsur teka-teki, pilihan bahasa visual perihal peta di tangan Julnaidi tetap sanggup menjelmakan impresi dunia tanda, yang sebenarnya merupakan ikon yang dekat dengan kita-kita juga, siapa pun orangnya.

Saya berharap dunia seni rupa kontemporer dapat memetik hikmah yang positif atas sodoran kehadiran kanvas-kanvas Julnaidi. Dialektika kritisisme memang harus terus dibangun dengan tidak serta-merta menempatkan karya Julnaidi terlalu istimewa. Karena itu, kiranya publik perupa lebih bisa menyempurnakannya agar menjadi bernilai istimewa, tentu dengan pencapaian karya sendiri. Dengan begitu, posisi karya Julnaidi dalam banyak hal bisa menjadi pemantik kreativitas agar menghasilkan karya yang lebih baik lagi. (*)

*) Pengamat seni rupa, tinggal di Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *