Buku, Film, dan Selebrasi Dunia Baca

M Ali Hisyam
http://www.sinarharapan.co.id/

Teenlit TV Series. Demikianlah tajuk acara baru kerja sama penerbit Gramedia dengan stasiun TV7. Paket semacam kasting dan penggalian bakat (talent search) ini digelar untuk menjaring calon pemain sinetron remaja yang bakal memerankan tokoh-tokoh dalam serial ?Fairish?, sebuah sinema televisi yang diangkat dari novel remaja (teen literature) berjudul serupa karya penulis belia Esti Kinasih.

Selain terbilang terobosan baru, menu ini tak pelak hadir mewakili potret aktual dari kian lengketnya hubungan dunia sinema dan dunia pustaka kita akhir-akhir ini. Sebuah percumbuan intim antara jagad audio-visual dan jagad literer, antara gambar bergerak dan aksara bermakna. Semenjak sukses yang diraup film Ada Apa dengan Cinta?, dunia perfilman nusantara perlahan bangkit dan menemukan kegairahan berkarya yang luar biasa. Momentum ini tampak dari menjamurnya produksi film dari berbagai label dan genre. Apalagi setelah Festival Film Indonesia (FFI) dihelat kembali setelah sempat vakum sekian lama.

Realitas perfilman ini, dalam banyak hal, setali tiga uang dengan kondisi perbukuan, khususnya penulisan skenario dan karya fiksi. Keterlelapan yang begitu lama akhirnya menyadarkan insan film dan buku kita untuk bangun dan segera berbenah, mengukur diri, menata potensi dan membaca peluang yang mungkin diraih di masa depan.

Eiffel I?m in Love adalah tonggak mutakhir bagi beriringannya sukses sebuah film dengan novel (buku) sekaligus. Karya Rachmania Arunita yang mulanya beredar dari tangan ke tangan tersebut terbukti mendulang untung besar ketika diangkat ke layar lebar. Maka semenjak saat itu, seolah berlaku asumsi awam bahwa keberhasilan sebuah film tak cukup hanya dikemas dalam kepingan CD semata, namun hendaknya dilansir pula versi cetaknya (buku).
***

Kondisi demikian terasa menarik diamati, karena selama ini dunia film dan baca-tulis selalu dikesankan secara kontradiktif. Keduanya kerap diibaratkan air dan minyak yang mustahil bersatu. Alih-alih mendukung, satu dengan yang lain acapkali diposisikan berbalik dan saling menihilkan. Insan perbukuan cenderung menuding dunia tontonan sebagai medium hiburan yang tak bermutu dan menumpulkan potensi kreatif. Sementara orang film terkesan mengabaikan dunia literer, dan baru menganggapnya penting bilamana ada sebuah karya (tulis) yang berhasil merebut animo publik, berangkat dari riset serius dan selaras dengan trend dan selera pasar.

Karenanya, kerukunan semacam ini layak ditindaklanjuti dengan kerja sama yang saling topang. Dunia buku bagaimanapun harus menyadari bahwa membudayakan tradisi baca bukanlah proyek garap yang sebentar dan radikal. Mereka mesti sadar pula bahwa ada kebutuhan tertentu yang hanya bisa terpuaskan lewat medium audio-visual dan tak sepenuhnya dapat disediakan oleh buku. Adapun di sisi lain, dunia pustaka harus mampu meyakinkan bahwa buku lebih dari sekadar film karena kemampuan daya rekamnya yang lengkap, detail, runtut, imajinatif dan menyediakan ruang penghayatan yang lebih dalam.

Yang jelas, kondisi dinamis ini bukanlah ?kelahiran? yang sama sekali baru. Jauh sebelum itu, dunia buku dan perfilman sudah melakukan simbiosis mutualisme yang akrab. Banyak film kita baik di layar gelas maupun layar perak yang terinspirasi dari karya tulis (fiksi). Kita mencatat tak sedikit film era 1970-an hingga awal 1990 yang berawal dari lembaran-lembaran buku. Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, Cintaku di Kampus Biru, hingga serial remaja seperti Lupus, Olga, Catatan si Boy dan Balada si Roy, adalah sejumlah karya yang tidak hanya mengorbitkan para penulis, mulai pengarang angkatan Balai Pustaka, generasi fiksi pop semasa Marga T, V. Lestari, Mira W, La Rose dan lain-lain hingga generasi ?slank? era Hilman Hadiwijaya ataupun Gola Gong.

Lebih dari itu, perkawinan kedua kutub tersebut serta-merta kian mendekatkan khalayak awam dengan dunia baca-tulis. Tengoklah rak-rak di toko-toko buku kita hari ini. Nyaris semua film bioskop, bahkan sinetron (terutama remaja) telah tersedia edisi cetaknya. Tercatat mulai dari AADC?, Eiffel?,Tusuk Jelangkung, Di Sini Ada Setan, hingga yang baru selesai tayang, Brownies karya Fira Basuki. Belum lagi beberapa film yang bakal dirilis dalam waktu dekat, seperti Gie atau Ketika Mas Gagah Pergi yang tak lebih merupakan ?adaptasi kreatif? dari memoar Catatan Harian Seorang Demonstran (Soe Hok Gie) serta cerpen memukau Helvy Tiana Rosa. Bahkan konon tak lama lagi, hikayat Mahabharata segera dikemas versi animasinya.
***

Panorama di mancanegara pun tak jauh beda. Telah jamak diketahui bila tak sedikit dari film-film box-office Hollywood merupakan kelanjutan dari sukses roman-roman pilihan karya penulis handal. Tak dapat dipungkiri, ketenaran nama John Grisham, Toni Morrison, Sidney Sheldon, Agatha Christie, Emile Zola, Mark Twain, Virginia Woolf, hingga Tom Clancy, Dan Brown, Umberto Eco dan JK Rowling, juga merupakan imbas positif dari meledaknya karya mereka ketika difilmkan.

Kendati, kerangka patok seperti ini tak selamanya bisa diacu. Kesuksesan sebuah film tak senantiasa berbanding lurus dengan keberhasilan yang pernah direngkuh cerita yang sama saat ia berbentuk roman. Sebagai misal, The Lord of The Rings, film terbaik Oscar 2003 ini justru jauh lebih sukses dibandingkan edisi novelnya. Untuk kasus ini, rekor terbaik adalah apa yang pernah dan sedang dienyam oleh ?si ratu khayal? JK Rowling lewat serial Harry Potter-nya. Novel dan filmnya tandas diserap pasar.

Yang barangkali terasa ironis adalah serbuan film-film India dan sinema Latin (telenovela) yang cukup lama menggodam cakrawala khayal masyarakat kita. Mengapa karya para penulis dari kedua wilayah selatan tersebut amat jarang menyapa pembaca di Indonesia? Arus perfilman mereka menghambur jauh lebih deras ketimbang karya literernya.

Padahal kawasan sana masyhur sebagai lumbung penulis-penulis fiksi ?kelas Nobel?. Segelintir nama semisal Rabindranath Tagore, Arundhati Roy, Jhumpa Lahiri ataupun Jorge Luis Borges serta Gabriel Garcia Marquez adalah sisipan kecil di antara buntalan rol-rol besar karya para sineas Bollywood dan Amerika Latin yang hingga hari ini masih menebar hipnosis dan digandrungi khalayak pemirsa di Tanah Air.

Hikmah yang dapat dipetik dari realitas di muka, ledakan penulisan buku-buku teenlit, chicklit serta tradisi pembukuan naskah skenario dan roman latar film, pada taraf tertentu, boleh dibilang sebagai gejala kebangkitan yang cukup melegakan. Kesemarakan karya fiksi serta menjamurnya penulis-penulis muda adalah juga buah dari persinggungan kreatif dunia film dan buku.

Keadaan dinamis ini telah pula melahirkan pergeseran budaya yang signifikan. Belantika baca-tulis yang semula dipinggirkan perlahan mulai bergerak ke tengah dan diterima banyak lapisan. Anggapan bahwa dunia perbukuan adalah ?laboratorium? yang pengap dan menjemukan mulai berganti menjadi sarana aktualisasi yang segar, cair, asyik dan menguntungkan.

Remaja, lebih-lebih yang terbiasa dengan tradisi penulisan buku harian dan majalah dinding, menjadi semakin semangat berkreasi. Sebagai kanal, penerbit dan rumah produksi kewalahan menampung banjir naskah yang datang bak gelombang. Fenomena ini sesungguhnya layak dibaca sebagai saat perayaan (selebrasi) dunia baca-tulis yang entah hingga kapan bisa terus dipertahankan.

Kalaupun selama ini mozaik perfilman terlihat lebih hingar-bingar dibandingkan dunia buku, namun dari segi laba kapital (profit) sama-sama menjanjikan keuntungan besar. Hal ini pun tak boleh dipandang dari perspektif kalah-menang. Keduanya mesti saling sokong. Persoalan bahwa jagad perfilman lebih mendominasi, hal itu semata hukum alam yang lumrah diterima. Kognisi sosial masyarakat yang masih dipayungi pola hidup instan menyebabkan mereka lebih giur dengan hal-hal yang bersifat permukaan dan glamour. Pasar, dalam hal ini, menjadi kemudi yang harus direbut dan dikuasai.

Kenyataan serupa ini justru sebisa mungkin melecut semangat dan kesungguhan insan perbukuan untuk membawa dinamika perbukuan, paling tidak, sejajar dengan ?prestasi? perfilman. Insan perbukuan hendaknya belajar bagaimana pelaku perfilman mampu bersiasat dan berhitung dengan kepentingan pasar. Sedangkan orang film juga selayaknya memberi porsi yang apresiatif dan pantas terhadap keberadaan karya tulis sembari membimbing publik untuk memahami bahwa perfilman tak bisa berkibar tanpa eksisnya dunia baca tulis, baik sebagai data riset maupun dokumentasi.

Kendati tampak tersipu, dunia film mulai sudi berjalan beriringan dengan dunia buku. Kodrat saling membutuhkan antara keduanya sukar untuk ditampik. Meski dalam hasrat terdalam, di antara keduanya sebenarnya tak ada yang mau untuk ditekan dan dikuasai. Meminjam istilah Goenawan Mohamad, barangkali mereka ?mau untuk tunduk tapi malu untuk takluk?.

Alhasil, dunia pustaka, pada kenyataannya memang tidak dikalahkan. Sekalipun pada saat yang sama tidak juga diberi kesempatan untuk menang.

*) Penulis adalah pengelola sebuah Kebunbaca di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *