Ritual ke Ekonomi Spiritual?

Judul : Biaya Upacara Manusia Bali
Penulis : Made Sukarsa
Tebal : i-xiv, 69 halaman
Penerbit : Arti Foundation, Denpasar
Tahun : 2009
Peresensi : Wayan Gede Suacana*
http://www.balipost.com/

AGAMA Hindu yang dianut oleh sekitar 95% jumlah penduduk Bali memiliki tujuan hidup untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin. Ketiga tujuan itu diwujudkan melalui pelaksanaan tiga kerangka kehidupan, yaitu tattwa atau filsafat, susila atau etika dan upacara atau yadnya. Pelaksanaan upacara keagamaan merupakan hilir dari tattwa agama yang ada di hulu dan etika agama yang berada di tengah atau madya. Jika salah satu dari ketiga kerangka itu diabaikan, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada sistem agama.

Kenyataan yang ada, pelaksanaan upacara hingga kini masih mendominasi kehidupan keseharian orang Bali. Bahkan sering disebut orang Bali adalah manusia upacara. Orang Bali mengupacarai tidak saja dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, lingkungan, alam, pohon, ternak, dan benda-benda mati. Sesaji dan pertunjukan kesenian dalam berbagai upacara menyebabkan Bali meriah, penuh suka cita, dan berbinar-binar. Untuk itu uang dan materi melimpah harus dikeluarkan, waktu dan tenaga mesti dikorbankan (hal. viii).

Selama setahun (420 hari) terdapat 108 hari untuk upacara dewa yadnya secara rutin. Kalau ditambah dengan pelaksanaan upacara yang tidak rutin, seperti peresmian pembangunan pura, peringatan hari lahir (piodalan), manusa yadnya dan lain-lain, maka alokasi waktu, tenaga dan biaya yang diperlukan akan bertambah banyak. Untuk pelaksanaan upacara di Kabupaten Gianyar saja, misalnya bisa menghabiskan sebanyak sepertiga (33,3%) dari pendapatan keluarga. Dalam setahun bahan-bahan untuk keperluan upacara seperti bunga diproyeksikan sebanyak 3.000 ton, janur dan daun enau 5.521 ton, kelapa 1.824 ton (hal. 55-56).

Persoalan yang sering mengemuka adalah bagaimana menyederhanakan upacara yang megah dan meriah itu. Apakah tidak lantas seperti dikhawatirkan oleh beberapa pihak dan akan bisa menghilangkan adat dan budaya agama Hindu di Bali. Berkait dengan biaya upacara manusia Bali lalu pertanyaan yang lebih mendasar lagi, bagaimana menjadikan ekonomi ritual menjadi ekonomi spiritual?

Tidak Mengikat

Sejatinya Bhagavad Gita IX.26 telah menyebutkan, “patram puspam phalam toyamyo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah, siapa saja yang sujud kepada-Mu dengan persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air dengan rasa bakti, Aku akan menerimanya”. Tampak bahwa pada dasarnya persembahan kepada Tuhan tidaklah mengikat. Persyaratan yang harus dimiliki adalah rasa cinta bhakti yang tulus kepada-Nya dan dengan media persembahan hanya berupa daun, bunga, buah dan air saja Hyang Widhi sudah menerimanya.

Menariknya, dalam buku yang semula merupakan disertasi ini juga banyak dikaji persoalan seputar ekonomi ritual itu, khususnya tentang pola konsumsi ritual masyarakat Bali. Dari kajian itu hendak diungkapkan bagaimana bentuk dan fungsi konsumsi ritual serta jenis variabel yang memengaruhi konsumsi ritual tersebut serta komponen-komponen ritualnya.

Dari hasil pembahasan yang dilakukan menyiratkan banyak hal bisa dipelajari dari kebiasaan orang Bali ketika bergiat dalam upacara. Ada kajian filosofi, moral, tingkah laku, pertumbuhan ekonomi, penggunaan pendapatan, sampai dengan pemahaman orang Bali tentang kesejahteraan dan keseimbangan hidup.

Biaya upacara manusia Bali ternyata tidak bisa dilepaskan dari segi pendapatan keluarga Bali Hindu. Made Sukarsa, penulis buku yang juga rektor Universitas Warmadewa ini antara lain menemukan terdapat pengaruh positif langsung pendapatan keluarga terhadap pelaksanaan upacara. Banyak atau sedikitnya pendapatan keluarga memengaruhi besar-kecilnya pengeluaran upacara.

Pendapatan keluarga tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap pelaksanaan susila. Hal ini berarti besar-kecilnya pendapatan keluarga tidak berpengaruh terhadap kegiatan menghadiri undangan adat, gotong-royong, dan frekuensi denda seseorang di banjar. Tidak ada pengaruh langsung tattwa terhadap pelaksanaan upacara, namun secara tidak langsung melalui susila mempunyai efek negatif terhadap pelaksanaan upacara (hal. 60-61).

Pengaruh Dominan

Satu hal yang menjadi pesan buku ini adalah dalam melakukan kebijakan yang berhubungan dengan fenomena sosial, perlu diperhatikan pola pendapatan masyarakat. Hal ini karena pola pendapatan masyarakat berpengaruh dominan dan langsung terhadap pengeluaran upacara dan pemahaman serta pelaksanaan tattwa atau filsafat agama. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan buku-buku agama, konservasi lontar yang ada seiring dengan kenaikan pendapatan keluarga Bali Hindu.

Terlepas dari beberapa kesalahan teknis penulisan kata dan juga pemuatan (secara tak sengaja) “iklan” minuman botol dan roti pada salah satu gambar halaman, buku ini sangat bermanfaat tidak hanya bagi penekun agama, tetapi juga kalangan akademisi, pengambil kebijakan dan masyarakat luas.

Penulis bukunya sebagai penerima Anugerah Widya Pataka sudah bekerja keras untuk memberikan perspektif baru, betapa upacara yang dilakukan oleh orang Bali berdampak pada sendi-sendi utama kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang makna upacara itu menjadikan arah dan pergeseran pada perilaku manusia Bali dari pelaku ekonomi ritual ke ekonomi spiritual.

*) Dosen di Unwar dan Unhi Denpasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *