Pesantren Masih Minim Karya Tulis

Ghufron
http://www.republika.co.id/

Perkembangan sastra dan budaya baca tulis di lembaga pendidikan pesantren terkesan jalan di tempat, bahkan bisa dikatakan mandek. Akibatnya, hingga saat ini tidak banyak karya satra atau karya tulis yang bisa dihasilkan dari kalangan pondok pesantren.

“Pesantren saat ini memamng sepi karya tulis. Hal itu terjadi karena kurang adanya keteladanan. Kiainya saja malas mengarang kitab, bagaimana santrinya bisa nulis,” ujar budayawan Ahmad Thohari saat berbicara dalam acara seminar ‘Sastra dalam Budaya Pesantren’ di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, kemarin (9/12).

Untuk itu, Ahmad Thohari mengajak para mahasiswa UIN Malang untuk menghidupkan sastra pesantren. Karena menurut pendapatnya sastra pesantren ini seolah sepi. kondisi itu, sambung dia, diperparah dengan makin tengelamnya budaya kritis di kalangan para santri.

Menurut penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini, ruang untuk kekritisan di pesantren saat ini sangat kecil. Padahal seharusnya muncul sastrawan?sastrawan ?nakal? yang bisa lahir dari pesantren. Seperti dirinya, sastrawan nakal tapi bertanggung jawab dunia dan akhirat.

Pria kelahiran Banyumas ini berharap para santri bisa menyaingi dirinya. Karena menurutnya, menulis itu bukanlah pekerjaan yang istimewa. Semua orang bisa memproses diri menjadi penulis. Namun, tentu saja sebuah proses tidak bisa berjalan mulus, pasti akan menemui kegagalan.

Ibarat orang naik sepeda, kata dia, maka orang itu harus pernah jatuh untuk bisa bersepeda dengan baik. Yang terpenting dalam menulis adalah bahwa seorang penulis harus memiliki lebih banyak dibandingkan pembacanya, karena menulis itu memberi. Ibarat strom, kata dia, maka penulis harus punya tegangan yang lebih tinggi. “Agar voltase penulis lebih tinggi, syaratnya harus banyak membaca dan mencoba,? paparnya.

Penulis yang karyanya sudah diterbitkan dalam empat bahasa ini menuturkan dirinya memulai menulis pada 1971 lalu. Ia mengaku menulis dimulainya tanpa sadar. Diawali dari hobinya yang gila membaca dan corat-coret. Dua hal itulah yang mengantarkannya menjadi penulis seperti sekarang ini.

Bahkan saat SMP semua novel klasik sudah dibacanya. Dan saat tamat SMA lebih dari 100 novel yang sudah dibaca. ?Karena itu kalau saat ini rukun iman ada enam, saya ingin menambahkannya jadi tujuh. Yaitu baca tulis,? tegasnya.

Ia menyayangkan karena dalam pendidikan saat ini kewajiban membaca tidak diutamakan. Padahal di zaman penjajahan dulu, lulusan SMA diwajibkan sudah menghafal dan menganalisa minimal 30 karya sastra. Harusnya, kata dia, kewajiban membaca ini diwajibkan seperti hal nya kewajiban orang untuk melaksanakan salat lima waktu.

?Perintah membaca saat ini masih disepelekan, belum ada perasaan berdosa saat tidak membaca. Padahal, wahyu pertama yang diterima nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *