Nyonya Efs

Dahlia Rasyad
http://www.lampungpost.com/

Sebelum satu kesedihan terdalam dari semua kesedihan yang panjang itu mengakhiri riwayatnya, perempuan ini telah kecewa hingga ia berputus asa. Menjadikan kediamannya tak pernah menua, bercumbu pada lain rupa dan bertemu di satu masa. Sebelum ia mengerti satu pengertian tentang kematian, kehidupan adalah luka, yang bekasnya tertinggal dalam perburuan, tepat ketika hasrat mencuat bak lecit-lecit api dari logam tergesek. Rindu.

PELAYAN tua itu menggeleng pilu melihat wanita muda di depannya berusaha menyelamatkan diri dengan mencari sisa-sisa kekuatan untuk awal penantian yang terus mengulangi diri. Egnon Frousse yang kerap disapanya dengan Nyonya Efs. itu sudah serupa mentari, berkulit kuning keemasan yang bersinar dalam buram dan dingin dunia. Dunia tak terpeta yang memagut diri seperti pesona ilalang hijau yang menebarkan kesunyian.

“Tak ada melati,” lirihnya. Efs. mengangkat gaun, mengusung diri ke sebuah kotase taman dekat pemandian burung-burung. Di sana ia akan menghabiskan waktu berjam-jam sambil membaca buku atau menulis puisi tentang kerinduan. Memutar F?r Elise yang begitu dolce sambil menikmati semak azalea perak di bawah lazuardi yang ranum. Ia duduk dengan lamunan yang begitu jauh, mengingat masa kecilnya di sebuah kota bernama Venray.

Venray adalah sebuah kota kecil di Provinsi Limburg. Di kota itu orang-orang sangat ramah, mungkin karena Venray adalah tempat persinggahan supir-supir truk yang menuju ke Jerman. Tidak seperti di kota ini, yang penuh dengan keheningan. Orang-orang seperti senang mendekam dalam rumahnya. Namun, bagi Efs. keindahan Venray adalah sebuah gereja di alun-alun kota. Kota yang dikelilingi bermacam toko, restoran, dan bar-bar minuman.

“Pada hari Sabtu kalian akan melihat sayur-mayur yang melimpah, daging-daging segar, ikan, susu, mentega dan keju. Juga terdapat beberapa lukisan orang-orang Fransiskan dan kerajinan tangan yang cantik-cantik,” kata Efs. sembari tercenung lamun. Lalu ia membuka kitab suci, membacanya dalam-dalam di hati.

Pelayan itu membiarkannya larut. Kepiluan semakin merambah ke seluruh edaran darah. Getir sekaligus iba. Seandainya Efs. bisa lebih sedikit kuat, petaka itu tidak akan terjadi dan membawanya ke alam itu di mana kutuk kepedihan duka lara menjadi napas bagi penghuninya.

Sejak perang usai beberapa tahun silam, petaka itu datang lalu mempertemukan mereka satu sama lain. Kepergian suami tercinta untuk berjuang di medan perang terlampau merajam hatinya bukan saja karena ia tak rela tetapi juga rindu semakin membatu dan tak pernah ia biarkan kenangan menjadi abu.

Ia tak lagi mengenal waktu, datang ke rumah-rumah suci dan memuja-muji Tuhan dengan segenap jiwa raga. Meyakini bahwa Tuhan ada dan kekuasaannya tak mampu dikalahkan manusia. Maka setiap harinya ia terus menggenggam melati, fuchsia, dan mawar petal yang lembut dengan sekeranjang berry-berry untuk diletakkannya pada rumah-rumah suci. Setiap harinya, tubuh Efs. tercium seperti aroma musik driftwood dengan vanilla orchid. Eksotik yang klasik. Kadang ia semerbak wewangian sari bunga kandang, buah, kayu-kayuan. Kadang ia beraroma amber, pepper, citrus, sandalwood, jahe dan suede. Kadang pula tercium semerbak bergamot dan artemisia ketika senja.

“Rumah keluargaku sangat besar dengan sebuah taman kupu-kupu dan kebun anggrek. Di sana ada beberapa hektare vineyard sebagai terroir anggur terbaik di dunia,” kata Efs. tercenung.

Sementara Granttia sendiri, pelayan itu, hanya semerbak pinus dari tanah hutan yang basah. Aroma dedaunan liar yang menyemak ilalang. Ia menjadi sebatang kara setelah tempat bermukimnya di suatu tepian hutan dilanda petaka tak terduga. Gempa tektonik hebat mengubur ratusan rumah-rumah penduduk, anak-anak, wanita, dan ratusan ternak. Demikian ia yang telah kehilangan jasad-jasad sanak keluarga hingga ia mengenal tentang kemerdekaan di dunia. Manusia hanya budak yang dipermainkan dengan kebahagian dan kesedihan. Tak ada yang lebih sadis dari lecutan-lecutan api yang membakar habis kehidupan. Sesaat semuanya di situ, tetapi selanjutnya hanya tinggal kenangan.

“Kakekku suka sekali mengoleksi guci dari Kota Delft. Ah, porselen-porselen yang cantik itu hilang entah ke mana. Aku tidak ingat di mana kakek dulu menyimpannya.”

Pada ingatan yang tercecer, mengenang, bagaikan ruh yang mencoba menyinggahi masa lalu. Begitulah hari-hari Efs. tertempuh. Malam-malam terasa seperti maut yang selalu membuat Efs. menjerit-jerit takut. Melalui mimpi yang datang dan berulang seperti matahari setelah malam dan bulan setelah siang. Penyiksaan atas sebuah pendosaan.

Airmata Efs. menetes. Teringat peristiwa tertembaknya sang suami dengan membabi buta oleh musuh-musuh dari Negeri Tulip. Berpuluh-puluh peluru bersarang di tubuhnya. Ia menangis mengingat mimpi, seorang pejuang kemerdekaan bersimbah darah dan mengerang kesakitan di satu sudut bangunan yang sudah tak utuh lagi. Bangunan yang, seingatnya, adalah loji pertahanan kolonial dengan petak-petak rumah sakit, permukiman, dan gudang penyimpanan senjata. Efs. semakin dalam mengingat, mayat-mayat penjajah terserak-serak di antara bangunan-bangunan yang roboh, lecutan-lecutan senjata dan dentuman meriam bergaung seantero kota, ingar-bingar orang-orang yang berlari tunggang langgang menderu bersama lecutan-lecutan peluru yang menghempas tubuh mereka. Efs. mengingat, ia menyeret tubuh sekuat tenaga, terseok-seok penuh luka mencari sang suami tercinta.

Efs. menangis dalam ilusi.

“Aku harus sembahyang. Sudah waktunya.”

Ia bergegas menyeka air mata lalu beranjak dari lamunan. Pelayan tua itu tahu betul ke mana Efs. akan pergi.

“Ambilkan kitab suciku. Ingat, jangan kau balik-balik lembarnya. Ada halaman yang kutandai untuk aku lanjutkan baca.”

Pelayan itu mengangguk.

Tiba-tiba semerbak Bulgarian Rose tercium seiring desiran angin yang datang dari ratusan tahun kemudian. Desiran itu adalah bisikan, gemerisik suara yang tengah mengembara mengelilingi dirinya. Terkadang mirip isak yang setiap kali bergaung, meluruh pilu lalu membunuh. Semakin dekat semakin nyata, namun seperti datang dari jarak bermil-mil jauhnya. Suara itu mirip rengek, cekikik tawa, gumam, dan bahkan gesekan ngilu. Inilah bebunyian yang tak pernah Efs. sukai, membuatnya seolah bukan seorang penghuni.

Kadang terselip di antara buku-buku tua yang berbaris di rak-rak, di sebalik gorden beludru ungu bermotif bunga lavender, di gaun renda bermotif burung kenari yang berbalut katun bilah-bilah bambu bersulam emas, di kepingan-kepingan kue Hollangdische Zebras, Pitmopen, dan Havermouth Almond yang lezat, di gelung rambut blonde-nya yang beronce tulip, di dalam lembar-lembar roman gairah Shui Hu Zhuan yang menggelora, di dalam mesin dan jok mobil-mobil Ford yang rongsok, di seloki anggur putih, dan kadang di kaki kursi goyang dekat pemandian burung-burung. Bebunyian itu seperti riak-riak air di bathube spa Efs. Kadang di sebalik kelambu sutranya yang melayang-layang atau pula ada di dalam cangkir teh paginya. Efs. tak bisa merumuskan tempo dan durasi waktu suara-suara itu muncul.

Kadang ketika ia sembahyang, ketika ia tengah mengenakan pakaian, juga di malam-malam buta ketika ia tengah tertidur lelap. Bebunyian itu pun tiba-tiba hilang dalam sekejap, kadang menjauh dengan mengendap-endap, dengan ringkik tawa yang merekit atau dengan bunyi derap kaki yang menapak di sepanjang koridor.

“Tenanglah Nyonya, kita diciptakan hidup berdampingan.”

“God Verdomme! Apa maksud perkataanmu? Kau pikir aku akan membiarkan setan-setan tengik berkeliaran di rumahku?” mata Efs. melotot, tajam menukik mata si pelayan. Granttia yang tidak mampu membantah hanya pasrah dalam pandangan Efs. yang membeberkan kehinaan seorang budak.

Dan seperti biasanya, Efs. akan menggeledah seluruh ruangan untuk menemukan sumber suara itu. Ia yakin sekali kalau suara itu berada di dalam rumahnya dan sengaja berkeliaran untuk mengganggunya. Suara yang kentara terdengar apabila ia sedang berada dalam keheningan. Tapi seperti biasanya pula, Efs. tak mampu menemukan seseorang yang memiliki suara-suara itu di rumahnya. Efs. tak mampu membuktikan bahwa suara-suara itu tidak benar berasal dari ratusan tahun kemudian.

“Setidaknya aku lebih dulu di sini.”

Pelayan itu terdiam. Wajahnya menyendu pilu. Antara prihatin dan hasrat ingin menjelaskan kenyataan yang sebenarnya pada sang majikan. Tapi Efs. tak akan bisa mengerti dan tak pernah mau mengerti bahwa dirinya tidak lagi mampu menyentuh masa depan. Ia tak mampu merasakan waktu berputar, sebab dunianya telah berdiam.

Di tikungan pertigaan sepanjang kanal hingga ke ujung trotoar, kabut fajar menjulur-julur berpendar dengan berkas-berkas cahaya yang menyeruap tiba-tiba. Seketika jua sekelebat kereta bertonggak keemasan datang dari arah pegunungan, yang sepanjang kanalnya terjuntai bunga-bunga sedap malam. Kereta itu berhenti tepat di depan gerbang kediaman Efs. Lalu seorang laki-laki gagah muncul dari dalam kereta, berpakaian prajurit sambil membopong ransel.

“Anggara,” lirih Efs.

Seberkas dingin meluntur ketika Efs. memeluknya. Namun, Anggara bergeming, menghening dengan wajahnya yang lusuh dan sedih. Efs. mengulum bahagia yang luar biasa dalam benak. Rasa syukur yang tak terukur dan haribaan yang tak terkira indahnya menambah kepiluan laki-laki itu. Anggara telah menempuh perjalanan jauh untuk sampai pada Efs., untuk menemukan rumah yang dulu dibangunnya dengan cinta, yang kini baik Efs. maupun rumah hanya tinggal sebentuk fatamorgana.

Waktu sudah begitu kabur bagi Anggara. Ia tidak tahu apa yang membuatnya singgah pada rumah dan Efs. Mungkinkah karena cinta atau rasa bersalah. Terpanggil oleh doa-doa dan rintihan sang istri yang lama ditinggalnya pergi, yang terus mengenang pilu atas jarak yang tak terukur jauh.

“Aku sudah lama tidak ke Schouwburg,” Efs. bernostalgia tapi Anggara menatapnya penuh keanehan dan rasa heran. Ia seperti tidak mengenal sosok istrinya lagi, yang dulu begitu tabah dan tegar dalam kedukaan apa pun. Seorang istri yang benar-benar menghambasahaya pada Tuhan. Seorang istri yang selalu mengingat kematian untuk menyikapi masalah dunia. Seorang istri yang ia kira begitu mencintai Tuhan di atas segalanya.

“Kecintaanku padamu sangat besar melebihi apa pun juga,” kata Efs.

Anggara gagal menahan kepedihan begitu air matanya berhasil mengucur. Ia dapati dirinya hanya sebatas peziarah yang singgah ke tanah asing, pengunjung rumah sakit yang menjenguk seorang teman pasien. Anggara hanya melayat pada sesosok jenazah yang tak bersyarah. Ia benar-benar telah salah.

Ia pun perlahan beranjak dan berkemas diri. Tak bisa lagi menyaksikan sang istri yang menyedihkan itu, yang terjerat rindu…

“Jangan tinggalkan aku, Anggara. Kau tidak pernah tahu bagaimana tersiksanya aku menunggumu. Sampai detik ini aku menunggumu. Inikah balasanmu untuk aku yang tabah merana karenamu?”

Anggara terhenti, bukan karena ia merasa bersalah tetapi karena tahu bahwa Efs. ternyata tidak tahu apa yang sudah dilakukannya pada dirinya sendiri.

“Baiklah. Pergilah dan jangan kembali lagi. Biarkan aku hidup dalam penantian ini. Setidaknya aku tahu kau pernah ingat padaku dan rumah kita.”

Anggara roboh dan bersimpuh menumpahkan air mata. Ia terus menangis sampai kereta yang tadi menghantarnya datang kembali untuk menjemputnya. Tinggallah Efs. sendiri, mengangkat gaun dan mengusung diri ke sebuah kotase taman dekat pemandian burung-burung.

“Ambilkan aku Kitab Suci. Ingat, jangan kau bolak-balik lembarnya. Ada halaman yang sudah aku tandai yang harus kulanjutkan baca.”

Granttia mengangguk patuh.

Belum lama Efs. membaca Kitab Suci-nya, tiba-tiba bangunan berguncang-guncang seperti gempa yang hendak membelah-belah bumi. Terdengar hantaman keras dan suara mesin-mesin bor. Suara yang jauh lebih berisik dan mengganggu dari suara-suara sebelumnya. Suara mesin itu akan merobohkan kediaman Efs.

Efs. bergegas membuka jendela tapi ia tak melihat apa-apa. Tanah semakin keras berguncang. Seisi rumah berantakan dan beberapa benda kesayangan Efs. rusak dan pecah. Efs. kalut. Rasa takut tiba-tiba menggelayut. Ia mengambil senapannya dan berlari keluar, menembaki dengan membabi buta entah apa. Peluru-peluru menjadi selongsong dalam sekejap, namun tak ada yang terkapar. Tak ada yang mengerang sakit terkena peluru. Sampai keheranan itu muncul, Efs. kebingungan dengan suara bising yang terus mengguncang-guncang rumahnya.

“Tenanglah Nyonya. Ini hanya sementara. Semua akan kembali hening seperti semula,” teriak Grant di antara roar-roar gemuruh mesin.

Efs. semakin tak mengerti. Lalu Grant mencoba menggapai tangan Efs. untuk kembali masuk ke rumah, namun angin beliung telanjur menyerang dan menyerak-serakan dedaunan kering, menyibak apa yang selama ini tersembunyi dan tak pernah disadari Efs. Di sudut pekarangan itu, persis di bawah pohon sedap malam yang tengah menguncup, tersingkap nisan tua bertuliskan nama Egnon Frousse dengan angka tahun kematian, 1739.

Sejenak angin mati dan suara mesin bor hilang.

Efs. tertegun luruh. Dahinya terus mengerut sampai ia benar-benar kenali nama yang tertoreh pada nisan itu. Efs. bertanya-tanya mengapa nama itu seperti namanya, mengapa nama itu bisa berada pada nisan itu, dan mengapa ia tidak tahu. Granttia pun mengungkap diri dengan menyibak dedaunan pada sebidang tanah lembab. Terlihat kuburan yang sudah sangat tua dan nyaris tanpa nama pada nisannya. Kuburan yang sudah lebih dulu ada beratus-ratus tahun sebelum Efs. datang dan membangun ulang kediaman itu.

Granttia menunjuk diri pada nisan itu. Ia, yang telah mengenali diri dan hidup dari seonggok kuburan kering di mana selalu menjadi akhir dari apa-apa yang selalu hampir saja terjawab, kuburan yang selalu menutup rahasia bila saja hendak tersingkap.

“Sebab itu manusia tak mampu mengungkap tabir rahasia hidupnya karena ia tak mampu bersitatap dengan kuburannya sendiri. Bersyukurlah pada akhirnya kita tahu bahwa kuburan selalu menjadi lubang tempat segala jawaban mendekam. Dan orang-orang hina seperti kita diberi kesempatan mengetahuinya.”

Efs. meneteskan air mata ketika akhirnya ia mengenali diri dan hidupnya dari nisan itu. Segala yang telah dilakukan dan semua peristiwa yang dialaminya telah ia mengerti seutuhnya, telah ia sadari sepenuhnya. Dan Efs. tambah merana.

“Beginilah Nyonya, tetapi seandainya Nyonya mengerti bahwa kita hidup saling berdampingan, tidak akan ada yang kecewa, tidak akan ada yang berani mengakhiri hidupnya sendiri. Orang-orang seperti kita hanya akan mempertanyakan di mana Tuhan ketika petaka berembus, ketika bencana membeludak. Tapi bagaimana pun kepedihan ini adalah kebenaran. Kebenaran.”

Perlahan Efs. menjelma menjadi pendar-pendar kabut dan lenyap di antara orang-orang fana. Terserak koran tua yang memberitakan bunuh diri seorang janda pejuang kemerdekaan di tiang gantungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *