Ayah, 80 Tahun Lebih

Darman Moenir
jurnalnasional.com

MUNGKINKAH orang setua ayah, berusia delapan puluh tahun lebih, masih harus dibiarkan bekerja di sawah dan di ladang? Dan, bekerja di sawah, jelas beliau bergelimang dengan luluk, dengan bau tanah, dengan lumpur, dengan miang jerami, dengan bajak, dengan hadangan cuaca amat panas di musim kemarau, sering berbadai di musim hujan. Tetapi adakah cara paling santun menegah ayah yang bekerja dengan semangat empat-lima seperti para pejuang merebut dan memertahankan kemerdekaan? Biar terasa tak mungkin, bahkan sangat naif, hanya dengan bambu runcing, tetapi para pahlawan itu benar-benar berhasil memroklamirkan sebuah republik. Ayah pun bekerja dengan semangat seperti itu, seolah ingin memroklamirkan republik, biar kondisi fisik beliau sesungguhnya sama sekali tak memungkinkan. Orang setua ayah tentu saja tak berdaya lagi mengayun cangkul, menebas rumput di pematang, menguak puangan bandar, menghalau sapi yang malas menghela bajak. Tetapi ayah, sebagaimana pejuang-pejuang empat-lima, benar-benar ditegah tak tertegah.

Saya pernah membayangkan ayah duduk-duduk di beranda, membaca-baca suratkabar, atau takzim zikir di sajadah, atau sekedar mencabut-cabut rumput di halaman. Saya memerkirakan ayah lebih memilih mendongengi cucu-cucu atau kembali mengajari anak-kemenakan bersilat. Ya, mendongeng! Ayah mahir mendongeng Antu Sugirapiak: piak-piak sigurapiak, batonggok di ateh papan, baranjak antu lapiak, bakuak sakalian setan. Alangkah puitik. Dongeng menggunakan kata-kata kerja batanggok, bertonggok, dan/atau bertengger, baranjak, beranjak, dan bakuak, berkuak. Dan kata-kata berkuak ini kelak mengingatkan saya pada judul Tiga Menguak Takdir, dari Charil Anwar, yang amat terkenal itu. Dan dongeng ini mengisahkan cara ampuh untuk mengusir hantu dan setan. Unik atau malangnya, ayah tak menjelaskan apa itu hantu dan apa itu setan. Saya, dan kami, di masa kecil, seolah diajar untuk cuma membayang-bayangkan sosok hantu dan wajah setan.

Ya, bersilat! Setaknya ayah mampu memerkenalkan langkah-langkah awal seni bela diri yang bersifat tradisional itu. Dan, bersilat, dulu, sering diajarkan ayah terhadap anak-kemenakan di belakang rumah, di sasaran, di bawah bulan. Bersilat dalam pengertian berusaha mampu membela diri tentu saja diperlukan. Dan, saya masih ingat, ketika masih kanak-kanak, pada suatu malam, di sasaran silat, kepada saya ayah berujar, bahwa selain pelangkahan dan gerak-gerik anggota tubuh, ada pula yang bernama silat mata, silat lidah dan silat batin. Menguasai satu di antara puspa-ragam jenis silat itu bagus. Betapa lagi kalau mengetahui dan mampu memainkan semua.

“PERASAAN Ayah tak enak kalau tak bekerja,” jawab ayah suatu kali setelah saya memberanikan diri meminta beliau untuk tak usah bekerja.

Ayah menambahkan, bahwa beliau bukan tak suka membaca. Amat suka! Ayah malah tak hanya membaca suratkabar dan majalah akan tetapi juga buku-buku agama, buku-buku pendidikan, buku-buku kebudayaan dan buku-buku kesusastraan. Paling mengagumkan adalah, di usia yang sudah delapan puluh tahun ini, beliau masih membaca tanpa menggunakan kaca-mata. Sama sekali beliau tak perlu suryakanta. Beliau tak canggung berhadapan dengan huruf-huruf sepuluh titik, huruf-huruf dua belas titik, dan huruf-huruf enam belas titik. Beliau bahkan masih mampu membaca dengan bantuan pencahayaan yang tak begitu sempurna. Ayah masih bisa membaca di terang-terang leras pada senja hari. Entah mengapa mata ayah sesehat dan sehebat itu benar. Alasan ayah suka makan tomat dan terung saja tak cukup. Saya saja, yang berusia baru setengah abad lebih beberapa tahun, sudah harus menggunakan kacamata tambah dua.

Perasaan ayah tak enak? Mengapa tak enak? Ayah mengaitkan pekerjaan dengan perasaan? Ayah dengan demikian menyebut lagi pandangan hidup kultural, raso dibao naiak, pareso dibao turun? Ayah ternyata benar-benar manusia luar biasa! Pekerjaan, pekerjaan apa pun, sesungguhnya harus dikerjakan dengan raso, perasaan, bukan hanya dengan rasio, bukan hanya dengan pareso, periksa, bukan hanya dengan logika. Dan, ayah menjelaskan, tak semua orang menali-temalikan pekerjaan dengan perasaan.

Padahal, ayah, sebagaimana galibnya, menyindir kalau takkan mengajari, bahwa mengait-ngaitkan pekerjaan dan perasaan mendatangkan apa yang dinamakan seni, apa yang seringkali dirumuskan sebagai keindahan, apa yang disebut-sebut sebagai estetika. Ayah seolah beranggapan atau mengutip pendapat, pekerjaan mendatangkan bahagia. Dengan lain perkataan, pekerjaan bagi beliau tak harus mendatangkan beban. Dan benar-benar mencelakakan andai pekerjaan jadi beban. Berat lagi. Sudahlah berat, singgulung pun batu. Inilah yang dipantunkan nenek-moyang, baban barek singguluang batu.

Rasa, atau raso itu, apakah sesungguhnya? Apakah rasa identik dengan raso atau, sebaliknya, pareso identik dengan periksa. Apakah mungkin, dalam kaidah rasa bahasa, menerjemahkan raso serta-merta menjadi rasa? Apa juga mungkin, juga dalam kaidah rasa bahasa, mengubah pareso menjadi periksa?

Ah, pasti ada yang hilang dan atau lepas dalam penerjemahan.

“Dan berbuat itu,” lanjut ayah, “haruslah lamak dek awak katuju dek urang.”

BENAR-benar pengguruan tetapi ini, sekali lagi, ini, adalah kalimat-kalimat ayah. Takkah jadi dosa besar andai kata-kata ayah tak diikuti, setaknya, tak disahuti? Andai kalimat-kalimat ayah saja sudah tak bisa diterima, bagaimana dengan kata-kata orang lain? Dan kata-kata anggota legislatif atau imbauan-imbauan eksekutif mulai dari camat, bupai/walikota, gubernur, menteri sampai ke presiden bisa saja tak diambil pusing. Bagaimana dengan kata-kata Yang Mahasatu, kalimat-kalimat Yang Mahakhaliq dan kitab-kitab Yang Mahabesar?

Tunggu! Pertanyaan-pertanyaan ini tertuju terhadap diri saya sendiri. Tak lebih dan tak kurang. Tak ada yang dilebih-lebihkan, tak ada pula yang dikurang-kurangkan. Betapa lagi, dalam bentuk pernyataan, kata-kata itu pernah diucapkan ayah ketika saya masih kecil, masih kanak-kanak. Paling menarik, ayah menyampaikan pesan-pesan yang sesungguhnya imperatif itu dalam selingan dongeng.

“Suara beruk bisa jelas, kukuk ayam bisa merdu, suara pembaca puisi bisa membahana, kata-kata Wak Haji bisa fasih, kalimat-kalimat rasul bisa terdengar jauh tapi titah Allah SWT adalah segala-galanya,” ujar ayah datar, lancar, tanpa membebani.

Adakah semangat seperti itu benar yang bersemayam dalam diri ayah sehingga di usia yang sesenja, bahkan sudah masuk magrib, ini, ayah masih belum mau istirah untuk beberapa jenak? Apakah ayah masih menginginkan konsep (ke)hidup(an), lamak dek awak katuju dek urang, itu, teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari, di mana pun mentari khatulistiwa pernah singgah?

“Ayah memercayai konsep itu?” usik saya lancang, suatu petang.

“Mengapa tidak, Nak? Dan kita sesungguhnya hanya melanjutkan.”

“Maksud Ayah?”

“Kita hanya semata-mata melanjutkan apa yang pernah diteruka, ditumbuhkan, disiangkan, diladangkan, dan dihidupkan pendahulu. Lamak dek awak itu sangat umum, universal, seperti dirumuskan orang-orang sekarang.”

“Akan tetapi kenyataan yang berpendar?”

Ya, beliau menimpali, ketika masih banyak orang-orang, terutama yang pegang kendali, bermain seenak perut, berpatokan demi kepentingan diri sendiri, demi kelompok, dengan pelbagai interes, maka impian-impian nenek-moyang yang juga menjadi impian-impian kita di masa sekarang masih berada di atas kertas belaka. Selalu begitu sampai ke ujung zaman.

“Tetapi …..,”

“Kita harus berusaha,” saya memotong kalimat ayah.

“Persis!”

Lalu, dengan ketuaannya ayah melanjutkan perjalanannya ke sawah, ke ladang, ke masa depan kehidupannya yang barangkali tinggal beberapa pekan, beberapa bulan atau beberapa tahun lagi. Saya memandang ayah dengan sendu, sesendu senja menggapai kelam, mencapai malam.

Padang, 06/22006, 12/10/2007, 08/102008

* Kado ulang-tahun ke-80 untuk ayah tercinta, 30 Juni 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *