Pembebasan Terhadap Kaum Tertindas

Judul Buku : Dari Teologi Menuju Aksi Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xv + 303 halaman
Harga : Rp 35.000,-
Peresensi : M. Misbahuddin*)
http://oase.kompas.com/

Dalam penciptaan dunia ini, Tuhan sebagai Sang Pencipta menciptakan semua makhluk-Nya dengan posisi lemah di hadapan- Nya. Tidak ada makhluk (ciptaan) baik itu makhluk hidup ataupun mati yang lebih kuat dan kuasa di hadapan Tuhan, tidak ada yang setara dengan- Nya. Meski demikian, para makhluk yang lemah itu mempunyai karakter dan sifat yang berbeda- beda.. Ada sebagian yang lemah dan tertindas karena sebagian yang lain yang lebih kuat dan merasa berkuasa. Makhluk yang termasuk dalam golongan lemah pun menjadi kelompok tertindas oleh golongan makhluk yang merasa ? ok?kuat dan berkuasa itu.

Abad Badruzaman dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan menguraikan tentang kesenjangan kaum lemah yang tertindas oleh golongan yang berkuasa. Ada pemerasan dan penguasaan terhadap hak-hak kaum lemah dengan sewenang-wenang. Tak dapat dipungkiri, hal itu terjadi di mana-mana, di berbagai daerah dan negara.

Sebenarnya, golongan yang termasuk kelompok tertindas adalah golongan lemah terhadap yang lain. Seperti kaum perempuan yang tertindas oleh ? orma-norma?diskriminasi terhadap kaum perempuan, masyarakat yang tingkat sosialnya rendah terhadap masyarakat elit, golongan rakyat jelata terhadap kaum istana (penguasa/pemerintah), dan lain sebagaianya..

Adanya istilah kelompok yang lemah itu karena antonim dari yang kuat. Dalam keadaan yang sebenarnya (realita), tidak akan mungkin ada kaum lemah yang tertindas jika tidak ada kaum kuat yang menindas. Secara umum, pasti ada kaum lemah dan kuat. Akan tetapi, penindasan itu bukanlah sesuatu yang wajar. Penindasan adalah hal yang tidak dibenarkan karena akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kehidupan baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun agama. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi kaum yang terbelakang dan menderita, sementara kaum kuat yang&nbs p;menindas akan menikmati kesejahteraan hidup.

Telah banyak contoh dari kaum tertindas yang sampai sekarang belum merasakan manisnya pembebasan dan kebebasan dalam hidupnya. Sementara kehidupannya terkekang dan terkendali oleh kontrol kaum penindas. Tidak lain adalah mereka yang menderita dan sengsara oleh otoritas penindas yang menguasainya. Padahal, mereka yang lemah dan tertindas itu mempunyai hak untuk hidup yang layak dan merdeka.

Mereka yang Tertindas

Perempuan merupakan salah satu kelompok dari kaum tertindas. Dalam ranah sosialnya, keberadaan perempuan dianggap di bawah laki-laki. Terkait dengan hal itu, sejarah kelam perempuan pun melahirkan diskriminasi terhadap kaum hawa tersebut. Parahnya lagi, otoritas kekuasaan juga melegitimasi akan diskriminasi perempuan. Padahal, tidak layak jika perempuan itu hanya berada di dapur, sumur, dan kasur. Mereka mempunyai potensi yang baik sebagaimana laki-laki untuk bisa berbuat banyak. Tak ayal, para pejuang perempuan yang tergabung dalam gerakan feminisme menuntut hak penuh terhadap hak-hak perempuan. Hal itu wajar saja karena perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja dalam format yang berbeda.

Kemudian, yang termasuk dari golongan tertindas lainnya adalah masyarakat dengan status ekonomi rendah. Mereka adalah orang-orang miskin yang mana setiap pembagian BLT, mereka selalu berjubel dan mengantri untuk mengambilnya. Tidak hanya demikian, adakalanya mereka menjadi budak dari orang-orang kaya, seperti buruh, pembantu, karyawan yang tidak mendapatkan hak (honor/gaji) yang sesuai.

Bukan saja mereka miskin itu karena mereka malas, enggan untuk bekerja. Bisa saja kesejahteraan hidup mereka diambil secara terselubung oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Sebagai contoh konkret adalah para koruptor yang menguras habis harta kekayaan negara, sementara kekayaan negara tersebut adalah hak dan milik rakyat seluruhnya. Begitu juga dengan hasil penambangan bumi Indonesia yang dimonopoli oleh pihak-pihak tertentu, serta illegal logging yang merusak keseimbangan alam (hutan). Bukankah begitu?

Sebenarnya, porsi penderitaan yang paling banyak karena penindasan itu dirasakan oleh rakyat jelata. Mereka dibodohi dan ditipu secara halus, seolah mereka dihipnotis karena ketidaksadaran mereka ketika mereka ditindas. Rakyat jelata harus membayar pajak, sementara pajak tersebut dicuri oleh bandit berdasi (koruptor). Sedangkan pemerintah juga seringkali membebankan banyak beban kepada rakyat dengan dalih menjaga stabilitas perekonomian negara. Padahal, rakyat jelata tersebut harus berjibaku untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, nyatalah penindasan-penindaan tersebut diperlukan aksi pembebasan.

Orang-orang beragama, setidaknya memahami teks-teks dari kitab suci mereka untuk mengambil tindakan pembebasan, karena kitab-kitab suci tersebut merupakan pedoman hidup, dan di dalamnya tidak terdapat ajaran-ajaran untuk menindas. Dengan demikian, agama (teologi) menjadi landasan untuk mendasari aksi pembebasan.

Melalui buku yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan, penulis mengajak para pembacanya untuk menjadi jiwa-jiwa pembebas penindasan. Dengan tulisannya yang serius namun mengalir, nampaknya penulis ingin menggugah kesadaran pembacanya untuk ikut andil dalam membebaskan kaum lemah yang tertindas. Ya, kini kaum tertindas semakin banyak, sementara pembebas penindasan semakin tak terdengan suaranya. Yang dikhawatirkan adalah hilangnya jiwa pembebas sementara kaum tertindas menjadi kelompok yang terus bertambah.

*) Peresensi adalah Pustakawan yang Aktif pada Cholishiyyah Community, Yogyakarta.
Alamat: Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *