Seruling Sunyi

Matroni el-Moezany
http://www.lampungpost.com/

SEIRAMA dengan kuping yang mendengar suara dari balik layar kumputer, tiba-tiba tanpa di sengaja suara itu mematuk dan membawa Rizki menemui Tuhan-nya. Seluring yang membuat Rizki bertanya akan dirinya dan ruang yang tertutup retak tak bernama, mengapa bunyi seruling itu membuat jiwa ini memiliki ruang lain untuk selalu bertanya ketika seluring terdengar bersuara, sehingga malam itu tak ada kata-kata yang mampu mengubah jalannya suara seluring, selain diri yang selalu merindu. Karena kita terlalu sunyi untuk merasakan kata-kata. Maka bertanyalah selalu untuk merasakan adamu dalam ruang-ruang kehidupan.

“Bangunlah rumah tanya dalam dirimu kalau engkau ingin selamat, saya yakin manusia hidup pasti memiliki keinginan selamat, selamat dari kemiskinan, selamat dari kelaparan dan selamat dari hal-hal yang dirimu tak nyaman.”

“Rizki terus berharap suara seruling tetap menjadi tanda akan kerinduan dalam menjani jejak hidup,” pikirnya.

“Tapi akankah waktu itu akan hadir persis sama dengan malam sebelumnya? Sehingga malam menjadi indah dan bermakna.”

Rizki pun terdiam penuh makna, setelah menikmati senja yang tertutup huruf-huruf bibir. Gembira, senang dan semangat hidup yang menjadikan Rizki selalu ingin mendengar suara seruling berkidung, itulah yang menjadikan Rizki selalu bertanya, pada orang-orang, bertanya pada dirinya dan bertanya pada kehidupan, karena Rizki yakin kalau seruling sunyi akan menambah makna dalam melanjutkan hidupnya.

“Itu sudah hal biasa, semua orang bisa seperti kamu,” kata Rizal.

“Biasa, bagaimana, itu selalu berulang-ulang dalam diriku dan aku tidak mengerti, bukankah sesuatu yang terjadi harus kita tanyakan,” kata Rizki.

“Setiap orang pasti memiliki kesenangan tersendiri, setiap kita punyak keindahan sendiri, dan kesenangan itu pasti lain-lain, itu menurut kamu, kamu senang dan semangat mendengar seruling, tapi bagi aku tidak,” Rizal menerangkan.

“Jangan bilang seperti itu kamu Zal, karena kata-kata yang lahir dari mulut dan benda apa pun itu adalah ciptaan Tuhan, dan pasti memiliki makna dan tujuan karena menciptakan suara tanpa makna, jadi kamu harus mencari makna itu.”

“Tidak masalah, yang penting aku sendiri masih bisa merasakan suara seruling tanpa ada beban dari kamu.”

“Ya, aku mengerti itu, aku sadar itu dan aku menyadari hal itu, tapi apakah kamu sendiri merasakan bahwa suara seruling mampu menciptakan kesenangan, kegembiraan, dan menghilangkan stres? Tapi, apakah ketika ada suatu musik atau suara apa pun, kamu merasakan hal yang sama dengan aku,” lanjut Rizki.

“Tidak!”

“Kelainan rasa yang ada pada setiap kita, pasti berbeda, walau itu sama sekalipun, dan itu yang harus kamu sadari, karena setiap kita adalah semesta yang berbeda-beda untuk menciptakan kesenangan-kesenangan.”

Bagi Rizki Seluring tetap menjadi suara yang sangat lain, dibandingkan dengan bunyi-bunyi yang lain. Entah karena seluring terbuat dari bambu yang memiliki roh sejarah, atau karena dari saking kecilnya suara seruling sehingga Rizki tetap selalu ingin berjalan di atas suara seluring yang menggema mengisi jalannya? Rizki yakin kalau seluring akan menjadi jawaban ketika kita sadar dan menyadari bahwa kita ada di sini untuk menanti jawaban akan lengkungan kehidupan yang Rizki jalani.

“Kapan dan di mana seruling akan menjadi perantara jawaban bagi lengkungan kehiduapan?” tanya Rizal.

“Ketika kamu memiliki keinginan untuk bertanya.”

“Kapan aku bisa bertanya?”

“Kapan saja dan dimana saja kamu mau.”

“Karena yang paling baik untuk mencari jawaban atau untuk menanti jawaban adalah ketika dirimu mengalami kesunyian diri dan orang-orang dan di sana hanya ada seruling yang mengantarkan kamu ke dunia penuh makna-makna.”

“Kesunyian dari apa?”

“Kesunyian dari apa pun, seperti sampah adamu, atau dosa-dosamu yang selama ini kamu jalani.”

“Aku kan tidak merasa memiliki dosa, lalu bagaimana kalau aku tidak merasakan punya dosa?”

“Lalu?”

“Apakah bisa hanya dengan kesunyian, kita bisa menghilangkan lukamu yang meluikai Tuhan?” Rizal penasaran.

“Ya! Karena kesunyian adalah waktu yang sangat tepat untuk kita melampiaskan semua resah dan gelisah kepada Tuhan. Kesunyian adalah waktu yang sangat tepat untuk kita sampaikan segala bentuk kegelisahan dan keberdosaan kita kepada Tuhan maupun kepada diri sendiri. Kesunyian adalah kata-kata luka dan pesta dosa yang teriris rapi dengan penyesalan kita. Kalau kita sudah benar-benar merasakah kesunyian itu, di saat itulah kita tak memiliki tabir untuk menemui sang kekasih wahai kekasih.”

“Lantas bagaimana kita menghadirkan kesunyian, sementara kamu bilang kalau kesunyian datang dengan adanya suara seruling.”

“Kita tidak harus menunggu suara seruling, sebab dimana pun kamu mau di sana ada kesunyian yang menunggu kamu.”

“Suara adalah salah satu jembatan untuk kita jalani menuju sesuatu yang kita inginkan, termasuk suara seruling. Dengan menyelam di kedalaman suara seruling itu kita akan terhanyut-hanyut pada lembah keterasingan indah, dan disana kita akan memanggil-manggil dan bertanya aku ada di mana dan siapa diri anda sebenarnya?”

Rizal hanya diam karena tidak mengerti apa yang dikatakan Rizki.

“Mengapa engkau diam,” kata Rizki

“Aku tidak mengerti?”

“Bagaimana engkau tidak mengerti, padahal seruling dan suara bisa engkau dengan dimana dan kapan.”

“Memang! Tapi kata kamu tadi itu lain.”

“Maksudnya?”

Seakan-akan kamu berbicara seluring dan suara tidak sama dengan yang biasa kita dengar tiap hari?

“Ya, memang seperti itu.”

“Terus apa yang dimaksud kamu tentang seruling dan suara?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa kita hidup harus bermakna dan kita melihat sesuatu jangan hanya dari luar, tapi bagaimana kamu mampu melihat sesuatu di luar materi,” jelas Rizki.

“Bermakna bagaimana, kita hidup sekarang bermakna, terus harus bermakna apa lagi?”

“Oke” keras Rizki berkata.

Kamu hidup, bisa makan, bisa minum, mampu puasa, salat, dan sekolah, tapi kamu tidak menyadari apa itu semua, kamu akan rugi, karena orang yang memiliki makna dalam hidupnya adalah orang yang mampu memaknai sesuatu yang kita lihat, sesuatu kita rasakan dan sesuatu kita kerjakan selama hidupmu. Sebelum kamu belum mampu untuk menyadari hal itu, jangan harap kamu akan menjadi manusia yang memiliki makna, bagi diri kamu sendiri dan orang lain. Sebab kehidupanmu adalah tergantung pada diri kamu, tergantung bagaimana menyikapi hidupmu. Hidupmu akan ikut bersamamu, karena hidup ada dirimu sendiri.

Yang penting kita hidup saat ini adalah bagaimana kita harus sanggup membaca tanda-tanda diri dan alam ini, karena adanya ketertandaan itu kita akan seperti sajak-sajak indah yang tertulis rapi di pohon-pohon cinta. Daun-daun pun tak merasa resah hanya karena banyaknya kita. Dia selalu bersuara beriring bunyinya seruling manja. Meneteskan sempalan-sempalan kata yang tersungkur oleh tangan-tangan liar.

Misalnya, aku kirim sepucuk suara seruling untuk engkau sampaikan pada bintang yang setia menemani kehidupanmu. Setia menemani jalannya anak peminta-minta. Kibaran suara menjadi buah meriah, bahagia. Kekasihku, sayangnya engkau tak mimiliki suara indah seperti seruling manja yang menetes di daun senja. Kasih, biarkan aku bermesraan dengan kata-kata malam bersama peminta-minta, agar kegersangan dan kekerasan jiwa ini menjadi lembut dan sejuk. Karena kita tahu, suara akan menjadi lembut dalam menikmati kidung yang tak terjamah matahari dan bulan.

Kekasihku, kesunyian memang kesunyian itu sendiri, tapi itu bukan lantas aku diam tanpa sajak-sajak. Kita harus harus menciptakan kata-kata di kesunyian itu, karena dengan bertanya, suara seruling akan terjawab dengan rapi di bibir-bibir yang mengalir sungai-sungai. Rizki kemudian menulis sebuah puisi agar engkau mengerti:

Sampai darah mengalir di kesunyain malam:

Seperti darah yang tak terlihat jelas perjalanan ini

Karena kamarau, aliran darah terhenti

Lalu siapakah yang akan menjadi sunyi

Untuk mencuri sungai-sungai di bibirmu

Selain sudah tergelar rapi

Mesin-mesin siap menyedot dan membakar

Jurang-jurang kering, aku menunggumu

Untuk mengambil air minum

Siapakah yang akan menjadi air

Ketika semua sudah di pasung oleh mesin

Ibu,

Suaramu terjual tanpa harga di negeri ini

Tubuhmu terkuras habis oleh kesesatan teknologi

Akhirnya mengalami kegersangan bertubi-tubi

Ketidakpuasan dan mematikan rumus-rumus gersang

Karena kita terlalu sunyi untuk merasakan kata-kata

“Engkau boleh bersajak indah seperti itu, tapi apakah dengan bersajak engkau mampu menguak tabir tebal di balik suara seruling?” tanya Rizal menantang.

“Rizki terdiam, meminta jawaban pada jiwanya.”

“Mengapa engkau diam? tanya Rizal

“Keterdiaman akan membuat jiwa ini menjadi bening dan suci, seperti puisi, dia juga sesuatu yang bening yang bersembunyi dibalik kata-katanya, karena itu aku juga mencoba seperti masyarakat puisi, yang hidupnya selalu bertanya dan merasa terhadap kehidupannya, dan hidupnya selalu biasa dan terbiasa dengan kebiasaannya.”

Sebenarnya perjalanan seruling akan mengalami kebuntuhan, kegersangan dan kebuntuhan jika tidak dibarengi dengan puisi. Karena seruling adalah puisi itu sendiri yang mengalir seperti darah dalam tubuh kesunyian. Maka, jangan biarkan suara seruling terbuang sia-sia tanpa makna apa-apa. Coba rasakan kekasihku, ketika ada seruling bersuara mengisi kekosongan jiwamu. Ketenangan dan ketidakputusasaanlah yang selalu merindui jiwamu. Katakan itu kepada orang-orang Zal. Karena keduanya akan saling mengisi diri dan jiwa kita. Lihat saja. Banyak orang yang mati bunuh diri, karena tidak menemukan kepuasan dengan diri sendiri dan kata-katanya. Maka hadirkanlah puisi untuk menciptakan kesejukan-kesejukan dalam hidupmu karena puisi adalah selawat yang tak terbaca jelas, tapi pasti ada pengaruhnya dalam dirimu. Itu pasti. Karena roh puisi berjalan dikedalaman kata-kata dan di kedalaman benda-benda.

Moralitas yang lahir dari sesuatu yang kecil seperti seruling. Karena keterkecilan adalah kebesaran itu sendiri. Apakah engkau sanggup menciptakan kebesaran tanpa ada sesuatu yang kecil? Sungguh sangat tidak mungkin. Walau tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Karena dunia besar karena ada sesuatu yang kecil. Engkau menjadi manusia besar karena pernah mengami kekecilan.

Kekasihku, lihat saja tokoh sejarah dunia yang mati bunuh diri karena kata-katanya sendiri. Kita boleh saja mengikuti mereka, tapi tidak dengan kebodohannya itu. Kita harus mencari dunia lain, dan mencari kelembutan suara seruling sendiri dengan menciptakan puisi-puisi indah, dengan begitu kita akan bahagia selamanya, dimana pun kita berada. Sebab seruling dan kata-kata sama-sama menjadi jalan moral untuk kita jadikan bekal bagi diri dan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *