Gabriela Mistral (1889-1957)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=370

AKU TAK KENAL SEPI
Gabriela Mistral

Malam: Gurun pegunungan
Yang menjengkau ke lautan
Tapi aku yang buai kamu
Peduli sepi bagiku

Angkasa kosong dan lengang
Jika purnama menghilang
Tapi aku yang belai kamu
Peduli sepi bagiku

Dunia menggurun pasir
Dan jasad binasa, hancur
Tapi aku yang dekap kamu
Peduli sepi bagiku.

{dari Puisi Dunia, jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}

Gabriela Mistral (1889-1957) lahir di Vicuna, Chili, pemenang Nobel kesusastraan 1945, atas karangannya Desolation (diterjemahkan ke bahasa Perancis oleh beberapa penyair Prancis terkemuka). Gabriela leluasa penuh gairah menyanyikan perasaannya dalam bahasa Spanyol. Berperan penting pada sistem pendidikan di Meksiko serta Chili, aktif di komite kebudayaan League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa), menjadi konsul Chili di Nepal, Madrid, Lisbon. Bergelar kehormatan dari Universitas Florence dan Guantemala, anggota kehormatan di berbagai perkumpulan budaya di Chili, Amerika Serikat, Spanyol juga Kuba. Mengajar sastra Spanyol di Universitas College, Vassar College pula Universitas Puerto Rico. Puisi cintanya mengenang yang telah meninggal, Sonetos de la muerte (1914) membuatnya terkenal ke seluruh Amerika Latin. Desolation (Keputus-asaan) tidak terbit sampai 1922. Tahun 1924 muncul Ternura (Kemesraan) didominasi masa kanak yang berkaitan kelahiran, memainkan peran penting akan Tala (1938). Kumpulan lengkap puisinya diterbitkan tahun 1958. {riwayat ini dilengkapi dari buku 50 Peraih Nobel Kesusastraan, editor Eddy Soetrisno, Dr. Morton Grosser, Inovasi Jakarta}.
***

Jika pengukuhan Nobel kesusastraan 1945 akhir tahun, maka selepas pengeboman Amerika Serikat atas perintah Presiden Harry S. Truman, yang membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima, 80.000 orang di Nagasaki dalam bulan agustus.

Senyap sesudah peperangan, jam-jam malam masih berlaku di tanah air, ada gedup sunyi Gabriela, gunung api pemikiran menjengkau ke lautan tangis, deburan ombaknya masih dimaknai teka-teki tebing karang.

Tiada kepedulian selain sepi sendiri memamah sunyi, luka tak akan terobati, hanya kesetiaan pada negeri menghampiri topangan terus perjuangkan harga diri.

Angkasa melompong, bintang-gemintang gusar kepulan asap membelukar, tak tampak bulan berhadap lahirnya mimpi. Esok, semua larut dalam perenungan bimbang, tiada sepi selain yang peduli, ratapan dinding bersimpuh di lantai.

Dingin tak terkata saat merasakan gigil, ngilu jerit kematian pada yang dirundung maut berkali-kali, persinggahan kuburan, bunga kamboja terselip di telinga.

Merekah di sebalik juntaian rambut kusut peristiwa, kusam warnanya tidak tampak emas buta sengsara. Hanya puisi mampu berkata-kata, mengusap kepala anak-anak yatim di bencah tanah sehabis ditebah kaki-kaki serakah.

Kesepian penyair tuangkan kata sembuhkan luka sejarah, namun perih pedih tetap saja jika tak dibalut keringat kerja. Tumbuhkan benih kemungkinan, perluas wilayah kesadaran yakin, tegak menatap cermin fitroah Keilahian.

Dari muka kelahiran berharap, bangsa-bangsa tak lagi peperangan yang merusak sunyi menjauhkan fikiran kecuali hasrat mendendam. Maka barangsiapa peduli sepi mendapati kemerdekaan, jauh nalar busuk menginjak sesama insan.

Keheningan menyaksikan jasad yang hancur mendekati gurun pasir kering kerontang perasaan, ditiup bayu menggunung bertenggelam; was-was dan kebencian, hanya di kedalaman bathin penyair paling merasakan, degup jantung dipukuli batu-batu maut ketertindasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *