Seorang Pahlawan

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.lampungpost.com/

KAKEK tua itu bernama Sadiman. Kini Sadiman menjadi pria tertua di desanya. Meski sakit ingatan, Sadiman dihormati masyarakat desanya, karena di masa mudanya ikut berjuang melawan kompeni. Mereka menganggap Sadiman sebagai seorang pahlawan yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara.

Menurut cerita dari mulut ke mulut dan turun-temurun, sewaktu menjadi pejuang, Sadiman sering berjuang sendirian dengan menyamar sebagai penjual jagung bakar. Kadang juga menyamar sebagai gelandangan dekil atau menyamar sebagai orang gila yang suka berjalan sempoyongan sambil tertawa-tawa di sepanjang jalan kota.

Banyak warga sipil pada masa perjuangan merebut kemerdekaan yang melihat keberanian Sadiman sebagai seorang pejuang. Suatu siang, ketika sedang menyamar sebagai gelandangan dekil di sudut kota, Sadiman bertemu dengan satu regu serdadu kompeni yang sedang berpatroli. Mereka tak menyangka jika pria dekil itu ternyata pejuang yang menyamar. Mereka semua tewas dibantai Sadiman dengan pisau lemparnya.

Sadiman memang pintar melempar pisau. Selama berjuang, Sadiman hanya bersenjatakan pisau lempar. Di dalam bajunya, belasan pisau lempar dirangkai menjadi sabuk yang sewaktu-waktu bisa dilemparkan dan menancap di leher serdadu kompeni.

Meski sakit ingatan, setiap memasuki bulan Agustus Sadiman selalu teringat pengalamannya membakar markas kompeni yang membuatnya disebut-sebut sebagai seorang pahlawan. Saat itu, sebagai pejuang, dirinya ditugaskan untuk memata-matai markas kompeni. Semua yang dilihatnya di markas kompeni harus dilaporkan kepada komandan kompi yang tak lain adalah anak buah Jenderal Sudirman.

Tubuh Sadiman yang kurus dan tampak lemah dianggap cocok untuk menyusup ke dalam kota dan mendekati markas kompeni. Jika tepergok regu serdadu kompeni yang sedang berpatroli, mereka pasti akan menganggapnya sebagai rakyat sipil.

Malam itu, Sadiman menyusup ke dalam kota dan langsung mendekati markas kompeni dengan berpura-pura berjualan jagung bakar. Sadiman memikul tungku berisi arang dan sekeranjang jagung yang baru saja dipetik dari sawah milik rakyat. Serdadu-serdadu kompeni biasanya gemar menikmat jagung bakar selagi masih hangat yang baru saja habis diangkat dari atas bara tungku.

“Hei, penjual jagung bakar! Cepat masuk kemari! Kami mau menikmati jagung bakar!” Seorang serdadu berkulit bule berseru sambil melambaikan tangan di ambang pintu depan markas kompeni.

Sadiman tersenyum dan bergegas memasuki markas kompeni. Lalu segera membakar jagung sambil sesekali melirik ke berbagai arah, mengamati suasana di sekitarnya.

Mata Sadiman terbelalak ketika di bawah pohon asem tampak dilihatnya ada sepasang manusia sedang bermesraan. Jelas di matanya, laki-laki bule sedang menciumi pipi seorang gadis pribumi. Lampu pagar cukup terang memancar ke sekitar pohon asem itu.

Mata Sadiman makin terbelalak setelah dengan jelas memandang gadis pribumi yang sedang bermesraan dengan pria bule itu. Ya, gadis pribumi itu ternyata Ningsih, calon istrinya.

Darah Sadiman langsung terasa mendidih. Ningsih sudah nyata-nyata membagi cinta dengan pria bule. Ningsih mungkin mengira Sadiman sudah tewas di hutan bersama kawan-kawan seperjuangan ketika bertempur dengan serdadu kompeni yang menggunakan senjata berat. Dalam pertempuran itu, memang ada banyak pejuang yang tewas. Tapi Sadiman berhasil lolos dari sergapan serdadu kompeni.

“Ningsih pasti telah ternoda,” duga Sadiman dengan dada meradang. Cintanya kepada gadis itu tiba-tiba berubah menjadi benci dan dendam. Lalu dalam benaknya bermunculan rencana-rencana jahat untuk melenyapkan Ningsih dan pria bule itu dari muka bumi. Tak ingin ia melihat gadis pujaannya jatuh dalam pelukan pria bule yang nyata-nyata musuh kaum pejuang seperti dirinya.

Sadiman kemudian bergegas keluar dari markas kompeni itu setelah membakar semua jagung. Besok malam ia akan memasuki markas kompeni itu lagi dengan berpura-pura menjadi penjual jagung bakar.

Tapi besok malam Sadiman tidak hanya akan membakar jagung, tapi juga akan membakar markas kompeni itu. Ia berharap juga bisa membakar Ningsih jika gadis itu bermesraan lagi dengan pria bule.

***

Pada malam berikutnya, Sadiman kembali memasuki markas kompeni dengan berpura-pura menjadi penjual jagung bakar. Di bawah tumpukan jagung di dalam keranjang yang dipikulnya tersimpan 10 buah granat. Dengan granat-granat itu ia akan membakar markas kompeni yang dindingnya serta lantainya terbuat dari papan kayu jati.

Setelah membakar semua jagung yang dibawanya, Sadiman langsung melemparkan granat-granatnya ke sejumlah sudut markas.

Dengan penuh dendam, sengaja ia juga melemparkan sebuah granat ke arah pos keamanan di dekat pintu belakang. Ia tadi sempat melihat ada sepasang manusia memasuki pos keamanan itu. Ia menduga, sepasang manusia di dalam pos keamanan itu adalah Ningsih dan pria bule.

Ia sudah mendengar kabar bahwa Ningsih bakal menikah dengan pria bule keponakan seorang jenderal kompeni lalu diboyong ke negeri Belanda. Sudah banyak pria-pria bule yang menikahi gadis pribumi lalu diboyong ke negerinya.

Setelah granat meledak, terdengar jeritan perempuan di dalam pos keamanan di dekat pintu belakang itu. Sadiman buru-buru mendekati pos keamanan itu.

Mata Sadiman berkaca-kaca ketika melihat Ningsih terkapar bersimbah darah tertindih tubuh pria bule yang telanjang bulat tapi sudah tidak bernyawa lagi. Serpihan granat tampak melukai kepala dan punggung pria bule yang telah menjadi mayat itu.

Sadiman mencoba menolong Ningsih. Digulingkan mayat pria bule itu, lalu dipangkunya tubuh Ningsih yang hanya terbalut kutang dan celana dalam. Perut dan dada Ningsih juga tampak terluka parah mengeluarkan darah segar.

“Maafkan aku. Banyak orang bilang kau sudah wafat, ternyata kau masih hidup,” tutur Ningsih sambil merintih-rintih kesakitan dalam dekapan Sadiman.

“Ya, aku memaafkan kamu. Tapi aku tidak bisa menerima dirimu, karena dirimu telah ternoda.” Sadiman bicara dengan muak. Tubuh Ningsih semakin lemas karena luka di dada dan di perutnya terus-menerus mengeluarkan darah segar. Lalu Ningsih mengembuskan napas terakhir di atas pangkuan Sadiman.

“Maafkan aku. Kau harus mati di tanganku.” Sadiman berbisik di telinga jenazah Ningsih sebelum kemudian kabur lewat pintu belakang. Semua serdadu kompeni tewas dan terbakar di markas itu. Bahkan komandan yang memimpin markas itu juga ikut tewas.

Karena berhasil membakar markas kompeni yang menewaskan banyak serdadu bule, Sadiman kemudian dianggap sebagai pahlawan.

Semua kawan dan komandannya memuji-muji keberhasilannya membakar markas yang menewaskan banyak serdadu kompeni itu.

“Kamu pantas mendapatkan bintang kepahlawanan!” seru kawan-kawan seperjuangannya setelah mendengar keberhasilannya membakar markas kompeni yang menewaskan semua penguninya.

Sadiman hanya tersenyum-senyum mendapat banyak pujian.

“Mulai pekan depan, kau menjadi wakilku,” ujar komandannya sambil menepuk pundak Sadiman.

***

SETELAH perang selesai, Sadiman bersama kawan-kawan seperjuangannya kembali ke desa masing-masing. Semua masyarakat menaruh hormat kepadanya. Mereka menyebutnya sebagai pahlawan.

Tapi Sadiman merasa semakin sedih setiap kali dipuji-puji masyarakat. Kepahlawnannya tidak semata-mata karena membela Tanah Air, tapi juga karena dendam kepada seorang gadis.

Sadiman juga merasa sangat berdosa karena sengaja membantai Ningsih ketika gadis itu sedang bercinta dengan pria bule. Bagaimanapun gadis itu pernah mengisi hatinya. Ningsih juga pernah menciumnya dengan mesra sambil berbisik lembut bahwa akan bersedia menjadi istri yang setia.

Ningsih pasti tidak akan bercinta dengan pria bule jika tahu Sadiman masih hidup.

Dalam cekaman rasa berdosa kepada Ningsih, Sadiman kemudian tidak bisa lagi mencintai gadis lain. Setelah tidak berperang lagi, sehari-hari Sadiman hanya duduk-duduk saja di rumah sambil menerawang membayangkan Ningsih yang sekarat dan kemudian wafat di atas pangkuannya.

Semakin tua, Sadiman semakin betah duduk-duduk saja sambil menerawang. Sanak saudara dan masyarakat sekitar menganggapnya sakit ingatan akibat kehilangan kawan-kawan seperjuangannya yang tewas dalam perang melawan kompeni.

Dan karena sakit ingatan, meski masyarakat mengakuinya sebagai seorang pahlawan, Sadiman tak pernah mendapatkan apa-apa dari pemerintah dan negara. Kawan-kawan seperjuangannya juga tidak pernah ada yang datang menemuinya. Mereka mungkin malu punya kawan sakit ingatan.

Tak ada yang tahu, Sadiman sakit ingatan karena telah membunuh Ningsih, gadis cantik yang pernah menciumnya dengan mesra yang tak mungkin bisa dilupakannya. n

Griya Pena Kudus, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *