Wajah Lokal dalam Pulasan Kontemporer

Yudi Wijanarko
http://www.sinarharapan.co.id/

Rob atau luapan air laut yang mengejar ke daratan, bagi warga Kota Semarang atau kota pesisir lainnya, dianggap menjengkelkan. Bahkan banyak warga yang memaknainya sebagai bencana.

Akibat rob, misalnya, banyak kampung yang ?hilang? terendam. Pemilik kendaraan bermotor jengkel karena keropos menggerogoti kendaraannya. Pemilik rumah bahkan berlomba meninggikan lantai kediamannya. Pendeknya, rob itu musuh bersama!

Di samping merusak, warnanya yang hitam, baunya yang pekat busuk, turut memperburuk ?citra? rob. Sialnya, sudah buruk rupa dan merusak, ?bencana? ini justru sangat dikenal sebagai wajah lokal Kota Semarang. Bahkan selain lumpia, agaknya rob telah menjadi ikon lokal Semarang.

Tapi mari lupakan sejenak segala keburukan dan citra jelek rob, dengan memandang sebuah lukisan karya Atie Krisna berjudul ?Rob? ini. Sebuah lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 141 X 193 cm itu, boleh jadi menjelmakan rob dari citranya yang buruk dan menjengkelkan, menjadi sesuatu yang menyegarkan dan menghibur.

Yah, menyegarkan. Sebuah pusaran arus warna-warni; hijau, biru, orange, ungu, coklat muda dan bergores warna lainnya, menyelubungi lima buah mug/cangkir dan sebuah gelas. Sebuah teko yang ceria dengan warna orange, demikian juga cangkirnya, berupa-rupa warnanya.

Karya pelukis kelahiran Ungaran, 27 Maret 1951 itu, sejak 20 Agustus lalu hingga 10 September 2005 mendatang, dipajang dalam sebuah pameran bertajuk ?Ruang:Tanda/Space:Sign?. Pameran bertempat di Rumah Seni YAITU: Kampung Jambe 280 Semarang itu diikuti 16 perupa dari Semarang dan Solo, serta memajang 25 karya, berupa lukisan dan patung.

Pameran yang dibuka Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Prof Dr I Made Bandem itu, menurut pemilik Rumah Seni YAITU: Tubagus P. Svarajati, menjadi rangkaian dari kegiatan Bali Biennale-Astra Otopart Art Award 2005. Ajang itu sendiri akan diselenggarakan di Bali pada 16 November 2005 sampai dengan 4 Januari 2006 mendatang.

?Pameran ini sekaligus juga akan menjadi ajang seleksi peserta dari Semarang yang akan ikut ke Bali. Dari pameran ini akan dipilih lima orang dengan masing-masing dua karya untuk menjadi peserta Bali Biennale 2005,?kata Tubagus.

Sebelum dipamerkan, keduapuluhlima karya itu merupakan hasil seleksi dari 78 lukisan dan patung karya 45 perupa. Seluruh karya dikurasi oleh Triyanto Triwikromo dan Tubagus P. Svarajati, hingga terpilih 25 karya.

Di samping Atie Krisna, para perupa yang lolos seleksi dan memajang karyanya di pameran ini adalah Agung Yuliansyah, Agus Sudarto, Asep Herman, Auly Kastari, Bayu Tambeng, Bibit Jabrang, Deny Pribadi, G Haryanto, Gunawan, Ham Ngien Beng, Ibnu Thalhah, Imam Bucah, M Salafi H/Ridho, Putut Wahyu Widodo dan Winachto.

Lokal-Kontemporer
Jika kemudian karya-karya lukisan semacam ?Rob? yang terpilih ikut pameran, agaknya hal itu selurus dengan tema pameran yang diangkat, yakni diskursus atau wacana. Tema pameran ini bermaksud memperbincangkan seniman dari beragam kultur yang mengeksplorasi dan mentransformasikan tematika dari kekayaan tradisi ke dalam bentuk kontemporer. Para perupa melukis tradisi yang melingkupinya dan memvisualkan secara kontemporer.

Dalam konteks kontemporer itu pula, ?Rob? karya Atie Krisna terlihat utuh menerjemahkan bencana air laut yang menjadi problem khas kota pesisir (termasuk Semarang) tersebut. Atie melukiskan rob sebagai hal yang menyenangkan. Mungkin, ini satu keputusasaan perupa berlatarbelakang pendidikan Arsitektur itu terhadap problem rob yang tak pernah terselesaikan. Atau boleh jadi, itulah angan-angan Atie agar di suatu ketika kelak, rob yang kini dibenci warga menjadi hal yang menyenangkan dan justru ditunggu kehadirannya.

Perupa lain yang kental mengusung tradisi sebagai objeknya adalah Agus Sudarto (The Spirit of Barong), Bibit Jrabang (Sirkus Semar Kuning), Auly Kastari (Hegemoney) dan Gunawan (Kontradiksi Disharmoni). Mereka mengolah dan merekonstruksi seni tradisi Jawa dan Bali sebagai basis membaca keindonesiaan dalam konteks praktik-praktik sosial-kultural-politik di tanah air.

Perupa G Haryanto meramu tradisi Jawa dengan bumbu kontemporer yang pekat. Dalam lukisan ?Dasamukamu? pelukis muda kelahiran Semarang 10 Juli 1975 itu mentransformasikan tradisi wayang (Jawa) secara kontemporer. Terlihat seseorang dengan tubuh tegap sedang menunjuk lurus ke depan. Wajahnya tanpa rupa yang jelas karena berupa ?anyaman? tanpa bola mata. Sementara di sekelilingnya ada empat potongan kepala tokoh wayang Dasamuka.

Sebagai sebuah pameran dengan tema yang sudah ditentukan, mungkin ada penikmat yang lantas hanya sibuk mereka-reka atau mencocok-cocokkan tradisi apa/mana yang diangkat perupa peserta pameran. Ini tentu saja satu hal yang seharusnya tidak terjadi. Sebab jika demikian halnya yang terjadi, penikmat seni rupa hanya akan terkotak-kotak pada framenya saja, tanpa bisa menikmati kary-karya itu secara lebih utuh.

Akan tetapi, apa pun yang ada, pameran ?Ruang:Tanda? telah dimaksudkan sebagai satu bentuk ekspresi penanda kehadiran, yakni: kehadiran ruang spasial sekaligus ruang signifikasi yang moderat dan egaliter, di samping pula kehadiran para perupa baru dari ruang baru yang bernama Semarang. Ia juga menjadi sekumpulan simbolicum litere. Sebuah ruang bermukimnya karya-karya representasi dari sekumpulan perupa Semarang yang dalam pergaulan seni rupa Indonesia tidak menarasikan kisah-kisah staccato. Pameran ini bisa pula menjadi awal kebangkitan seni rupa Semarang dengan visi yang jelas. Ada arah dan tujuan yang hendak dituju, meski secara praktis dapat dikatakan, tujuan itu adalah Bali Biennale 2005! Selamat menuju Bali!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *