Menyingkap Fenomena Penyair Muda Madura

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Tulisan S Yoga, “Geliat Penyair Muda Madura” [SK, 7/4. 2007], mengapungkan sebuah tanya dan satu pseudo jawaban. Pertanyaan itu adalah, dari empat kabupaten di Madura, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan, kenapa hanya Sumenep yang banyak melahirkan penyair?

S Yoga mensinyalir stimulus tidak langsung dari tradisi intelektual mengkaji kandungan Qur’an di satu sisi, dan kebiasaan tilawatil Qur”an yang mirip seni baca puisi dan kebiasaan barzanji di pesantren pada kelahiran penyair – yang dianggapnya sejajar dengan tradisi macapat pada masyarakat pedesaan lainnnya. Secara spesipik S Yoga menyinggung eksistensi dan sumbangsih dari Ponpes Al Amin di Prenduan dan Annuqayah di Guluk-Guluk. Tetapi siapa penyair Madura yang di-bangkitkan oleh tradisi sastra klasik Jawa macapat?

Dalam sebuah esei budaya di Suplemen Jawa Timur Kompas [tanggalnya lupa, terbit tiap Sabtu] S Yoga menginpentarisasi permasalahan sastra Madura. Yakni sastra yang diungkapkan dengan media bahasa Madura, yang terkendala oleh fakta tiadanya media massa cetak berbahasa Madura dan langkanya generasi muda Madura yang terpanggil berkesusastraan dalam bahasa Madura. Sehingga eksistensinya tak terdeteksi dan tak mungkin dirangsang oleh kehadiran Hadiah Rancage – yang disediakan bagi sastra Sunda, Jawa dan Bali.

Indikasi itu menandakan kalau sastra Madura lebih efisien diungkapkan dalam bahasa Indonesia dan dengan Ponpes sebagai basis – mungkin itu lebih dikarenakan keberadaan ustadz yang punya minat sastra dan memobilisasi santrinya. Dalam beberapa kesempatan D Zawawi Imron selalu bilang restu kiai yang menyebabkan ia tidak merasa salah berpuisi di pesatren, dan mengembangkan bakat berpuisinya. Sebagai alat untuk mandiri secara ekonomi, dan sekaligus alat untuk berdakwah.

Tapi, dalam beberapa segi, keberadaan seorang Timur Budi Raja [Bangkalan] tidak dalam track yang diandaikan S Yoga. Timur Budi Raja, ketika SMA merasa berbakat menjadi penyair dan didorong orang tuanya untuk belajar berpuisi, dalam tradsisi ngenger, di rumah penyair L Machali di Gresik. Setelah matang ia dimo-dali – dengan menjual kebun mangga – orang tuanya untuk menerbitkan buku puisi yang dilaunching di Surabaya. Kematangannya sebagai penyair muda terbukti de-ngan keikutsertaanya dalam antologi Kakilangit Sastra Pelajar [Horison , Kakilangit dan Ford Foundation, 2002]. Sebuah pencapaian yang tidak gratis.
Apa arti semua itu?

Seorang penyair senior yang kini bermukim di Prabumulih, Sumatra Selatan, Sutan Iwan Soekri Munaf, mensinyalir upaya menulis puisi hanya sebagai kegenitan mengolah bahasa tanpa kesuntukan memahami apa yang ingin diungkapkan-nya [lihat, “Haruskah Jadi Penyair Korbankan Jenjang Sekolah, Sripo, 8/4. 2007]. Seakan-akan berpisi itu hanya upaya konsentris menutup diri, sibuk dengan perasaan diri sendiri, dan karenanya tak merasa perlu menambah wawasan dan referensi intelektual. Padahal seorang Sapardi Joko Damono matang sebagai penyair setelah lulus kuliah dan bahkan menyelesaikan S-3-nya. Dan seterusnya.

Sementara seorang Bernando J Sujibto, salah satu penyair Muda Madura, yang kini kuliah di Yogyakarta, berteori tentang perlunya “pencarian [keberadaan] kreativitas-imajinatif yang konsisten dalam tataran selalu mencari kebaruan [concern with newness] – lihat “Kritik [Sastra] Pembuka Tahun”, Lampung Post, 4/2. 2007. Sebuah kesadaran yang merujuk ke menulis itu tak sekedar menghadirkan yang umum dan sesuai dengan asumsi orang banyak – meski dalam tulisan itu ia bebih berbi-cara tentang kritik yang harus menemukan aspek alternatif dalam teks yang ada, yang secara sadar atau tak sadar dihadirkan oleh si kreator.

Sebuah keberanian untuk menyatakan, bila yang digulati oleh kebanyakan penyair itu kebanyakan cuma bahasa, media ekspresi dan alat untuk mempertontonkan estetika orsinil. Padahal yang lebih menentukan itu – sehingga puisi mempunyai bobot – justru apa yang diungkapkannya.

Lebih tepatnya, bukan hanya apanya, yang maknanya bisa dalam atau dangkal, yang wawasannya bisa luas dan sempit tergantung referensi yang dimilik si penyair. Tetapi juga bagaimana ia menghadirkan teks komparasi sebagai realitas yang mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan, informasi yang juga tergantung dari bacaan dan referensi yang dimilikinya.

Sebuah pesantren, sebuah sistim pendidikan yang mendorong penguasaan teks [baca; al-Quir’an] dan pemahaman akan teks yang menyeluruh dengan komparasi atas berbagai tafsir mendorong sikap multikultur yang menyebabkan seseorang tak fanatik pada satu nilai. Dari generasi Kakilangit Horison, suplemen yang disediakan untuk menampung sastrawan pelajar di Indonesia, kita menemukan seorang Faisal Kamandobat yang semakin matang. Dengan latar belakang SMU Islam Cipasung – dengan atmosfir berkesussatraan yang digalakkan kiai H Acep Zamzam Noor di Tasikmalaya – ia merasuk ke dunia kesusastraan Indonesia dengan meniti jenjang tangga pendidikan secara lebih optimis. Sama seperti Timur Budi Raja.

Meski kesuntukan itu akan jadi sesuatu yang sia-sia bila tidak ada dukungan dan restu dari orang tua. Sebuah keyakinan kalau menjadi manusia itu tidak harus menjadi PNS atau kerja profesional yang berlimpah materi.

Sebuah pengakuan pada vitalnya fungsi makna dan nilai rohani dalam kematangan jadi manusia di tengah masyarakat yang makin materialistik komsumtif-hedonistik menghalalkan segala cara. Di sini fungsi sastra sebagai cambuk yang mengingatkan keberadaannya instink humanistik yang cenderung mlenceng dan sekaligus rambu yang menuntun ke arah yang mustaqim jadi penting. Memang!***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *