Ular Kuning

Dahta Gautama*
http://www.lampungpost.com/

Aku sudah tiba di rumah itu apabila tidak ketemu hujan. Seperti biasa, ini selalu mengganggu. Sebab ketika tiba di rumah aku bisa imsomnia.

Sesuatu berwujud lurik itu muncul dari semak-semak. Ayah bilang, aku harus memukulnya dengan kayu abu-abu.

Belangnya ada merah, lidahnya kuncup dan matanya kuyub.

Itu ular yang dikatakan oleh nenek sebagai tali yang disulap penyihir. Namun aku tak percaya. Aku suka warnanya yang nyalang. Seperti orang kurus yang tak terurus namun lincah dan sayup.

Pernah ketika masih kanak, nenek dan ayah memukul pantatku dengan ranting tritis. Makanya, aku tak pernah mempercayai bahwa rasa sakit bisa mengakibatkan kematian.

Rasa sakit cuma cubit kulit. Kita lalu meringis dan mungkin kencing.

Ayah dan nenek sama saja. Orang-orang tua yang sepantasnya sudah tidak banyak bergerak. Namun sekali saja bergerak desis mereka mengeluarkan bisa.

Tapi aku mempercayainya bukan sebagai siksaan. Sebab siksaan yang paling kejam, saat cinta tak punya rupa. Untuk apa hidup tanpa tubuh? Sungguh tubuh harus diberi warna merah jika ingin ada cahaya.

Mungkin tak boleh lebih dari tiga kali, lelaki mengeluarkan air mata. Nenek bilang, lelaki sejati apabila tidak menangis berkali-kali.

Namun aku kerab melihat ayah berjalan menunduk

tangannya kanannya meraba alis, terlihat tangan kiri membuang lendir

dari lubang ingusnya.

Mengapa nenek selalu bilang begitu? Padahal ayah lebih dari tiga kali

menangis dalam hidupnya.

Aku juga menjadi pencandu rintih, akhirnya. Ketika kemiskinan

mengajarkanku menulis buku harian yang kemudian membawaku

pada kegemaran baru. yaitu mengoleksi batu-batu kali, menggambar burung, dan menulis

riwayat gerimis menjadi puisi. Aduh, aku menjadi penyair juga.

Seperti kakek. Makanya nenek begitu saja meninggalkan kakek

dalam kesepian di rumah tua kami dekat kali itu.

Kata nenek, ia kurang paham dengan prilaku kakek

yang gemar minum kopi dan tak tidur berhari-hari.

Seperti pengemis yang sedang mengorek kotak sampah di rumah

borjuis. Tapi anehnya, nenek sering bercerita tentang cara kakek mati.

Padahal ia tidak pernah mencintai kakek, ketika psikater memvonisnya

kena depresi neorosis.

Sungguh. Aku serupa kakek saat ini.

imsomnia, takut mati dan sering bermimpi ketemu ular.

Apakah penyair ditakdirkan untuk menjadi manusia loteng

dengan neon lima watt, tanpa kelambu dan televisi.

Apakah lelaki boleh berselingkuh dengan mimpi-mimpi

dan bersenggama dengan perempuan enam belas tahun

berbentuk boneka?

Apakah penyair tak boleh membuka gordin

dan melihat dengan seksama setiap daunan yang luruh

dari tangkainya.

Hidup selalu begini. jika tidak mimpi pasti tidur.

namun apalah kehebatan tidur tanpa mimpi.

Hari itu, aku tergolek di loteng

ayah dan nenek melarangku berbicara tentang ular kuning

yang kutemui disemak-semak disamping rumah kami.

mereka bilang, aku tak boleh depresi seperti kakek

akan menyusahkan karena harus ke rumah sakit jiwa

setiap hari rabu.

Mesti mengingatkan aku akan deazepam, esilgan dan stelazin

pil antidepresan yang justru membuatku semakin

suka duduk membelakangi gordin.

Hari itu, aku kembali diperlihatkan bentuk bulan

saat purnama. bentuknya bundar, bengkak dan kuning

warnanya serupa ular disemak-semak yang selalu kuingat itu.

aku menjadi lebih paham bahwa semua yang kudengar

saban malam di telinga adalah suara kakek.

ia berbicara serupa orang sedang membaca mantra

getar dan mendesau. lagi-lagi aku ingat si kuning

di semak-semak, mendesis dan mendesau.

mengajakku merayab di lantai loteng

dan melalap cicak atau kecoa.

Mungkin nenek benar, bahwa aku telah depresi

dan harus segera bertemu dokter Hans.

Konon ia hampir menyembuhkan kakek

namun sayang, kata nenek, kakek lebih cepat mati medahului warasnya.

Dalam tradisi keluarga kami

tak boleh satu orang saja yang cara berbicara dan berpikirnya

terlalu cepat.

Semua hal mesti diatur dan tertata.

apa yang dialami dengan paman, juga tidak diinginkan oleh nenek.

entahlah, mengapa dalam keluarga ini nenek punya tempat

yang terlalu penuh.

Nenek bisa mengatur agar kakek tidak terlalu banyak minum kopi.

alasannya, karena setelah itu kakek selalu meracau

membaca syair yang ditulisnya bermalam-malam.

Paman yang pekerja keras juga dibatasi agar tak banyak

bicara ketika menerima tamu.

Padahal paman adalah pelukis

yang akan bangga apabila menceritakan tentang campuran

minyak cat dalam kanpas lukisan ularnya.

Suatu hari, ketika usiaku sudah dua satu

ayah membuka tabir rahasia keluarga kami.

kata ayah, nenek sangat membenci ular yang

telah beranak pinak di semak, disamping rumah.

semenjak kakak perempuan nenek, yang bernama Jarmine

dipatuk oleh ular kuning di semak itu.

dua bulan kemudian Jasmine meninggal

di rumah sakit jiwa.

Ia mendesis setiap malam

dan berlari ke atas loteng, hingga para tetangga terganggu.

Setelah usiaku menjelang tiga puluh enam tahun.

akhirnya aku ketahui, mengapa kakek dan ayah

melarang kalau aku menceritakan tentang si kuning

yang bersarang di semak-semak itu.

Sebab kematian mendesis serupa ular.

Lampung, 1 ? 5 September 2009

*) Lahir di Hajimena-Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Pada 1998 selama satu tahun bermukim di Jepang tepatnya di Kota Tokyo dan Kyoto bekerja di sebagai peneliti Agro Japan. Belajar sastra secara otodidak. Memublikasikan puisi di sejumlah koran lokal dan nasional juga terdokumentasi sedikitnya di 12 buku antologi puisi bersama. Kini menjabat sebagai pemimpin redaksi SKM Dinamika News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *