MIKHAEL

Aquarina Kharisma Sari*
http://www.jawapos.com/

SESOSOK laki-laki. Kusebut dia, milikku. Dalam dunia yang penuh legalitas, aku tidak berhak atas dia. Dalam dunia di mana tuhan menjadi Sang Penguasa, dia adalah dosaku.

Tapi dia tidak hidup dalam dunia-dunia itu. Ketika bersamaku, dia hidup dalam duniaku.

Mikhael, begitu aku memanggilnya. Mikhael, Michael, Mika’il, semuanya adalah varian dialek dari satu objek yang sama, yakni nama sesosok malaikat yang mitosnya telah hidup semenjak ribuan tahun silam di sekitar Mediterania.

***

Matahari sore menerpa dari sela-sela pepohonan jati, menembus jendela kaca kereta ekonomi yang kutumpangi. Udara bulan Juni menghangatkanku. Awan-awan Cumulonimbus masih dengan santainya bergumpal-gumpal di ujung lain dunia sana.

Tak lama lagi keretaku akan sampai di kotanya, tempat di mana Mikhael berada. Hatiku berdebar membayangkan pertemuan yang hanya terjadi 2-3 kali dalam setahun itu.

Pepohonan jati berganti menjadi persawahan, kemudian terlihat genting-genting rumah berukuran sedang, rumah-rumah khas kota kecil. Saat matahari benar-benar telah terbenam, keretaku berhenti setelah berjalan selama empat jam. Aku turun bersama penumpang-penumpang lain yang berwajah lelah.

Aku menuruni anak tangga kereta. Terhirup udara sebuah kota yang membangkitkan kerinduan dan kesenduanku. Masih kota yang sama. Udara yang sama. Peron yang sama. Senja yang sama.

Dan laki-laki itu menungguku di sana, di tempat parkir yang sama.

Aku membuka pintu dan duduk di jok penumpang di sampingnya. Dia tersenyum, aku pun tersenyum. Lalu dia memelukku. Kami berpelukan lama sekali, melepas kerinduan setelah enam bulan lamanya tidak bertemu.

Mikhael melepas pelukannya perlahan dan menciumku. Dan sepanjang sisa waktu sebelum dia menghidupkan mobilnya, aku sempatkan untuk memandangi wajahnya tanpa mengucap sepatah kata.

Mata teduh yang hangat. Senyum indah dengan deretan gigi kecil rata. Suara yang dalam, mengesankan wibawa. Kewibawaannya tecermin dari pembawaannya yang tenang dan penuh percaya diri, yang menunjukkan bahwa dia sehari-hari sering memerintah bawahannya.

Laki-laki itu masih laki-laki yang sama. Laki-lakiku. Mikhaelku. Malaikatku.

***

Dunia masa kecilku adalah dunia dalam sangkar religi tradisional dan adat feodal. Saat usiaku baru menginjak belasan, Abah menikah lagi. Aku tinggal bersama Emak dan dua adik perempuanku di rumah kami yang sepi.

”Kenapa Abah menikah lagi, Mak?” Tanya adik kecilku yang polos pada suatu malam. Saat itu kami harus mulai terbiasa dengan tidak adanya Abah di rumah.

Emak tersenyum. Senyum yang dipaksakan.

”Kalau itu memang sudah jodohnya Abah, berarti itu takdir, Nduk…”

”Kenapa Emak bolehkan Abah, Mak..?”

”Lho, Emak kan memang kepingin dapat pahala…”

Aku bertanya dengan tak sabar.

”Memang Emak dapat pahala apa?”

Emak masih berusaha tersenyum.

”Nduk, Cah Ayu, orang yang ikhlas dan sabar itu disayang Tuhan. Balesannya surga.”

”Jadi kalau Emak ndak ikhlas, Emak masuk neraka ya, Mak?” adikku bertanya dengan lugu.

Emak mengangguk, tersenyum.

Emak bohong! Teriakku dalam hati. Bukankah saat Abah mengutarakan rencananya untuk menikah lagi, malamnya Emak menangis sendirian di kamar? Walaupun isaknya tertahan, namun rumah kami sudah terlampau sunyi hingga suara semut pun bisa terdengar.

Abah pulang seminggu sekali, menjumpai Emak dan kami, anak-anak perempuannya. Abah masih bersikap seperti dulu, masih sayang kepada kami.

Emak pernah berkata, Abah orang yang bertanggung jawab. Karena itu, Emak tidak kuatir ketika Abah menikah lagi, karena Emak yakin Abah tidak akan lupa pada istri dan anak-anaknya.

Emak memang tidak perlu kuatir, tapi bagaimana dengan perasaanmu, Mak?

Pernah suatu kali di hari raya, Abah mengajak istri mudanya ke rumah kami. Emak menyambutnya seperti sahabat. Mereka bertiga bahkan berjalan beriringan menuju tempat ibadah. Kami, anak-anaknya, mengikuti dari belakang.

Semua kepala menoleh, melihat dengan kagum kepada Abah yang sukses mengakurkan dua orang perempuan, melihat dengan simpati kepada Emak yang ikhlas dan nrima, dan memandang penuh tanda tanya kepada perempuan lain itu seolah ingin bertanya, perempuan seperti apakah yang telah merebut Abah kami itu?

Emak…aku melihat Emak yang wajahnya tertunduk, berusaha menghias bibirnya dengan senyum. Tidakkah orang lain bisa melihat betapa kosongnya jiwa Emak? Jiwa itu telah beku, mencoba bertahan dengan janji surga dari tuhan yang disembahnya.

Hari berganti, tahun berlalu. Selama itu kehadiran Abah hanyalah sebatas kewajiban dan biaya hidup. Abah adalah orang asing bagiku yang mulai menginjak remaja. Siapakah laki-laki yang kupanggil Abah ini? Aku tidak mengenalnya. Bagiku dia hanyalah sumber keuangan Emak, untuk menghidupi Emak dan ketiga anak perempuannya.

Bahkan Abah pernah tak datang sama sekali selama dua bulan. Katanya istri muda Abah telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang selama ini sangat diidam-idamkan Abah.

Aku pun tumbuh makin dewasa. Suatu hari, saat bercermin, aku terkejut menyadari betapa buah dadaku telah tumbuh sempurna. Badanku makin tinggi. Suaraku makin berat. Gigiku sudah berhenti tanggal. Rambutku hitam kelam mengombak.

Saat aku berjalan, waktu seakan terhenti bagi orang-orang yang kulewati. Beberapa pemuda spontan menoleh. Ada yang terus memperhatikan sampai aku hilang dari pandangan, ada yang bersiul, ada yang memanggil menggoda.

Tiba-tiba aku merasa jijik pada mereka. Aku merasa ditelanjangi setiap kali mereka melihatku. Mata mereka kotor, sekotor imajinasi mereka tentang aku.

Suatu hari salah seorang di antara mereka mengikutiku sepulang sekolah. Dia berniat menggodaku. Dengan beraninya dia berusaha memegang tanganku. Aku berteriak seperti kerasukan, ”Kurang ajar!”

Umpatanku sangat jelas mengagetkannya. Bukankah biasanya perempuan, seperti yang lain-lain, senang bila digoda?

Aku berlari ke rumahku yang sepi, meninggalkan anak ingusan itu termangu di tempatnya berdiri. Tidak ada siapa pun di rumah, Emak dan adik-adikku sedang pergi. Dengan panik kukunci semua pintu dan jendela. Dalam bayangan paranoidku, anak laki-laki itu akan masuk ke dalam rumah dan berbuat jahat.

Terakhir aku masuk ke dalam kamarku, dan kukunci pintu rapat-rapat. Aku berjongkok sambil bersandar di pintu, menajamkan pendengaran, seraya menggenggam sebilah pisau yang tadi kuambil dari dapur. Kalau anak laki-laki kurang ajar itu datang dan berbuat macam-macam, aku akan menusuknya!

Selama satu jam aku terbakar amarah yang aneh. Dan kemudian aku menangis. Menangis tersedu-sedu. Tidak ada yang melindungiku. Tidak ada yang membelaku. Aku sendirian. Dunia ini sepertinya begitu buas, hingga tidak ada lagi tempatku untuk berteduh. Bahkan kini aku tidak lagi merasa aman di rumahku sendiri.

Ah…aku menjulurkan kaki. Pisau itu tergeletak di sampingku. Bukankah sudah lama rumah ini tidak lagi menjadi rumah? Apa itu rumah? Aku bahkan tidak ingat lagi bagaimana rasanya tinggal di dalamnya.

Suara hangat seorang laki-laki menyadarkanku dari lamunan.

”Kok diam saja dari tadi?”

Mikhael, laki-lakiku itu, mengelus rambutku seraya menarikku untuk rebah di pundaknya. Dia membelai-belai rambutku dengan tangan kirinya, sambil tangan kanannya memegang kemudi.

”Ah, tidak…,” bisikku.

Dia mencium keningku dengan ketenangan yang luar biasa.

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Pinggang yang besar. Tangan yang besar. Jiwaku meleleh dalam dekapannya. Seolah tidak ada lagi ketakutan dan kesendirian itu.

Dia akan membawaku ke sebuah villa di lereng bukit, istana kami selama tiga tahun ini. Mobilnya melaju, melewati jalan depan kompleks perumahan yang ditinggalinya.

Aku melirik perumahan itu. Di belakang sanalah rumah laki-laki ini berada. Walaupun begitu, aku senang memandangi perumahan itu. Aku senang membayangkan kehidupan laki-lakiku di dalam sana, bersama keluarganya.

Aku suka melihat dia menyimpan foto anak dan istrinya di dompetnya, dan memasang foto mereka di layar telepon genggamnya.

Aku suka melihat dia membeli mainan, oleh-oleh untuk anak perempuan kecilnya, saat dulu dia sedang berada di kotaku.

Aku tidak cemburu. Aku tidak sakit hati. Bahkan anehnya, aku merasakan suatu kehangatan menyelimutiku ketika melihat semua itu.

Sahabatku yang lugu pernah bertanya, ”Tidakkah kamu ingin menjalin hubungan dengan seseorang, kemudian menikah?”

Aku menggeleng. Menikah? Untuk apa menikah? Menikah dan menjadi seperti Emak? Sementara apa yang selama ini kulihat telah membuatku tahu bahwa Emak bukanlah satu-satunya Emak. Abah juga bukan satu-satunya Abah. Di dunia ini hampir semua adalah Emak-Emak dan Abah-Abah yang lain.

”Tidakkah kamu ingin punya pasangan yang sah?” Tidak, sahabatku sedang berusaha menasehatiku.

”Sah? Siapa yang mengesahkan?”

”… Hukum,” dia ragu.

”Hukum siapa yang kamu maksud? Hukum negara? Hukum Tuhan?”Aku bahkan mengucapkannya tanpa emosi, karena setelah bertahun-tahun hal semacam itu telah menguras emosiku hingga habis tak bersisa.

Bukankah hukum tuhan juga yang mengizinkan Abah menikah dengan perempuan lain? Bukankah hukum tuhan juga yang membuat Emak melawan hati nuraninya?

Lambat laun, rasa jijik yang kurasakan pada laki-laki yang memandangiku, berubah menjadi rasa jijik dan malu pada diriku sendiri. Aku malu dengan payudaraku yang montok. Aku malu dengan leherku yang jenjang. Aku malu dengan pinggulku yang ramping.

Aku mulai menyalahkan tubuhku. Aku merasa gara-gara tubuh seperti inilah maka semua laki-laki jahat di luar sana ingin memangsaku.

Aku jadi takut berdandan. Aku jadi takut terlihat cantik. Aku takut ada laki-laki yang menginginkan tubuhku. Aku takut mereka tidak bisa menahan diri, lalu melecehkanku. Aku takut, karena bila itu terjadi, tidak akan ada siapa pun yang membelaku.

Abah? Abah hanyalah nama. Dia sudah pergi dari hidup kami.

Emak? Emak tidak akan membelaku. Emak adalah perempuan yang dididik untuk memegang filosofi adat, yaitu untuk nrima dan menghindari konflik.

Ya, Emak benar. Kata Emak perempuan adalah sumber dosa, dari ujung rambut hingga bahkan suaranya bisa mengundang syahwat. Bahkan kabarnya sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan.

Pelahan sangkar itu terbuka. Aku pun terbang tinggi menggapai langit kebebasan. Itulah saat aku mulai mengenal Mikhael.

Dia mengajariku tentang cinta. Dia membuatku mengerti bahwa cinta itu tak terbatas dan tak terhingga, luas, seluas angkasa yang biasa dijelajahinya. Cinta membuat mata dan jiwaku melihat keindahan diriku sebagai perempuan. Perempuan adalah ciptaan alam yang paling indah.

Dia tidak pernah mengatakannya, karena dia memang laki-laki yang tidak pandai mengumbar kata. Dia membuatku merasakannya. Dia membuatku memandang lain sama sekali atas tubuh dan eksistensiku di dunia.

Aku bertemu dengannya dua tahun lalu, saat aku tengah berjuang sendirian untuk kuliah, bekerja, dan berorganisasi, di kota industri yang panas dan buas.

Aku tidak pernah dengan sengaja menyandarkan diriku dalam dekapannya, karena semua terjadi begitu saja. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan seperti apa yang kurasakan kepada Mikhael. Laki-laki lain yang mengejarku hanyalah anak-anak kecil, egois dan manja, yang menjadikanku ibu-ibu mereka.

Hanya kepada Mikhael, laki-laki itu, malaikat itu, aku merasa terbungkus dalam kedamaian, seolah sayap-sayapnya merengkuhku.

Kami bertemu di kotanya, di kotaku, atau di kota-kota lain. Hanya semalam, dua malam, tak lebih dari tiga kali kesempatan datang dalam setahun.

Sebuah petualangan yang mendebarkan. Sebagai seorang laki-laki berbahaya, dia sangat menikmatinya. Tarik-menarik antara id dan superego, antara jiwa laki-lakinya dan kode moral dunia. Tapi bukankah dunia kami tidak sama dengan dunia ini? Dia hidup dalam duniaku.

Malam ini, di bawah rasi bintang Orion, dia memelukku erat. Tubuh telanjangnya begitu indah. Begitu alami. Begitu manusia. Hasil evolusi alam semesta. Tubuh dan jiwa bebasnya yang kukagumi. Auranya yang memesona dan menghangatkanku.

Dialah yang mengajariku seni bercinta. Sebuah dunia yang indah tentang naluri alami manusia. Sebuah penyatuan tubuh dan jiwa.

Dalam kantuknya dia bertanya lirih, ”Nanti di ibu kota, kamu nginap di mana, Dik?”

”Di tempat temanku…”

”Besok kalau sudah sampai sana, kabari aku ya?”

”Iya…”

Sore selanjutnya, dia mengantarku ke stasiun lagi. Kali ini kereta api ekspres yang akan membawaku ke barat, ke ibu kota. Aku mendapat panggilan wawancara kerja di sana.

Dia hanya mengantarku sampai di tempat parkir, seperti biasa. Andai saja dia bisa mengantarku hingga ke peron, maka aku bisa melambaikan tangan selamat tinggal kepadanya, seperti di film-film drama. Tapi itu tidak akan terjadi, setidaknya tidak di kota ini.

Dia menciumku untuk yang terakhir kalinya. Aku melangkah ke peron, menunggu kereta apiku di sela-sela para calon penumpang yang menempati setiap sudut peron.

Telepon genggamku berbunyi. Sebuah nomor yang kukenal. Terdengar suara seorang laki-laki, dalam dan tenang, suara yang hampir sama dengan suara laki-laki yang semalam bersamaku.

”Halo, Mas?”

”Sudah berangkat, Dik?”

”Belum, ini masih nunggu kereta. Mungkin 10 menit lagi.””Oke, besok pagi aku jemput di stasiun, ya?”

”Iya, besok kalau hampir sampai, aku hubungi Mas. I miss you.”

”I miss you too…”

***

Mikhael telah mengajariku tentang cinta. Cinta itu tak terbatas. Mikhael telah membantuku membuat sebuah dunia, dunia yang berada di luar dunia yang penuh lambang ini. Duniaku adalah dunia tanpa penguasa, tanpa ketakutan, tanpa kepalsuan. Duniaku adalah dunia tempat aku merasa aman. Duniaku adalah rumahku.

Dalam duniaku tidak ada Abah. Dalam duniaku aku bukan Emak. Duniaku hanya berisi aku dan malaikat yang melindungiku. Malaikat yang kucari semenjak aku, seorang perempuan kecil, meringkuk ketakutan di dalam rumah bata kami yang sunyi. Malaikat Mikhaelku ada dalam jiwa setiap laki-laki dewasa yang hangat, yang mengasihi anak-anak dan keluarganya. Dalam rengkuhan sayap-sayapnya, aku menemukan rumahku.***

Rumah, 2007

*) Cerpenis, lulusan Sastra Jepang Unesa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *