FLP dan Pendidikan Sastra

Kurniasih
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

“FLP, Sastra Islam, dan Seni Tinggi” yang ditulis oleh Topik Mulyana (15/12/07) ditujukan untuk merespons “Wajah Sastra Islam” yang saya tulis. Sekadar informasi, tulisan tersebut adalah makalah pada diskusi Lembaga Pengkajian Islam, Ramadhan lalu, di Masjid Salman ITB. Informasi ini penting karena pada acara itu, audiensnya adalah mahasiswa sekaligus aktivis masjid. Beragam pendapat mengalir setelah saya membawakan makalah tersebut. Poin paling penting yang muncul saat itu adalah betapa mereka resah dengan buku fiksi Islam yang membanjir sedemikian rupa, juga saya.

Mengapa resah? Karena sastra Islam yang secara sejarah memang panjang itu, seperti ditulis Topik, tiba-tiba mengerucut hanya pada FLP. Oleh karena itu, saya memberi judul makalah tersebut “Wajah Sastra Islam”. Wajah itu berarti bukan hanya hidung, tetapi ada mata, bibir, kening, pipi, dan lain-lain. Saya memperluasnya dengan tujuan mengingatkan bahwa sastra Islam itu meliputi pula sastra profetik dan sastra suluk (atau disebut pula sebagai sastra sufi).

Keresahan saya juga dipicu oleh liputan sebuah majalah perbukuan yang menampilkan tema sastra Islam, namun yang dibahas semata buku-buku yang bermerek FLP. Tentu saja hal itu bisa membodohi pembaca karena sastra Islam, sekali lagi, bukan hanya FLP, tetapi banyak jenis lainnya. Perjalanannya sudah sedemikian panjang. A. Teeuw dengan sangat meyakinkan menguraikan bahwa Hamzah Fansuri, sufi besar Sumatra pada paruh kedua abad ke-16, adalah sang pemula puisi Indonesia.

Namun, apabila ingin lebih memahami puisinya, bukan sekadar menikmati, diperlukan pengetahuan luas ihwal bahasa dan kebudayaan Arab-Parsi, dan lebih khusus lagi adalah aspek tasawufnya. Oleh karena itu, ketika diminta membawakan tema sastra Islam, saya merasa perlu untuk mengingatkan bahwa sastra Islam tidak bisa dikerucutkan pada satu bagian wajah saja, yang baru muncul pada tahun ?90-an itu.

Kaum elite dan demokratisasi pasar

Manusia punya berbagai peran dan identitas yang dijalaninya. Dia menjadi anak bagi orang tuanya, menjadi suami bagi istrinya dan sebaliknya, menjadi karyawan di kantornya, menjadi tetangga di lingkungannya, menjadi anggota di organisasinya, dan demikian seterusnya. Peran dan identitas seperti itu merupakan bagian dari identitas rizomatik. Gilles Deleuze & Claire Parnet menyatakan bahwa manusia, secara individual maupun kelompok, dibentuk oleh garis segmenter. Dia punya beraneka ragam peran dan identitas yang harus dijalaninya. Tidak tunggal atau monolitik.

Bagaimana dengan atribut kaum elite yang dinisbatkan kepada saya? Jauh-jauh hari, Wildan Yatim pernah menuliskan bahwa kaum terpelajar, pemuka masyarakat, dan pemerintahan adalah produk sistem pengajaran bahasa yang terbengkalai sejak zaman Jepang. Mereka adalah angkatan yang tak biasa membaca, tak kenal sastrawan, tidak mengikuti apa yang ditulis sastrawan. Wildan Yatim menyebut mereka sebagai kaum elite. Apakah saya kaum elite?

Saya pun manusia yang memiliki identitas garis segmenter. Sejak masih menjadi mahasiswi Sastra Inggris, saya diwajibkan membaca karya para sastrawan kanon. Setelah membacanya, saya diwajibkan berlatih membuat kritik sastra. Di luar buku wajib, sebagai perempuan yang butuh “teman berdialog”, saya merambah ke N.H. Dini, Ayu Utami, Susanna Tamaro, Laksmi Pamuntjak, atau Milan Kundera. Atau ketika hidup terasa begitu mencekik, saya tak segan-segan melalap berbagai chiklit trendi seperti trilogi karya Sofia Kinsella, Helen Fielding atau Icha Rahmanti (karena saya tidak mengidap “arogansi elite terselubung” yang meremehkan chiklit dan teenlit).

Selain itu, entah kenapa kita sering merasa terganggu oleh hierarki. Padahal hidup itu sendiri telah memperlihatkan bahwa hierarki itu alamiah. Bahwa balita itu lebih muda dibandingkan dengan mayoritas pembaca Khazanah, bahwa Bill Gates jauh lebih kaya raya daripada mayoritas bangsa kita, dan sebagainya.

Namun, kaum feminis akan meradang ketika perempuan dikategorikan sebagai second sex. Edward Said memecah kebekuan kategorisasi antara Barat dan Timur. Kali ini Topik Mulyana tidak terima FLP dikategorikan sebagai bagian dari budaya massa atau gerakan industrialisasi. Toh hierarki itu tetap ada, sepaket dengan geliat resistensi di dalamnya.

Tak peduli atas nama demokratisasi pasar atau bahkan selera sekalipun, kalau kita berniat mengkaji, hierarki itu tetap saja ada. Tindakan yang harus dilakukan kemudian –apabila tidak setuju– masing-masing pihak harus mau menegosiasikan apakah hierarki itu tepat atau tidak. Hal terpenting adalah argumentasi logis, bukan defensif. Sambil kita pun tetap kritis terhadap yang mengamini hierarki tersebut.

Kalau saya menyatakan setuju bahwa Ayat-Ayat Cinta merupakan bagian gerakan industrialisasi, saya punya alasannya. Toh saya juga yakin alasan yang sudah dituliskan dalam “Wajah Sastra Islam” itu tidak akan mengganggu angka royalti fantastis yang diterima sang pengarang senilai 100 juta rupiah per bulan.

Pengalaman tekstual dalam pendidikan sastra

Sebenarnya, ada hal mendasar yang patut membuat resah dalam dunia literasi kita saat ini. Asingnya buku atau karya sastra (serius) itu bukanlah tanpa kesalahan. Pengajaran sastra di sekolah-sekolah kita sering dikritik belum berjalan sesuai dengan harapan. Alergi terhadap sastra adalah bagian dari hal tersebut. Taufik Ismail pernah membuat wawancara dengan sejumlah orang dari berbagai negara untuk ditanya mengenai pengajaran sastra yang pernah diterimanya di sekolah. Ada 13 negara yang dijadikan sasaran. Fakta pengajaran sastra di Indonesia dibandingkan dengan sekolah di berbagai negara tersebut adalah bahwa siswa tidak punya keharusan membaca satu pun karya sampai tamat. Kategorisasi ciri-ciri aliran sastra hanya dijadikan hafalan semata, tanpa kewajiban untuk merasakan karya-karya sastra seutuhnya. Tentu saja akibatnya adalah apresiasi terhadap karya sastra sangat rendah.

Dalam film yang diangkat dari sebuah kisah nyata, “The Freedom Writer”, anak-anak SMU yang liar, frustrasi, dianggap rusak, dan memusingkan guru-gurunya sekalipun tetap saja diperkenalkan pada karya-karya seperti Shakespeare, Virginia Woolf, atau James Joice sekalipun karena sistem pengajaran kesusastraan sudah sangat mapan. Sehingga karya-karya sastra yang oleh Topik dituding sebagai elite itu tetap dicicipi oleh mereka. Sehingga bila kemudian di luar sekolah mereka membaca buku sastra pop, mereka sudah mencicipi karya para sastrawan yang diakui sebagai kanon. Tidaklah masalah kalau mereka membaca Sidney Seldon karena karya Jane Austen pun sudah dibaca.

Dalam kanon sastra, terlepas dari politis atau tidak, memang terdapat genealogi keberkaryaan yang sangat jelas. Kita bisa mengerti kompleksitas batin manusia dari abad ke abad, masa ke masa, karena karya sastra itu menjadi rekamannya. Milan Kundera dalam Art of Novel menegaskan bahwa “Karya sastra sedikit demi sedikit menemukan berbagai macam eksistensi: bersama Cervantes dan yang sezamannya, karya sastra menyelidiki dunia petualangan; bersama Richardson, mulai dipelajari ?apa yang terjadi di dalam?, menyingkap rahasia kehidupan perasaan; Balzac, menemukan keberakaran manusia dalam sejarah; Flaubert, mengeksploitasi daerah yang sebelumnya tak dikenal dalam kehidupan sehari-hari; dengan Tolstoy, ia memusatkan diri pada kekacauan irasional tingkah laku dan keputusan-keputusan manusia.”

Semakin beragam karya sastra yang dibaca, maka geliat batin yang dialami oleh manusia bisa disaksikan, berbagai kompleksitas pengalaman bisa diraba, kemudian kita bisa memilih dengan bebas untuk berindentifikasi terhadapnya. Bahkan dalam chiklit dan teenlit sekalipun. Oleh karena itu, tentulah sangat meresahkan ketika masyarakat literasi kita hanya tahu mencicipi karya-karya yang sedang menjadi tren tanpa tahu bahwa di belakang sana, karya sastra yang menjadi puncak peradaban itu sedemikian kayanya. Bahwa dengan menoleh kepada sejarah, kita akan tahu bahwa kehidupan siapa pun jauh lebih kompleks ketimbang kisah (keagamaan) ala sinetron.

Belum berhasilnya pendidikan sastra di sekolah-sekolah pun diperparah dengan lompatan langsung dari praliterasi kepada posliterasi. Sebelum membaca menjadi kebiasaan yang terbentuk di masyarakat, televisi keburu merebut perhatian. Sehingga, media hiburan pun menjadi “bintang” yang diidamkan. Karya sastra keburu dicap “sulit” atau bahkan dianggap elite. Kemudian muncul kalangan baru yang nyinyir bahkan arogan. Masyarakat dibuai oleh kebahagiaan yang hanya terletak pada keberuntungan materil, harga diri, heroisme murahan, dan kedangkalan spiritualitas. Mereka dilatih memanjangkan angan-angan sambil menutup mata dari kehidupan nyata.

Menggalakkan membaca adalah satu hal yang penting, tetapi sekadar resisten terhadap aliran lain yang dicap hedonis dan materialis hanya akan berdampak pada ketiadaan visi untuk menghasilkan karya yang menginspirasi. Apabila kehadiran chiklit dan teenlit dirasa mencemaskan, merespons dengan berkarya sekadar untuk menandinginya hanya akan menjebak pada eksplorasi tak mendasar dan cangkokan. Eksistensinya akan menjadi bayang-bayang penanding saja, tidak untuk menampilkan atau mengeksplorasi kekayaan pengalaman batin manusia dan autentisitas sang pengarang. Karya apa pun yang ditujukan untuk (sekadar) menandingi keberadaan karya lain berarti abai pada aspek manusianya –padahal itulah yang utama.

Tidak ada yang mengatakan bahwa keberadaan buku-buku FLP itu merugikan sastra Indonesia. Tidak ada! Hal terpenting yang dibela di sini adalah sejauh mana karya-karya itu mampu membuka mata pembaca. Seberapa dalam nilai-nilai Islam yang ditawarkan di dalamnya. Kalau yang diutamakan adalah sebanyak-banyaknya pembaca yang hendak diraih, itu memang khas industri penerbit sebagai bagian budaya massa.

Kisah-kisah heroik buatan Hollywood, seperti Batman, Superman, Spiderman dan sebagainya, tetap punya keterbatasan dan sisi manusiawi. Kenapa tiba-tiba kita sekarang disodori oleh sosok sempurna sedemikian rupa? Ini tak beda dengan sinetron yang menampilkan puncak keberhasilan, bukan pada berdarah-darahnya pencapaiannya.

Kritik dianggap anti

Setiap penulis, dari zaman dulu hingga sekarang, tidak akan pernah sepi dari respons. Ia bisa dipuja atau dicaci. Pada satu masa Joseph Conrad dipuja-puja atas karya Heart of Darkness-nya. Kemudian muncullah Chinua Achebe yang menjabarkan bahwa karya Conrad tersebut sangat rasis. Sastrawan sekaliber Conrad saja mendapatkan kritik filosofis. Lalu mengapa kita begitu defensif terhadap kritik? Kalau tidak mau dikritik, jangan berkarya secara publik.

Nasib kritik sastra di negeri ini memang memusingkan sejak dulu. Kritik dianggap sebagai anti dan tidak konstruktif. Kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan pendefinisian, penggolongan, penguraian (analisis), dan penilaian (evaluasi) karya sastra.

Dalam kritik yang saya tulis, saya pun telah menganjurkan agar melihat kepada kompleksitas kisah para nabi yang jatuh bangun dan tak jarang diperintahkan Tuhan melakukan perbuatan ganjil di mata masyarakat. Namun, tampaknya pengenalan apa itu kritik sastra harus terus diupayakan, agar tidak dianggap sebagai tindakan tak bertanggung jawab.

Dalam masyarakat kapitalistik, materi dijadikan ukuran segalanya. Kritik dianggap tidak mendukung atau menghakimi. Pemikiran mendalam dianggap melangit, tidak memiliki nilai jual, dan sia-sia. Berbeda jauh dengan para pengarang besar yang hidupnya penuh dengan keresahan akan pemikiran dan kehidupan yang lebih manusiawi. Tolstoy, yang memimpikan tujuan sejati dirinya dalam hidup, memilih meninggalkan semua hasil ketenarannya menjadi seorang pengarang. Tolstoy meninggal dunia dengan membawa kekecewaan bila fiksi hanya dijadikan hiburan semata, bukan pada moralitas. Bagaimana dengan para penulis Muslim kontemporer?***

*) Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *