Patriot Sastra dan Nilai Estetika

Binhad Nurrohmat
http://www.pikiran-rakyat.com/

Para pemburu pesan kadang pula cenderung alergi tema tertentu, seksualitas misalnya, lantaran tema ini dianggap kotor, tak senonoh, atau berselera rendah.

KARYA kesusastraan memang telah sejak lama dipandang sebagai tradisi kesenian luhur yang gigih menyuarakan ambruknya martabat kemanusiaan, memijarkan cahaya agung pencerahan di tengah kebangkrutan moral masyarakat, dan membela rakyat yang tertindas kezaliman, sehingga lantaran kuatnya pandangan ini, karya kesusastraan kerap terlupakan hakikatnya: nilai estetika, yaitu capaian pengucapan atau ekspresi bahasanya dan perspektifnya memandang kenyataan dunia.

Salah seorang tokoh awal kesusastraan modern Indonesia terkemuka Sutan Takdir Alisyahbana hingga akhir hayatnya teguh kukuh menggelorakan gerakan kesusastraan yang berjuang dan bertanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat. Paham kesenian untuk kesenian dianggap apatisme artistik yang memunggungi keluhuran, pesimistis, dan dekaden. Bahkan, realisme sosial terang-terangan mempersembahkan karya kesusastraan demi mendukung agenda politik kekuasaan yang mengabdi kepada rakyat. Maka, muncullah slogan terkenal di masa Demokrasi Terpimpin Orde Lama, “politik adalah panglima”.

H.B. Jassin di pagina terawal buku yang disusunnya Angkatan 66 menulis semacam kredo pendek, “Sastra Demi Keadilan dan Kebenaran”. Di buku ini pula kritikus legendaris ini mendefinisikan sastrawan angkatan 66 sebagai pendobrak “kebobrokan yang disebabkan oleh penyelewengan negara besar-besaran, penyelewengan yang membawa negara ke jurang kehancuran total”. Karya-karya sastra yang dipilih dalam buku ini kerap keras menyuarakan patriotisme, bahkan ditulis oleh sastrawan yang kemudian hari “meredakan pena” dari gelora kesusastraan patriotis dan “kontekstual”.

Dalam buku itu termuat sajak Sapardi Djoko Damono “Doa di Tengah-tengah Massa”: “Wahai, lindungilah kami dari kemusnahan yang sia-sia./berjuta rakyat-MU yang sedang gemuruh bergerak,/dalam teriakan-teriakan, dengan tangan-tangan terkepal,/di bawah matahari yang leleh; ya, lindungilah kami,/dari dusta dan tipudaya,/dari hasutan-hasutan bergula (dan seterusnya), sajak Subagio Sastrowardoyo “Peluru Pertama”: ?Tak ada lagi waktu buat cinta/dan bersenang. Kita simpan kesenian dan/budaya di hari tua. Kita mengangkat senjata/selagi muda/dan mati atau menang, dan sajak Slamet Soekirnanto “Catatan Harian Seorang Demonstran”: “Jaket kuning berlumur darah/Dengan sedih kutatap kawan-kawan rebah/Di bumi, di terik matahari kota Jakarta/O kita tahu apa arti ini semua.

Para patriot sastra kadang terlampau besar luapan hasratnya membangun karya kesusastraannya yang didominasi gebalau kesadaran solidaritas tertentu dan kerap membuat estetika terbengkalai. Kondisi sosial atau pilihan ideologi politik tertentu kerap membuat sastrawan terlampau menggebu “membebani” karya kesusastraannya dengan misi yang kadang terlampau telanjang dan dipaksakan sembari melalaikan nilai estetika.

Sitor Situmorang di era Soekarno menulis kumpulan puisi Zaman Baru yang sarat dengan pandangan ideologisnya sepulang dari lawatannya ke negeri sosialis Republik Rakyat Tiongkok. Corak puisi Sitor dalam kumpulan ini sangat berbeda dengan puisinya yang sebelumnya dalam kumpulan Surat Kertas Hijau dan Dinding Waktu. Juga Acep Zamzam Noor dalam buku kumpulan Dongeng Negeri Sembako yang memotret karut-marut sosial-politik menjelang dan sesudah keruntuhan rezim Soeharto dengan gaya parodi-sloganistik. Dalam kumpulan ini, Acep menanggalkan estetika liriknya yang terkenal kental kesadaran imajis, metaforis, dan simbolisnya. Dan Rendra adalah sosok terdepan dalam kesusastraan Indonesia sebagai patriot sastra melalui pamflet-pamfletnya di masa rezim Orde Baru masih berkuasa.

Kaum estetikus banyak merasa terganggu dengan pamflet-pamflet Rendra dalam kumpulan Potret Pembangunan Dalam Puisi yang menerabas kaidah puitika secara blak-blakan dan meninggalkan estetika lirik puisinya dalam Sajak-sajak Sepatu Tua dan Empat Kumpulan Sajak. Dan, Sapardi Djoko Damono pun terasa menurun kekuatan puitikanya ketika menulis sajak bertendensi sosial misalnya kumpulan Ayat-ayat Api dan Arloji yang tak sekuat sajak-sajak personalnya misalnya dalam kumpulan Mata Pisau dan Perahu Kertas.

Kenapa karya kesusastraan patriotis cenderung abai estetika? Kenapa sastra patriotis cenderung hadir dalam corak sloganistik? Kenapa masalah sosial cenderung tak hadir sebagaimana masalah personal yang terungkapkan dengan kesadaran nilai estetika yang terjaga dan penuh kelembutan ekspresi, tanpa teriakan, tudingan, atau pekikan bergelora?

Tradisi lirik yang begitu kukuh dalam perpuisian Indonesia tampaknya kadung cenderung bersifat personal, serupa solilikui atau gumam seorang diri. Tradisi ini dikembangkan oleh semangat pencerahan yang ingin mengucapkan suara sang “aku” dan bukan suara “mereka”. Dalam perpuisian Indonesia, suara “mereka” kerap hadir dengan kadar estetika yang lebih mengesankan dalam corak balada atau epik misalnya puisi Chairil Anwar (“Diponegoro”), Rendra (“Gerilya”), Goenawan Mohamad (“Misalkan Kita di Sarajevo”), Taufiq Ismail (“Karangan Bunga”), Sutardji Calzoum Bachri (“Tanah Air Mata”), Afrizal Malna (“Asia Membaca”), dan Joko Pinurbo (“Pembredelan Senja”).

Atau jangan-jangan, suasana psikologi sosial-politik ketika perpuisian modern Indonesia bertumbuh yang tertekan oleh pembatasan dan pelarangan menyuarakan kenyataan sosial telah mengerdilkan dan membungkam pengucapan sosial perpuisian modern Indonesia. Kesusastraan modern Indonesia mulai berkembang di masa penjajahan Hindia Belanda di awal abad 20 dengan Balai Pustaka yang di bawah kontrol ketat pemerintah kolonial. Kemudian di masa kemerdekaan para penguasa di era Orde Lama dan Orde Baru cenderung membatasi dan bahkan memberangus kebebasan menyuarakan kenyataan sosial yang riil sehingga kondisi ini melahirkan kecenderungan kesusastraan yang membisu terhadap kenyataan sosial.

Bagi kaum cultural studies (kajian budaya), karya-karya kesusastraan patriotis menjadi menarik lantaran informasi sejarah atau kebudayaan yang tersemat di dalamnya. Muatan karya sastra bagi kaum cultural studies dilihat sebagai cermin suatu kenyataan masyarakat atau kondisi tertentu yang kadang lebih berbicara ketimbang risalah sosial atau lembaran catatan kaum sejarawan. Roman-roman Pramoedya Ananta Toer dan pamflet-pamflet Rendra misalnya. Karya-karya mereka ini dinilai memuat atau memotret kenyataan lahir dan batin kenyataan sosial di suatu masa ketika teks-teks yang lain tak cukup nyali mewartakannya.

Namun, bagi kaum estetikus, nilai karya kesusastraan tak semata dibangun oleh muatannya, tapi oleh nilai estetikanya. Kesusastraan merupakan seni berekspresi melalui bahasa. Sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah, “Derai-derai Cemara” Chairil Anwar, “Di Beranda Ini Angin tak Kedengaran Lagi” Goenawan Mohamad, kumpulan sajak “DukaMu Abadi” Sapardi Djoko Damono, sajak-sajak mantra Sutardji, maupun sajak-sajak hiperealis Afrizal Malna bernilai bukan lantaran unsur muatannya, melainkan capaian nilai estetika yang ditawarkannya. Visi kebahasaan merupakan pijakan penilaian kaum estetikus terhadap karya kesusastraan, meski demikian bukannya mereka tak peduli terhadap muatan, makna, dan perspektif yang ada di dalam karya.

Tampaknya mengada-ada berupaya menemukan muatan patriotis dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri “Belajar Membaca”: “Lukakakikulukakakikaukah” (dan seterusnya) maupun sajak “Sepi”: “sepisaupsepisaupisepisapakanyasepikulsepi”dan seterusnya itu. Demikian juga dalam sajak-sajak Afrizal Malna yang membincang dunia antarberantah dan dengan logika puisi yang tak konvensional itu misalnya sajak “Antropologi Kaleng Coca Cola” atau “100 Tahun dari Ibu Kathi”. Dan, mutu puisi bukan ditentukan oleh unsur kepatriotannya.

Bagi kaum estetikus, puisi memiliki hakikat yang tak sama dengan risalah sejarah atau sosiologi, meski tak jarang puisi bisa turut pula menyelenggarakan ini dalam laku estetikanya. Tapi jasa puisi yang paling mendasar dalam khazanah seni adalah kadar puitikanya, nilai estetika dalam ekspresi bahasanya. Namun demikian, makna atau perspektif dunia yang dikandung oleh puisi tak bisa dihindari begitu saja. Menulis puisi tentang tuhan tak bisa mengabaikan capaian sajak “Padamu Jua” Amir Hamzah atau sajak “Doa” Chairil Anwar, bukan hanya perkara capaian pengucapan bahasanya, melainkan juga jangkauan imajinasi dan jamahan perspektifnya tentang Tuhan yang mencengangkan itu.

Kaum “pemburu pesan” kerap menuntut karya kesusastraan serupa risalah sejarah, traktat sosiologi, atau petuah religius dan mereka sering kehilangan apresiasi terhadap nilai estetika karya kesusastraan. Hakikat puisi bukan pengusung pesan seperti selembar dekrit presiden atau naskah khotbah keagamaaan. Marwah puisi ditegakkan oleh kemampuannya menawarkan atau mengembangkan pengucapan sehingga membuat bahasa dan cara memandang dunia menjadi lebih kaya atau setidaknya tak semakin termiskinkan. Melalui daya bahasa kemungkinan-kemungkinan meraih makna bisa dijangkau lebih jauh lagi.

Para pemburu pesan kadang pula cenderung alergi tema tertentu, seksualitas misalnya, lantaran tema ini dianggap kotor, tak senonoh, atau berselera rendah. Diskriminasi tematik ini sebenarnya merupakan ironi bagi penjelajah bahasa dan makna yang mestinya penuh keterbukaan dan kegairahan menggali kemungkinan-kemungkinan bahasa dan makna dari kenyataan-kenyataan dunia.

Sementara kaum estetikus, “pemburu puitika” itu, kerap fanatik terhadap faktor bahasa sehingga menjadikan puisi kadang terjatuh sebagai permainan bahasa yang artifisial belaka, misalnya permainan bunyi atau musikalitas yang berlebih-lebihan, dan tak mampu merambah kemungkinan-kemungkinan atau menggapai makna yang lebih jauh. Padahal bahasa di dalam puisi bukanlah semata bunyi (sound) melainkan juga suara (voice).

Lebih repotnya lagi, para penyair kerap tak mampu keluar dari kerangkeng pengucapan, diksi, idiom yang sudah usang sehingga mereka melulu berputar-putar atau mengulangi dengan kadar mutu yang lebih rendah ketimbang para pendahulunya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *