Puisi-Puisi Abdurrahman Mohamad

http://jurnalnasional.com/
Di Akhir Musim Hujan

Akan kutanam benih padi di dadamu
Sebelum kemarau memberangus keriangan
Menghapus hijau tanah, membakar ilalang
Karena dirimu seorang gadis yang dilahirkan hujan

Di saat ini aku adalah seorang petani
Dan setelah itu akan kembali menjadi seorang laki-laki
Yang menunggu musim penghujan kembali
Kau pasti mengerti, kini musim berganti tidak pasti

Cirebon, 2008

Nol Kilometer Tepat di Bayanganmu

Dulu, aku menyangka
kita terlahir dari rahim penuh ilalang
tumbuh dari desir angin pantai dan debu pasir
namun, kenangan telah menetapkan batas
membuatku mengemas segala rasa dan masa lalu

Bibirmu kini lebih jingga dari warna senja
senyummu lebih tajam dari belati
dan sebuah luka di dadamu terlihat seksi
kadang aku terlalu bergairah menyebutmu sebagai bidadari

Ini perjumpaan yang tak tebayangkan

Tepat nol kilometer dari bayanganmu
pandanganku terluka, aku harus memaksa mata ini
sebuah tanda sunyi dan lebih hitam dari dedak kopiku
untuk membaca rajah yang terterah di punggungmu
kau tersenyum seakan mengerti, aku hanya seorang anak
yang terlupa garis nasabnya

Mungkin secercah cerita, mitos yang dilupakan
atau mantra pengasih yang ngilu untuk dibacakan
yang kau ingat dari semua pertemuan

Semua gairahku telah terbungkus kafan legam, bagimu

Dan kini aku hanya ingin kau bernyanyi irama pantai utara
biar kurasakan pinggulmu bergoyang bersama kegelisahan
setelah ombak menghantam pasir-pasir yang kehilangan lembutnya

Indramayu-Cirebon 2008

Sujud Sepi

Aku rekatkan dukaku pada sajadah sepi, lalu aku rasakan kealpaanku mengalir bersama darah. Kudengar suara bumi menggemakan gundah. Kurasakan angin membelai tulus daun-daun berwarna kematian.

Dan aku tatap lebih dalam kegelapan, labirin panjang, sulur-sulur kefanaan menjuntai dari dunia yang riuh, pohon-pohon duri tumbuh di tanah keserakahan. Aku terus berenang di lautan sepi sampai pada kedalaman azali, cadas putih, tempat pertama kali aku memahat syahadat.

Setelah menggenapkan rakaat dengan salam, aku dengar suara balasan dari bibir sepi. Segala yang hadir akan berpulang. Segala sapa akan kembali sunyi.

Cirebon, 2009

Malam Duka 1

Malam ini gerimis menyisahkan kepedihan, rasa itu terhampar di luas tanah dan tak sirna oleh rinai air. Dingin malam menjamah suasana, pandanganku samar oleh keluhmu yang terbawa angin. Dengan kuas doa dan warna malam aku mencoba melukis garis sakitmu di kanvas sunyi, agar aku paham ada yang dapat dimaknai dari tubuhmu yang kian renta oleh dengung waktu yang selalu menghantui tidurmu.

Cirebon, 2009

Malam Duka 2

Aku terus berusaha meraba gurat usiamu dengan telapak doa, dan mencoba menghapus air matamu dengan tisu cinta yang masih tersisa di kotak hatiku.
Karena ketika aku mendengar suara airmatamu yang jatuh membuat darah
di kepalaku membeku.

Cirebon, 2009

Malam Duka 3

Malam makin meruncing, lalu menusuk dadaku yang gemetar. Aku basuh lukaku dengan air wudlhu? lalu bersama sunyi aku berdzikir, mengitung bulir-bulir derita dan semua kurasa kembali pada hitungan awal: Satu.

Cirebon, 2009

Calon Kekasih

Walau potret itu tak kau pasang di setiap ruas jalan
Dan pesona itu tak kau iklankan di kotak televisi
Akan tetap kupilih kau untuk duduk di parlemen hati ini

Cirebon, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *