Satire Barthes atas Tulisan

Misbahus Surur*
http://www.jawapos.com/

KITA tahu, Roland Barthes adalah sosok pemikir petualang yang sepanjang karirnya tak pernah berhenti memprovokasi pembaca dengan sokongan prinsip-prinsip gagasan baru. Membaca pikiran-pikiran Barthes -misalnya, mengenai dunia penulisan dan gejalanya atau tentang dunia kesusastraan berikut perkembangan kritiknya- kita seperti diajak berpikir-merenung lebih cerdas namun tetap asyik, sublim, dan konsisten. Karena itu, setiap buku barunya seolah mendedahkan ragam persoalan baru dengan sendirinya.

Pemikirannya kerap menikung dari arah yang tak terduga, seakan memang ada begitu banyak kilauan yang memikat dan menarik dari karya-karyanya. Salah satu hal menarik itu adalah konstruksi barunya atas teks/tulisan. Hal itu bermula ketika Barthes mencurigai dan mempersoalkan hakikat gagasan yang terajut dalam tulisan sebagai ”yang tak otentik/asli”. Persoalan itu jugalah yang kemudian mendasari salah satu pemikirannya ihwal keaslian (orisinalitas) tulisan. Meski dalam tahap tertentu, ide tersebut terasa sangat dilematis.

Secara ideal, makna keaslian (orisinalitas) tulisan memang belum beranjak dari kemampuan seorang pengarang (author) untuk mengeramkan anasir kebaruan dalam gagasan. Dalam pemaknaan lu(g)as, sebuah karya literer dapat dikategorikan orisinal sejauh ia mampu mewartakan otentisitas gagasan; belum pernah muncul pada tataran sebelumnya. Namun, alih-alih menelurkan gagasan yang menyokong pendapat itu, Barthes seakan mengelak dan berbalik mengutarakan hal yang ambivalen. ”Tulisan orisinal tidak ada dan tidak akan pernah ada,” kata Barthes (S.T. Sunardi, Semiotika Negativa, 2004).

Bagi Barthes, satu-satunya kekuatan yang dimiliki pengarang (author) atas tulisan yang dia tatah hanyalah menggunting dan menggabungkannya dalam sebuah rangkaian; mempertemukan berbagai potongan tulisan pada papan atau momen yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Di hadapan Barthes, sungguh orisinalitas tak pernah diam-mengendap dalam diri pengarang, melainkan hanya pada bahasa yang digunakan untuk mengemas tulisan (text). Dengan kata lain, meskipun sekadar cangkang, sebuah ide/gagasan sungguh tak dapat lepas dari tautan bahasa.

Menurut Barthes, persoalan orisinalitas tidak berhubungan dengan muatan kebaruan dalam tulisan (dalam ide atau gagasannya), melainkan hanya berkait dengan urusan rajut-merajut berbagai tulisan. Semacam rangkaian bahasa yang ter-update. Begitu pula, anggun dan adiluhungnya pikiran seseorang yang selama ini kita anggap baru, kata Barthes, bisa jadi hanya karena polesan bahasanya yang baru. Pendek kata, warna gagasannya yang dicat mengilap, selebihnya -ihwal substansi tulisan- tak pernah mengilau alias tak pernah menyatakan hal baru. Alasannya, karya cipta yang dihamparkan pengarang barangkali tak (pernah) ditatah secara otonom. Pada titik itulah Barthes seperti mengafirmasi kata-kata orang bijak pada sebaris parafrasa berikut: ”Tidak ada yang baru di bawah kolong langit”.

Sejauh dalam idealitas Barthes, hanya pada bahasa, transportasi ide/gagasan berlangsung. Gagasan akan bergerak efektif atau tidak, gampang memproduksi realitas baru atau terhambat, berkelindan dengan watak bahasa sebagai wadahnya. Dalam ranah kajian budaya (cultural studies), kegiatan seperti itu terengkuh oleh analisis struktural, dengan pertanyaan “how it is made”, bagaimana sebuah teks terbentuk? Sebuah pertanyaan yang menandaskan wewenang teks untuk terfragmentasi hingga pada bagian-bagiannya yang terkecil. Sebab, sebelum dipecah, teks dalam posisi menyatu. Dan, setelah melalui tahap dan prosedur tertentu, lazim memang kembali menyatu atau disatukan. Mungkin, hanya proses seperti itulah yang dapat membuat sebuah tulisan menjadi baru/orisinal.

***

Lantas, bagaimana dengan klaim orisinal yang menandaskan syarat atau kriteria sebagai ”yang jauh dari tiruan”, yang juga berarti kebaruan? Persoalan ”orisinal” ini tentu saja menjadi sebujur kegusaran tersendiri. Bagaimana tidak, di satu pihak ia tetap kukuh mempertahankan pemaknaan yang benar-benar baru secara kemasan, lebih-lebih dalam gagasan. Sedangkan di pihak lain -termasuk Barthes- mengatakan sebaliknya. Walhasil, orisinalitas mungkin memang butuh pemaknaan ulang. Bahkan secara telak menyangkut kesungguhan analisis dan riset mendalam ihwal suatu masalah. Atau bisa jadi, hanya sebuah gagasan yang menyuarakan realitas sesungguhnya; orisinalitas harus bergantung dan menumpu sepenuhnya dari seberapa jauh kemampuan gagasan yang terbentuk melalui rajutan teks itu berdaya gema; seberapa jauh ia menjawab problematika, bagaimana cara beroperasinya; dan seterusnya. Di samping juga tetap tak lepas dari kemasan bahasa yang benar-benar ranum. Bukankah ide orisinal itu mestinya tak cuma berdegup-mendengung di ruang hampa?

Sayang, arus dan tradisi seperti itu kian hanyut dan bahkan tenggelam oleh senarai dekapan formalitas, godaan gimmick, serbuan prinsip-prinsip cipta dekaden, serta keringnya ikhtiar kreatif yang ujung-ujungnya terkapar oleh watak snobisme. Padahal, peran penting yang “seharusnya” diambil seorang pengarang -yang mulanya ditahbiskan pembaca sebagai satu-satunya subjek yang punya otoritas terhadap makna teks- betapa kian pelik dan terjal. Maka, ketika makna orisinalitas tulisan yang serba disiniskan Barthes sulit ditemukan, paling tidak dan selayaknya termaknai sebagai suatu rajutan yang dibarengi dengan perbalahan panjang serta olah pikir tak kenal henti; kesungguhan eksperimen dan kedalaman riset atas realitas sosial dan problematikanya. (*)

*) Esais, sekolah S-2 di UIN Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *