Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail*
http://www.gatra.com/

Asrul Sani (GATRA/Tatan Agus RST.)KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Di perpustakaan itu pula saya menemukan majalah Zenith dan pertama kali membaca esai-esai Asrul yang jernih, cerdas, dan cantik, kini terkumpul dalam Surat-surat Kepercayaan (1997, 708 halaman).

Cita-cita saya ingin jadi sastrawan sejak SMP mengental di SMA (Bogor dan Pekalongan). Tapi saya harus punya sumber nafkah jelas sebagai pendukung cita-cita itu. Keraguan mengenai sumber nafkah ini pupus ketika saya bekerja semasa liburan musim semi 1957 di sebuah ladang pertanian campuran di tepi Danau Michigan, membantu memotong gandum dan memberi ransum ayam dan sapi di ranah 100 hektare itu.

Sehabis masa setahun beasiswa AFS di SMA Milwaukee itu, masuklah saya ke Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan (FKH&P) Universitas Indonesia, Bogor, dengan tujuan menyiapkan diri jadi pengusaha peternakan campuran, ingin berladang di atas lahan 100 hektare pula. Pengalaman kerja sebagai pembantu petani di mixed farming itu sangat berkesan, dan jadi tikungan di jalan raya kehidupan saya. Sementara itu, puisi sudah jadi pilihan utama penulisan saya.

Masa studi di FKH&P mengasyikkan, walau agak menderita di bidang pengobatan atau ilmu klinik. Sesudah tiga tahun baru saya sadar bahwa kuda, kucing, dan anjing, serta pasien-pasien lain yang mesti diobati itu tidak tahu bahasa Sunda, apalagi bahasa Indonesia. Dan celakanya tidak ada mata kuliah tambahan ilmu linguistik hewan Nabi Sulaiman.

Asrul Sani (GATRA/Tatan Agus RST.)Tapi Marah Rusli dan Asrul Sani, serta beberapa ratus dokter hewan lain, ternyata bisa melompati jurang komunikasi bahasa itu, sehingga kesimpulannya, saya tak perlu terlalu takutlah. Beranda rumah Pak Marah Rusli, kakek musikus Harry Roesli, di Jalan Cikeumeuh, Bogor, lapang diisi kursi-kursi besar. Pada tahun 1960-an itu beliau sudah pensiun. Saya menimba pengalaman beliau menulis roman dan bagaimana kisah praktek sebagai Vee Arts, dokter hewan, di Indonesia Timur.

Jarak angkatan saya dan Asrul di FKH&P barangkali 8-10 tahun. Sebagai mahasiswa, Asrul susah bangun pagi. Dia tinggal di asrama Felicia, di tepi tebing, persis di bawah segi-empat Taman Kencana. Profesor endokrinologinya orang Belanda. Mahasiswa di kelas itu cuma tiga orang. Pada suatu hari, seorang mahasiswa permisi ada urusan ke Jakarta.

Yang masuk ruang kuliah cuma seorang. Di mana Asrul? Dia masih tidur. Profesor itu jalan kaki ke asrama Felicia, turun kira-kira 50 tangga di tebing Sempur Kaler yang curam itu, masuk kamar dan dengan sopan membangunkan Asrul. “Tuan Asrul, sekarang ada kolese,” katanya. Asrul buru-buru ke kamar mandi, pipis, cuci muka, dan pergi kuliah supaya kuorum tercapai. Waktu itu, mahasiswa memang dipanggil Tuan oleh semua guru besar berkebangsaan Belanda di kampus.

Pertama kali saya mendengar Asrul Sani bicara di forum adalah di ruang Manajemen Peternakan, sekitar 1961 atau 1962. Ketika itu diputar sebuah filmnya, (rasanya) Pagar Kawat Berduri, untuk dosen dan mahasiswa. Asrul bicara sistematik, tenang, bahasanya jernih, jelas titik koma serta paragrafnya, dan merdu.

Dalam diskusi tampak Asrul sangat menguasai retorika. Belakangan saya baru tahu bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan Asrul berdebat. Bahkan, Bung Karno pun kagum pada Asrul. Sebenarnya waktu itu saya ingin betul langsung bertanya tentang proses kreatif penulisan puisi Anak Laut. Pertanyaan itu tertunda sekitar 40 tahun lamanya.

Asrul Sani & Mutiara Sani (GATRA/Tatan Agus RST.)Interaksi saya dengan Asrul Sani, sesudah 1968, banyak. Asrul pernah jadi Ketua Akademi Jakarta, Ketua DKJ, rektor pertama LPKJ. Saya pun pernah jadi DPH-DKJ, Rektor LPKJ, memimpin TIM. Ini fenomena penting. Dua orang dokter hewan memimpin kompleks kesenian ini. Apa pasal? Karena TIM ini dulu bekas kebun binatang. Ketika ini saya ceritakan pada Bang Ali Sadikin, dia tertawa terkekeh-kekeh. “Barangkali mengurus hewan malah lebih mudah ketimbang mengurus seniman,” kata gubernur itu.

Kenangan terakhir paling indah adalah ketika Horison berhasil mengundang Asrul Sani menghadiri penutupan acara “Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya” (SBSB) di Makassar, 8 September 2003. SBSB baru selesai di 162 SMU di 102 kota Indonesia. Di atas kursi roda, didampingi Mutiara Sani, istrinya yang merawatnya penuh dedikasi, Asrul baca puisinya Anak Laut di depan 1.000 siswa SMU dan 200 guru bahasa dan sastra di Makassar.

Suaranya sudah agak lambat. Inilah kado baca puisi terakhir Asrul Sani, sastrawan Angkatan 45, budayawan cemerlang Indonesia untuk siswa-siswa SMU Tanah-Airnya. “Fiq, jangan abaikan anak-anak SMU. Sastrawan lahir dari SMU,” pernah dia bilang.

Setelah selesai Asrul Sani baca Anak Laut itu, titik air mata saya.

*) Penyair, budayawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *