Watchmen

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Ketika polisi tak ada, dan keadilan terasa asing, muncullah Watchmen. Dalam cerita bergambar karya Alan Moore dan Dave Gibbons ini, sejumlah orang luar biasa perkasa menyamar sebagai vigilante: penyelamat kota dari kekejian, penyelamat Republik dari musuh, bahkan penyelamat dunia dari perang besar Armageddon.

Rorschach, salah seorang dari mereka, memulai cerita ini dengan menulis dalam catatan hariannya, 12 Oktober 1985: ?Kota ini takut kepadaku. Aku telah melihat mukanya yang sebenarnya.? Bagi Rorschach, yang menutup wajahnya dengan topeng putih berbecak-becak hitam, jalanan kota telah jadi ?selokan memanjang? yang ?penuh darah?. Ia merasa unggunan najis ?seks dan pembunuhan? akan menggenang membusa sampai pinggang, dan ?semua cabo dan politisi akan memandang ke atas dan berteriak, ?Selamatkan kami.??

Rorschach adalah suara yang tajam getir, yang bergetar di atas garis yang jelas: ?Sebab ada kebaikan dan ada mala, dan mala harus dihukum. Bahkan sampai di hadapan Armageddon aku tak akan berkompromi dalam perkara ini.?

Berbeda dari Rorschach adalah Eddie Blake, ?The Comedian?. Ia menertawakan hidup dengan sinisme yang dalam. Ia tahu masa depan, yang bergerak cepat, tak punya tempat berlindung: dunia, seraya meneruskan lukanya yang busuk, hidup di bawah ancaman perang nuklir. ?Blake mengerti,? kata Rorschach tentang kawannya ini. ?Ia melihat wajah abad ke-20? dan memilih untuk jadi sebuah cerminan dan sebuah parodi tentang abad ini.?

Maka Blake adalah kebrutalan. Ia mencoba memerkosa rekannya sendiri dalam kelompok vigilante The Minutemen. Ia ikut dalam Perang Vietnam, tapi cepat-cepat meninggalkan Saigon ketika musuh mulai meringsek; ketika seorang perempuan setempat yang dihamilinya marah karena ia begitu tak bertanggung jawab, ditembaknya perempuan itu dari jarak dekat di tempat umum. ?Blake itu menarik,? kata Dr. Manhattan. ?Aku belum pernah bertemu dengan orang yang seperti dia: dengan sengaja tak bermoral.? Di Vietnam, orang macam ini cocok, karena ?kegilaan itu, pembantaian yang seenaknya itu.?

Tak begitu jelas bagi saya, mengapa The Comedian bergabung dengan tokoh-tokoh bertopeng atau setengah bertopeng yang penuh niat baik untuk menyelamatkan kota dari kebusukan. Tak begitu jelas apa yang baik dan adil dan apa yang tidak bagi orang ini. Tapi jika ada yang menyebabkan cerita bergambar Watchmen punya arti lain adalah justru kemampuannya menampilkan betapa tak murninya kebaikan, sebagaimana betapa tak murninya kejahatan.

Tokoh yang paling berbudi dalam cerita ini adalah Dr. Manhattan. Seorang ilmuwan muda yang cemerlang, Jon Osterman, terjebak dalam ruang eksperimen dan kecelakaan dahsyat terjadi. Ia berubah jadi manusia yang punya daya yang ajaib. Ia bisa mengendalikan struktur atom. Ia mampu menghancurkan tank dengan mengarahkan energi dari telunjuknya. Ia sanggup melayang langsung ke Mars. Ia juga dapat memindahkan tubuh manusia dari jarak jauh. Tapi ia tak berbuat apa-apa ketika di hadapannya, Blake menembak perempuan Vietnam itu. ?Kau bisa mengubah pistolku jadi uap?,? kata Blake ketika Dr. Manhattan menegurnya. ?Tapi kau tak menggerakkan jarimu sama sekali.?

Adrian Veidt juga istimewa. Orang mengatakan dialah manusia paling cerdas di dunia. Mundur dari kelompok vigilante, ia membangun kekayaan yang tak tanggung-tanggung. Dengan itulah ia membangun sebuah pusat di Kutub Selatan?dan dari sana, ia membinasakan ribuan orang di Kota New York. Dengan itu, ia berhasil mengalihkan dua negara superkuat, Amerika Serikat dan Uni Soviet, dari permusuhan. Keduanya jadi sekutu, karena merasa ada kekuatan lain dari luar bumi yang mengancam.

Adilkah tindakannya? ?Jon,? katanya kepada Dr. Manhattan menjelang cerita berakhir, ?aku tahu orang menganggap aku tak punya perasaan lagi?. Apa yang penting adalah bahwa aku tahu aku telah bergulat menyeberangi tubuh orang-orang tak bersalah yang terbunuh untuk menyelamatkan umat manusia?. Tapi harus ada seseorang yang menanggung beban berat kejahatan yang keji tapi perlu itu.?

Benarkah? Veidt sendiri tak yakin. Ia masih bertanya, ?Jon? apa yang kulakukan benar, bukan? Semuanya berakhir baik.? Tapi Osterman hanya menjawab, ?Tak ada yang berakhir, Adrian. Tak akan ada yang pernah berakhir.?

Juga keputusan tentang kebaikan dan kekejian tak akan berakhir. Rorschach merasa ada konfrontasi yang tegas antara kebaikan dan mala, tapi ia sendiri meletakkan garis itu pada kekerasan yang brutal.

Tapi mungkin dengan itu ia ingin memperingatkan bahwa baik otoritas moral yang diwakili lembaga resmi?polisi, pengadilan, hukum?maupun dirinya, seorang vigilante, bermula sebagai kekerasan. Seperti dialami para tokoh Watchmen, tiap kali kita bersikap bahwa kebaikan diri kita tak sedikit pun terkontaminasi kejahatan, akan terjadi kesewenang-wenangan.

Sebab itu, perlu dekonstruksi. Dekonstruksi adalah keadilan, kata Derrida: membuka diri kita kepada yang di sana yang berbeda dan dibungkam. Termasuk bagian diri sendiri yang cacat.

Itu sebabnya keputusan untuk adil tak bisa bertolak hanya dari hukum yang ada. Keputusan yang adil perlu menggunakan aturan tapi juga meniadakannya. Tiap kali harus ada peninjauan kembali. Tiap kali harus ada kerendahan hati.

Apa yang menakutkan dari Watchmen adalah bahwa manusia-manusia itu, yang menyamar, sebenarnya juga setengah menutup mata. ?Kota ini takut kepadaku,? kata Rorschach. ?Aku telah melihat mukanya yang sebenarnya.? Tapi bisakah ia melihat mukanya sendiri yang sebenarnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *