Nyaring Suara Hati Perempuan

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Dalam situs kesehatan Health24.com, dipaparkan hasil penelitian ilmuwan MTE studios, Dubai, yang memperlihatkan perbedaan signifikan dalam gaya bicara laki-laki dengan perempuan. Laki-laki menggunakan sekitar 9 ribu kata, suara, dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi setiap harinya. Sedangkan perempuan menggunakan 21 ribu kata, suara, dan bahasa tubuh dalam komunikasi sehari-hari.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sebagian besar perempuan justru memilih diam saat diperlakukan tidak adil -umumnya oleh laki-laki. Perempuan mengunci mulut dan memendam luka hebat dalam hati saat dizalimi pemerintahnya, keluarganya, lingkungannya, masyarakat tempat ia hidup.

Meski sudah banyak LSM yang fokus pada penegakan HAM dan pemberdayaan perempuan, tetap saja suara dan uneg-uneg mereka perlu dipekikkan dengan sangat lepas. Begitu nyaring hingga tak seorang pun bisa beralasan “tidak pernah dengar” soal ketidakadilan yang menimpa perempuan. Suara yang memekakkan telinga ini tentu bukan berarti lantas diutarakan dengan pengeras suara atau sambil berteriak-teriak, melainkan dengan cara khusus melalui medium yang efektif, teater monolog:

“Aku masih sangat percaya bahwa Satria pada suatu waktu akan pulang…kadang aku bermimpi tentang kalian berdua dan ketika terbangun, aku masih terbayang-bayang kalian berdua, seolah-olah kalian berdua tidak pernah mati,” kata ibu dari Satria (mahasiswa aktivis yang masuk daftar orang hilang).

Beban di hati Ibu Satria (Niniek L. Karim) ini tetap ada bahkan setelah 10 tahun Satria lenyap tanpa jejak. Apalagi kini sang suami juga telah meninggal dunia sehingga tak ada lagi teman berbagi.

Selain Niniek L. Karim (dalam lakon 10 Tahun Kemudian; sekuel dari Mengapa Kau Culik Anak Kami), monolog juga dibawakan oleh seniman teater Lisa Ristargi (Ipoh), dan aktris Happy Salma (dalam Ronggeng). Pentas monolog yang berisi curahan hati tiga orang perempuan (ibu) ini dipersembahkan Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke-41 sekaligus Hari Ibu 2009.

Tampil pertama sebagai pembuka pentas. Niniek menyajikan monolog yang serius. Dirinya dengan sangat piawai dan lemah lembut -khas seorang ibu- lalu bercerita mengenai kesendiriannya di usia senja. Tentu saja, sebagai tema utamanya, ia masih saja menggugat ketiadaan kabar mengenai buah hatinya yang hilang di era pemerintah represif.

“Menurut saya, naskah monolog ini masih sangat kontekstual untuk dipentaskan, karena memang Satrian kan belum ditemukan, juga pelaku penculikannya belum terbongkar. Ini persoalan yang masih ada,” kata Niniek mengenai monolog yang sudah pernah dipentaskan ini, saat ditemui usai pentas di belakang panggung Graha Bhakti Budaya, Selasa (22/12).

Niniek berujar dirinya sangat fokus pada konten naskah sehingga permasalahan setting memang bukan jadi unsur yang dikedepankan. Di atas panggung besar itu hanya ada dua buah bangku teras dan meja persegi. Agak jauh di ujung panggung, ada meja lebih kecil tempat telepon diletakkan. “Artsitik panggungnya mengikuti konsep kami yang minimalis.”

Niniek tidak menambahkan sentuhan kebaruan. Ia memonologkan sesuai naskah asli Seno Gumira Ajidarma. Sebagai pelengkap kata-kata yang diutarakannya sepanjang pentas (berdurasi sekitar 30 menit), kadang ibu Satria ini sibuk membersihkan lensa kacamatanya, atau mengangkat telepon yang berbunyi, hingga berpuisi ketika sampai pada klimaks ketika kesedihannya semakin menjadi. Di sini, pencahayaan agak meredup dan Niniek yang berdiri di ujung panggung kemudian disoroti lampu.

Tentu tak banyak yang bisa dilakukan seorang pemonolog ketika ia muncul di panggung sebagai sebagai seorang ibu berdaster yang tengah melewatkan sore di teras, tapi ini bukanlah masalah bagi aktris kawakan macam Niniek. Ia sangat piawai menokohkan karakter dan menyampaikan pesan. Niniek, dengan cara yang sangat halus masuk ke dalam penjiwaan sang ibu yang kehilangan dan membawa serta seluruh penonton terjun dalam lautan dukanya.

Ada satu-dua monolognya yang menyentuh dengan membangkitkan imajinasi mengenai kondisi kehilangan. Misalnya, bagian yang mengeluhkan ketidakterimaannya soal ketidakjelasan nasib Satria. Isinya kurang lebih seperti ini: “Kalau mati aku bisa terima. Yang saya tidak bisa terima Satria disiksa dulu kemudian dibunuh. Lagipula orang mati mati kan ada jenazahnya. Tidak seperti ini, hilang begitu saja. Paling tidak dikasih tahu saja, kalau Satria memang sudah mati, di mana, kapan.”

Kalimat-kalimat yang panjang dibawakan Niniek dengan cara berbahasa yang langsung dan selektif dalam pemenggalannya sehingga monolog tidak pernah berada jatuh ke titik “kering” atau membosankan. Monolog yang serius dan panjang ini bisa dia jadikan ajang merebut perhatian, simpati, dan emosi penontonnya, sehingga sesekali membuat penonton lupa bahwa mereka tengah berada dalam sebuah pementasan.

Bertolak belakang dengan yang dilakukan Lisa Ristargi dalam monolog Ipoh. Ipoh tidak mencoba membawa penonton masuk ke alamnya. Ipoh hanya bercerita dengan sangat terbuka. Ia sepenuhnya sadar soal keberadaan “jarak” antara dirinya sebagai pemonolog dengan penoton. Ipoh adalah monolog interaktif yang jujur dan mencengangkan.

Pentas monolog memang mengharuskan tokoh untuk mengenali penonton sebagai orang yang akan dimuntahi kata-kata. Lisa mencoba mencari tahu orang yang menyimak informasinya dengan memancing respon. Meski tidak spesifik bertanya, Lisa mencoba mengatur jeda di akhir kalimat-kalimat centil Ipoh sehingga otomatis mendorong celetukan dari bangku penonton. Mirip monolog dalam tradisi lenong Betawi, namun tidak secara gamblang dikondisikan semacam itu dan hanya sesekali saja.

Setelah berhasil menerima tanggapan positif, Lisa kelihatan semakin mengenali karakter penyimaknya sehingga mampu dengan signifikan mendapatkan “bentuk” pasti dari monolognya sehingga membuat penonton paham arah dan maksud karakter yang dibawakan.

Bersama Anto Ristargi, sutradara yang juga suaminya sendiri, Lisa mendiskusikan persoalan artistik dan setting untuk monolog Ipoh. Sebagai perempuan sederhana yang tabah dan setia layaknya Dewi Drupadi, Ipoh diberikan setting bale dan jemuran bambu rakitan. Sepanjang monolog, ia mengisi kekosongan gerak (agar tidak mati gaya) dengan menjemur pakaian atau merapikan dagangan kopinya.

“Dalam monolog, biasanya perubahan hanya tempat atau posisi pemonolog atau move, tapi saya memanggungkan sebuah cerita. Ada flashback di dalamnya. Saya pikir akan lebih bagus ada perubahan set,” kata Lisa saat diwawancara. Perubahan set yang dimaksud Lisa bukan ganti setting seperti perubahan latar belakang, melainkan hanya pergeseran kecil yang ia lakukan sendiri selagi bermonolog.

Yang mengesankan adalah bagaimana Ipoh tanpa disadari benar oleh penonton, perlahan tapi pasti menggeser tiang jemuran yang sudah ia penuhi pakaian kepada posisi melintang sehingga berfungsi mirip kain background panggung kecil. Ternyata, itu adalah setting ketika ia memperagakan tragedi pelecehan seksual yang menimpanya saat kecil menumpang di rumah budenya.

Dari segi artistik, kreativitas, dan efisiensi, pentas monolog kedua ini layak diacungi jempol. Hanya saja, ada bagian ketika pemonolog kurang banyak memberikan waktu untuk membangun emosi penonton, dari keluguan Ipoh yang kenes lalu menjadi Ipoh yang menjadi perempuan korban. Akting yang baik saat memperagakan adegan diperkosa terasa agak mentah karena masih terkesan mendadak (meloncat) dari Ipoh yang sebelumnya bercerita tentang kematian keluarganya akibat keracunan makanan.

Meski begitu, Ipoh sangat menarik perhatian. Pemonolognya pandai memanfaatkan suasana dan melontarkan monolog di saat yang tepat. Misalnya ketika menceritakan perihal pengusiran dirinya oleh isteri pertama almarhum suaminya. Waktu itu, ceritanya, Ipoh mendatangi rumah isteri pertama dan disambut dengan murka. “Isterinya bertolak pinggang dan tangannya menunjuk-nunjuk. Gelangnya sampai se-ketek. Bibirnya maju,” kata Ipoh pada penonton sambil mengikuti lagak antagonis isteri tua. Sontak penonton tertawa melihat kejujuran Ipoh.

Karena monolog melibatkan karakter tunggal yang berbicara dalam waktu lama inilah maka seorang aktor monolog harus benar-benar menguasai karakter dan kepribadian tokoh yang diperankan. Cara ini bisa diaplikasikan dengan banyak cara selain mempraktikkan monolog konvensional, yakni tokoh berdiri sendirian dengan lampu sorot. Happy Salma, lewat Ronggeng, justru membawa dua karakter ke atas panggung. Srintil si penari ronggeng dan dirinya sendiri.

Tantangan terberat untuk pementasan yang tergolong agak eksperimentatif untuk sebuah monolog ini tentu adalah masalah konsistensi pendalaman karakter. Happy yang sejak awal naik panggung menari di balik tirai putih tipis sebagai Srintil, tiba-tiba menjawab telepon seorang kawan dan melontarkan bahasa pergaulan anak masa kini. Tentu membingungkan jikalau seorang Srintil tiba-tiba bergaya perempuan metropolis. Pemisahan dijelaskan ketika Happy bermonolog sebagai dirinya sendiri yang tertarik mendalami perkara Srintil si Ronggeng, bahkan sampai survey ke Banyumas.

Antara Srintil yang terobsesi ronggeng sekaligus korban cap masyarakat dan Happy, sayangnya, masih tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Konsistensi Happy membuatnya sulit keluar-masuk dari dirinya dan diri Srintil.

Paling tidak, pada beberapa adegan, ia membedakannya dengan menggelung rambut kala kembali sebagai Happy si pencerita dan menggerainya saat menjadi penari ronggeng yang sensual. Keterjebakan atas konsistensi ini membuat penonton juga jadi bingung mengenai alur dan isi ceritanya. Apalagi buat yang belum membaca novelnya.

Untungnya unsur artistik yang kompleks cukup menutupi kekurangan ini. Apalagi sosok Happy sebagai seorang bintang yang sensual juga memudahkannya menjadi Srintil, perempuan yang diidolakan banyak laki-laki. Naskah yang kuat (ditulis Gunawan Maryanto sebagai tafsir ulang Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari) juga membantu menguatkan keseluruhan monolog.

Dengan berbagai “bahasa” artistik monolog, ketiga perempuan ini bisa dibilang sangat nyaring menumpahkan permasalahan yang menekan kebanyakan perempuan. Harapannya, tentu saja supaya menginspirasi kaum ibu dan perempuan untuk tak segan berteriak dan melawan ketidakadilan yang menimpanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *