Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

http://www.jawapos.com/
Gerimis Pondok Gede. . .

Seperti malam yang rebah di pangkuanku
Kau belai lembut setiap abjad yang melekat di bibirku
Kau berikan sentuhan mimpi
lewat manik-manik kematian
dalam ringkihan rumput kering di punggung kemaluanku
siluet kehampaan menelanku dalam kemunafikan
runtuhkan gerimis yang ingin kita bungkus
dalam persetubuhan suci
melayang seperti roh saat terhempas laut
menampar pipi kemerahan saat tertelan vodka dingin
terjal yang kau hadirkan seolah merobek pahaku
mengalirkan sajak-sajak malam tanpa bintang
meski abjadku telah lelap
tapi mimpi itu telah membunuhku
dengan taringnya yang dingin
sedingin rahangmu
saat kusandarkan dinding bulan pada langit
mungkin malam ini takkan pernah berhenti
meski matahari terus berjalan
dan embun meneteskan tangisannya
diantara derit mimpi surga
seperti nyanyianku yang terus berlari
di bawah batu nisan dan kembang semboja

Sby, Feb 07-09

Waktu Itu…

Kemarin dunia kita masih tergores senja
Meneguk setiap tetes keabadian yang kau cipta dalam mimpimu
Entah kapan… malam itu hadir
Sampai aku tak mampu lagi merekam suara buih di bibirku
Tumbuh, merambat dari sajak yang tertusuk fatamorgana
Lembaran kematian seolah berkejaran
Memburu garis-garis tua di setapakmu yang kian biru tercium laut
Persetubuhan kita seolah hanya siluet lapuk
Yang telah hanyut tergorok ketakutan demi ketakutan
Terpenggal antara kematian dan kerinduan
Hingga membusuk
seindah kelaminmu yang tercetak semburat hasrat
Tiba-tiba matahari merebahkan senyum pahit
Memecahkan sunyi dalam gelas tanpa rum dan vodka
Meski senja terus melafalkan sajaknya
Tapi kata-kata tak lagi memberikan mimpi untuk bulan
Entah…
Kapan laut itu akan kering
Menggantung sentuhan angin
Seolah menghakiminya lewat mendung dan kematian
Selendangku telah menjelma perkampungan
Dari utara, menuju nisan sunyi seorang pujangga
— dengan lafalnya
Kulesatkan mataku dari celah langit dalam semilir sembabmu

Sby, 08-09

Garis Terakhir

Mungkin hanya malam yang mampu berbisik pada kematian
Hingga detik-detik senyap
tertiup siluet mimpi
serupa gelap saat menggugurkan daun dari masa lampau
menggigit hembusan angin dalam hitungan waktu bugil
lantunan sembilu seolah menyampaikan senyumnya lewat bulan
meski perjalananku hanya barisan kuda tanpa sepatu
tapi keringatku telah terurai seonggok darah dalam gumpalan senja
merah terderak sebait perahu reot di ujung otakku
sesaat seperti kata-kata yang tersekat bibir pelacur
indah…
seindah kemaluanku yang pernah kau pagut dengan kematian
mereguk tetesan ranum matahari
sejajar garis biru musim semi saat purnama
Sementara flamboyan di bibirku masih basah
Seperti gerimis yang menawarkan ratapan mimpi bidadari
Ketika persemayaman kian mengalir
Di ujung bait garis terakhir

Sby, jun 08

*) Perempuan kelahiran Trenggalek 7 April 1980. Jebolan D3 Pariwisata Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair. Belajar berkesenian dan menulis di Teater GAPUS Surabaya, tergabung dalam komunitas @rek pilem Surabaya, sempat ikut juga dalam UKM Teater Unair.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *