MENULIS CERPEN, MEMOTRET KEHIDUPAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pengantar
Bagaimanakah caranya menjadi seorang pengarang atau lebih khusus lagi, menjadi cerpenis? Dapatkah seseorang menjadi cerpenis atau sastrawan besar? Syarat apa saja yang harus dipenuhi agar dapat mencapai cita-cita tersebut? Siapa pun sesungguhnya dapat menjadi pengarang. Cara mencapai tujuan itu, juga bergantung kita sendiri. Tidak perlu modal atau biaya yang besar. Tak perlu juga berpikir tentang bakat. Seseorang yang menjadi pengarang sama sekali tak ditentukan oleh bakat.

Dalam hal itu, anggapan masyarakat bahwa seseorang hanya bisa menjadi pengarang jika ia mempunyai bakat atau talenta besar sebagai pengarang, sama sekali tidaklah benar. Pandangan itu, harus kita tolak, karena selain salah, juga berbahaya. Salah, karena memang mengarang adalah kegiatan keterampilan. Sebagai kegiatan keterampilan, berhasil tidaknya seseorang menjadi pengarang sepenuhnya sangat bergantung pada proses latihan mengarang yang terus-menerus, berkelanjutan, dan pensiun ketika kita tidak dapat berpikir lagi.

Pandangan itu juga berbahaya, karena menyesatkan dan dapat berdampak buruk. Bayangkan, jika seorang guru menyampaikan pandangan yang keliru ini kepada murid-muridnya, maka sekian banyak murid yang bercita-cita atau ingin menjadi menjadi pengarang, akan segera mengurungkan cita-cita dan keinginannya itu, hanya karena ia merasa tidak mempunyai bakat sebagai pengarang. Apalagi jika dikaitkan dengan soal keturunan. Lantaran ayah-ibu dan terus sampai kakek-buyut, tidak ada yang menjadi pengarang, maka muncullah anggapan, pastilah tidak ada bakat yang dimiliki generasi berikutnya untuk menjadi pengarang. Dengan demikian, pandangan itu secara langsung telah membunuh cita-cita dan harapan seseorang untuk menjadi pengarang.

Keterampilan dan Semangat
Mengarang atau menulis cerpen adalah kegiatan keterampilan. Sebagai kegiatan keterampilan, mengarang dapatlah dianalogikan dengan berenang. Seseorang hanya mungkin dapat berenang, jika ia berlatih berenang di dalam kolam, di tengah arus deras sungai, dalam dinginnya danau atau dalam hempasan gelombang laut. Ia harus menceburkan diri ke dalam air kolam, berkelak-kelok mengikuti aliran sungai, menyelam kedalaman danau atau menentang deras gelombang laut, jika memang ia ingin mahir berenang. Tanpa itu, mustahillah ia akan dapat berenang. Jadi, belajar mengarang tidak seperti belajar berenang di dalam kelas. Siapa pun yang belajar berenang di dalam kelas, hanya akan pandai dan mungkin juga menguasai teori berenang. Tetapi, sampai kapan pun mustahil ia bisa berenang, meskipun mungkin saja teori-teori tentang itu sudah dikuasai di luar kepala. Lalu, apa syaratnya agar seseorang dapat mengarang, dapat piawai menulis cerpen dan di kemudian hari menjadi sastrawan terkenal?

Menjadi seorang pengarang, penulis, cerpenis atau sastrawan, sama sekali tidak ada kaitannya dengan bakat. Modal seseorang jika ingin dapat mengarang dan menjadi pengarang terkenal hanya satu: latihan yang tiada henti. Berlatih, berlatih, dan berlatih! Jika itu terus dilakukan, niscaya ia akan mahir mempermainkan kata-kata, piawai merangkaikannya dalam deretan-deretan kalimat, dan cerdas dalam menyuguhkan pesan yang terkandung dalam karangan yang bersangkutan. Dengan begitu, belajar mengarang sangat bergantung pada kemauan, tekad, dan kesungguhan. Tanpa itu, meski ia berguru pada sastrawan terkenal dan telah membayarnya dengan sangat mahal, ia tetap saja akan menyimpan cita-citanya itu di dalam laci meja atau di dalam buku-buku teori. Jadi, tekad, kemauan, kesungguhan, ditambah kesabaran, merupakan modal yang lebih penting dari apa pun. Semangat itu haruslah tumbuh dari diri sendiri. Pihak lain sekadar stimulan atau pemicu semangat belaka.

Membaca sebagai Saudara Kembar Mengarang
Selain modal semangat, belajar mengarang menuntut seseorang untuk membaca karya-karya orang lain. Artinya, mengarang itu sesungguhnya bersaudara kembar dengan membaca. Hanya melalui bacaan itulah, seseorang dapat mempelajari gaya, ungkapan, style, atau nada yang ditampilkan penulis lain dalam karangannya itu. Dalam proses belajar, kita bolehlah meniru atau mengambil model yang pernah ditulis orang. Cara ini lama-kelamaan akan membentuk gaya kepengarangan sendiri. Dalam hal itulah, di dalam proses belajar mengarang, seseorang dituntut pula terus-menerus membaca.

Perhatikan beberapa kutipan berikut ini:

Dalam sebuah perang besar-besaran yang tidak sempat dicatat oleh sejarah seorang prajurit berpangkat paling rendah dengan tidak diduga tiba-tiba mendapat panggilan dari jenderal peperangan yang tertinggi. Tergopoh-gopoh prajurit itu menemui jenderal yang selama hidupnya belum pernah dilihat tapi sudah sering didengar nama dan keistimewaannya melalui cerita dari mulut ke mulut dan kuping ke kuping. Dan sebagaimana layaknya seorang bawahan yang paling rendah bertemu dengan seorang atasan yang paling tinggi dan sangat dihormati dan dikagumi maka prajurit itupun memberi hormat yang berlebih-lebihan sehingga untuk sekilas jenderal tertinggi yang terlalu sering menerima sanjungan itu merasa kurang senang.
(Budi Darma, ?Secarik Surat? dalam Ajip Rosidi (Ed.), Laut Biru Langit Biru, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, hlm. 388)

Seorang wanita yang tak bisa diduga umurnya, terbangun waktu subuh untuk menulis sebuah surat kepada suaminya. Dengan pakaian tidur yang kusut ia duduk di depan meja tulis suaminya yang telah setahun pergi ke luar negeri. Mukanya lonjong seperti kuaci dan berwarna pucat. Ia sangat cantik dan merangsang. Tetapi duka yang menggoresi wajahnya telah merampoknya menjadi seorang pemurung yang membosankan. Ia tampak malang dan berkesal diri. Memendam nafsu, kekecewaan dan sepi yang telah tersulap menjadi benci. (Putu Wijaya, ?Ini Sebuah Surat? dalam Ajip Rosidi (Ed.), Laut Biru Langit Biru, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, hlm. 595)

Pada gerimis menjelang subuh; mayat seorang perempuan terlempar dari dalam kereta. Depan gardu, Kamin penjaga palang menyeretnya, meletakkan di tepi. Wajah perempuan itu cantik. Gelombang rambut memburai, remang di atas bahu menggelincir licin dan terbuka. Putih. Bibir pahatan?garis hidung, mata. Utuh. Kesuburan padang-padang mimpi di atas sabana pada lekuk yang jauh. Kamin mematung. Jelita pucat sepasang tangan terkulai, amat lembut. Betapa indah. Lamat kehalusan neon menyingkapkan rekah basah kesahduan gadis amat matang: ?Ia sudah mati?? Kamin memanggil Husni. Inilah kisahnya: (Joni Ariadinata, ?Kali Mati? dalam Kali Mati, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999, hlm. 38).

Dua pasang kaki menyusuri jalan berkerikil yang sepi. Sesepi hati yang luka. Langkah-langkah pun resah. Di langit, di balik pohon-pohon akasia, bulan ikut temaram. Kabut tipis menutupi. (Maroeli Simbolon, ?Embun di atas Batu? dalam Cinta? Tai Kucing! Yogyakarta: Jalasutra, 2003, hlm. 53)

Dari kutipan di atas, kita dapat mencermati bahwa masing-masing cerpenis mempunyai gaya (style) sendiri. Dengan banyak membaca karya orang lain, kita akan memperoleh, tidak hanya keberagaman tema, tetapi juga keunikan gaya penulisan. Pada tahap awal kita belajar mengarang atau menulis cerpen, gaya itu boleh kita tiru sedikit-sedikit. Lama-kelamaan, sejalan dengan proses belajar yang terus menerus, kita akan menghasilkan gaya sendiri yang akan berbeda dengan gaya para pengarang yang sebelumnya kita tiru itu.

Dari dua kutipan yang ditempatkan di awal, kita juga dapat melihat bahwa masalah yang sama (surat) dapat menghasilkan tema dan peristiwa yang berbeda, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Artinya, kita dapat mengangkat tema atau peristiwa apa saja yang ada di sekitar kita. Pengarang tidak harus selalu terpaku pada tema besar. Tema biasa dengan penggarapan yang matang, niscaya akan menghasilkan peristiwa luar biasa. Sebaliknya, tema besar yang digarap secara tidak matang, justru akan menghasilkan peristiwa yang sebaliknya.

Demikian, di dalam proses belajar mengarang, kegiatan membaca dan membaca, akan sangat penting artinya untuk meluaskan wawasan kita tentang keberagaman tema dan gaya bercerita.

Mengarang vs Berbicara
Mengarang tidak sama dengan berbicara. Dalam berbicara, yang dihadapi pembicara adalah pendengar, dan pendengar akan mencermati serangkaian ujaran langsung. Jika pendengar kurang jelas memahami apa yang disampaikan pembicara, ia dapat langsung bertanya. Dengan demikian, pembicara bisa langsung menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud oleh ujarannya tadi. Maka, kesalahpahaman dalam hubungan antara pembicara dan pembaca, relatif dapat dihindarkan. Sebagai contoh, perhatikanlah kalimat ini:
Menurut cerita sekretaris dokter pribadi direktur perusahaan itu pergi ke Solo.

Pertanyaannya: siapakah yang pergi ke Solo; sekretaris, dokter pribadi, atau direktur perusahaan itu? Dalam bahasa lisan, kalimat ini tentulah ditandai dengan intonasi atau tekanan tinggi rendah suara dan perhentian pada kata tertentu agar pesan yang disampaikan kalimat itu dapat ditangkap dan dipahami pendengar.

Manfaat Mengarang
Apa manfaat seseorang belajar mengarang? Sesungguhnya, belajar mengarang akan mendatangkan manfaat yang luar biasa. Yang secara langsung akan dirasakan seseorang jika ia belajar mengarang adalah membiasakan berpikir ?dan berbicara? secara teratur, runtut, dan sistematik. Belajar mengarang, di dalamnya seseorang sedang belajar berpikir teratur. Coba saja kita mencoba membuat sebuah kalimat. Maka, urutan kata-kata yang membangun kalimat yang bersangkutan haruslah tertata secara teratur. Tanpa keteraturan, kalimat itu akan berantakan. Itulah bedanya mengarang dengan berbicara. Jika berbicara, kita langsung berhadapan dengan pendengar, maka mengarang kita tidak berhadapan langsung dengan pembaca.

Mengarang sebagai Profesi dan Pekerjaan
Perhatikanlah contoh berikut ini:
Lelaki itu selalu mengingat anaknya.
Kalimat ini dapat diperluas menjadi (2) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi, atau lebih panjang lagi: (3) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Urutan atau posisi kalimat ini dapat diubah sedemikian rupa, tanpa mengubah maknanya, seperti misalnya menjadi kalimat ini: (4) Kepada anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter, lelaki itu selalu saja mengingatnya. Atau dapat juga dengan menggunakan kata yang bersinonim, sehingga kalimatnya seperti ini: (4a) Lelaki itu tidak dapat melupakan anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Atau dapat juga dijadikan dua kalimat: (4b) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya. Buah hatinya itu gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. (4c) Anaknya gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Itulah peristiwa yang tak dapat dilupakan lelaki itu.

Beberapa kalimat itu sekadar contoh, betapa seseorang yang terbiasa menulis atau mengarang, akan dengan mudah mengutak-atik kata-kata dalam sebuah rangkaian kalimat. Jika ingin menampilkan suasana yang terjadi dalam peristiwa itu, tentu saja kita tinggal menambahkan bagaimana peristiwa itu terjadi. Perhatikan contoh di bawah ini.
Aksi demonstrasi tak dapat dibendung. Iring-iringan massa dan gerakan mahasiswa terus menggelorakan perlawanan terhadap tindakan otoriter penguasa. Di bawah Jembatan Semanggi, lautan manusia yang bergerak menuju gedung DPR/MPR, seperti menghadapi tembok besi. Aparat keamanan, berjejer membentuk barikade. Dan untuk sementara, menghentikan gerak maju para demonstran. Di belakang pasukan yang bersenjata lengkap itu, sejumlah tank seperti siap menggilas siapa pun yang mencoba mendekati gedung wakil rakyat itu. Sementara mobil-mobil pemadam kebakaran, masih menyisakan raungan sirenenya dan sewaktu-waktu siap pula memuntahkan air dari moncong slang berukuran raksasa.
Dalam suasana tegang itulah, tiba-tiba, entah dari mana asalnya, terdengar suara mendesing. Tembakan peluru karet seperti hujan. Berseliweran, ditingkahi jerit kesakitan dan teriakan-teriakan kemarahan. Beberapa orang tampak tersungkur. Serempak terjadi kekacauan. Hingar-bingar. Blingsatan. Berantakan.
?Tolong? tolong? anakku tertembak!? seseorang tampak menyeret sosok tubuh yang berlumuran darah. Tampaknya korban seperti sedang sekarat. Tubuh yang berlumuran darah itu, mengejang, meregang kesakitan, dan mendadak diam. Mati!
Itulah peristiwa tragis yang tak dapat dilupakan lelaki itu. Ia melihat sendiri, bagaimana anaknya dihantam peluru, bersimbah darah, dan akhirnya meregang nyawa di pangkuannya sendiri.
Gerimis tiba-tiba meringis. Alam seperti ikut menangis.

Mengarang Cerita Pendek
Cerita Pendek (Cerpen) ?sebagaimana tersurat pada makna kata itu? adalah cerita yang disajikan dalam kisahan yang pendek dan ringkas, meskipun panjang-pendeknya sangat relatif. Kata pendek di situ, tidaklah berarti semua yang disajikan dalam bentuk yang pendek, ringkas dan padat itu dapat disebut cerpen. Anekdot, esai atau artikel yang menggunakan bentuk narasi, tuntunan atau petunjuk mengenai sesuatu, sketsa, lelucon, dan fragmen, misalnya, juga disajikan dalam bentuk pendek, ringkas, dan padat. Namun, tentu saja kita tidak dapat menyebutnya sebagai cerpen. Ada syarat tertentu yang secara konvensional menjadi ciri sebuah narasi disebut cerpen. Dengan demikian, menulis cerpen hendaknya tidak semata-mata didasarkan pada persoalan panjang-pendek narasi dan besar-kecil lingkup masalah, tetapi juga atas pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman yang tersimpan dalam kisahan yang pendek itu. Peristiwa yang tampak sepele, misalnya, mungkin saja menjadi cerpen yang baik jika dikemas secara menawan. Untuk sampai pada kisah yang menawan itu, pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman itulah yang menjadi syarat yang mutlak dipenuhi.

Mengapa harus padat? Kepadatan memaksa penulis cerpen membuang peristiwa yang tak penting dan menyingkirkan narasi yang tak berhubungan langsung dengan tema yang hendak diangkat. Dialog-dialog remeh-temeh yang tak mendukung unsur intrinsik, sebaiknya dihindarkan. Bagaimana kita dapat mengukur kepadatan sebuah cerpen? Sesungguhnya itu soal yang mudah dan tak memerlukan pengetahuan teoretis asalkan kita membacanya dengan mata elang. Baca saja sebuah cerpen dan cermati isinya. Jika masih ada bagian-bagian yang dapat dihilangkan dalam rangkaian narasi itu, maka cerpen itu masih belum padat. Sebaliknya, jika kita coba menghilangkan satu alinea, kalimat, atau bahkan satu kata, lalu mendadak ada bagian yang tak nyambung dan kita sulit memahami rangkaian peristiwa dalam cerpen itu secara keseluruhan, maka boleh dikatakan, cerpen itu telah sangat padat.

Selain kepadatan, kelugasan (to the point) juga harus diperhatikan. Kelugasan menuntut narasi bergerak hanya pada titik tertentu, baik menyangkut tokoh, maupun tema yang hendak diangkat. Jadi, penulis cerpen sejak awal mesti menggiring pembaca pada satu titik persoalan tertentu. Ia seyogianya tak tergoda mengungkapkan hal lain yang tidak berhubungan dengan tema cerita. Jadi, hendaknya kita tidak mengungkapkan hal lain, meski menurut kita penting. Apalagi jika itu sekadar pamer pengetahuan. Dalam hal ini, penulis cerpen sebaiknya tidak memasukkan lanturan atau peristiwa yang kurang berfungsi membangun tema. Sejumlah pertimbangan itu, tentu saja dimaksudkan agar cerita tetap terpusat pada satu titik persoalan. Pemusatan narasi penting artinya bagi cerpen untuk memaku konsentrasi pembaca pada satu titik tertentu. Kegagalan cerpen sering kali terjadi karena konsentrasi pembaca tidak fokus, dibawa ke sana ke mari. Akibatnya, perhatian pembaca jadi buyar dan nggelambyar.

Kehematan Berbahasa
Cerpen juga sebaiknya tak mengabaikan kehematan bahasa. Perhatikan, misalnya, kalimat berikut yang saya kutip dari salah satu cerpen peserta lomba: ?Segelas air dingin yang kuminum membuat tenggorokanku terasa segar.? Kalimat ini tidak salah. Tetapi, bagi cerpen, kalimat itu tidak memperlihatkan kehematan berbahasa. Kalimat itu akan terasa lebih padat dan langsung jika kita melakukan penghematan. Jadi, sebaiknya kalimat itu berbunyi: Kuminum segelas air dingin. Segar! Atau, Segelas air dingin membuatku segar. Contoh lain tentu dengan mudah dapat kita deretkan. Dalam hal ini, kelemahan yang tampak menonjol dari cerpen-cerpen remaja ini adalah munculnya keroyalan untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Kupegang dengan tanganku atau sempoyongan langkah kakiku, misalnya, merupakan contoh terjadinya pemborosan kata. Kata kupegang dan langkahku, di dalamnya, tersirat kata tangan dan kaki. Dengan begitu, frase dengan tanganku dan kata kaki, tidak diperlukan. Jadi, cukup kalimat itu berbunyi: Kupegang ? atau sempoyongan langkahku.

Satu hal lagi yang kurang mendapat perhatian menyangkut aspek kedalaman. Ia tidak bersangkut paut dengan besar-kecilnya tema yang diangkat, tetapi pada kejelian dan kecermatan melihat hakikat di balik sebuah peristiwa. Mungkin saja peristiwa yang diangkat itu tampak sepele atau peristiwa keseharian yang sering kita jumpai. Bagi cerpenis yang baik, peristiwa apapun, sangat mungkin akan menjadi peristiwa besar yang menyangkut problem kemanusiaan, jika ia mengungkap hakikat yang ada di sebaliknya. Jika kita hendak menggambarkan seseorang yang suka mabuk-mabukan, misalnya, yang perlu dicermati bukan minuman kerasnya, melainkan apa yang melatarbelakanginya hingga ia suka mabuk-mabukan. Mungkin ia frustasi karena keluarganya berantakan, mungkin juga karena putus cinta, atau mungkin juga lantaran sekadar mencari perhatian atau hal lain yang tak perlu.

Begitulah, kelemahan yang paling menonjol dari sejumlah besar cerpen para pemula adalah kurangnya memberi tekanan pada aspek kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman. Jika saja persoalan itu cukup mendapat perhatian, niscaya mereka akan menghasilkan cerpen yang jauh lebih baik lagi. Tinggal bagaimana mereka melakukan latihan yang terus-menerus.

Deskripsi Latar
Hal lain yang agaknya perlu mendapat perhatian menyangkut deskripsi latar. Membiasakan diri membuat deskripsi latar akan sangat membantu memudahkan menciptakan peristiwa. Sesungguhnya, fondasi cerpen atau karya naratif lainnya, terletak pada kuatnya deskripsi latar. Bagaimanapun, pengamatan tempat penting untuk melatih kecermatan melakukan deskripsi. Dengan cara itu, seseorang akan terbiasa melihat detail, melihat sesuatu yang khas, dan tidak yang bersifat umum. Kekhasan dan detail tempat sesungguhnya penting untuk menempatkan cerpen itu punya kekuatan yang juga khas. Tanpa itu, cerpen atau deskripsi itu akan jatuh pada sesuatu yang umum.

Perhatikan kutipan berikut:
Sudah beberapa menit menunggu. Ada gerayang kegelisahan. Para calon penumpang berjejer di sepanjang stasiun. Mereka bergerombol. Suara musik yang datang dari lapak penjual vcd bajakan, meraung. Bersahutan dengan suara kaset yang berada tak jauh dari situ. Beberapa calon penumpang asyik memandangi rel kereta yang beku. Sementara para pedagang asongan hilir-mudik, menawarkan dagangannya atau menghindar dari tabrakan pengemis buta yang menghentak-hentakkan tongkatnya ke tembok pinggiran rel.
?Awas. Jalur dua! Dari selatan, kereta tujuan Jakarta di jalur dua!? berulang-ulang petugas stasiun mengumumkan kedatangan kereta dari arah Bogor. Serempak, para calon penumpang merangsek mendekati rel kereta jalur dua. Seperti dikomando, pandangan mata mereka tertuju ke arah selatan. Ada semacam naluri yang sama, kepentingan dan nasib yang juga sama. Kereta menjadi semacam alat perekat solidaritas naluriah.
Gemuruh dan gesekan logam menyengatkan telinga. Dengingnya tidak beraturan. Kereta mulai melambatkan jalannya. Pelahan dan kemudian berhenti sama sekali.
Seketika gerombolan manusia menyerbu pintu-pintu kereta. Saling dorong di antara jerit perempuan dan umpatan mereka yang kakinya terinjak. Seorang ibu setengah baya berusaha menyeruak di antara ketiak dan badan penumpang lain.
Di dalam keadaannya tak kalah sengsaranya. Deretan kursi tak ada yang kosong. Beberapa di antara penumpang berhimpitan. Seorang gadis berseragam sekolah, seperti tak terganggu dengan suasana itu. Matanya tetap terpaku pada buku pelajaran yang lembarannya terbuka lesu. Di sebelahnya, seorang ibu mendekap erat tas tangannya. Ia seperti takut kecopetan. Para penumpang kereta telah menjadi pepes ikan. Mereka berdesakan. Berjejalan. Wajah lelah memancar di sana-sini. ?

Perhatikan juga kutipan berikut.

Lelaki itu menerobos lalu-lalang manusia. Orang-orang tak ambil peduli. Penjual barang kelontong, berteriak-teriak dengan logat Minangnya. Juga tukang obat. Ular sanca besar melilit badannya. Ia menyodorkan obat kepada beberapa penonton. Derit mesin parutan kelapa kadangkala ditimpali dengan pertanyaan dan tawar-menawar. Beberapa tukang beca berebut penumpang dengan tukang ojek. Pedagang kali lima menyodor-nyodorkan barang-barangnya kepada penumpang angkot yang diturunkan seenaknya di sana. Ada kemacetan yang mengundang bunyi klakson sopir angkot dan pengendara motor. Dan lelaki itu terus bergegas melewati tukang parkir.

Deskripsi di atas tentu saja belum dapat dikatakan sebagai cerpen. Tetapi dengan kekuatan deskripsi, kita dapat memasukkan tokoh atau masalah tertentu yang akan kita jadikan sebagai alat untuk membangun peristiwa.
***

Dibandingkan novel, cerpen tidak mempunyai banyak peluang mengungkapkan gambaran fisik dan psikis tokoh-tokohnya. Meskipun demikian, jika tuntutan cerita memaksa perlu untuk mengeksploitasi fisik dan karakter tokoh, maka hendaknya ia tidak mengembangkan karakter semua tokoh, tetapi cukup memusatkannya pada satu tokoh, agar cerita tetap fokus pada satu persoalan.

Sesungguhnya, banyak hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan cerpen. Dan kepiawaian itu akan muncul dengan sendirinya jika kita terus-menerus berlatih, berlatih, dan berlatih. Tanpa latihan, kita akan terjebak pada kegagapan. Menulis cerpen, atau menulis apapun, hanya mungkin dapat berhasil dengan baik, jika proses latihan itu tidak dihentikan. Ibarat seseorang yang belajar berenang di dalam kelas, sampai kapan pun mustahil dapat berenang jika ia tak pernah merasakan bagaimana menceburkan diri dan mempraktikkannya di dalam kolam atau sungai. Menulis cerpen juga demikian. Proses berlatih merupakan kata kunci untuk mencapai hasil yang baik!
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *