Melirik Buku-buku Berbasis Lendir

Ahmad Fatoni *
Sinarharapan.co.id

USAI keluar dari sebuah tokoh buku, di Malang, seorang teman saya yang baru pulang liburan dari negeri Malaysia, merasa terheran-heran. Teman yang sudah sepuluh tahun di negeri jiran itu berujar, “Toko buku tadi cuma menjual sampah!” Teman saya rupanya merasa jijik melihat maraknya (judul) buku-buku beraroma pornografis berjejer-jejer. Sementara itu, saya hanya mesem-mesem mendengar ‘umpatan’ teman saya tersebut.

Selang beberapa saat, saya coba menanggapi keterkejutan (gegar budaya) teman saya tadi. Saya katakan bahwa setelah Orde Baru runtuh, secara sporadis, di Tanah Air memang semakin banyak penerbit buku bermunculan, bak air bah yang meluap-luap. Dari waktu ke waktu, kian marak buku diterbitkan, dan tentu sangat beragam temanya. Mulai dari buku jenis pemikiran, keagamaan, pengembangan diri, hingga jenis bacaan ringan yang ngepop. Masyarakat kita tampaknya lebih tergoda untuk memelototi buku-buku jenis terakhir, terutama buku-buku yang bersenggolan dengan kehidupan ecek-ecek dan penyimpangan seksual.

Kenyataannya, cukup banyak buku-buku yang -menurut penilaian teman saya tadi- terkesan terlalu menonjolkan judul-judul jorok, walaupun dia sendiri belum membaca isi dalamnya buku-buku itu. Sekadar contoh, misalnya (judul) buku: Selingkuh Itu Indah, Garis Tepi Seorang Lesbian, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, Sex in the Kost, Wajah Sebuah Vagina, Pantat Bangsaku, atau yang sebentar lagi terbit, Jangan Kau Lihat Kelaminku. Beberapa penerbit agaknya menyelami hausnya ?birahi? pembaca akan tema-tema ‘tabu’ yang tidak jarang (judul) buku-buku itu akan membuat begidik bulu kuduk calon pembaca.

Bila kita cermati, buku-buku jenis di atas tampak masih dianggap saru oleh sebagian besar masyarakat kita yang menjunjung tinggi bahasa ketimuran yang santun. Sehingga buku-buku yang nyerempet ke arah pornografis akan menuai banyak kritik sebagai karya ‘kacangan’, dan penulisnya sendiri harus ikhlas dihujat habis-habisan. Sebagaimana dialami seorang penulis muda dari Yogya, Muhidin M. Dahlan. Ketika diundang dalam acara bedah bukunya Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, dia dituduh sebagai seorang kapitalis yang menulis buku untuk tujuan uang semata. Dia dianggap telah terjebak dalam niat yang sama sekali tidak terhormat. Ada pula yang mengejeknya kalau dia menulis seperti orang berak. Apa saja ditulis. Tanpa direnung-renungi, langsung saja semuanya keluar. Lebih gawat lagi, konon ada seorang ustadz memvonis Muhidin sudah murtad (keluar dari agamanya), maka dia dituntut mengucapkan syahadat untuk memeluk kembali agamanya.

Lain Muhidin lain pula nasib Naning Pranoto, penulis novel Wajah Sebuah Vagina. Dalam sebuah acara peluncuran novel terbarunya itu, Naning juga mengalami gugatan tak kalah nyinyirnya dari sebagian peserta yang mengadiri bedah bukunya. Salah seorang mahasiswi malah mempertanyakan tujuan Naning mengarang novel begituan. “Bangga nggak sih Mbak Naning mempunyai vagina?” Timpal yang lain lebih sengit. Dan sederet kritik pedas lainnya yang menunjukkan rasa risih atas munculnya (judul) novel tersebut.

Masih dalam kasus Wajah Sebuah Vagina, menurut laporan dari pihak Galang Press, selaku penerbitnya, sebagian toko buku menolak untuk memasarkannya. Sebab novel karangan mantan wartawati itu dinilai terlalu vulgar untuk khalayak. Bahkan, Galang Press yang selama ini banyak memproduksi buku-buku semacam itu, oleh sebagian kalangan diberi label ‘penerbit berbasis lendir’ lantaran banyak buku hasil terbitannya sering mengumbar ‘organ rahasia’ milik perempuan itu.

Sebagai penulis, Muhidin maupun Naning (untuk menyebut sekedar contoh) tentu membantah tudingan-tudingan miring atas karya mereka sebagai karya ‘lendir’ yang setiap orang wajib membuangnya begitu saja. Mereka sadar, bahwa sebagai penulis sesungguhnya memiliki tugas-tugas suci dan tanggung jawab moral kepada pembacanya. Untuk seorang Muhidin pasti punya niat -setidaknya sedang dia canangkan- untuk menyampaikan nilai-nilai lewat tulisan. Kalau tulisannya dikatakan seperti berak, mungkin ada benarnya. Namun terlepas dari kekurangannya itu, saya lebih menangkap tulisan-tulisan Muhidin sebagai kujujuran atas pergulatan batinnya dalam melihat kenyataan masyarakat sekitarnya.

Begitu pula Naning Pranoto, ia menggunakan kata vagina pada judul novelnya hanya sebatas simbolis dari fenomena empiris tentang kekerasan yang terus-menerus dilakonkan laki-laki terhadap kaum Hawa. Dia pun jujur bahwa tidak jarang pula perempuan melakukan tindak kekerasan -terutama kekerasan psikis-atas laki-laki. Maka, kilah Naning, “sebetulnya kata vagina di sini adalah kata bersayap. Vagina bisa menjadi anugerah sekaligus malapetaka bagi si empu-nya. Vagina bisa menaklukkan, bisa juga ditaklukkan. Dengan vaginanya, perempuan berkuasa untuk memerosokkan laki-laki ke lorong sempit dan gelap, namun juga tidak sedikit perempuan yang menderita oleh vaginanya karena kecerobohannya sendiri.”

Di pihak lain, sebagaimana dikeluhkan Arief Hakim dalam sebuah kesempatan, banyak penulis yang mengarang buku beratus-ratus halaman yang cenderung serba retorik-teoretis, tapi isinya hanyalah yang (sok) ingin menunjukkan keminteran penulisnya. Tentunya, karya-karya seperti itu kurang menyentuh problema masyarakatnya sendiri.

Belakangan ini, bahkan kita lihat banyak orang Indonesia yang menulis buku, dengan niat asal jadi, yang penting mampu menulis buku dan namanya terpampang di toko buku. Seiring ingar-bingar jargon reformasi, semakin ramai penulis buku berlaga dan bergaya. Situasinya sangat marak dan meriah. Sayangnya, konsekuensi dari euforia penerbitan buku tersebut, kadang tidak lagi memerhatikan kualitas buku. Buku-buku semacam itulah yang perlu diarahkan karena akan mengorbankan masyarakat pembaca, baik secara finansial maupun intelektual.

Di samping buku-buku yang tidak bermutu seabrek jumlahnya, tentu ada beberapa buku yang berkualitas bagus dan menakjubkan. Biasanya, buku yang mengagumkan -menyitir pernyataan Arief Hakim adalah buku yang mampu ‘mempertanyakan’ dan ‘menggempur’ nilai dan alam kesadaran manusia yang selama ini dianggap mapan. Buku yang demikian itu akan menggugah eksotisme dan kenikmatan yang luar biasa pada diri pembaca. Sayangnya, buku-buku seperti itu masih tergolong jarang di Indonesia.

Menurut hemat saya, buku yang bermutu adalah yang mengandung nilai, makna, dan kebenaran, selain kejujuran penulisnya sendiri. Inilah kira-kira standar untuk memilah dan memilih buku bermutu, termasuk di antaranya buku-buku yang oleh sebagian orang dilirik sebagai ‘lendir’.

*) Penulis seorang penyair, editor buku, dan staf pengajar Unmuh Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *