Peminum Minyak

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Suatu tanggal di Juli 2005, sebelum bedug magrib ditabuh.

Mobil-mobil berderet-deret sejauh ratusan meter di tepi jalan pinggiran kota. Truk, pick up, sedan. Memang tidak terlihat mobil-mobil mulus keluaran mutakhir. Urutan paling depan berada di pintu masuk pom BBM yang telah tutup menjelang adzan Azar. Kira-kira puluhan. Mereka terkapar seperti gelandangan yatim-piatu yang tengah kelelahan sekaligus kelaparan, atau musafir yang diperdaya kemarau dan kelangkaan air. Ketika mesin dihidupkan, suara rintih atau lengking luka terasa menyayat liang telinga.

Sejak bulan kemarin, mereka sering berada di situ. Penduduk di wilayah sekitar pom BBM tidak tahu-menahu soal kepemilikan serta asal-muasal mobil-mobil tersebut. Memang identitas mereka pada plat hitam persegi panjang menunjukkan bahwa kebanyakan mereka bukan pendatang dari seberang. Tetapi jarang sekali terlihat mobil berplat merah apalagi berangka minimalis. Penduduk hanya bisa melihat dan menebak: antri BBM. Dan, sepenglihatan penduduk, antrian semacam itu pun terjadi di pom BBM di tempat lain, terlebih akhir-akhir ini terdengar teriakan pemerintah lokal bahwa pom BBM mendapat jatah tidak lagi sebanyak dulu (lucunya, ribuan kendaraan bermotor terbaru diperbolehkan datang dengan alasan kebutuhan masyarakat).

Bedug ditabuh di surau tak jauh dari situ. Sedang senja tidak pernah bisa tampil gemilang. Pepohonan, tubuh-tubuh jangkung penginapan walet, rumah penduduk, dan perbukitan kecil telah menutup layar ufuk barat. Di seberang jalan, teras sebuah rumah tua tak bertuan dikuasai oleh beberapa pria. Itulah para sopir mobil-mobil yang terkapar tadi. Beberapa diantaranya tengah asyik bermain kartu di atas koran usang bergambar gadis-gadis manis-mulus berbusana serba minimalis. Asap rokok mengepul di bawah permukaan plafon triplek yang terkoyak. Beberapa lainnya menenggelamkan diri dalam telaga mimpi.

Tak jauh dari mereka warung-warung tenda berukuran kecil mulai menjalankan tugas. Lampu petromak dan lampu dari pemasangan kabel atas ijin (hasil pertemuan antara uang dan kebijakan) dari salah seorang pemilik rumah di dekatnya pun telah menyala. Sedangkan badan jalan (yang kian ciut lantaran termakan mobil-mobil tak bertuan) dilalui oleh motor-motor yang dikendarai anak-anak muda dengan kecepatan tercepat. Motor-motor keluaran terbaru dipacu untuk menguji kecepatan sekaligus menguji nyali demi sebuah pengakuan diri pengendara terhadap persaingan tak resmi di jalan. Rupanya motor jenis 2 tak masih mendominasi perhitungan angka tercepat.

Suatu tanggal di bulan Juli 2005, setelah sinar fajar berwarna kekuningan
Mobil-mobil berderet dalam dua barisan. Mereka merintih di muka moncong pom BBM seperti para tamu di luar ruang yang telah berjam-jam tidak diberi penganan di sebuah kenduri. Ada yang menggerutu, ada yang berteriak dengan suara mesin yang garang atau klakson yang lantang.

Di lain pihak, mereka harus bersaing dengan barisan jerigen saat selepas fajar berubah sangar. Beratus-ratus derigen dalam posisi bertumpuk sudah mengelilingi tempat pengisian. Semula tampak tak bertuan. Tapi itu barang titipan. Entah m,ilik siapa. Bahkan tidak sedikit ibu-ibu menjadi pemiliknya. Untuk dijual lagi, kata mereka. Memang demikian. Semenjak industri berupa penambangan rakyat marak, kebutuhan BBM khususnya solar pun menanjak. Waktu untuk antri terimbas. Harga berubah angka. Pejabat dan birokrat terkait seakan lepas tangan. Aparat tak kuasa mencegah mereka karena persoalan kampung tengah alias perut bukan persoalan sepele. Keinginan untuk kaya juga boleh dimiliki oleh rakyat. Maka makin hangar-bingarlah suasana.

Tak pelak udara pagi diberangus oleh asap-asap dan suara-suara. Burung-burung liar pun enggan bernyanyi bersahutan lagi di sekelilingnya karena kicauannya selalu dibungkam oleh suara mesin dan klakson. Belum ditambah suara orang-orang yang bertikai gara-gara berebut kesempatan awal, tempat di depan, dan jatah untuk demi perut besi, perut plastik atau juga perut-perut lainnya. Badan jalan dilahap dua pertiganya. Kemacetan bukan lagi milik kota Metropolitan.

Sementara pada deretan setengah ke belakang, mobil-mobil masih terkapar. Mungkin sudah kehabisan energi untuk bisa sekadar merangkak. Barangkali urutan paling belakang tiba terlambat. Beberapa laki-laki bertampang angker sibuk mengatur pembagian jatah perut besi dan perut plastik. Aparat keamanan entah di mana. Kalau pun suatu waktu ada razia, informasi selalu bocor sebelum hari H-nya. Mobil-mobil tidak akan antri di situ, tapi di tempat lain, yang berada di luar target operasi. Tinggal laporan ?sudah dijalankan, Pak!? di kantor aparat. Sedangkan pengantrian masih berlangsung di tempat lain.

Seorang anak hilir-mudik menjajakan koran, dari koran nasional berkelas sampai koran lokal yang memelas. Beberapa sopir membeli. Sebuah berita dibaca bahwa ada uang lima trilyun lebih. Tapi sayang, bukan disalurkan untuk BBM, melainkan untuk menambah minyak di lipatan-lipatan badan para pejabat. Dan wakil rakyat malah minta tunjangan dua kali lipat. Tak ayal bikin berang para sopir. Sumpah serapah, umpatan, caci-maki dan kutukan di mangsa asap knalpot. Tidak sampai menjadi huruf-huruf di media massa. Juga lubang telinga telanjur penuh tertutup lemak berminyak.

Suatu tanggal di bulan Juli 2005, setelah senja ditelan bumi
Mobil-mobil mulus keluaran mutakhir terlelap di pelataran parkir sebuah hotel berbintang di sebuah kawasan wisata. Sebagian berplat merah, dan sebagian lainnya berplat hitam. Sudah beberapa pergantian matahari mereka berada di sana. Tak jarang datang lagi mobil-mobil mengkilat berplat hitam. Sebentar, lantas menghilang ke mana-mana.

Para pemiliknya, yang saat pagi berseragam safari dan berjas trendi, sedang berkumpul di tepi kolam renang. Bapak-bapak itu asyik berbagi hidangan tender dan proyek hingga berpatgulipat yang berujung pada pembengkakan perut sekaligus rekening. Bisa ditambah dengan imbalan berupa mobil baru sebagaimana jatah atas ijin dan segala macam kebijakan mutualisme kendatipun di rumah masing-masing anggota keluarga telah disediakan mobil masing-masing. Juga jatah puluhan liter untuk keluarga pejabat birokrasi agar bisnis bisa tampil manis.

Tak juga ketinggalan gadis-gadis muda nan molek berpakaian bikini senantiasa menemani bahkan siap-sedia dibawa ke mana dan kapan saja asalkan mendapat penghargaan dalam angka-angka kesepakatan. Gadis-gadis itu menganggap pemberian-pemberian sebagai rezeki dari Tuhan.

Beberapa HP berbunyi. Sering berdering. Ada suara yang menanyakan ini-itu, meminta ini-itu. Barangkali dari keluarga. Barangkali ada agenda bertamasya dengan kendaraan pribadi. Barangkali juga dari para kolega yang tanpa malu-malu mengkhianati profesi menjadi penjilat profesional atau malah peminta-minta. Ada yang minta perlindungan atas ekspor BBM ke negara tetangga, itu mudah diatur. Dokumen pun gampang diatur.

Bapak-bapak menjamin? Ha ha ha ha? jangan khawatir. Serahkan saja. Asalkan?
Ada juga yang meminta jaminan keamanan untuk pemasokan BBM secara tak resmi karena urusan prosedur lebih sering menjadi sarana pemerasan struktural. Bagi-bagi jatah sekian persen dan bonus ratusan liter. Penelpon di ujung sana menyanggupi, asalkan?

Ha ha ha ha! Bapak-bapak itu terbahak-bahak lalu mengatakan, biarlah peraturan ditimpakan pada rakyat saja sebagaimana takdir rakyat semata-mata pelengkap penderita. Rakyat harus dipersusah bahkan disengsarakan berdasarkan resiko atas statusnya, tetapi bapak-bapak tidak patut menanggung susah sebab ongkos untuk bisa duduk di posisi penting bukanlah bermodal dengkul saja. Soal temuan angka saldo lima trilyun koma empat, terlalu mudah untuk dimanipulasi. Bila perlu, seret saja pemilik media itu ke penjara gara-gara memuat angka-angka tersebut. Bikin alasan: angka-angka fiktif sekaligus mencemarkan nama baik dengan fitnah dari data siluman. Kebenaran milik penguasa. Bukan milik media massa. Titik!

Termasuk urusan mendatangkan kendaraan bermotor. Gampang. Saban bulan datangkan saja ribuan unit. Tak usah pening-pening sampai kepala ikut miring. Yang penting, nomor rekening birokrat telah disimpan dalam saku pengusaha. Wakil-wakil rakyat pun menginginkannya, supaya dapat terus hidup meski sudah pensiun bahkan menjadi penghuni keabadian. Tidak usah munafik, sebagian besar orang selalu senang dan bangga dengan kekayaan duniawinya. Bila perlu, tambah lagi koleksi mobil mewahnya. Beres!

Apa? Jatah BBM untuk daerah kita tidak lagi sebanding dengan jumlah perut-perut besi yang kian menjubeli dealer-dealer dadakan dan jalan-jalan? Walah, macam orang pintar saja, main hitung-hitungan. Mana bisa rakyat berhitung. Otak rakyat hanya berisi hal-hal pragmatis. Bukan hitung-hitungan serba ruwet. Dak kawah nyusah.

Oh iya, jangan lupa bagi-bagi minyak pada LSM-LSM oportunis. Isi mulut mereka dengan minyak atau duit dengan MOU. Biarkan mereka bebas berdomentrasi karena semua aksi sebenarnya basa-basi belaka. Masih ada dana untuk LSM-LSM oportunis itu, kan? O tentu, tentu! ?Kita ini pemain yang fair, bukan melulu mencari kenyang sendiri!? ucap seorang pejabat melalui HP-nya. Sekian persen saja dari isi kantong untuk LSM, urusan jadi beres. Atau mereka butuh mobil untuk operasional, beri saja. Mau yang mewah, atas kelas standar. Tinggal hubungi salah satu pengusaha. Ditanggung beres! Selagi hidup di negeri munafik ini, cerdik-cerdiklah memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian.

Di angkasa rembulan menjemur mobil-mobil yang senantiasa terlelap karena perut penuh isi. Para sopir mendapat kesempatan berkumpul sembari menikmati sajian serba mewah. Makanan dan minuman kelas diamond. Rokok beraneka merek pun berslop-slop. Tidak ada wajah-wajah muram. Kesejahteraan akan selalu terjamin sepanjang pengabdian masih dibutuhkan. Juga beberapa perempuan penunda sepi, berdandan melebihi penampilan selebritis sejagat. Sajian khusus untuk para sopir.

Suatu tanggal di bulan Juli 2005, saat matahari tengah naik birahi
Mobil-mobil beraneka bentuk, tampilan, dan berplat pelangi memadati pelataran parkir sebuah kantor pemerintahan. Satu-dua pohon berukuran mini berusaha melindungi kendaraan di bawahnya. Namun sia-sia. Cakar-cakar tajam matahari terlalu liar untuk bisa ditaklukkan. Semenjak Barat yang berempat musim telah menjadi kiblat kemajuan peradaban, para perencana lokal tak lagi menyadari konteks alam tropis yang berdua musim. Para perencana mana pernah merasakan ganasnya panas matahari tropis dan gersangnya udara. Kantor dan mobil dilengkapi AC. Kuku berapi yang mencakari kulit adalah resiko menjadi rakyat.

Para pengendara memenuhi ruang lobby sembari membawa peralatan yang telah mereka siapkan sekaligus disepakati sejak kemarin. Tak ketinggalan orang-orang dari LSM mengatasnamakan rakyat. Aparat berseragam loreng disiagakan, lengkap dengan gas air mata dan senjata pemusnah massal. Para pengendara tidak peduli. Sudah kepalang. Harga nyawa telah anjlok jauh di bawah harga BBM. ?Mobil-mobil kami kelaparan! Tambahkan jatah karena di perjalanan laut ada kapal yang telah merampok jatah makan mobil-mobil kami!? Begitu kira-kira teriakan mereka melalui poster-poster.

Mereka merangsek. Tapi aparat anti huru-hara segera menyambut dengan pentungan dan perisai. Beberapa pengunjuk rasa dipentung sekeras-kerasnya. Darah langsung muncrat dari batok kepala yang terkena pentungan. Lantai keramik mewah tersiram darah. Pengunjuk rasa tetap merangsek. Keributan semakin gencar. Aparat tidak peduli, dan tetap memukuli laksana memukul anjing-anjing kurap. Apakah diantara rakyat itu ada saudara atau tidak, pentungan terus bergerak.

Akhirnya mereka berhasil melewati rintangan, masuk ke ruang kerja orang nomor satu di daerah tersebut. Namun mereka spontan kecewa sekali. Di dalam ruangan berperabot dan berfasilitas serba mahal itu tidak ada siapa-siapa. Memang sering kali begitu. Alasan beberapa pejabat, ?Susah meladeni orang-orang itu! Otak kosong!?
Bangsat! Keparat! Laknat! Terkutuklah hidupmu, keluargamu beserta seluruh keturunanmu sampai yang ketujuh!

Mereka terus mengumpat, menyumpah dan mengutuk dengan suara keras dan mata tiba-tiba semerah saga. Lantas mereka mengaduk-aduk seluruh isi ruangan itu. Barang-barang berhamburan dalam kondisi rusak parah. Di luar ruangan pun para pengunjuk rasa mengamuk. Kaca apa saja dihancurkan. Benda apa saja diremukkan. Mobil-mobil dan sepeda motor berplat merah di pelataran parkir pun babak belur. Tapi tidak sampai membakar karena mereka tidak mempersiapkan minyak tanah yang memang sebelumnya sudah sangat langka dan mereka pun tidak mau menyia-nyiakan bensin serta solar. Para pegawai berlarian keluar rumah sembari menjerit histeris. Para aparat tidak kuasa berbuat banyak. Pada pasca reformasi aparat tidak berani lagi sembarangan melepaskan mesiu. Mungkin juga lantaran belum ada petunjuk dari pemimpin.

Nun jauh dari sana, tepatnya di sebuah daerah pariwisata yang asri dan sejuk, para pejabat dan beberapa wakil rakyat tengah terbahak-bahak sambil memegang perut masing-masing. Di depan mereka terbentang meja yang baru saja terhidang menu serba berminyak. Kertas-kertas cek, slip bukti transfer uang, tiket perjalanan ke luar pulau, tender-tender pengilangan baru, impor baru, dan rencana-rencana pembangunan lain-lain sudah disimpan rapi dalam tas masing-masing sejak beberapa jam silam.
***

Bumiimaji, Juli 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *