Ekspresi Mbah Surip Ikut Merehabilitasi Gempa

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Urip Achmad Rijanto alias Mbah Surip yang namanya melejit setelah melantunkan Tak Gendong, ternyata hobi melukis. Paling tidak bisa dibuktikan dengan karya cat minyaknya “Ka’abah” dan “Ekspresi”.

Kedua lukisan itu dibuat tahun 2007. Dua lukisan itu tersimpan di studio kediaman rekannya sesama seniman MGE SW Slamet Jenggot di bilangan Jatisampurna, Bekasi.

Menurut Slamet Jenggot, Mah Surip sering bertandang ke rumahnya. Mereka sering bersama bermain musik dan kadang kala melukis.

Lukisan yang dikerjakan Mbah Surip melalui proses penyelesaian yang cukup lama. Umpamanya ketika melukis “Ekspresi” dikerjakan semalam suntuk, tetapi tidak sekali jadi. Awalnya coretan-coretan abstraksi rawa. Kemudian ditambah lagi dalam wujud seperti ikan raksasa yang menukik melayang ke atas.

Merasa belum puas, Mbah Surip menambah lagi rembulan, lalu lukisan itu ditandatangani “Mbah Surip 2007”.

“Ketika melukis Mbah Surip terus berceloteh antara lain: aku mau melintasi bumi nusantara. Mbah Surip pun sering melukis di Ancol. Dua lukisan Mbah Surip yang ada di tempat saya, tak pernah dijenguk lagi hingga meninggal 4 Agustus 2009 lalu,” papar mantan pengasuh rubrik Tata Griya (Pesona Griya) dan Dialog Budaya Suara Karya itu.

Lukisan “Ka’bah” kini dikoleksi keluarganya. Sedangkan lukisan cat minyak “Ekspresi” (110×90 cm) digelar dalam pameran dan lelang lukisan bersama bertajuk “Ranah Minang Bangkit”, 12 – 16 Desember 2009 di Executive Club, Hotel Sultan, Jakarta.

Dibuka Menteri Hukum dan HAM H Patrialis Akbar, SH, selain Mbah Surip, pameran itu diikuti pelukis Sarnam HD (alm), Iwan Fals, MGE SW Slamet Jenggot, Mansyur Masud,Yos Susilo, Slamet Wahyudi Dedi Sukanto, Ella Wijt, Ratna Dewi, Sutiyono dan Dodie Arnoldy.

Lukisan karya 12 pelukis ini juga ikut dilelang dalam rangka mencari dana untuk rehabilitasi bangunan yang porak peranda akibat gempa di Sumbar, tahun lalu.

Sama halnya dengan gaya melukis Mbah Surip yang suka ngoceh, juga dilakukan oleh Iwan Fals yang senang melukis semalam suntuk di studio Slamet Jenggot. Dalam pameran ini Iwan Fals menampilkan sebuah lukisan cat minyak bercorak abstrak “Nada” (100x50cm) yang didominasi warna biru dalam goresan yang penuh gejolak. Berbeda dengan Mbah Surip, sapuan catnya lebih intens dan tenang diliputi warna kebiruan.

Selain melukis, Iwan Fals juga dikenal sebagai musisi. Namun sempat vakum beberapa tahun setelah anak sulungnya, Galang Rambu Anarki (16 tahun), meninggal dunia April 1997. Juara karate nasional ini kemudian menyibukkan dirinya melukis dan berlatih bela diri.

Slamet Jenggot telah mendaftarkan hak ciptanya sebagai pelukis Gaya Meta Ekologi di Direktorat Jendral Hak, Cipta, dan Paten. Dalam pameran ini, Slamet menampilkan beberapa karya antara lain “Saintis”, “Minang Bangkit”, “Super Mom 2009”, “Antisipasi Gempa”, dan “Bumi Dipijak, Langit Dijunjung”.

Manuela Wijayanti akrab disapa Ella Wijt. Ketika pameran tunggal di Museum Nasional Mei 2007, pernah membuat kejutan dengan karyanya yang berani baik dalam pewarnaan maupun goresan dan ukuran. Yang menonjol pada pameran itu adalah obyek buah stroberi yang dilukis dalam ukuran jumbo, sehingga dijuluki pelukis “stroberi”. Kali ini Ella juga menampilkan karya bernuansa stroberi seperti “Sepeda Stroberi” di mana kedua roda sepeda diganti dengan buah stroberi raksasa, membonceng 5 buah stroberi yang masih segar.

Catatan kurator Merwan Yusuf menyebut, ditinjau dari materi lukisan yang disumbangkan untuk pasca gempa cukup beraneka ragam aliran, dari yang menggunakan berbagai elemen figuratif hingga karya abstrak. Semua ini menunjukkan ekspresi pribadi disesuaikan dengan kepribadian, karakter, kesukaan dan temperamen masing-masing pelukis yang bertujuan untuk membesarkan dunia seni rupa Indonesia. Lukisan adalah instrumen yang dapat menjadi alat penghibur bagi penikmatnya. Lukisan juga bisa meringankan beban mereka yang mendapat musibah atau kesukaran.

Oleh karena itu para perupa ini tidak ragu-ragu untuk berbagi duka dan suka kepada saudaranya di Sumbar yang sedang tertimpa musibah. Upaya ini datang secara spontan melalui karya-karya lukisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *