REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Reformasi serupa sakit perut mual-mual, menyakitkan pengeluaran melegakan pembuangan. Detik-detik menjelang situasi genting mencekam merindingkan bulu revolusi. Sewaktu itu aku mengenyam hidup di Yogyakarta. Kota kebak intelektual tanpa tendensi popularitas, mungkin. Kebudayaan adiluhung berakar tahta kerajaan harum, walau perubahan menghimpit tradisi.

Seolah ramalan menumpahkan kesalahan pandang terungkap gamblang, hukum transparan di mata rakyat sampai kaum awam. Seakan tuhan mencerahkan anak-anak bangsa atas langit paling terang yang belum pernah sebelumnya, kesempatan gilang demi kembali kedaulatan. Menggunduli patriotik semu mengangkat kebersamaan. Yang mengultuskan diri penyelamat, tidak lama dicibir bermuka pucat, malu kebodohan belum matang berjuang.

Puncaknya 20 Mei 1998, tidak dapat dipungkiri pergerakan kesadaran masyarakat, dari kaum intelektual, seniman, mahasiswa, petani, nelayan, pedagang dan tak terkecuali tentara. Suatu cahaya memukau atas bangsa, selayak gegap-gempitanya menyuarakan kemerdekaan 1945. Namun sayang, sangking bahagianya pesta sirna meninggalkan gelas berserak, tiada rembuk mempersatuan nafas kalbu mewaktu. Kesempatan takkan berulang, kalau tak terjadi tragedi lebih tinggi, revolusi mungkin solusi mencapai kesatuan hasrat kembali, dengan konsekwensi.

Kenapa reformasi tidak berhasil, meski tuhan membuka masa besar dengan kasih, nyata alasannya kentara. Jika tak tampak bisa dimaklumi sebagai kesempatan tertunda, sebab diselimuti kebodohan. Nyata para intelektual di podium saling jegal mengaku reformis. Tidakkah kumprung, merasakan pahit bersama, diganti kepentingan golongan, salah kaprah jadinya.

Terpetiklah Tuhan menurunkan bencana, suatu peringatan diperuntukkan seluruh bangsa, agar sadar bersatu guyup mencipta pemerataan, bukan jadi kemelaratan atas kerakusan. Lagi-lagi anak bangsa belum ikhlas, malah sarana mencari muka membantu sesama, dan kesalahan lalu dibenarkan, ini hukum lacur. Sampai kini putusan pemerintah memberatkan jelata, demi gaji bertambah. Suatu amanah serupa peluang korupsi, minimal korupsi masa, pandangan demi golongan, lebih-lebih membelanjakan harta negara melalui pesta pelantikan, pencalonan, pitulasan, partai dan pesta lebih gila.

Yang beredar cepat uang panas, sedang pada tingkatan bawah mandek, sabab tidak mampu membeli sembako. Negara yang katanya makmur gemaripah lohjinawi, nyata beras import, gula import &ll. Terjadilah perang modal, jor-joran rayu banting harga seenak udel pemodal. Tidakkah pernah kukatakan, bangsa ini suka asing, tapi tidak mau mengakrapi menjadi tidak asing. Dan sayangnya, seluruh gerak ekonomi di kota sampai pelosok, terkendali bangsa asing atau pribumi berprinsip ganjil. Ini patut ditepuk tangani berhasil menjadi budak, naudhubillah.

Kenapa tidak tekun mempelajari kebodohan, mensinauhi perbedaan menjadi hikmah, malah saling sikut. Tidakkah cukup mencurigai pribadi sendiri meluruskan niat kembali? Tapi syukur ada yang memberi kebaikan meski banyak kebablasan. Perbukuan semarak, pertelevisian berkibar, berita tiada tedeng aling, walau masih disetir impian kuasa. Gejolak pembaharuan meningkat berserak, semoga kelak ke titik ujung revolusi, apa seratus tahun lagi, atau lebih?

Apakah tidak berubah kecuali menunggu tujuh turunan? Ini mimpi penghapusan generasi, walau harapannya merindu baik. Hukum-hukum basih diganti kesadaran, tindak suap tidak beredar, pelaku takut siksa bathin memberat, semoga segera pulih. Merevolusi kesalahan menuju kebenaran. Sekali lagi, reformasi ibarat sakit perut menimbunya mencret. Antara rintihan ada sisi nikmat, sehingga dibiarkan keadaan meminta dijaga jangan sembuh total. Inikan keblinger, merawat sakit demi kenikmatan rintihan, atas elusan tangan kekuasaan.

Seyogyanya mempelajari datangnya tragedi, apa sangking banyak makan pedas atau sering menkonsumsi permen gula atau yang berlebih. Ini kudu diselidik agar dapat menanggulangi kebablasan. Apa penyembuhan lewat perbanyak minum air mineral, makanan bergizi bukan kerakusan. Mari koreksi pribadi masing-masing, sehatkah? Sebab dengan menyenangi sakit, meski diberi imbalan nikmat sekejap, tetap murus hingga habis. Kalau yang terkuras kotoran tidak apa, namun yang ikut terbuang jati diri, bagaimana?

Jangan meminta resep orang sana, kita cukup rempah-rempah membikin jamu mujarab. Racikan berasal menghargai anak bangsa dan tidak gampang mematenkan prodak. Aku dengar Candi Borobudur pemilik lisensinya Amerika, kalau ya, celakalah. Jika diteruskan telanjang di hadapan bangsa paling miskin sekalipun. Demi perubahan seharusnya sehat terlebih dulu, agar tidak cepat ambil putusan tersebab kebelet membuang hajat teremban.

Penarikan pajak terlihat timpang atas banyaknya koruptor, pemandangan gila dan wajah sayu pengemis. Kita serupa dua orang, pengemis dan gila. Satu minta dikasihi, lainnya seenaknya. Satu merebus batu, lainnya merebus luka sejarah, satu mandiri tanpa penghormatan, satunya rakus kehormatan. Pengemis menyalakan kemenyan berwajah belas kasihan dan si gila pintar keblinger. Atau babak peleburan gila mengemis, tumpang tindih manipulasi atau kebohongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *