Cinta Kira

Tarpin A. Nasri
http://www.lampungpost.com/

GUNUNG TAK SELAMANYA bersih dari arakan kabut, laut tak selamanya tenang tanpa riak atau gulungan ombak dan langit biru tak selamanya suci dari hamparan mega-mega.

Begitulah yang terjadi pada hubungan percintaanku setelah setahun pacaran dengan Shakira Wiranata Kusuma Wanodya Warhani. Cinta, kasih, sayang, rindu, perhatian dan kesetianku yang luar biasa, sudah tidak bisa dipindahkan lagi kepada wanita lain, seperti apa pun wujud dan rupa wanita itu. Yang mengalun di napas, bercokol di mata, bertahta di hati, menggasing di pikiran, mengalir dalam darah dan berdetak di jantungku, keukeuh anak ningrat Cirebon itu. Akan tetapi kabut, ombak dan mega-mega itu, kini tengah menyelimuti dan mengotori ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian dan kebanggaanku.

Shakira, begitu panggilan sayangku kepadanya atau Kira panggilan mesraku untuknya, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari alun napasku, denyut nyawaku, kedip mataku, getar hatiku, gerak pikiranku, aliran darahku dan detak jantungku. Kami–khususnya aku–menyebutnya cinta abadi, atau cinta mati. Walaupun ada wanita yang lebih muda, lebih ayu, lebih cantik, lebih seksi, lebih berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang sangat menjanjikan untuk kami hidup enak dan nyaman, kuyakin wanita itu tidak akan pernah bisa menggantikan kedudukan Kira.

Sebenarnya percintaan kami tidak ada masalah. Kebanggaan dan kedamaianku memiliki Kira, ketenangan dan ketenteramanku berpacaran dengan Kira, serta kebahagiaanku meronce hari-hari indah dan manis dengan Kira, mulai terusik ketika hadir lagi Khrisna Anggada Dwipantara, mantan pacar Kira, yang direnggangkan dan kemudian diputus Kira, begitu aku mulai masuk ke dalam labirin kehidupannya.

Siapa sih yang tidak bangga dicintai Kira?

Kira tidak hanya cantik, ayu, manis dan seksi, akan tetapi bolehlah aku bilang, untuk ukuran Kota Udang, Kira adalah srengenge paling nyunar, sehingga tak salah jika kubilang Kira itu sekar kedaton-nya Cirebon. Selain itu Kira juga pintar, kaya, rendah hati, enak, gaul, serta penampilannya selalu pas dalam setiap kesempatan. Di manapun Kira berada, Kira pasti jadi bintang dan jadi pusat perhatian mata siapa pun.

Dengan “harta karunnya” yang seperti itu, siapa sih yang tidak merasa terhormat, bahagia, bangga, dan damai menjadi kekasihnya? Dengan mobilnya yang tidak itu-itu saja, pria mana yang tidak ngiler jadi pacarnya? Akan tetapi khusus untuk aku, memimpikannya pun aku gak berani. Dalam hal ini, aku banget tahu diri!

Awalnya tak berani aku memimpikan Kira jadi yayang cintaku. Pungguk aku kira masih pantas merindukan rembulan, akan tetapi jika aku sampai memimpikan Kira jadi pacarku, sungguh tidak sopan dan mboten wani. Aku bisa-bisa dicap lebih gila dari pungguk yang merindukan rembulan! Ora ilok, karena Kira keliwat dhuwur. Kira bukanlah pasangan yang imbang buatku!

Akan tetapi temanku–namanya Gusti Putra Dewangga–nekat memperkenalkan aku kepadanya. Diberinya aku nomor telepon seluler Kira. Awalnya nomor mobile phone Kira tak sedikitpun mencuri minatku. Lha aku kan kudu ngaca toh? Kira iku sopo? Aku iki sopo? Mbok diotak-atik gathuk juga gak mungkin nyantel. Daripada njaba-njero awak dadi rusak karena cinta yang peluang diterimanya nol nol nol nol nol koma sekian persen itu, lebih baik aku tahu diri gitu lo. Ngono. Inggih mekoten kan sing sae?

Akan tetapi Gepede–begitu maunya dia dipanggil–setiap ketemu aku, selalu bertanya, “Gimana? Sudah kirim short message service (SMS) dan call belum dengan Kira?”

Mendengar pertanyaan seperti itu aku cuma tersenyum, akan tetapi tepatnya nyengir kuda. “Aku gak mau mimpi sebelum aku tidur,” jawabku. “Selain Kira, apakah tidak ada temanmu yang lebih realistis, alias sederajat, untuk dipromosikan ke aku?” ujarku lagi. “Kata orang Sunda itu sama saja dengan pi’it ngeundeuk-ngeundeuk pasir, atau ngajul bulan ku asiwung! Alias mengharapkan seuatu yang gak mungkin bisa tercapai! Lahir batin aku masih waras. Otakku masih sehat!”

“Jadi kamu belum kirim SMS atau telepon?”

Aku menggeleng lemah. “Aku masih bisa mengerti jika pungguk gak malu merindukan rembulan, akan tetapi kalau aku ngajak kenalan duluan dengan Kira, aku bisa dibilang tak tahu diri. Aku sungguh masih hormat kepada pungguk yang merindukan rembulan itu tahu! Aku malu pada si Pungguk. Aku benar-benar harus tahu diri!”

“Maksudmu?”

“Aku percaya jodoh di tangan Tuhan!” kataku agak lantang dan jengkel. “Akan tetapi jika aku harus kenalan dengan Kira, aku benar-benar harus ngaca. Jangan-jangan ketika aku mengajukan berkenalan dengannya, aku malah dihinanya. Gadis sekaliber Kira kukira tidak tercipta untuk laki-laki sekelas aku! Itu sama saja kamu menyandingkan kroco mumet dengan bintang film sekelas Luna Maya!”

“Kok kamu keok sebelum tanding sih?” ejek Gepede. “Kamu itu laki-laki, kok gak punya nyali. Kok kamu mundur sebelum dicoba?! Bah! Laki-laki macam apa kamu ini?”

Kurang ajar kamu, Gepede! Umpatku dalam hati. Aku muntab. “Up to you! Terserah kamu! Yang pasti kalau aku ditolak, yang wirang tujuh turunan itu bukan lu, akan tetapi gue! Yang sakit seumur hidup ane, bukan ente! Yang lara dan nyeri sepanjang hayat di kandung badan itu gue, bukan lu!”

Sebenarnya aku agak tersinggung sama Gepede. Akan tetapi aku tetap tidak bisa marah full sama temanku yang antik dan sableng, akan tetapi baiknya tanpa tanding itu. Gepede sudah sangat peduli untuk menuntaskan jomloku. Selepas dari Alvi Maharani Dekrivanti, aku memang menjomlo berat, sampai jamuran, karena luka di hatiku belum sembuh. Aku diputus Alvi ketika aku sedang cinta-cintanya sama gadis Yogyakarta itu. Apalagi waktu Alvi pamit, bilangnya cuma mau pulang kampung. Eh tahunya nikah dengan mantan pacarnya.

Sakit kan? Wuih sakit sekali! Lha sekarang aku mau “dijodohkan” dengan wanita sekaliber Kira oleh Gepede, apa ora edan?! Kukira dunia belum terlalu tua dan kiamat juga belum dekat!

Karena terus-terusan dikompori dan dicambuki Gepede, karena tidak bosan-bosannya Gepede mengejekku dan karena tidak ada lelah-lelahnya Gepede menyemangatiku, akhirnya beberapa SMS perkenalan kubuat dengan hati dan perasaan, kuedit dengan cinta dan ku-send dengan kasih kepada Kira. Harapanku sederhana sekali. Diterima, syukur. Tidak diterima, memang sudah sepantasnya. Tuhan, apa pun yang kelak terjadi, terjadilah! Kuserahkan semuanya kepada-Mu!

Lalu gimana hasilnya?

Setelah berjuang sekian bulan dengan SMS-SMS-ku–yang kuyakin cuma dibuka, dibaca sekilas, lalu di-delete–aku sampai pada titik keyakinan. Gayung tak bersambut meski semua itu diperjuangkan all out sampai matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur sekalipun. “Apa kataku! Kamu terlalu pede dan kelewat optimis sih, Gepede!” ujarku patah, galau, kesel, jengkel, marah, dan…malu!

“Baru SMS tiga bulan gak dibalas, sudah nyerah. Payah banget sih! Lihat dong gimana perjuangan Romeo mendapatkan Juliet, cermati seperti apa usaha Majnun mempertahankan cintanya kepada Layla? Ayo bangun! Bangkitlah! Perjuangkan dan raih cintamu sampai titik darah penghabisan!

“Rawe-rawe rantas malang-malang putung! Begitu!” semprotku. Lalu aku diam. Dalam hati aku memaki Gepede. “Batukmu moncrot!” semburku dalam hati. Mangkel banget aku.

“Untuk cinta sesuatu yang gak mungkin bisa jadi mungkin, Man? Siapa sangka seorang buruh sebuah perusahaan akhirnya dipilih jadi suami oleh mahabintang Holywood Liz Taylor?”

“Ngomong tuh sama tembok!” makiku kepada Gepede. “Ember lu! Kamu kalau bicara asngap banget ya? Asal nylangap! Asjep! Alias asal njeplak!”

“Jadi kau mau mundur?” tantangnya nyebelin banget.

“Tau ah! Gelap!”

AKAN TETAPI KETIKA PAGI itu, ketika aku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanku di kantor, aku iseng dan juga menyiapkan diri jika SMS-ku tidak dibalas. Aku buat SMS dengan untaian kata yang amat puitis. Setelah diedit dan kuyakin kata-katanya sudah sangat indah, SMS itu ku-send ke Kira. Lima menit aku menunggu dalam hampa. Akan tetapi hatiku sejatinya sudah menyimpulkan, “Ah paling-paling juga tidak direspons seperti biasa,” begitu hiburku.

Akan tetapi menginjak menit kesepuluh penantianku, ada bunyi SMS masuk ke handphone-ku. Begitu kubuka dan kulihat pengirimnya, aku langsung menjerit dan jantungku seperti mau copot dari tempatnya, “Oh My God! Dari Shakira!”

Sumpah! Dadaku hampir meledak, aku sangat gembira dan suka cita. SMS-ku dibalas oleh wong ayu yang sudah jadi kusumaning ati-ku. Padahal aku belum tahu isinya. Dan aku hampir pingsan ketika jawaban SMS itu membuat aku menjadi salah seorang manusia yang paling bahagia di dunia, karena perkenalanku diterima dan disambut baik oleh Kira! Perasaanku waktu itu, andai Tuhan menyabut nyawaku, aku tak keberatan dan aku rela, karena aku begitu gembira dan bahagia.

Sejak itu SMS-ku deras mengalir kepadanya dan semua dibalas oleh Kira dengan lembut dan mesra. Kantorku jadi gempar! Aku yang di kantor terkenal sebagai karyawan yang miskin senyum, jadi murah senyum, bahkan senyumku bertebaran ke mana-mana. Sekretarisku di kantor ikut senang dan ceria karena tawaku yang berderai-derai. Dulu aku garing dari tawa. Wajahku yang serem dan dingin, tidak lagi beku, angker dan sangar. Tinggal Gepede yang kini bingung.

“Sudah SMS atau telepon Shakira lagi?”

Aku menggeleng, akan tetapi dalam hati aku bilang, “Belum saatnya aku pamer padamu, Gepede. Perjuangan baru dimulai. Kalau sudah ada hasilnya pasti kukasih tahu, Pahlawanku.”

DARI HARI KE HARI SMS-ku ke Kira makin romantis, sampai akhirnya kami janjian untuk ketemu di rumah makan ternama di kota kami. Setelah ketemu, ternyata Kira lebih ayu, lebih cantik, lebih seksi dan juga masih memiliki segudang kelebihan-kelebihan yang lainnya dari apa yang selama ini dipromosikan Gepede. Yang tak habis pikir, kok Kira mau jadi temanku? Dan lebih gila lagi ketika tiga bulan kemudian, aku bilang dengan sangat nekat suka dan mencintainya, di luar dugaan, Kira merespons dengan baik dan penuh sukacita! Akhirnya kami pun pacaran.

Bangga, damai dan bahagia kudapatkan dari Kira. Ke mana-mana kami berdua. Jika di situ ada aku, pasti ada Kira. Kami seperti gula dengan semut, seperti lidah dengan rasa, dan seperti mimi dengan mintuno. Kami seperti ombak dan pantai, seperti angin dan lembah, seperti api dan asap, serta suka-duka kami nikmati berdua. Susah senang kami reguk bersama. Akan tetapi… setelah setahun aku pacaran dengan Kira–meski Kira menjamin tetap cinta, sayang, mengasihi, merindukan dan tidak akan meninggalkanku sampai kapan pun–dengan amat sangat terpaksa Kira harus balik lagi ke pacar lamanya, Khrisna, yang diakui Kira telah banyak berkorban untuknya.

Selain itu, orang tua Khrisna juga tidak sedikit mendapat suntikan dana segar dari papanya agar usahanya terhindar dari kebangkrutan. “balik ke dia, bukan karena aku mencintai, mengasihi, menyayangi dan merindukannya. Karena semua rasa itu, utuh sudah aku dapat semuanya darimu, Dewa. Aku kembali kepadanya karena satu hal, dan satu hal itu “sangat politis” yang suatu saat juga kamu akan tahu sendiri: kenapa aku sampai mau melakukan itu!”

Aku down habis. Hatiku hancur, berantakan, nyeri, pedih dan perih diduakan Kira. “Karena sikon, hidup dan usaha kami ternyata tak cuma meminta pengertianmu, akan tetapi pengorbananmu,” tambah Kira dengan kabut duka mengonggok di wajah dan menggenangi matanya.

Duh Gusti.

Oh Tuhan!

Kata-kata Kira berubah jadi silet, belati, dan belencong yang berlomba-lomba menikam, merobek, mencabik dan mengiris hatiku.

“Nanti kau akan mengerti dan pasti paham dengan lakon yang harus aku jalani ini. Kuakui apa yang aku lakukan ini memang tidak tepat dan dilematis, bahkan sepertinya aku harus memakan buah simalakama, akan tetapi aku yakin kelak kau bisa memahaminya!”

Bah! Membagi cinta, kasih, sayang, rindu, dan menodai kesetiaan dengan kembali ke pria lain kok bisa dipahami? Ilmu dari mana itu? Hukum dari mana? Teori buatan siapa? Ketentuan dari mana? Gila itu namanya! Edan itu sebutannya! Pengkhianatan dan pelecehan bahasa gaulnya! Dan di mana-mana yang namanya membagi cinta, kasih, sayang, rindu dan mengotori kesetiaan, adalah kerusakkan dan kehancuran sepihak! Aneh! Yang begitu kok minta dibenarkan! Kalau yang begini sih orang edan saja masih bisa mengerti? Iya kan?

MENDAPATI MUSIBAH ITU aku bukan main susahnya. Makan tidak enak, tidur gak nyenyak, dan kerja juga sering tidak fokus. Siang malam–minus kalau tidur–aku menjaga keseriaan dan mikirin Kira, eh tidak tahunya cinta Kira mendua, kasih Kira bercabang, sayang Kira beranting dan rindu Kira berakar ganda. Selain membuat hatiku luka, lara, pedih, nyeri, berantakan dan cemburu, aku juga kadang dibuat lemas yang diiringi tanya putus asa: Buat apa hidup jika begini? Untuk apa aku kerja peng-pengan?

Toh wanita yang mau kujadikan sigarane nyowo, cintanya, kasihnya, sayangnya dan rindunya terbelah dua. Jagung bertongkol dua bagus, akan tetapi kalau cinta, kasih, sayang dan rindu terbagi dua, pasti tidak setia namanya. Dunia juga tahu itu! Dan itu kualami sendiri. Duh Gusti kang akarya jagat! Kok uripku iki dadi ngene ceritane?

Ternyata yang dimaksud dengan “politis” seperti yang diucapkan Kira mulai menunjukkan sosoknya. Semenjak usaha papanya mengalami kemunduran dan ibunya harus menjalani perawatan rutin seminggu sekali di sebuah runah sakit khusus di Singapura terkait dengan leukemianya, dan ditambah gaya hidup Kira berubah drastis, mata hatiku, mata pikirku dan mata rasaku melihat. Kebutuhan Kira sudah gak bisa ditutupi sepenuhnya dari kucuran dana ortunya, karena ortunya lagi teringkus dua masalah yang sungguh amat berat!

Dunia bisnis terguncang hebat dihantam krisis keuangan global. Beberapa perusahaan papanya Kira didera kesulitan. Mati-matian papanya kira mempertahankan perusahaannya agar tetap survive. Bahkan kata Kira sudah ada satu-dua perusahaan skala UKM milik papanya yang mendekati mati suri, setelah sempat terseok-seok dan sempoyongan, terutama yang berorientasi ekspor.

KIRA KINI BENAR-BENAR BEDA. Jika tidak harus bepergian dengan mobil, ya tidak pakai mobil. Ke mal juga sudah sangat jarang. Bahkan makan di restoran sudah lama dihindari. Kini hidup Kira benar berubah drastis dan tertib. “Semua ini aku ambil hikmahnya, Dewaku…”

Aku mengangguk. Kuraih kepalanya dan kurebahkan ke dadaku.

“Yang penting usaha Papa tidak bangkrut dan ratusan mulut karyawan Papa masih bisa makan, serta nyawa Ibu bisa diselamatkan dari leukemianya, Sayang,” paparnya.

“Dan… Dewa semoga tidak sakit hati dengan apa yang aku kerjakan,” ujarnya. “Karena credit card harus diangsur, baju harus dibeli, taksi harus dibayar, bensin harus dibeli, ke salon gak mungkin gratis, kuliah juga harus jalan, kosmetik tetap dibutuhkan, dan kebutuhan lainnya juga menanti. Semua itu harus dibayar dengan uang, dan aku tak mungkin membebankan semua ini ke kamu, My Honey,” pintanya.

Aku membelai rambutnya dengan mesra, lalu kucium. “Yang penting ada batas waktu, kapan Kira kembali jadi milikku seutuhnya,” ujarku menawarkan jalan tengah.

“Aku tahu kapan waktu yang tepat untuk aku kembali dan utuh jadi milikmu, My Sun…” ujarnya sambil mencium pipiku.

“Cintaku kepadamu yang sesuci melati, yang membuatku harus semeleh, ngerti, tahu dan rela mengalah untuk menang, My Soulmate…”

“Aku tahu ini luka yang luar biasa sakit, pedih, perih, nyeri, Sayang,” jawabnya sambil meraih tanganku lalu diciumnya. “Tidak cuma mengiris-iris dan menyayat-nyayat hati dan perasaan, akan tetapi merobek, menancap-nancap, menikam-nikam dan membelencongimu, Cinta…”

“Lekaslah kembali ke pelukanku, Sayang,” ujarku sambil mengecup keningnya. “Kerjaku juga kini sudah lebih baik dari sebelumnya! Jika memang bisa secepatnya, lekaslah kembali, Dinda…”

ALHAMDULILLAH! Setelah Kelurga Kira mendapatkan “mukjizat” berupa kesembuhan bertahap atas leukemia mamanya, bisnis papanya mulai stabil, dan sang pacar–yang tak lebih dari seorang playboy–terang-terangan pindah ke lain hati, kami bisa bersatu kembali. Dua tahun kemudian kami resmi menikah, dan setahun kemudian Kira mulai hamil.

Kini sudah tidak ada yang merongrong keutuhan cinta, cinta, kasih, sayang, rindu, perhatian dan kesetiaan kami, bahkan rasa itu semakin dahsyat ketika Kira dengan senang hati menutup rambut hitam panjangnya dengan kerundung cantik dan trendi. Setengah tahun kemudian secara bertahap Kira membungkus tubuh seksinya dengan busana muslim yang indah dan modis. Dan tidak ada alasan secuil pun bagiku untuk tidak berterima kasih dan bersyukur ketika Kira mengutarakan niatnya untuk mewujudkan cita-citanya menjadikan rumah tangga kami sebagai keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Terima kasih untuk semua anugerah-Mu yang sungguh megah ini, Tuhan!

Bumi Pratama Mandira, September 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *