MEGAWATI KECELIK GUS DUR

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Ketika semalam merevisi ini datanglah kabar, Gus Dur meninggal dunia, semoga Allah mencintainya, amin.

Tak mungkin negarawan tangguh pengamatannya mistis seperti Gus Dur tak miliki strategi memaslahatkan bangsa, hanya kita sering kecelik (terkecoh) ulah vokalnya tampak terlalu dini, sebab belum menangkap siasatnya penuh nilai.

Setelah baca bukunya Melawan Melalui Lelucon bertitel, Yang Membuat (sejarah) dan Yang Dicatat. Terbersit saat beliau memangku kepala negara sering beranjang sana-sini sebagai pola mantabkan berbangsa di belantika dunia. Menjalin umat dalam kapasitas kasih damai berlain ideologi.

Ini mengherankan sebab kala itu negara sedang butuh ayoman, seakan berharap fungsi wakil presiden yang dulunya mandul, demi tumbuh pengalaman berbunga dalam bernegara.

Megawati dipersiapkan Srikandinya Nusantara, tapi ketaksadaran rayu kedudukan lebih, terhanyut arus tak bergemin ke segala arah -diam. Masanya para spekulan memandang sebelah mata pada bapak bangsa ini. Tidak mudah menebak sangkan fikirannya seolah deladapan, padahal tantangan demi masa depan gemilang.

Setelah ambruknya rezim Soeharto, orang anggap kuku-kuku kekuasaannya masih mencengkeram. Perlu diketahui, anggapan sama saja pemberian daya, padahal telah tumbang. Kegagalannya cemooh dipandang sebelah, kudunya jadi pelajaran demi bahu-membahu saling mengingatkan.

Dalam pemerintahan SBY tercium kediktatoran ditampakkan naikannya BBM tanpa peduli. Wakil rakyat seolah tidak bergigi dicopoti, menyedihkan penindasan sejenis penghianatan nasib diemban, dilahirkan melupa orang tuanya siti (tanah).

Kudunya kembali pada cita-cita murni reformasi, sebelum banyaknya anak bangsa di bawah garis kemiskinan mati; bahan pokok tak lagi terjangkau, uang bawahan di garis pembodohan.

Penentu maju-munduran bangsa ialah moral bernegara sampai kemanusiaan adil beradab dalam naungan-Nya. Pun rusaknya pemerintahan, jika rakyatnya menjalani perintah hati, tentu tidak sampai kebablasan.

Makin kuat pemeluk agama bertambah baik pemerintahan, karenanya pertama kali dibangun khasana keadaban, tapi sering dicap tindak anarkis. Lain FPI bertindak anarkis agar distempel agamis.

Agama menganjurkan menolong fakir miskin anak terlantar, menghormati hukum negara selama tak melanggar etika, hidup rukun antar umat. Namun kenapa dalam diri bangsa mayoritas beragama, tak sanggup selesaikan masalah.

Nyata yang jadi landasan berbangsa kuasa kepentingan. Tidak jauh dari perut rasa aman pertebal kulit. Meski baiknya ajaran jika gerak dituju mencari muka, rusaklah etika yang tampil rasa bangga cemburu, dengki bunuh tikam sesama demi sekejap mencapai kursi.

Bangsa perut makin tinggi kedudukannya, tidak sobek sesuatu yang berhadapan pun di bawahnya -demonstan, oleh kepentingannya lebih tinggi di hadapan mereka. Ini topeng penghianatan pada tanah air atas anak-anaknya.

Banyak kasus berkarat tidak mungkin seratus tahun baik. Namun dengan digalangnya kekuatan masing-masing memajukan manfaat spiritual tanpa tendensi, sedikit demi sedikit kedholiman terkikis keramahan murni.

Mumpung akar tradisi sebagai jati diri, tangguh menghadapi tranformasi budaya basi. Kepribadian bangsa berteguh iman anak-anaknya. Segeralah kuasa kepentingan ambruk oleh malu kecelik.

Bangsa besar giat berkarya menerima kenyataan dengan terus menggelora demi generasinya. Sedikit pengangguran kecuali istirah dan merembuk ke dalam demi mengimbangi kedatangan asing.

Kiranya asing diakrapi menjadi mudah diatasi sesuai kemauan mandiri. Bangsa besar tumbuh menapaki jaman, keyakinan sanggup menfonis bangsa lain pikun tujuan. Berangkat dari dunia ketiga bukan ketinggalan.

Ini gairah meluluhlantahkan peradaban kian merosot tidak berbudaya menjelma alami dalam alam fikir perasan jaman, abad tropis menyiram damai. Bangsa besar berjiwa muda percaya diri, tangguh tanpa dekte namun mampu meyakinkan bangsa lain dengan sahaja.

2006 Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *