Pada Suatu Pagi, Usai Hujan Semalam

Dodiek Adyttya Dwiwanto
http://jurnalnasional.com/

Suara ayam berkokok terdengar meski tidak terlalu kencang. Ayam jantan milik Pak Tamam itu sepertinya sudah hapal dengan jadwalnya di pagi hari. Pejantan itu harus berkokok. Ia harus menjadi penanda telah bergantinya malam menjadi pagi. Ah, memang unik juga Pak Tamam. Ia memelihara ayam jago ketimbang ikan, kelinci, kucing, atau anjing.

Suara loper koran yang berteriak sesekali terdengar. Semua berebut rezeki di pagi ini. Loper yang berjalan kaki tidak mau kalah dengan yang menggunakan sepeda atau motor.

Adrian membuka matanya. Hmm, pagi yang tidak cerah. Semalam hujan deras. Ia melirik jam kecil di sebuah meja. Baru pukul 06.30 rupanya.

Dengan segera, Adrian bangkit dari tempat tidur. Ia mengintip dari balik jendela kamarnya. Ia bisa melihat apa saja dari lantai dua ini. Kesibukan tetangga yang ingin berangkat ke kantor, ibu-ibu yang berangkat ke pasar, bocah-bocah yang hendak sekolah. Juga para penjual makanan seperti roti, ketoprak, bubur, atau lontong sayur yang berebutan mencari pelanggan yang hendak sarapan.

Adrian juga bisa melihat sisa-sisa hujan masih terlihat hingga kini. Tetesan air di jendela kamar Adrian yang ada di lantai dua ini. Juga yang ada di dedaunan pohon-pohon. Tanah yang basah meruap, mengeluarkan bau yang berbeda.
Hujan semalam deras sekali, gumam Adrian. Semua yang ia lihat masih basah oleh air. Ada genangan air di mana-mana, di jalan, di genteng rumah, di halaman.

Adrian kadang senang dengan pemandangan kesibukan orang-orang dari atas sini, tetapi tidak jarang ia bosan. Sesuatu yang sepertinya sudah terjadwal. Sesekali ia melihat di kejauhan. Gedung-gedung pencakar langit menjadi hiburannya yang lain.

Ah, membosankan, gumamnya lagi.

Adrian segera mengambil selimut. Mungkin enak kalau tidur lagi, pikirnya. Nanti bangun agak siang, lantas menuju kantor. Malas kalau harus datang pagi-pagi.

Saat mencari posisi terenak untuk tidur, samar-samar Adrian mendengar suara langkah di tangga. Ada orang berjalan, pikir Adrian. Pintu terkuak. Seorang perempuan cantik masuk membawa nampan berisi dua cangkir susu hangat dan beberapa potong roti bakar. Adrian terkesiap.

?Bangun sayang. Waktunya untuk sarapan, bukan tidur!?

Adrian membuka selimutnya. Ia mengecup istrinya, Namira.

Namira meletakkan nampan itu di atas tempat tidur. Ia segera merapikan kamar tidur yang berantakan ini.
Adrian menggigit sepotong roti dan menyeruput susu coklat. Ia memerhatikan Namira yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya. ?Sudah mau berangkat??

Namira mengangguk.

?Kok, tidak bersemangat??

Namira menggeleng. Ia meletakkan beberapa barang milik Adrian di tempatnya. Ponsel, dompet, PDA berserakan di mana-mana. Kadang Adrian suka menaruh kemeja, kaos, atau celana panjang di dekat lemari. Tidak digantung atau dilipat.

?Biasanya setiap pagi kamu bersemangat??

?Bosan.?

Adrian terhenyak.

?Aku bosan dengan pekerjaan kantor. Itu-itu saja!?

Adrian tertawa kecil. Sepotong roti meloncat dari mulutnya. ?Bukankah selama ini kamu selalu mengejar yang tertinggi??

Namira mengangguk. Ia menghentikan kegiatannya membereskan kamar. Ia menatap tajam Adrian.

?What??

?Aku ingin berhenti bekerja.?

Adrian tertawa.

?Ada yang salah??

?Kenapa harus berhenti??

Namira menghela nafas panjang. Ia tidak menjawab. Ia malah melihat pemandangan di luar sana.

?Cerita saja??

Namira menggeleng. ?Lain kali saja. Terlalu banyak yang harus diceritakan.?

Adrian mengangguk. Ia melanjutkan sarapannya. Sepotong roti bakar sudah ia habiskan. Adrian mencomot sepotong roti yang kedua. Ia menjilati coklat dan keju yang meleleh. Sesuatu yang kadang dibenci Namira, apalagi kalau Adrian melakukannya saat makan di restoran.

Namira membiarkan saja perilaku Adrian. Ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Namira juga mematikan pendingin udara dan kemudian membuka jendela.

?Sudah berapa kali aku katakan, berhenti merokok sayang. Tidak baik untuk kesehatan.?

Namira mencibir. Ia asyik mengepulkan asap rokok.

?Kepala batu!?

Namira tertawa. ?Kamu juga!?

?Aku?? tanya Adrian dengan mulut penuh roti bakar.

Namira mengangguk. ?Sudah berapa kali aku bilang kamu harus mengurangi coklat!?

Adrian mau tertawa, tapi ia tahan.

?Kamu tahu kalau Om Titan itu terkena diabetes lantaran terlalu banyak makan coklat!?

?Aku tahu. Kamu tahu juga ?kan kalau Om Handoyo meninggal karena kanker paru-paru? Terlalu banyak merokok kalau tidak salah!? balas Adrian tidak mau kalah.

Namira diam. Ia tidak mau melanjutkan pertengkaran dengan Adrian. Ia ingin menghabiskan sebatang rokok menthol favoritnya. Racun nikotin bisa membuat dirinya lebih rileks.

Adrian juga demikian. Malas untuk berdebat di awal hari. Lebih baik sarapan roti bakar dengan susu coklat.
Sebatang rokok menthol nyaris habis. Namira makin terlihat lebih santai. Ia meminum susu coklat. Ada sisa lipstick di bibir cangkir.

?Sudah lebih nyaman??

Namira mengangguk lantas tersenyum manis.

?Jangan terlalu sering merokok lagi. Jaga kesehatan. Banyak minum air putih. Kurangi juga minum kopinya. Kamu terlalu banyak minum kopi. Pagi, siang, sore. Memangya minum obat! Sesekali olahraga. Kalau tidak sempat melakukannya di rumah, di dekat kantor kamu ?kan ada fitness center. Jangan lupa minum susu. Perempuan paling rentan terkena osteoporosis. Banyak makan sayuran juga. Setiap makan siang, jangan lupa pesan salad!?
Namira tertawa mendengar nasihat panjang suaminya.

?Jangan tertawa. Ini untuk kebaikan kamu juga. Kebaikan kita semua!? tutur Adrian panjang lebar.

?Sudah selesai nasihatnya, Tuan Paduka Raja?? goda Namira.

?Belum.?

Namira bertanya-tanya dalam hati.

Adrian tertawa lebar. Ia berhasil membuat istrinya kebingungan.

?Ya, sudah aku pamit ya?? ujar Namira seraya memeluk dan mencium pipi suaminya.

Adrian membalas mencium pipi Namira.

?Habiskan saja roti bakarnya. Susu coklatnya kalau kurang, buat saja lagi. Biar suamiku tidak terkena osteoporosis.?

Adrian merengut. Ia sebal lantaran istrinya terbilang sulit untuk diajak hidup sehat.

?Nanti, aku telepon kalau sampai di kantor. Selamat tidur kembali. By the way, kamu tidak ada jadwal di studio??

Adrian menggeleng. ?Nanti siang, cari lokasi untuk syuting iklan.?

Namira pamit dan menutup pintu.

Adrian kembali ke alam mimpi. Entah sudah berapa lama ia tertidur, Adrian tidak teringat. Hanya saja ia terbangun lantaran suara ayam berkokok dengan keras.

Lho, itu suara ayam Pak Tamam? Kenapa berkokok lagi? Pagi sudah lewat? pikir Adrian yang masih setengah sadar.
Ayam Pak Tamam berkokok lagi. Adrian langsung merutuk. Ayam gila! Dasar binatang! Adrian ingin melanjutkan tidurnya lagi, namun sebuah suara mengagetkannya. Suara loper koran! Adrian membuka mata. Ia melirik ke arah jam.
Ia terperanjat. Sekarang pukul 06.30?

Adrian segera bangun. Ia mendapati sisa-sisa hujan di jendela. Hmm, rupanya tadi malam hujan ya? Ia melihat dari kamarnya yang berada di lantai dua. Dari balik jendela, ia mengintip.
Air masih tersisa di dedaunan pohon-pohon, genteng, jalanan, halaman dan semuanya. Tanah meruapkan bau yang berbeda. Tanah yang baru saja terkena hujan.
Beberapa loper lewat di depan. Ada yang berjalan, ada juga yang menggunakan sepeda atau motor. Adrian melirik jam.
Bukankah ia tadi sudah bangun tidur lantas kembali bobo lagi? Adrian mencoba mengingat lagi. Tapi, ia tidak bisa.
Pikirannya terlalu kacau. Ia kembali duduk di ranjang seraya mencoba berpikir lebih dalam lagi.
Ada suara di tangga. Orang melangkah naik. Adrian menebak-nebak siapa gerangan yang datang. Pintu terkuak. Dua gadis cantik berdiri di depan pintu. Adrian tersenyum ke arah mereka.

?Ayah, kok baru bangun sih??

?Iya! Katanya, mau mengantar kita!?

?Lho, bukannya bunda yang akan mengantarnya kalian ke sekolah??

Dua gadis cantik, putri kembar Adrian, Gina dan Gita, langsung terdiam. Keduanya saling berpandangan. Keduanya langsung memeluk Adrian.

Adrian bingung dengan perilaku putri kembarnya yang berusia sembilan tahun itu.

?Ayah lupa ya? Bunda sudah nggak ada!? ujar Gina mengingatkan.

Gita mengangguk-angguk.

Adrian terkesiap. Ia lupa kalau Namira sudah lama berpulang kembali ke sang pencipta. Adrian benar-benar lupa.
Putri kembarnya masih terus memeluk Adrian.

Adrian melihat foto istrinya yang terpasang di seberang ranjang. Ia lupa kalau Namira sudah meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan telah merenggut nyawa istrinya pada suatu pagi usai hujan malam sebelumnya. Adrian mulai bisa mengingatnya sepotong-sepotong. Ia ingat kalau beberapa jam sebelum peristiwa terkutuk itu terjadi, Namira terlihat gelisah, gundah, dan senewen. Namira merokok lantas minum susu coklat dan bergegas pergi. Saat Adrian mau berangkat mencari lokasi syuting iklan, ia mendengar kabar mengerikan itu dari polisi yang menghubunginya.

?Ayah lupa kalau bunda sudah nggak ada?? tanya Gita lagi.

Gina menatap dengan nanar.

Adrian menggeleng. Ia malu kalau putri kembarnya justru lebih tegar saat kehilangan ibu mereka. Ia sendiri terkadang lupa dan menganggap Namira masih ada di sekitar mereka.

Gina dan Gita terus memeluk Adrian dengan erat.

?Kalian turun saja dulu. Ayah mau mandi terus mengantar kalian. Tunggu lima belas menit ya??

Keduanya mengangguk dan bergantian mencium pipi Adrian. Setelah itu, mereka bergegas turun.

Adrian duduk terpaku di tepi ranjang. Astaga, rasanya baru tadi pagi ia masih bicara dengan Namira, tapi ternyata peristiwa itu sudah dua tahun berlalu. Ia menyesal tidak memaksa Namira bicara saat itu juga. Adrian tidak tahu masalah apa yang menimpa Namira di kantor. Saat terjadi kecelakaan, saksi mata mengatakan mobil yang dikemudikan Namira terlalu kencang, apalagi saat itu jalan licin usai hujan malam sebelumnya. Ah, Namira memang begitu kalau sedang ada masalah. Rokok, kopi, dan menyetir ala pembalap menjadi solusinya. Kenapa ia tidak memaksa Namira bicara? Siapa tahu Namira mau bercerita saat itu juga, mungkin kejadian laknat di jalan tol itu tidak terjadi.
Adrian masih duduk termangu. Angin dari luar menyadarkannya. Ia melirik jendela yang terbuka. Adrian bangkit dan menutup jendela.

Ia terperanjat saat melihat ada gelas dan asbak di dekat jendela. Adrian mengambilnya. Sebuah cangkir berisi susu coklat yang tinggal setengah isinya. Masih hangat. Ada sisa lipstick di bibir gelas. Adrian juga menemukan sisa satu batang rokok menthol dengan sisa lipstick di ujungnya.

Adrian kembali termenung. Ia kembali teringat dengan Namira di suatu pagi, dua tahun yang lalu, saat itu hujan turun dengan deras malamnya.

Bukit Duri, Jakarta Selatan, 2 ? 29 Januari 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *