Sajak-Sajak Syahreza Faisal

http://jurnalnasional.com/
Dua Buku Bambu

aku dan saudaraku begitu erat memanggul rindu.
juga saling menangguhkan sembilu.
menahun, akar di dalam tanahmu menjadi ibu.
dan resapan air yang dikandungnya menghidupi
silsilah kelahiran baru.

setiap kali angin mencoba mematahkan mimpi,
berkunjung ke langit-langit rumahmu.
saat itu pula kami saling bertopang pada lingkaran badan.
atau saat hujan melecuti pakaian,
kami menggeliat menjadi penari kesepian.

kini kami, dua buku bambu.
saling menjelma pagu. tak lagi mericuhkan,
tentang siapa yang akan lebih dulu,
terkena gigi gergaji tukang kebunmu.

2009

Dua Anak Tangga
– Niken Nuraini

berapa banyak kaki yang telah mendaki di tubuh kita?
berbagi jejak yang sakit maupun yang bahagia.
ditinggalkan orang sebelum sampai ke tujuannya.

aku dan kamu tak pernah berebut tempat duduk.
sebab rasa kantuk pada sandal dan sepatu,
kita semayamkan tunggu. dan kita jaga
mereka dari tangan waktu yang meniadakan rindu.

ibarat uluran tangan, saling sambut tak lepas genggam.
kita saling memercayakan hati dan perasaan.

di kejauhan warna senja, kita simpan perih pada mata.
sebelum nanti malam kita saling bertanya.
siapa di antara kita yang bakal menjadi ibu atau bapak,
bagi gelap yang selalu memikul banyak kegelisahan?

Salman, 2009

Sungai Kunang-kunang

sudah berapa panjangkah cahaya engkau rentangkan?
jangan engkau bilang setiap rekaman,
tak mungkin bisa kembali diputarkan.

sebab dari hulu ke hilir batuan mencatat banyak
pertemuan. dari aliran deras atau tenang,
tak mungkin aku kembali mengulang pengembaraan.

setiap sisik yang kutanggalkan. akan jauh dari
kepak sayap gemerlapan. kalaupun ada,
kemilaunya teredam di dasar bersama endapan.

aku menyaksikanmu berduyun-duyun, mengitari kampung.
saling bersahutan, menautkan cangkang terang kehijauan.

dan segenap perjalananku menyatu dengan malam.

sebab dirimu melebihi pecahan ringkih bulan.
terus melaju, sebelum kemarau datang bertamu.
menyapumu dengan beragam kisah sembilu.

2009

Terungku Bambu

masuklah ke dalam kungkungan lambungku.
akan disaksikan burung-burung bersarang di dalamnya.
menetaskan cangkang sunyi yang kasar.
dilindasnya menjadi halus tak bersisa.

genggam pula setiap jeruji yang tumbuh
menjulurkan iba itu.
atau tampung ketika ada daun-daun bergugur
hendak menguburmu.
derit anak-anakku, memanggilmu
dengan pernik cahaya menerobos jalusi pagu.

lantas, bila merasa penat diterungku.
pilin setiap batang kekuning-kuninganku.
aku rela melepasmu. sebagai jasa menjagaiku,
dari para penebangmu itu.

2009

Batu Api

sementara aku menari bergumul dengan api.
sudah berapa sepi masak dan jadi dihidangkan.
lantas berapa lama lagi luka harus kuasapi.

lumut-lumut telah jadi abu. kini mengelabui
si tuan yang sedari pagi pergi, belum kembali.

ia hanya meninggalkan bayang, untuk kutanak siang.
dan beberapa arang kenangan, bisa kubakar bila turun senja

berwajah bara, bermata merah jingga.

sebelum malam menerungku tubuhku.
menyabarkanku jadi penghuni yang babu

di ruang dapurmu. aku menunggu
disepuh siapapun yang beku.
seolah-olah esok ialah waktu
untuk silsilah purbaku.

2009

Dua Penyair Padang
– Romi Z & Esha T P

aku kegaduhan bagi malam kalian.
ibarat kaki-kaki kuda di kejauhan,
yang masuk tembus ke dalam sajak.
berendaman di sungai ingatan..

dinding kamar yang memisahkan,
dunia dengan malam.
hanya setebal lapisan
kabut, boleh disingkapkan.

menyaksikan kalian kepulasan.
selimut kata-kata kalian,
lebih bara dari api yang pulang.
serta lebih menghanguskan badan,
ketimbang siang garang.

aku suara dan gema.
mencipta kerusuhan dalam mimpi kalian.
sebaris larik sajak, aku huni.
untuk kalian tengok esok pagi.

2009

Jerangkong Hujan

tubuhku merekat pada basah pohonan.
membawa musik dari akar-akar yang menggali dengan tak berperasaan.
menggeliat pada tanah-tanah berpesan

ingatan silam. lahir menetaskan tunas

kehilangan. tergeletak tak bertuan di dasar amukan.
bebatuan mengancam dingin di dinding waktu yang basah,
rumputan di tepian memeram perih dan nikmat suram sungai.

tubuhku tinggal berulang-ulang tulang.
dimusnah-bangkitkan bersama turunnya cahaya pualam.

lembab udara, hanya sisa-sisa darah mengawang-awang.
dicambuk cahaya berduri.

di sanalah, berawal pejalan kaki pergi.
mengutus sepi. menyuruh asal pulang ke kandang.

dari sanalah pula, berakhir yang memuntahkan nisan.
semesta bagi rumah tualang tulang-tulang udara.

Bandung, 2009

Narsisme Pohonan di Tepian Kolam

aku mencintai bayanganku sendiri yang terlampir di permukaan air. tanpa harus membuka cakar reranting seragam, mirip kancing.

Kemudian aku menodainya dengan sentuhan tangan, dan decak kekaguman. hingga enyah setiap keperawanan yang tenang.

kukatakan pada bayangan, engkau tak sendirian membukakan jalan ikan. kehidupan tak begitu membosankan di luar lapisan kolam.

engkau tak akan kesepian bila malam kembali datang. datang dengan bala tentara yang menculik cahaya, terbata-bata terdamparkan.

engkaupun tak usah berdendang bila tiada hujan memelukmu dengan nafsu. dan kemarau menyusutkan ragamu pada malang kerontang.

sebab : aku memapah engkau di setiap perjalanan kembang. dari resapan akar, ke rerantingan, berakhir di guguran, pekabungan.

aku berseberangan dengan malam dan saling memercayakan pada bayang. saling bertukaran peran. kegelapan malam merapatkan.

akupun tak perlu nyanyian, walau pancaroba memisahkan kita dengan waktu yang begitu panjang, yang sayang telah kita dilewatkan.

2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *