Meramu Tradisi dan Modernitas

A. Yusrianto Elga*
http://www.jawapos.com/

Buku ini adalah dedikasi seorang Zamakhsyari Dhofier terhadap dunia pesantren yang telah membesarkan namanya. Sebelumnya, Pak Zam -demikian panggilan akrabnya- juga menerbitkan buku bertajuk kepesantrenan yang telah diterbitkan dalam tiga bahasa (Indonesia, Jepang, dan Inggris). Buku yang semula merupakan disertasi itu berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (terbit 1982).

Studi kepesantrenan dipilih Pak Zam bukan semata karena kepentingan akademik formal. Tetapi, lebih dari itu, Pak Zam memiliki kepedulian ihwal pentingnya pendidikan di lingkungan pesantren dikembangkan agar mampu bersaing di pentas internasional. Sebab, dalam sejarah peradaban Indonesia modern, eksistensi pesantren telah memainkan peran cukup penting dan mampu mewarnai dinamika pendidikan sejak Indonesia belum merdeka. Meski demikian, waktu itu pesantren pada umumnya masih dikenal sebagai lembaga tradisional pinggiran yang selalu ditentang oleh Belanda.

Maka, di awal abad ke-19, atas saran Snouck Hurgronje, Belanda mulai memperkenalkan sekolah modern model Eropa. Tujuannya adalah memisah tradisi dan modernitas untuk menandingi pengaruh pesantren yang sudah mengakar di Nusantara. Namun, rekayasa Snouck itu tidak berjalan mulus. Sebab, Bung Karno dan Bung Hatta bergandengan tangan dengan KH A. Wahid Hasyim untuk mendirikan Depdiknas dan Depag sebagai tonggak pembangunan Indonesia Modern (hlm 153).

Kedua departemen tersebut hingga kini tidak hanya berupaya memadukan langkah kebijakan dan strategi pembangunan pendidikan nasional, tetapi juga memberikan bantuan pengembangan universitas-universitas di kompleks pesantren yang dinilai sangat potensial.

Tradisionalisme Pesantren
Meski dewasa ini banyak pesantren yang sudah menerapkan sistem pendidikan formal lebih modern, itu tidak berarti pesantren melepas begitu saja atribut tradisionalismenya. Antara tradisi dan modernitas tetap diramu untuk menghasilkan generasi-generasi andal yang berkarakter kuat. Pesantren saat ini tentu tidak ingin -meminjam bahasa Prof Yudian Wahyudi- melakukan ”bunuh diri peradaban” dengan memisah secara ekstrem antara ilmu umum dan agama. Meski disadari masih ada yang demikian, hal itu terjadi karena dilatarbelakangi minimnya tenaga pengajar dan sarana pendidikan yang tidak memadai. Di antara 21.521 pesantren di Nusantara, yang bertahan dengan sistem pendidikan tradisional murni mungkin hanya sekitar 0,5 persen.

Dengan demikian, dalam wacana pendidikan modern, tradisionalisme dalam konteks kepesantrenan tentu tidak bisa dibuang begitu saja karena ia adalah roh pesantren itu. Tradisi yang coba dipertahankan pesantren tidak berarti bermakna statis, kumuh, dan anti peradaban. Tetapi sebaliknya, dengan tradisi luhur itulah pesantren membangun karakter pendidikan yang berakar pada semangat kebersamaan, kesederhanaan, dan kepedulian kepada kaum lemah.

Dinamika pendidikan yang disuguhkan pesantren pun kini lebih segar, inklusif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan modernitas. Setelah Indonesia merdeka, banyak intelektual pesantren (kiai atau ulama) yang berijtihad untuk menemukan pola pendidikan lebih prospektif: bagaimana meramu tradisi dan modernitas untuk mencetak generasi-generasi yang andal di bidang agama dan sains-teknologi. Ijtihad itulah yang kelak melahirkan sekolah-sekolah, institut-institut formal, atau universitas-universitas di lingkungan pesantren yang keberadaannya cukup diperhitungkan.

Peluang universitas pesantren untuk menyejajarkan diri dengan universitas-universitas bergengsi seperti UGM, UI, ITB, dan Unair sangat terbuka lebar mengingat saat ini banyak jebolan pesantren yang mampu menaklukkan panggung internasional. Mereka tentu sangat dibutuhkan untuk ikut serta mengembangkan sekolah-sekolah tinggi atau universitas di pesantren.

Pesantren dan Terorisme
Salah satu subbab cukup menarik yang ditulis Pak Zam dalam buku ini adalah tentang terorisme. Kenapa Pak Zam tertarik menyoroti masalah itu dan apa hubungannya dengan pesantren? Sebagai lembaga pendidikan yang dalam sejarahnya selalu dipandang inferior, akhir-akhir ini pesantren kerap dituduh sebagai institusi yang melahirkan sosok-sosok teroris. Apalagi sejak peristiwa bom Bali I dan II serta pengeboman-pengeboman di tempat-tempat lain, pesantren dituduh sebagai ”sarang teroris” karena para santri sudah termakan oleh ”doktrin jihad” yang telah diajarkan kiai atau ustad.

Atas kejadian yang tidak mengenakkan itulah, Pak Zam seperti terpanggil untuk meluruskan kembali misi luhur pesantren dalam kaitannya dengan masalah terorisme. Tradisi pesantren, menurut Pak Zam, justru bias membantu pemerintah dan rakyat Indonesia untuk mengikis terorisme dengan berbagai cara.

Pertama, meningkatkan lulusan pesantren, yang pada umumnya kaum miskin di pedesaan, menjadi sarjana lulusan universitas di pesantren sehingga lebih berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Kedua, mengembangkan volume tafsir moderat. Itu melibatkan proses akulturasi: membedakan Islam dengan budaya Arab (dearabisasi) dan menjadikan budaya atau adat (‘urf) Indonesia sebagai sumber hukum Islam di Indonesia dalam memecahkan persoalan yang belum diatur dalam Alquran dan hadis. Ketiga, mengarahkan jihad (dari terorisme) ke penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (hlm 150).

Masalah terorisme memang menyebabkan hubungan antara ”Islam” dan ”Barat” kembali menegang sehingga perlu dicari titik pangkalnya kenapa itu bisa terjadi. Sebab, pelaku terorisme memiliki tujuan-tujuan politis terselubung yang kerap berlindung di balik teks-teks agama sebagai alat justifikasinya. (*)

Judul Buku: Tradisi Pesantren: Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa
Penulis: Dr Zamakhsyari Dhofier
Penerbit: Nawesea Press, Jogjakarta
Cetakan: 1, September 2009
Tebal: xii + 293 Halaman
*) Alumnus PP An-Nuqayah Sumenep, tinggal di Jogjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *