Percy Bysshe Shelley (1792?1822)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=356

Percy Bysshe Shelley (4 Agus 1792 – 8 Juli 1822), penyair Inggris lahir di Field Place (Sussex) meninggal di Spizzia (Itali). Sekolah menengah Eton, masuk Universitas Oxford (tak lama diusir berkenaan pamfletnya The Necessity of Atheism, 1811). Pengalaman di Eton serta bacaan buku-buku filsuf skeptis di Oxford, tertanam perasaan dendam terhadap segala penindasan. Ke London bertemu Harriet Westbook kemudian menikah, lama bergerak ke Irlandia menyebarkan faham Shelley tentang kemerdekaan, sesudahnya hidup di London. Bertemu William Godwin yang lebih ekstim dekat cita-cita anarkis dan terpengaruh Mary (anaknya Godwin). 1814 Shelley dan Mary ke Swiss, sekembalinya di Inggris mengarang Alastor, sajak cinta platonis. Sebelumnya mengarang Queen Mab, sajak revolusioner perkawinan cita atheis yang berbuah kebencian publik, lebih revolusioner The Revolt of Islam, dan The Mask of Anarchy. Tahun 1816 kawin kedua kalinya dengan Mary Godwin, sesudahnya meninggalkan Inggris menuju Itali mengunjungi Byron, pembicaraan antara kedua penyair ini tercatat pada karangan Shelley, Julian dan Madala. Selanjutnya mengarang drama, yang terpenting antaranya Prometheus Unbound (1818 -1891), drama liris umat manusia dewasa ini, di jaman lampau serta hari kemudian. The Censi, drama bersajak bebas. Yang memashurkan Shelley beberapa sajak pendeknya; To a Sky-Lark, The Cloud, The Indian Serenade dan Ode To the West Wind. Dasar jiwanya simpati terhadap umat manusia, dan sajaknya yang penghabisan Adonai (1821), jalan sebuah elegi berkenaan kematian Keats.

NUKILAN DARI: TO A SKYLARK
Percy Bysshe Shelley

Mengatas nilai apapun juga
Dari gairah dalam bunyi,
Melebihi segala rupa harta
yang di buku dijumpai,
Kamahiranmu bagi pujangga, O Kau, pengejek bumi.

Ajar daku separuh gembira
Yang sadar dalam otakmu,
Pasti keselarasan gila
Bergelora dari bibirku,
Dan dunia akan mendengar, bagai ku kini mendengarnya.

{dari buku Puisi Dunia, jilid II, M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1953}
***

Shelley merasa detak bentur pergolakan nilai-nilai hayati bersemrawutan sengkarut tiada henti pun sulit dihindari; gemuruh gema adukan gempa menggelegar bertubi-tubi memecahkan kepala sarang penalaran, inilah bunyi-bunyi ledakan.

Barangsiapa mengatasi menjelma keindahan, seyogyanya melewati pendakian tebing curang paling licin, seumpama jiwa-jiwa terpanggang. Maka jarak siasat matang polemik yang terjadi, kelak mencapai puncak hawa sedap tak tersadap kaki-kaki di pebukitan.

Khasana kekayaan nikmat bathiniah berasal tercapainya keseimbangan gairah bunyi-bunyi jiwa, selaras terpadu bernyanyian rindu selalu terisi kucuran berkah sehari-hari. Kemahiran mengolah ladang keras keuletan utuh, kesungguhan mencecap madu hikmah melebihi harta paling berharga.

Di sini, tempaan hidup menerima berikhiar kemalangan kembara, kesimpangsiuran analisa disuntuki ke ambang kantuk lelah tak buyarkan tatapan hati terus merangsek mematahkan keraguan.

Pada gilirannya dendang sayang bahagia menembangkan wijayakusuma di malam mata tersirap mega memayungi ubun-ubun mengusir derita abad silam, perjuangkan siang meradang dalam perebutan kekuasaan.

Pujangga di atas batuan besar menjulang ke langitan biru berbaju peminta; Shelley dalam tempaan lelaku digodok cibir kebencian menakutkan antara hantu keputusasaan.

Batasan gila-kenormalan serasa tanpa sekat, insan bolak-balik kadang gamang keduanya, hanya diri masing-masing merasa waras di balik kesintingan; gairah meledak hasrat kuasa tilikan kalbu terdalam, sampai air mata memboyong ke sudut keminderan.

Digoyang ikhtiar kesungguhan, pelamun malas linglung tak tahu arah, namun yang suntuk ditimpa kemalangan tiada jauh suwung, meskipun warnanya berbeda, bobot kandungannya tidak serupa, ada yang dibingungkan, bukan tiada kebingungan.

Dan separuh kegembiraan nalar keselarasan gila miliki harmoni saat gelora mencapai bibir pantai keyakinan, orang-orang pedalaman mendengar dimengerti serupa Shelley memahami waktunya.

Di sini puisi bersimpan nalar puitik mengajak para penjelajah logika mengarungi kehadiran merambah lapisan jiwa fikir, naik-turun kendarai gelombang takdir jaman beserta nafasan kerja kata-kata.

Mengajak keselarasan nalar hati, logika perasaan dipersenjatai kemampuan memilah, selepas baca kemungkinan beredar di sekitar hayati, buku-buku angin kendaraan menyusup hadirkan kesejatian berbeda, atas fitroh teremban.

Seperti tak merasa kenyang juga tidak terlalu lapar, menghantarkan ombak serasi kedalaman. Sebagai penutup Socrates berkata: “Hidup yang tak dikaji ialah tidak layak untuk dihidupi” Shelley mengungkapkan:

“Seseorang demi menjadi yang baik, harus mengamat-amati dirinya dengan seksama dan seutuhnya; ia harus meletakkan dirinya kepada posisi orang lain, dan banyak lagi lainnya; kesakitan pula kegembiraan dari sesamanya harus jadi bagian dari dirinya.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *