KRL (Kereta Rel Listrik atawa Komunitas Rakyat Lemah)

Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/

Pukul 04.45 pagi, aku sudah di stasiun Citayam. Penumpang kereta KRL sudah berjubel di peron stasiun. Anak sekolah, guru, pedagang, sopir, pegawai, karyawan sampai copet pun sudah berada di dalam stasiun. Yang beli karcis, yang pakai abonemen, yang tidak beli karcis sama saja jadi penumpang kereta di stasiun Citayam, sebelah selatan Depok pagi itu.

Antara penumpang yang sudah bertahun-tahun menggunakan jasa KRL, tentu sudah saling kenal satu sama lain. Terutama yang tidak pernah pindah-pindah gerbong saat naik menuju tempat kerja ataupun saat pulang kerja. Sambil menunggu kereta ekonomi datang, sering kami gunakan untuk mengobrol.

Dari masalah sepakbola, politik, bisnis, hingga soal selingkuhan di kereta. Sering juga membahas keadaan penumpang kereta yang kalau tak sabar bila kesenggol atau terinjak kakinya bisa baku hantam, perang mulut. Tak luput juga mengenai kondisi kereta ekonomi yang kian hari kian bobrok saja fisik dan pelayanannya.
Tak sadar, waktu sudah mendekat pukul 05 pagi. Biasanya pukul 04.50 kereta datang. Kini molor lagi.

“Wah, telat lagi nih kereta,” tukas pak Soma, calo angkot di Jakarta Kota. Pak Soma bersungut seperti itu karena kareta yang jadi andalan rakyat kecil itu sudah dua hari telat terus. Anehnya tak ada alasan kuat pihak managemen kereta untuk menjelaskan detail masalah keterlambatan yang sering terjadi.
“Masinisnya ngopi dulu barangkali,” celetuk Jaenal, supervisor di sebuah rumah sakit di Cikini.
“Bisa jadi malah masih tidur, kali?” sahut Mpok Minah, OB di sebuah kecamatan di Jakarta Selatan.

“Orang digiring untuk beli karcis, tapi pelayanannya kacau terus. Sering telat, ngadat sepanjang hari,” timpal Putri, penjaga toko di Kalibata Mall. Anak sekolah pun gelisah.
“Kan tahun depan kereta ekonomi mau dihilangkan, diganti ekonomi AC,” pak Wito, mandor bangunan.
“Wah, bisa kacau dong,” kata Rosyid pedagang daging ayam di Tambun.
“Kok kacau? sanggah pak Atmo, sopir orang asing.
“Yang mampu beli karcis ekonomi AC pasti naik, yang tidak mampu, nggak naik. Bisa-bisa nggak kerja.”
“Beli abonemen,”

“Mahal,” ujar putri. Aku gemes melihatnya. Ingin saja kucubit dagunya yang lancip itu. Tapi ah, aku harus tahu diri. Cowoknya, si Gogon ngantar terus sampai si Putri naik kereta! “Gila, pacaran sampai subuh tiap hari,” bisik Jaenal di telingaku.
“Aku juga mau,” balasku. Jaenal menginjak kakiku yang bersepatu. Aku mengaduh karena kulit sepatuku tipis.
Pukul 05.05 kereta yang ditunggu-tunggu datang juga. Padat sesak sampai ke atap gerbong. Gelap pula.

“Aduh, bisa masuk nggak nih?” teriak Windy yang sedari tadi banyak diam. Pasti sulit, pikirku. Karena badannya gemuk. Teman-teman di kereta menjulukinya bola bekel. Tidak seperti Ina temannya, kurus kayak papan.

Kereta belum berhenti benar aku sudah memegang tangkai pintu. Merangsek ke dalam seolah-olah didorong dari luar. Tapi mentok setelah masuk di dalam. Kaki terjepit antara keranjang sayur dan kursi bambu. Aku tak bisa bernapas. Rina, murid SMK di Kebayoran Baru walau cewek tapi tenaganya kuat. Aku selalu kalah cepat dengannya. Yang duduk di lantai dekat sambungan tak mau bangun. Akhirnya kereta jadi penuh sesak oleh penumpang. Pagi-pagi sudah berkeringat. Kerja saja belum. Baju sudah basah kuyup. Di dalam kereta ekonomi tak ada AC.

Kipas anginnya semua rusak. Karena ratusan penumpang berjubel seperti ikan pepes. Sirkulasi udara mampet. Bau keringat berbaur bau mulut dan kentut.

Namun, meski di dalam kereta teramat padat, kami masih bisa tertawa. Ada saja yang bisa jadi bahan lelucon di kereta itu. Misalnya saja Mang Diman yang rumahnya di Bojonggede. Dia memiliki istri dikarenakan seringnya bertemu di kereta. Dua tahun lalu Mang Diman menikah lagi dengan Ida, sesama penumpang kereta. Eh, kini dia merayu lagi seorang penumpang perempuan.

“Mbak, nanti kalau turunnya masih jauh langsung masuk ke dalam sini. Mbak nggak bakal ke dorong-dorong seperti tadi. Di dalam sini aman, nyaman, dan bisa punya teman!” kata Mang Diman yang terdengar oleh kami.

Yang dirayu hanya tersenyum malu. “Aduh senyumnya, nggak tahan Abang,” kata Mang Diman lagi, merayu. Aku tertawa.

“Sudah punya empang masih saja cari empang lagi. Gimana mancingnya,” sindir Rosyid. (istilah empang oleh kami di kereta sebagai pengganti kata perempuan).

“Gampang kok, bedah empangnya satu-satu, jangan bareng, bisa repot,” jawab Mang Diman tenang. Kami tertawa. Putri risih mendengarnya. Kereta berhenti di stasiun Depok. Turun dua naik sepuluh! Itu baru dari satu pintu. Bayangkan jika satu gerbong yang terdiri dari tiga pintu. Edan! Begitu banyaknya yang harus diangkut.

Bisa dibayangkan seperti apa suhu di dalam kereta. Belum lagi yang naik di atas atap. Tidak salah ada yang bilang, melihat kereta ekonomi jabodetabek seperti melihat gula jawa dikerubuti semut! Menjelang stasiun Kalibata aku bergerak ke pintu. Padahal stasiun yang kutuju masih dua stasiun lagi.

Namun bagi penumpang kereta ekonomi harus sudah tahu diri. Dia harus sigap dan lincah jika tidak mau tertawa ke stasiun berikutnya karena tidak bisa keluar dan juga terlalu pendeknya waktu berhenti di setiap stasiun.Kereta berhenti di stasiun Kalibata. Kereta memuntahkan penumpang. Lalu kami antre di pintu keluar stasiun untuk diperiksa oleh petugas penjaga karcis. Seorang petugas tiba-tiba mengejar seorang penumpang yang lari sampai keluar stasiun.
“Ada apa?” tanyaku kepada pak Atmo.
“Ngejar yang nggak beli karcis!”
“Seperti ngejar maling saja!”

“Ya begitulah, nggak ada toleransi. Yang tidak beli karcis, mungkin pengangguran, mau cari kerja. Selagi bisa menyelinap naik kereta tanpa beli karcis, dia akan lakukan. Siapa tahu uang yang hanya duaribu rupiah untuk beli karcis kereta itu bisa dia alihkan untuk ongkos metromini atau bus lainnya. Kalau lolos syukur, tertangkap, ya nasib,”

“Susah yah,” kataku. Belum aku meneruskan perkataanku, aku melihat seorang penumpang lain dibawa ke kantor stasiun oleh seorang petugas.

“Lho, itu kenapa lagi?” tanyaku sambil menunjuk ke arah penumpang yang tertangkap. “Nagkunya abonemen, tapi kartu abonemen hilang,” “Kena denda dong?”
“Biasa. Limapuluh ribu…”
“Besar amat! Uang dendanya ke kas Negara?”
“Boro-boro!?” “Kok? Boro-boro?”
“Mana kutahu?” kata pak Atmo sambil nyengir.***

Pulang kembali dari kerja menggunakan kereta yang sama badanku terasa lelah. Kali ini keretanya malah mogok di jalan antara stasiun Kalibata-Pasar Minggu. Setengah jam kemudian kereta bisa jalan seperti bebek hingga stasiun Pasar Minggu. Setelah itu mogok lagi. Terdamparlah seluruh penumpang kereta ekonomi di stasiun itu. Selang duapuluh menit, muncul kereta ekonomi berikutnya yang sudah penuh sesak oleh penumpang. Naik tidak ya? Pikirku. Kalau tidak naik sekarang kapan sampai rumah?

Di kereta itu, aku hapal betul, pelecehan seksual sering terjadi. Buktinya sore itu, aku menyaksikan seorang penumpang hidung belang beraksi. “Maaf Pak, bisa kasih jalan buat saya pindah ke samping Bapak sebelah sana?” bisik perempuan itu di telingaku yang nyaris tercium oleh hidungnya.

“Bisa. Perlahan-lahan ya,” bisikku. Lalu perempuan itu kuberi jalan. “Kenapa?” tanyaku kemudian setelah perempuan itu sudah berpindah tempat di sebelah kiriku.
“Masa pantat saya dipegang pegang…”
* * *

Esoknya berangkat kerja lagi dengan suasana yang monoton.

Naik kereta ekonomi yang penumpangnya itu-itu juga. Seperti hari-hari sebelumnya, kembali berdesakan, gelap dan pengap. Aku yang biasa bisa masuk ke dalam, kali ini tertahan didekat pintu. Bangku tempat duduk penumpang habis tersita untuk dudukan pot bunga.

“Kalah derajat manusia dengan pot bunga!” celetuk pak Sobur sambil bergelatungan menahan beban dorongan dari arah pintu.

“Sama-sama bayar,” sahut suara dari dalam kepadatan. “Bayar sih bayar, tapi tahu diri dong!” sahut Guntara yang berdiri dekat sambungan. “Masak manusia lebih tinggi derajatnya dengan pot bunga?” “Sseet! Nanti ada yang marah,”sela sebuah suara.

Di stasiun Depok penumpang sudah berjubel menunggu. Kereta masuk perlahan. Namun kereta belum berhenti pintu kereta sudah diserbu. Mereka berebut masuk. Aku yang masih disekitar pintu kian tersiksa dengan adanya dorongan dari arah pintu. Aku tidak tahu harus berkata apa tatkala melihat seorang perempuan hamil terjepit diantara keranjang sayur dan badan-badan besar.
“Kasih duduk tuh wanita hamil!?” teriak seseorang.

Kereta pun jalan. Tapi tiba-tiba ngerem mendadak. Kami terhempas ke depan. Suara saling jerit. Jelas ada yang tertindih dan terjepit. Kereta berjalan normal kembali setelah sinyal hijau menyala. Sesampainya di stasiun Kalibata aku turun. Di pintu peron aku ditanyai karcis oleh petugas stasiun.
“Aboouu,” kataku.
“Mana kartu abunemennya. Tunjukkan?” perintahnya.

Aku terkejut, biasanya kalau aku bilang: abu, aku lolos pemeriksaan. Kali ini tidak. Aku malah dicekalnya. Hmm, belum tahu siapa aku ini orang, kataku dalam hati. Lalu aku membuka tasku di depannya. Tapi, astaga… dompet di tasku tak ada. HP juga tak ada. Aku bingung. Setelah kuperiksa ternyata tasku dalam keadaan robek seperti abis di silet bagian bawahnya. Wah, kena copet aku!
“Maaf Pak, saya kecopetan. Tas saya disilet.”
“Alasan basi…”

“Benar, Pak. Nih lihat,” kataku sambil memperlihatkan tasku yang jebol disilet. “Ikut saya ke kantor!” kata petugas stasiun itu.
“Untuk apa, Pak?”
“Saudara telah melanggar, ikut saya ke kantor.”

Dengan langkah lunglai aku digelandang ke kantor petugas stasiun untuk diperiksa. Satu petugas memeriksa, satu petugas lagi berjaga-jaga di pintu. Khawatir aku lari barangkali. Aku kemudian didata, ditanya ini-itu. Aku juga dibentak, dipelototi. Ujung-ujungnya aku didenda limapuluh ribu rupiah.
“Saya tidak punya uang, Pak. Kan sudah saya bilang tadi, dompet dan HP saya di copet di kereta. Masak Bapak tidak percaya sih?” keluhku.
“Tapi Saudara tidak memiliki karcis abonemen. Maka Saudara kena denda limapuluh ribu!”

“Saya harus bayar pake apa, Pak. Saya sudah tidak punya apa-apa. KTP dan kartu abonemen saya saja ada di dalam dompet yang dicopet itu.”
“Apa perlu saya geladah?” kata petugas stasiun yang memeriksa.

“Silakan Pak,” kataku mulai kesal dan amat tersinggung. Sebelum dia geladah, aku raih tas yang disilet itu lalu aku keluarkan isinya. Ada odol, sikat gigi, nasi uduk yang sudah gepeng bungkusannya, handuk yang sudah satu bulan belum dicuci dan lima buah permen. Tak hanya itu, aku buka bajuku. Aku buka juga ikat pinggang untuk mengendurkan celana panjangku. Kemudian aku buka celana panjangku. Setelah itu baju dan celana panjangku aku letakkan di atas meja. Tinggal celana pendek yang masih melekat di tubuhku. “Ini bisa Bapak sita sebagai denda kesalahan saya,” kataku sambil menunjuk ke celana dan bajuku.
“Jangan nantang kamu,” bentaknya.
“Saya tidak nantang Bapak”

“Siapa suruh kamu buka baju dan celana?” “Ini karena Bapak memaksa saya mengeluarkan uang limapuluh ribu. Padahal sudah jelas-jelas saya tidak punya uang karena baru saja kecopetan,”.

Petugas stasiun yang memeriksa aku berdiri. Tampak sekali dia mengatur emosinya menghadapi orang seperti aku. “Pake kembali baju dan celananya. Lalu cepat keluar dari sini,” katanya sengit.

Aku terkejut. Tak ada yang disita barang-barangku olehnya. Tanpa malu, aku kenakan lagi baju dan celana panjangku. Petugas stasiun yang berjaga-jaga di pintu, memberi jalan buatku. Aku mengangguk dan tersenyum. Ternyata, untuk naik kereta yang gratis harus punya akal banyak. Contohnya, seperti yang baru saja aku lakukan itu!***

* Depok, Nopember 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *