KASIDAH KEPERGIAN

Indra Tjahyadi*
http://www.jawapos.com/

1.
Dengan mata keperihan yang tajam kumaknai kepergianmu.
Di pucuk cuaca tangisku pecah, dan lanskap
–segala lanskap–
segera menjadi kelam.
Sungguh betapa ganjil cinta bertepuk sebelah tangan.
Kepergianmu, saat yang menghidupkan segala ketandusan bagi nafasku.
Di puncak pilu, aku yang tinggal suluk tanpa cumbu menghidupkan bebunyi salvo
kesepian dan rindu.
Kepergianmu adalah maut yang meruak dari sembarang kubur.
Sepanjang gerimis, aku kembali pada mula,
berpulang pada mimpi terkelu.
Sungguh telah kureguk sengak arak dan pahit sajak,
tapi bayangan wajahmu masih saja memanggil tujuh kutuk airmataku.
Kiranya rindu tak sesederhana gerak pisau yang menancap di kurus dadaku.
Bila mungkin ingin
kucuri dirimu dari setiap kepergian
yang menciptakan jarak dan menjauhkan kau dari pelukku,
tapi dalam gelap tak teraba
betapa hanya makna kekeringan yang rebahi ranjang malamku.
Kepergianmu, sesosok kegelapan berpisau yang menguliti ragaku!
Degup laut yang menggelombang adalah duri
–tumbuh runcing di benakku.

2.

Langit kelabu, dan nyanyian senyap bayang-bayang membutakan taifun.
Ingin kuperlihatkan sesuatu padamu,
tapi kata-kata telah kehilangan gaung dalam batinku.
Kubayangkan baringmu di putih ranjang menghangatkan gairahku,
tapi seonggok pohon tak berdaun yang tegak di tepi jalan terlampau gahar
–merintihkan sedu.
Kebisuan melayang-berliuk di angkasa
menyapu segala raung yang pernah difirmankan geludhuk.
Kurasa telah kukubur mendung, tapi dalam kesendirianku
hanya bulan penanggung derita
yang pernah terperangkap–membusuk dalam kalbu.
“Kiranya, cinta yang menangis ini, sayangku,
segarang debur ombak di tengah laut.”
Makin dekat aku pada kenangan wajahmu,
makin akrab aku pada pilu.
Kau, gadis dengan kulit sehangat dekap dan bibir selembut kecup!
Pesonamu adalah sorga hitam bagi hasrat dan kesepian-kesepianku.
Maka, tak ada perempuan, tak ada kecupan, dan aku tertidur dengan mata terjaga.
“Aku makin renta, sayangku, makin luka, dipeluk asmara berduka-duka.”
Di balik jendela, penampakan murung bebatu
dilikut kegirangan rasa belasungkawa,
menjelma angin:
berlarian kecil di kudukku.
“Alang kepalang!
Betapa rindu ini sungguh perih dan keras kepala, sayangku!”
Aku orang buangan, hidup dalam sepi cuaca dan peluk.
Hari-hari yang lewat tanpa cumbu menjelma kelokan jalan
–menyimpan kisah kepergianmu.

3.

Dekat subuh–kupanjat kabut ingatan wajahmu.
Sepi menggerundung,
rindu memiuh memaradekan ngilu.
Aku bertugur,
makin jauh dari kantuk,
makin terpisah dari peluk.
Pulau-pulau yang kesepian mengobarkan lindu.
Setegak pohon purba tepi danau lamat melapuk degerogoti tahun.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru.
Kepergianmu adalah gema–menghapus kepak kupu-kupu dalam batinku.
Aku suluk mayat ditolaki kubur.
Sorga makin jauh dari sujudku,
takwa makin jauh dari imanku.
Tak ada yang bisa diingat dari sekelumit murung riwayatku
selain derita
selain kesepian sedalam palung
: “sampai di sini saja, kasihku, toh asmara
hanya setitik embun, bergantung rapuh pada daun.”
Kureguk raung halilintar,
kupanggil maut.
Jiwaku beranjak gelap–makin gelap!
Gahar meledak.
Layaknya seteguk sajak gelap yang kuletuskan bagai peluru
Selalu aku yang melebur dalam gelap
dalam sunyi tak berjuntrung.
Diam sangat luas,
begitu luas,
memeram sosokku.
Kiranya, sejak kau meninggalkanku
langit tak berpihak dan bumi begitu khusyuk menolakku.
Masih ingin kusebut namamu
tapi kata yang terucap cuma kelu
cuma bisu.
Sungguh, pernah kudekati jatuhnya bayanganmu,
tapi seluruh kebutaan telah mencuri penglihatanku.
Tatapanku segaib kehendak muskil yang melihat kepulanganmu.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru.
Sebentang pikiran lumpuh menjadi tembok dalam kemasygulanku.
Kepergianmu, sebentuk kekeringan yang menusuk.
Cinta (sungguh!) adalah arsitek bagi takdir dan kematianku.
Kehampaan dalam bentuk burung menyerbu kesadaranku.
Tak pernah kuminta derita,
tapi ingatan wajahmu selalu memanggil pulang keperihanku.
Lambung yang lapar memekikkan taifun.
Kuingat tahi lalatmu yang mendekam manja di lereng payudara.
Kudengar gaung sedu dalam daging mengeras–meruntuhkan umur
: “sayang, kepergianmu adalah sebilah parang terhunus!”
Tak ada bulan atau sekedar ucap selamat malam bagi hati yang silu.
Seteguk sajak gelap kuletuskan bagai peluru
Kepergianmu, isyarat cuaca dari duka tak terkatakan yang memerah
yang menerbitkan ajal
–“ajalku!”

*) Lahir di Jakarta, 21 Juni 1974. Dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Panca Marga. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Aktif bergiat di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Menulis esai, puisi, dan cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *