Hermann Hesse Di Sumatera

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=354

PELAIANG*
Hermann Hesse

Malam benderang oleh cahaya kilat
Dan menggerenyet dalam sinar memutih
Dan berkedip ganas, goncang dan mencolok
Di atas hutan, sungai dan mukaku pucat.
Bersandar pada batang bambu yang sejuk
Aku berdiri dan menatap tiada henti,
Tanah pucat yang dicambuk hujan
Mendambakan ketenangan,
Dan dari masa muda yang jauh
Mendadak terdengar bagai kilat
Teriakan gembira lewat kesuraman mendung hujan,
Bahwa toh tidak semua hampa,
Bahwa toh tidak semua hambar dan gelap,
Bahwa petir masih memancar
Dan bahwa kebosanan hari-hari
Dilewati rahasia dan keajaiban buas yang membara.
Mengambil nafas dalam aku dengarkan guruh menghilang
Dan kurasakan kelembaban badai di rambutku
Dan untuk beberapa detik aku jaga bak harimau
Dan gembira, seperti pada masa muda
Yang sejak masa itu tiada pernah lagi aku rasakan.

* Pelaiang ialah nama tempat di Sumatera (Pelayang), Bengkulu.

Hermann Hesse, penulis sajak dan prosa yang tertarik kebudayaan Asia, lahir di Calw, Jerman 1877. Di usia 18 tahun pindah ke Basel, Swiss, bekerja menjual buku serta menghabiskan sebagian hidupnya di sana. Tahun 1911 mengelilingi Asia, pengalamannya tersebut tergambar jelas dalam bukunya bertitel Aus Indien (Dari India). Ketika pernikahan pertamanya berakhir, berpindah ke Montagnola, Swiss. Novelnya antara lain Siddharta (1922). Penerima Nobel sastra 1946, meninggal dunia 1962. {Dari buku Malam Biru Di Berlin, terjemahan Berthold Damsh?user dan Ramadhan K.H. 1989}
***

Mengingat novelnya Siddharta, kubayangkan Hesse sesosok petualang yang peka lelanggam Asia serta nilai-nilai luhur menghidupinya. Alam semesta menggoda perasaan, maha bathin tersendiri seniman menghidupi pengindraan hayati lebih berarti.

Renungan matahari mengeluarkan ribuan serpihan makna atau tak pernah puas cahaya utama, ikhtiarnya pengaruhi susunan gemintang di angkasa merubah bentukan takdir tersendiri.

Melalui jiwa perempuan menyelami keganjilan keakuan, penolakannya lebur bersama tragedi tergaris, tak masuk perubahan tetap bertahan kembarai bayu menjalankan warna pandangan.

Keingintahuan menanjak berbahan pelajaran serupa doa tak terucap tempaan laku, derita hidupnya mengajarkan tak silap percepatan bertemu kehakikian. Dikurbankan bercerai istrinya, ada garis penolakan namun harus memilih, memotong waktu di luaran tampak beringas.

Setiap langkah tersenyum kebaharuan penyeimbang di tepian sungai didatangi, ingatannya menuju karya sedari letih saat-saat mencium abadi.

Sosok kembara seolah tak kemana-mana, tapi bumi beredar di hadapannya. Ketakutan serta keriangan semata dadu, atau ayunan suatu waktu berhenti seperti benda jatuh.

Getaran firasat dari kenangan purba terbaca buku-buku, mendengar arus sungai jauh mendekati kalbu berdamai merindu, bergejolak menyampaikan bayang pendapat.

Dirinya tak dituntut gagasan namun ketinggian bathiniah, luka kecewa terpancar indah, derita tersembul kembang hidup bermekaran mengenal dunia.

Membaca sajaknya Pelaiang, kusaksikan Hesse datang di musim penghujan. Kilatan petir menyambar-nyambar diri digetarkan, suara alam bangkit dari tebing malam, mengeroyok ingatan terpojok menguatkan jiwa semuda di jalan-jalan Swiss.

Ada gundah tapi dengan senyum persahabatan alam selama ini, kian akrab menemui kesaksian raya, merasai dirinya ditakdirkan jadi insan mempuni, denting kelenengan bayang-bayang membentuk kesatuan menghadap langit.

Entah hawatir atau gembira digerakkan sesuatu yang belum menjelma, tanah India masih jauh, catatannya mengalami kebuntuan atau keraguan menghantui dari masa lampau yang tengah terhadapi juga nanti.

Adalah bongkahan padat harus ditebang nalar kelelakian tegar berbaca isyarat. Entah sebab bacaan di belahan Asia tempo dulu, menyeret takdirnya ke hutan belantara Sumatera.

Kaki-kaki berlepotan tanah, hujan mengguyur ganas beserta kilatan pedang cahaya tiada berhenti. Kejadian itu tak pernah terlupa dalam perjalanannya mendatang.

Sosok pencari tiada jera meneliti semesta nilai hayati. Pagi hari pemandangan indah, lebih segar dari kemarin, angin tropis maha santun rupawan seelok senandung pujian Timur berdengung dalam telinga kelembutan.

Keyakinannya tumbuh meremaja, pertarungan ruang-waktu di berbagai negeri memantabkan diri, kelana tak puas mencari kehadiran jiwa.

Baginya hidup memperbaharui nilai dari suara-suara jaman di belakang, menggali rahasia alam bathin menghadapi kehendak mutlak, dengan bersastra melestarikan budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *