Puisi-Puisi Alex R. Nainggolan

http://www.jawapos.com/
Menuju Pulau Penuh Pukau

karena puisi yang kutulis tak sempat kau baca
aku memilih menepi
menuju pulau yang penuh pukau
di sana, bukan cuma bekas pasir putih yang tersisa
tapi juga taman yang dipenuhi berbagai bunga
meski di sana, aku selalu merasa kesepian
tanpa dirimu
cuma ikan-ikan yang menampar sisa lokan dan ombak
belum juga tercatat bila ada yang hilang dari dadaku
karena mimpi kita tinggal belulang
tak sempat membuka jendela rumah di pagi hari
aku arungi petualangan ini sendirian
menuju pulau, barangkali di sana
masih ada sedikit bayangan mimpi di dalam tidur yang sebentar

Jakarta, 2004

Surat buat Ediruslan Pe Amanriza *

telah kubaca surat-suratmu, pe
isinya melulu kesedihan
tentang riau atau sesuatu yang kaujumpai
terlebih buat GN, mungkin kekasih lamamu
duh, penyair! bertahun-tahun kaupikul
derita itu di punggungmu
hingga membungkuk karena waktu
begitu sentimentilkah dirimu?
di sana, kau berkisah banyak
tentang para sastrawan yang punya nama besar
tapi sebagian juga telah meninggal
seperti hamid jabbar jatuh ketika baca puisi dan aa navis
bukankah kau juga?
surat-suratmu tak juga menggambarkan banyak perubahan terkini
riau masih sama seperti dulu
sastra masih seperti dulu
banyak hujatan
banyak makian
banyak polemik
sekarang sedang tumbuh sastra kelamin
bicara seputar selangkangan
lalu menepuk dada sendiri sembari onani
bahwa mereka telah membuka pintu kebebasan
atau kebablasan?
tak ada yang berubah, pe
dan orang-orang juga tak banyak yang membicarakan
sajak-sajakmu
tak ada yang berubah, pe
semuanya sama saja
dunia ini serba tahi kucing!
dulu, kau pernah marah besar ketika sajak-sajakmu dimuat sembarangan
tapi sekarang sajak bagai sampah
seperti yang kutulis ini
atau selembar tissue sehabis dibaca layak buang
tapi bukan berarti aku tak menghargaimu, pe
justru aku ingin mengenangmu lewat sajak ini
seperti kau yang juga menulis tentang penyair kepada ibunya;
padahal sajak-sajak itu belum dimuat koran kota **
pe, seperti kau bilang juga;
negeri ini sungguh mengesalkan, bukan?
indonesia yang sumbur gembur
tapi koesplus yang menyanyikannya
malah kurus ceking
ah, jangan salah dulu, pe!
koesplus sekarang sudah makmur juga
bahkan anaknya juga turut bikin band baru
junior, namanya
pe, aku ingin membalas suratmu
tapi aku ragu, apakah kau akan marah
atau tersenyum jika membacanya
tapi sungguh aku benar-benar ingin
kau membacanya. sungguh!
barangkali di langit biru sana kau sedang tersenyum

Jakarta, 2007

catatan:
* penyair kelahiran Bagan Siapi-api, Riau
** Surat 11, halaman 18 in memoriam Ediruslan Pe Amanriza

*) Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Beberapa karyanya termuat dalam antologi Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *