Menyoal Kritik Dalam Sastra Sunda

Djasepudin*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Meski belum sebanyak karya sastra yang membahana, kritik sastra Sunda pun, saya pikir masih hidup dan berjalan. Dengan kata lain, tidak minus, genting, atau seseram yang dibayangkan.

Selain dimuat di majalah Mangl?, Galura, Cupumanik, Seni Budaya, Bal?bat, atau di media online, patut diingat, kritik sastra Sunda pun bisa ditulis dalam bahasa Indonesia. Bukankah skripsi, tesis, atau disertasi mahasiswa Unpad dan UPI umumnya membedah carpon, sajak, dan novel Sunda, baik yang kiwari atau yang bihari?

Mereka pun tak jarang menulis kritik sastra Sunda dalam laporan penelitian, buletin, atau jurnal bulanan. Tak dapat dimungkiri, keengganan para kritikus menulis dalam media Sunda salah satunya karena ihwal honorarium yang didapatkan. Tentang hak hidup kritik sastra Sunda, kritikus sastra dan film Duduh Durahman (alm.) pernah mengatakan bahwa kritik bukan hal yang mesti ada. Jika karya sastra merupakan ekspresi pengarangnya secara spontan, merdeka, dan tiada yang menghalang-halangi, kritik pun begitu. Suatu reaksi yang wajar, yang kelahirannya tidak bisa dipaksakan. Meski ada yang tertarik dengan kritik, jika tiada yang mau menulis kritik, siapa yang bisa memaksa?

Sebaliknya, meski lantang menyebut tidak perlu, tetapi masih ada yang mau menulis, masih ada redaksi majalah atau surat kabar yang mau memuat dan masih ada penerbit yang mau menerbitkan, siapa orangnya yang bisa menghadang? (Sastra Sunda Sausap Saulas, 1991 dan 1997. Malah W.S. Rendra berkata, “Kritikus merupakan jembatan antara para penonton (pembaca) dan seniman? Omong kosong!” Rendra lantas berkesimpulan bahwa kritikus yang paling baik adalah para penonton (pembaca).

Peran pembaca memang terbilang penting untuk menentukan baik atau buruknya karya. Sebab, karya yang sangat baik dalam amatan kritikus sastra, tak ada artinya bila tidak disukai atau dibaca. Dalam tataran ini, sastra bukan semata untuk sastra. Sastra yang baik, kata Horatius adalah yang nikmat dan bermanfaat. Nikmat ketika kita membaca, bermanfaat untuk kemaslahatan umat dalam kegiatan bermasyarakat.

Memang, pembaca media Sunda kurang minatnya dalam membaca kritik sastra Sunda. Kritik t?h malah dijarauhan. Dianggap tiada gunanya. Kritikus Sunda tak ubahnya nasib oposisi dalam dunia politik kita. Ada tetapi tidak bermakna. Kehadirannya tidak diterima dengan lapang dada. Disebutnya juga kritikus itu seperti benalu, menumpang nama pada suatu karya.

Ketimbang penulis carpon atau sajak, penghargaan kepada para penulis kritik pun masih sangat minim. Sebagai contoh, majalah Mangl? setiap bulan memilih karya carpon dan sajak terbaik untuk mendapat penghargaan berupa uang satu juta dan lima ratus ribu rupiah. memang, Mangl? pun memilih kolom/bahasan terbaik, tetapi sifatnya umum, yakni kolom yang membahas kehidupan kemasyarakatan. Bagitu pun hadiah LBSS, kriteria untuk kategori esai terbaik belum ada pegangan yang kuat dan berkesinambungan. Kadang esai terbaik dipilih dari kritik sastra, lain waktu esai yang bersifat umum. Padahal, keduanya tentu sangat berbeda.

Pembedaan perlakuan karya dan kritik sastra yang tidak adil inilah, saya pikir, salah satu alasan yang menyebabkan masyarakat Sunda enggan menulis atau membaca kritik sastra. Lagi pula, dengan banyak atau membaca kritik sastra bukan berarti jaminan karya sastra akan meningkat kadar kualitasnya. Beberapa pengarang Sunda malah merasa terganggu dengan membaca kritik sastra Sunda. Mereka seperti terbelenggu. Ketakutan dalam menuangkan gagasan tak terhindarkan.

Padahal, bagi penulis atau pembaca yang jembar pikir, kritik sastra bisa dijadikan media untuk belajar agar karyanya makin indah dan berfaedah. Lepas dari sastra Sunda perlu kritik atau tidak, Duduh Durahman (alm.) berpesan, fungsi dan eksistensi kritik bukan permainan. Kritik adalah pekerjaan serius, bukan mencaci karena benci, bukan memuji karena rasa asih. Mau perlu atau tidak, hak hidupnya tidak bisa diganggu gugat.

*) Guru bahasa Sunda di SMA YPHB Kota Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *