Seni + Tragedi = Indah

Chavchay Syaifullah
http://www.sinarharapan.co.id/

Seorang filsuf dan pemikir seni bernama Alfred North Whitehead, lambat laun mengubah arah pokok perhatian dan pengetahuannya. Mulanya Whitehead ialah seorang ahli matematika dan logika yang sangat kaku, yang jauh dari semangat kelenturan seperti tercermin dalam dunia seni. Sebagai seorang ahli matematika di negeri Inggris, tentu dia hanya mau bergelut dengan pikiran-pikiran dan angka-angka matematis. Sehingga bersama Bertrand Russell pada tahun 1910, Whitehead pun turut melahirkan karya penting yang merupakan jabaran prinsip-prinsip dasar matematika, yaitu Principia Mathematica.

Namun suatu ketika keadaan Whitehead total berubah. Sebuah tragedi menyelimuti hitam segenap mimpi hidupnya. Whitehead menjadi seorang yang depresif. Jiwa dan raganya lunglai setelah tahu anak kesayangannya sebagai hasil pernikahannya dengan Evelyn Wade yang bekerja sebagai pilot Angkatan Udara Inggris, mati dalam salah satu misi di penghujung perang dunia.

Ketika itu Whitehead tak mampu membawa persoalan tragisnya ke dalam bidang matematika yang selama itu digelutinya. Ia meradang dalam batinnya. Sampai kemudian Whitehead memutuskan bergelut dengan soal-soal non-matematis, seperti filsafat dan seni! Tragedi kematian anaknya telah membawanya pada penghayatan atas dunia seni yang ternyata mampu membawanya terbang ke atas pengalaman bahwa dunia estetika lebih luas ketimbang dunia rasio.

Mulailah dirinya kemudian mencintai seni lukis dan menyelami dunia puisi. Whitehead begitu terpana dengan syair-syair penyair romantik seperti Wordsworth dan Mary Shelley yang keras menolak Materialisme Ilmiah. Dari puisi-puisi Wordsworth, Whitehead terinspirasikan tentang nature in solido, suatu pandangan bahwa unsur-unsur alami yang ada bersifat saling jalin-menjalin. Sedang dari puisi-puisi Mary Shelley, Whitehead terinspirasikan tentang alam semesta yang bersifat dinamis dan berproses. Dari situ kemudian ia mengembangkan rumusan soal-soal penting dalam sistem filsafat dan seni yang ia bangun, seperti soal feelings dan prehension, yang tertuang dalam karya besarnya: Process and Reality?sebuah karya filsafat yang kemudian hari oleh Elizabeth M. Kraus dinilai sebagai pemikiran tentang ?metafisika pengalaman? tertangguh sepanjang sejarah, yang mampu secara filosofis mengukuhkan dunia pengalaman (seni) sebagai yang lebih luas ketimbang dunia pemikiran (rasio).

Kalau kita mau lebih rajin menjejerkan pengalaman serupa di atas, tentulah kita mendapatkan jumlah pengalaman yang tak sedikit. Entah pada orang awam yang tiba-tiba menyukai seni karena mengalami bentuk-bentuk tragedi, entah pada seniman yang seterusnya kian menjadi intensif menyelami sisi-sisi terdalam samudera kesenian. Dengan demikian bentuk-bentuk tragedi, jika ternyata dihayati dan diapresiasi secara positif oleh manusia, maka lompatan hebat pun terjadi. Begitupun di kalangan seniman.

Lebih jauh dari itu, saya berpendapat bahwa suatu tragedi bagi manusia ternyata adalah cikal bakal paling dzahir bagi pemahaman manusia atas seni. Oleh karena itu, para seniman itu sendiri?sebagai yang dianggap masyarakat lebih dalam menggeluti dunia seni?tentu saja harus lebih intensif dari manusia awam itu dalam menyelami makna tragedi. Sebab tragedi terbukti mampu menjadi jari-jemari yang paling sensitif untuk menyentuh aura kehidupan. Atau dengan kata lain, untuk apa jadi seniman, kalau menghindar dari tragedi? Bukankah justru manfaat seni ada dalam upaya reintrospeksi diri atas kekuatan yang non-rasional, hingga bermuara pada kebijaksanaan rasio itu sendiri dan tentu saja pada dunia perasaan.
***

Sampai di sini saya jadi ingat pada alur pikiran Radhar Panca Dahana, sahabat kita yang penggiat seni itu, namun tiba-tiba menjadi naif. Pada tulisannya dalam salah satu surat kabar (15-02-05) yang berjudul ?Seni Tanpa Isu? itu, ia mengkritik pedas fenomena dunia seni?mulai dari seni musik, sastra, seni rupa, teater, dan sebagainya?yang bergerak menuju pada solidaritas rakyat Aceh dan Sumut yang sedang tertimpa tragedi kemanusiaan yang memiriskan hati itu, namun dicatatnya sebagai bukan isu seni.

Menurut saya, tersirat dalam tulisannya bahwa nilai seni di Indonesia saat ini akan menjadi dekaden atau bahkan basi, seandainya saja terus banyak bergelut dengan persoalan Aceh dan Sumut yang memang jelas-jelas adalah tragedi kita bersama sebagai manusia, seniman dan bangsa Indonesia.

Di mata saya, Radhar bukanlah orang sembarang dalam menghadapi getirnya tragedi diri sebagai seniman sejati. Dalam hal ini, saya banyak menaruh rasa hormat padanya. Namun menjadi naif bila latar demikian membawanya pada sikap yang sinis terhadap maraknya solidaritas seniman pada tragedi kemanusiaan di Aceh dan Sumut. Saya jelas tidak sependapat bila tingginya aktivitas seperti, pembacaan dan pembukuan puisi tentang Aceh, pelelangan lukisan dan lagu bernuansa Aceh, pameran patung dan fotografi seputar Aceh, pertunjukkan musik untuk Aceh, dan sebagainya itu harus dinilainya sebagai hypermarket Aceh dalam seni! Apalagi dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa ?Aceh telah menjadi medium bagi sebagian yang ingin jadi seniman, sebagian menjadi modus mempertahankan daulat seninya, sebagian pengekor saja, sebagian prihatin, sebagian melihatnya seperti alat dapur terbaru yang dijajakan pramuniaga ke rumah-rumah.?

Radhar mungkin menangkap sinyal negatif dari pesatnya aktivitas seni yang berlabelkan Aceh. Sehingga dia tak sanggup lagi menilai aktivitas itu sebagai bentuk murni cita rasa kemanusiaan para seniman. Atau mungkin pula Radhar melihat bahwa aktivitas itu sudah banyak diambil alih pihak-pihak non-seniman demi mengeruk keuntungan uang semata, sementara para senimannya diminta memeras keringat atas nama kepedulian Aceh. Atau yang justru lebih mengkhawatirkan adalah bahwa Radhar melihat bahwa isu Aceh dan Sumut, bukanlah isu seni.

Dengan demikian seni harus menggali isunya sendiri, seperti yang ditulisnya: ?Seni yang selalu gagal-bahkan tak tahu cara atau gunanya?memproduksi isu (-nya sendiri), sesungguhnya memiliki penyakit kronis, sehingga hanya mampu berdendang-dendang, menjadi klangenan, jadi kitsch.? Meski semua kemungkinan di atas bisa jadi bahan kegelisahan, namun dilihat dari keseluruhan tulisannya, tampaknya Radar berada pada posisi terakhir, dia melihat para seniman itu sudah kehabisan isu kreatifnya.

Ketakutan itu lebih mencolok jika kita perhatikan pendapat Radhar selanjutnya ini: ?Apa yang kemudian memenuhi head line di benak publik dari segala ekspresi artistik, tetap saja isu-isu selebritis: isu yang diproduksi oleh kultur massa, isu yang telah menjadi gosip dan tak lebih posisinya ketimbang infotainment yang memenuhi tabloid, halaman muka surat kabar, atau prime time di televisi???Maka, jika kemudian kesenian berdiri dan berposisi tak lebih dari sekadar mikrofon kecil atau amplifier jangkrik yang menggaungkan suara lain orang, demikianlah kisah kasihnya.?

Duh, sayang sekali saya tak bisa menggambarkan kehancuran Aceh dalam tulisan ini. Mudah-mudahan lewat tayangan televisi dan pemberitaan di koran serta majalah, kita semua sudah bisa paham betul bentuk-bentuk kehancuran di sana, yang tak perlu diperdebatkan lagi tingkat parahnya dari segi fisik juga mental.

Dan memang, selama saya bersuka rela di Aceh sana, saat itu pula saya hanya bisa bergumam bahwa persoalan renovasi fisik Aceh mungkin saja bisa diselesaikan pemerintah dan donatur lainnya dengan angka-angka matematis. Namun saya berani sumpah, rehabilitasi mental tak pernah bisa diselesaikan dengan angka-angka. Dukungan moril dan batin sangat dibutuhkan sekali, termasuk tentu saja partisipasi dari para seniman, yang memang idealnya mampu berkomunikasi lewat rasa batin.

Dan ingat, kalau kita mau telusuri secara cermat, jumlah tingkat karya dan event seni yang sudah dilakukan kita untuk Aceh, belumlah seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan karya dan event yang diharapkan di sana! Apalagi ini menyangkut batin korban, yang tak bisa diselesaikan dengan sekali terjang. Bahkan menurut saya, seniman-seniman yang sudah menunjukkan dirinya solider terhadap tragedi Aceh dan Sumut, namun masih ?manggung? di daerah masing-masing, perlu juga untuk sekali-kali terjun langsung ke Aceh sana. Buatlah di Aceh sana semampu kita bisa, bukan malah lari kuda ke belakang, sementara tapak kaki baru satu jejak di depan!

Perjuangan Walter Benjamin dulu yang kerap mengabadikan korban dalam perjalanan sejarah pemikirannya, perlu kita bela bersama. Sebab tak ada kemajuan yang tak berlatar korban, meski korban berada dalam wacana sempalan di muka arus konsep kemajuan. Oleh karena itu, menurut hemat saya, semakin banyak dokumen seni yang bersinggungan dengan tragedi gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut, semakin seni menunjukkan kepeduliannya pada upaya mengingat korban sebagai bagian dari proses sejarah kemajuan. Dan dunia seni pun berarti telah mengembangkan isu seninya sendiri, dari proses introvert menuju ke proses ekstrovert. Bukan malah seni bersuara dengan tanpa isu seperti kata Radhar.
***

Terakhir, kepada Radhar Panca Dahana saya mau katakan juga bahwa tulisan saudara agak miring ke arah satu slogan seni, yang bagi kita juga mungkin sudah purba, yaitu: seni untuk seni! Ah, itu kan sekarang cuma slogan. Bukankah sudah sejak lama seniman kita bisa memeluk dua slogan sekaligus: seni untuk seni dan seni untuk masyarakat! Sudahlah?mari kita tekankan pada hal lainnya saja, seperti apa yang bisa para seniman berikan selanjutnya dari yang sudah ada bagi korban-korban tragedi Aceh dan Sumut. Mungkin Anda sudah banyak melakukan partisipasi itu seperti juga saudara-saudara seniman kita lainnya. Tapi terpaksa saya harus tegaskan sekali lagi?semua itu masih ?Jauh dari kurang!? Dan perlulah kita sebagai seniman bekerja terus-menerus, sebab dunia seni kita masih punya banyak isu besar, antara lain: Aceh, Sumut, Palu, Garut, Papua, Jakarta, Indonesia, Dunia, dan seterusnya. Kalau menurut Anda semua itu bukan isu seni, percayalah pada saya bahwa: seni + tragedi = indah!
Jadi, ya seni juga!

*) Penulis adalah Sastrawan, Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kini aktif di JARKAS (Jaringan Relawan Kemanusiaan untuk Aceh dan Sumut), bermarkas di Beurawe, Banda Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *