Puisi-Puisi Eimond Esya

http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Perahu Sabit

Kita yang bernyanyi
Dengan tengkuk sembunyi
Dalam lubang perahu
dilinangi terawang
sabit utara yang mengambang

Akan tenggelam dan jatuh
dengan benang di punggung
serupa kail dan umpan
mengait lambung air

Serupa benih hitam
dalam rahim yang padam
Cinta yang diletakkan
Tidak dengan kesabaran
seorang pencandu kebahagiaan

Yang menghisap madu dari kacang
Serat hantu puing kayu
altar cambuk
Menanti beberapa doa beberapa lagu

dan tembakan lampu

_____________
E.E 2009

Kisah Bahaya Yang Tenang – (awal mula)

Matamu seolah menuangkan hangat bulan
Pada dingin kelam malam
yang dikentalkan nyala bintang

Cahaya wajahmu menampakkan waktu
Sekian liku jarak dan kenang
Sekian kisah
Yang memancar tenang

Tapi mungkin aku akan mencatatnya
Bukan sebagai cahaya
Layaknya kucatat dan kuingat nama-nama
Mereka yang tak pernah lahir ke dunia

Mereka yang mati
Dalam jiwa yang terlalu dewasa
Untuk hidup penuh silang sengketa
Gelap terang yang sungsang

Karena senyatanya kulihat
dimatamu bulan begitu lemah
Seperti mencari-cari arah jatuh
petuah badai pada kanak-kanak amarah

Karena kehangatan yang kau tuang
Adalah demam air
Atas penobatan segala yang larut
Dibawa longsoran kabut

Menuruni altar mendung
serendah sunyi, setajam sisik angin
mengerat daun-daun

Lalu bagai kemarau yang memeras embun
Bagai seribu tangan hujan
membongkar pelupuk fajar
Ingin kukeluarkan isi hati Tuhan

Menampung lintuh badai
Air matamu yang sangsai

__________________
E.E 2009

Kisah Bahaya Yang Tenang III -Energia

I
Apa yang kukatakan ini, Nusa
adalah runcing menara yang menusuk
bentang kusam langit pagi
yang dijelajahi induk kelelawar

Lihatlah tubuhku yang meronta
Kehilangan waktu
Dalam sekapan batu
dengan rahang tegang
dan keyakinan setengah tiang

Mengerangkan cinta
Bagai jerit debu jendela tua
Yang kau tutup di kotamu yang jauh
Dengan tirai tebal

Sementara langit yang kuarungi semakin hitam
Semakin dipurukkan awan

II.
Musim
Yang berselisih di hutan-hutan liar
Adalah keyakinanku yang sukar
Akan hamparan dunia
Yang harus kupercaya

Sedang Kau, ya Kau, Nusa
Telah menjadi cinta,
perempuan di balik jendela
Yang dipuja serigala
pemburu yang menurunkan kepala
meringkuk dan bernafas di bahu senapannya

Membidik menara keyakinanku
Di antara semak dan perdu
Membatukkan puntung-puntung peluru
ke atas tanah kasih sayangku

padamu

Dan ketahuilah Nusa,
Ingin ku katakan kini
kemanapun sesudah ini semuanya berlalu
Akan tiba saatnya kita mengerti
Tentang sesuatu
yang membuat cinta menua
Dan usia yang gugur

karena renta.

___________
E.E 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *